Strategi Pelayanan Anak-anak Kos
Sejarah Kapel Shechinah
STRATEGI PELAYANAN ANAK-ANAK KOS
Pendahuluan Seorang misionari yang bekerja di Amerika Selatan menulis sebuah artikel, dia mengungkapkan ketidaksetujuannya pada strategi perkembangan gereja. Gereja tidak perlu membuat strategi pelayanan, cukup berjalan dengan bergantung pada Roh Kudus. Misionari itu bahkan mengatakan: “Teori tentang Pertumbuhan Gereja membatasi kemahakuasaan Allah dan menghalangi Roh Kudus untuk bekerja dengan leluasa”. (Peter Wagner, Strateqi Perkembangan Gereja, Gandum Mas, Malang, 1996, hal. 6.) Dr. Peter Wagner, pengarang buku di atas, tidak menyetujui pendapat tersebut, ia mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan berbeda dengan binatang. Manusia mempunyai akal budi, binatang tidak. Akal budi adalah karunia Tuhan. Mazmur 32:9 mengatakan, “Jangan seperti kuda atau bagal yang tidak berakal”. la juga berkata :”Dengan menggunakan segenap akal budi kita dalam melakukan penginjilan, prakasa manusia bersatu dengan kehendak Ilahi. Selama hamba-hamba Tuhan mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, mereka bebas untuk merencanakan strategi, sambil menggunakan metode dan tehnik penginjilan yang dianggap tepat dalam melakukan pekerjaan Tuhan..”. (Ibid, hal. 11-12) Anak-anak kos di jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang sependapat dengan teori Dr. Peter Wagner. Dalam melaksanakan “Amanat Agung” Tuhan Yesus, mereka menerapkan strategi-strategi tertentu. Mereka bergantung pada Roh Kudus, namun juga memakai akal budinya. Strategi yang diterapkan ternyata diberkati Tuhan, sudah 35 tahun melayani, dan ternyata pelayanan itu berkembang dan berbuah-buah. Anak-anak Kos dan Visinya Siapakah yang disebut anak-anak kos itu? Mereka adalah pemuda pemudi Kristen yang waktu itu mengadakan persekutuan doa di rumah kos jalan dr. Cipto 44 (pav.) Semarang. Sebagian dari mereka berasal dari GKMI yang terbangun rohaninya akibat Bible Camp yang diadakan oleh gerejanya pada tahun 1955-1960-an; sebagian lagi non GKMI yang memang berjiwa misioner misalnya Padmawati anggota GKI dan Eliatha Suteja yang akhirnya menjadi pendeta di Gereja Isa Almasih di kota Surabaya. Visi anak-anak muda ini sangat jelas, yaitu melaksanakan “Amanat Agung” selagi ada kesempatan. Pemuda pemudi Kristen yang bersekutu di rumah kos itu sangat giat melayani Tuhan. Sebuah tim vokal grup terbentuk dan diberi nama : All For Christ”. Tuhan memakai kesaksian serta lagu-lagu yang dinyanyikan mereka untuk membawa beberapa orang kepada-Nya. Namun terasa kurang cukup, mereka ingin menjangkau daerah pelayanan yang lebih luas dan lebih luas lagi. “Apa yang harus kami lakukan?”, tanya mereka kepada Tuhan. Tercatat demikian: “Dalam bulan Agustus 1968, Tuhan memberikan inspirasi kepada kelompok doa pemuda pemudi di JIn. dr. Cipto 44 (pav). Semarang yang sedang mencari kehendak Tuhan. Bagaimana dapat memberitakan Firman Tuhan kepada khalayak banyak yang dapat izin pemerintah. Seorang anggota persekutuan mengajukan pertanyaan: :bagaimana kalau kita membangun radio siaran?” Pertanyaan itu kemudian didiskusikan dan didoakan untuk meminta kepastian dari Tuhan”. (Jikalau Bukan Tuhan, Buku HUT 25 Radio Siaran lchthus, 1994, hal. 25) Mukjizat terjadi di kalangan mereka. Dalam waktu dua minggu kelompok doa ini mendapat jawaban dari Tuhan; ada seorang asal Surabaya ingin menjual seperangkat alat pemancar radio seharga Rp. 60.000,- yang lengkap berikut jasa pemasangannya; apalagi pembayarannya boleh diangsur. Tuhan bekerja luar biasa, sehingga dalam bulan September, tepatnya tanggal 28 tahun 1968, mengudaralah untuk pertama kalinya siaran radio baru di kota Semarang dengan gelombang 100 meter yang diberi nama ALPHA-OMEGA. Beberapa waktu kemudian pengurus mengganti nama ALPHA-OMEGA menjadi ICHTHUS. (Ibid, hal. 25) Setelah berdirinya Radio Siaran lchthus, pelayanan kelompok doa ini tetap berlanjut, bahkan kian meluas. Untuk lebih memantapkan serta mengarahkan kegiatan agar tidak terkesan liar, mereka sepakat untuk membentuk sebuah wadah baru guna menyalurkan visi mereka, yang juga merupakan strategi pelayanan ke depan. Andreas Christanday yang waktu itu baru saja pulang dari mengikuti International Visit Exchange Program dari MCC di Amerika merupakan motor pembentukan wadah ini. Tercatat yang hadir dalam rapat 11 Januari 1971 antara lain Soendjojo, Markus Hendra Kusuma, Chrismanto Jonathan, Agus Suwantoro, Christian Nugroho, Rina, Ang Giok Ing dan Padmawati. (Kenangan Perak, Buku HUT 25 Yayasan Christopherus, hal. 24) Anak-anak Kos dan Strategi Pelayanannya Kelompok doa anak-anak kos itu memutuskan memakai strategi pelayanan dengan tiga pilar yaitu: berwadahkan yayasan, bersifat interdenominasi dan pelayanan yang holistik. Pilar pertama, berwadahkan Yayasan. Kita mengenal lembaga gereja, lalu apakah “Yayasan Kristen” itu? Yayasan Kristen disebut “paragereja”. Secara harafiah, “para-gereja” berarti “di samping gereja”, karena kata “para” adalah kata depan bahasa Yunani yang berarti : di dekat, di samping, dari samping, berjajar dengan dan berdekatan dengan. (Charles Christano, Hubungan Yang Serasi Antara Gereja dan Organisasi Para Gereja, dalam Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja, Yayasan Andi, Yogya, 1999, hal. 132) Definisi Yayasan Kristen adalah: “suatu lembaga Kristiani yang memiliki sifat nirlaba, beranggotakan orang-orang Kristen yang bekerja bersama-sama di luar kontrol denominasi, untuk mencapai tujuan pelayanan tertentu”. (Charles Christano, ibid, hal. 132). Sedang Jerry White mendefinisikannya sebagai: “Setiap bentuk pelayanan rohani yang organisasinya tidak diatur atau tidak di bawah otoritas suatu jemaat lokal”. (Jerry White, Gereja dan Yayasan Penginjilan, Gandum Mas, Malang, hal. 23) Keuntungan berwadahkan Yayasan Penginjilan adalah birokrasi ketat yang biasanya terdapat dalam organisasi gereja dapat dihilangkan. Menjamurnya yayasan PI memerlihatkan banyaknya orang Kristen yang merasa terhambat visinya dalam melayani Tuhan oleh sebab ketatnya birokrasi di dalam gereja. Seorang tokoh yayasan mengatakan dalam karangannya : “gereja terlalu kaku berorganisasi dan kurang memberi kebebasan Roh Kudus untuk bekerja”. (Andreas Christanday, Majalah Cresendo, nomor 298, Semarang, hal. 25) Struktur gereja disebut struktur modalitas, yang mementingkan penggembalaan bagi jemaatnya. Struktur ini biasanya digambarkan dengan sebuah rumah tempat bernaung bagi anggota keluarga. Keakraban, persatuan, kerukunan dan pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah menjadi prioritas di dalam gereja; hal inilah yang menjadikan birokrasi dalam gereja ketat dan kadang-kadang berbelit-belit. Berbeda dengan gereja, struktur Yayasan Penginjilan disebut struktur sodalitas. Struktur ini berorientasi pada penyelesaian tugas; biasanya digambarkan dengan sebuah mobil truk yang siap dipakai bekerja. Birokrasi dalam tubuh yayasan PI biasanya kendor; kadang-kadang keputusan diambil hanya dengan penggunaan telepon antar sesama pengurus. Yayasan tidak mempunyai anggota jemaat yang harus digembalakan. Sasaran utama adalah merealisasi visi. Keuntungan lain memakai wadah yayasan adalah pelayanan menjadi terfokus. Gereja Tuhan mempunyai tiga panggilan utama, yaitu persekutuan, pelayanan dan kesaksian. (ada anggapan “pengajaran” sebagai panggilan keempat; ada yang menganggap dalam persekutuan ada pengajaran) Namun disebabkan kompleksnya kehidupan jemaat, maka panggilan persekutuan dan pelayanan lebih diprioritaskan dalam gereja. Pelayanan pastoral menjadi pelayanan utama. Pdt. Charles Christano mengatakan : “Pelayanan gereja dapat disimpulkan sebagai pelayanan pastoral dalam arti yang seluas-luasnya. (Charles …
