SEPASANG TAPI TIDAK SEIMBANG

Saudaraku, diantara sekian banyak ajaran dan perintah Musa untuk kekudusan hidup orang Israel setelah keluar dari penjajahan Firaun, menurutku ada satu perintah yang kurang lazim : “Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” (Ulangan 22:10) Mungkin saat itu orang Israel lebih paham beternak karena tinggal di tanah Gosyen yang cocok untuk peternakan. Bisa juga mereka sebagai budak kerja rodi untuk pembangunan di Mesir malahan sudah mendapatkan ransom harian. Jadi orang Israel kurang paham dalam membajak sawah atau ladang. Mengapa lembu atau sapi dan keledai tidak boleh dipasangkan kuk (luku) atau kayu pasangan yang ditaruh di pundak untuk membajak? Jelas, sapi berjalan dengan kecepatan rata-rata 3,2 km perjam, hewan memamah biak,  maka sepanjang jalan mulutnya akan komat-kamit mengolah kembali rumput yang sudah masuk ke perutnya. Sedangkan keledai rata-rata berjalan 5,6 km perjam dan keledai akan berjalan dengan menoleh kanan-kiri untuk melihat rumput yang langsung dimakan. Jadi keledai maunya jalan cepat maju ke depan mencari makanan, sedangkan sapi jalannya lambat sambil mengunyah, jadinya keledai akan marah-marah kepada sapi dan menyeret-nyeret agar berjalan maju lebih cepat. Selain itu dua kecepatan jalan sapi dan keledai yang digabungkan bukan menjadi (3,2+5,6)/ 2 = 4,4 km perjam, tapi malahan mungkin menjadi 50% nya atau sekitar 2,2 km perjam, akan sangat lambat, apalagi kalau ladangnya terendam air. Perhatikan pula, dalam satu rangkaian rantai besi yang bagus, jika di dalam rangkaiannya ternyata ada logam lain seperti kawat,  maka titik yang beda ini menjadi titik terlemah dan mudah putus. Ini memberikan pelajaran bahwa penggunaan binatang, mesin atau karyawan yang tidak seimbang keahlian dan kemampuannya malahan akan membuat proses produksi menjadi lambat. Saudaraku, ketika aku sedang merenungkan ayat di atas, aku diingatkan kepada pesan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: ““Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6:14-15) Paulus memberikan nasihat kepada orang percaya agar berhati-hati dalam memilih pasangan hidup atau mitra dalam berbagai konteks kehidupan, termasuk pernikahan. Ayat tersebut menekankan prinsip penting dalam menjalin hubungan, yaitu prinsip ketidakseimbangan antara kebenaran dan kedurhakaan.  Paulus menulis ini untuk mengingatkan jemaat tentang pentingnya memilih mitra atau pasangan yang memiliki nilai-nilai dan keyakinan yang sejalan dengan ajaran Kristen. Prinsipnya adalah bahwa orang percaya seharusnya tidak membentuk keterikatan yang erat dengan mereka yang tidak percaya atau hidup dalam kegelapan moral dan rohaniah. Kehidupan yang tidak seimbang dengan prinsip-prinsip kebenaran Kristen dapat memengaruhi iman dan kesetiaan orang percaya. Dalam konteks budaya dan keadaan masyarakat pada waktu itu, ada banyak godaan dan pengaruh dari lingkungan sekitar yang dapat membawa orang percaya ke jalan yang salah atau menggoyahkan iman mereka. Oleh karena itu, Paulus menekankan perlunya menjaga integritas spiritual dan moral dengan memilih pasangan atau mitra yang sejalan dengan nilai-nilai Kristiani. Prinsip yang terkandung dalam ayat tersebut relevan dalam konteks spiritual dan moral, dan bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan personal dan profesional. Ide utamanya adalah agar orang percaya memilih mitra atau pasangan yang memperkuat dan mendukung iman dan kebenaran, bukan sebaliknya. (Surhert). 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Saudaraku, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), nama yang selalu disebut bila terjadi bencana, dibentuk sesuai UU No 24 Tahun 2007 Penanggulangan Bencana. Melihat adanya potensi bencana-bencana yang dapat menimpa negara, sejak 20 Agustus 1945, 3 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, para pendiri Negara Indonesia membentuk Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di tahun-tahun berikutnya badan ini lingkup tugasnya diperluas hingga adanya BNPB. Potensi penyebab bencana dapat dikelompokkan dalam tiga jenis bencana, yaitu: Satu, Bencana alam, termasuk wabah dan kejadian antariksa/benda-benda angkasa yang menabrak bumi. Dua, Bencana Non Alam  yang disebabkan manusia, termasuk ledakan nuklir dan pencemaran lingkungan. Tiga, Bencana Sosial,  antara lain kerusuhan dan konflik sosial dalam masyarakat. Banyak bencana yang kejadiannya sering berulang dan lokasi kejadiannya di wilayah tertentu, seperti bencana Tsunami di pantai-pantai Jepang bagian timur, Tornado di wilayah Amerika Tengah, banjir di wilayah aliran sungai tertentu, dan lain-lain.  Banyak pemerintah di dunia yang dapat memperkirakan potensi bencana ini dan membuat aturan dan tindakan yang bisa meminimalisir kerugian, antara lain aturan tentang konstruksi bangunan tahan gempa, membuat waduk, tanggul dan mengatur aliran sungai, dan lain-lain, bahkan baru-baru ini pemerintah Turki mengadili para kontraktor yang gedung-gedung dibangunnya roboh karena salah konstruksi. Akhir-akhir ini terjadi berbagai bencana di beberapa wilayah di negara kita, oleh karena itu aku mengajak Saudara untuk merenungkan pesan rasul Paulus kepada jemaat di Galatia: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Jika terjadi bencana di suatu wilayah, otomatis gereja-gereja yang ada di wilayah itu juga terdampak, entah itu rusak kena gempa atau kebanjiran, warga jemaat juga ikut menderita akibat bencana.  Perlu kita lakukan berbagai persiapan menghadapi bencana yang kemungkinan ada, atau tidak pernah ada, jadi kita juga dapat berpikir luas untuk membantu warga di tempat lain yang terdampak bencana sebagai kepanjangan tangan kasih Tuhan.  Sering kita tidak mempersiapkan sebelumnya, baru setelah ada bencana dibentuklah panitia untuk membantu, jadi tindakan pertolongan pertama baru dapat dilakukan beberapa hari,  bahkan beberapa minggu kemudian. Apakah karena tidak ada anggaran yang tersedia maka tidak dapat bergerak cepat? Saudaraku, mari dengan rendah hati dan kesadaran diri, kita meninjau bersama: Dalam satu tahun, Gereja mendapatkan kolekte dari jemaat dalam 52 kali Kebaktian Umum (KU) Minggu, ditambah 3 kali Kebaktian Hari Raya Gerejawi: Natal, Jumat Agung, Kenaikan Yesus dan 1 kali Kebaktian Tutup Tahun dan 1 kali Kebaktian Tahun Baru, total ada 57 Kebaktian Umum yang merupakan potensi penerimaan kolekte. Bahkan kalau dalam 1 hari Minggu ada beberapa KU ya penerimaan kolekte lebih banyak lagi.  Nah, dalam 1 tahun ada 4 kali hari Minggu kelima, aku usulkan bagaimana kalau dalam KU Minggu V  semua kolekte dialokasikan untuk “Kas Tanggul Bencana”.  Coba kita berhitung: 4KU/57KU, hanya 7%-10% dari penerimaan per tahun. Dana ini sebaiknya dimasukkan dalam rekening terpisah dari rekening operasional gereja lainnya. Juga sumbangan-sumbangan yang ditujukan untuk membantu aksi Tanggul Bencana dimasukan dalam kas khusus ini. Dengan demikian gereja dapat bergerak cepat untuk memberi pertolongan kepada para korban bencana,  khususnya yang berada di radius dekat dengan gereja kita. Selain itu tentunya Gereja perlu melatih para pemuda untuk menjadi kader Taruna Siaga Bencana (Tagana), Dengan demikian para pemuda gereja dapat turut aktif dalam penanggulangan bencana. Saat terjadi bencana Tuhan juga menolong anak-anak-Nya, pertolongan bukan datang dari langit, tapi melalui diri kita yang membuka diri dipakai oleh Tuhan. Saudaraku, dengan bertolong-tolongan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan, kesesakan, dan himpitan  hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain, dan bukannya membuat kita terkucil sendirian di tengah penderitaan. (Surhert)

The Way To Life

RENDAH HATI. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rendah hati adalah kata sifat yang berarti tidak sombong atau tidak angkuh. Secara umum arti rendah hati adalah orang yang memiliki sifat baik hati, suka menolong dan juga peduli terhadap sesama. Dikutip dari buku “Pengembangan Karakter untuk Anak” oleh John Garmo, kerendahan hati adalah kualitas karakter yang sengaja menempatkan diri pada kondisi yang lebih rendah. Dengan demikian, kita bisa memberikan penghargaan kualitas yang lebih kepada orang lain. Kata kerendahan hati (humility) berasal dari bahasa latin humalitas yang berarti garis terendah atau sikap tunduk. Sikap ini bisa kita dapatkan dengan cara berlatih dan terus belajar. Sahabat, menjadi rendah hati adalah mengenali dengan penuh syukur kebergantungan kita kepada Tuhan. Menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan tetap akan dukungan Tuhan. Kerendahan hati adalah suatu pengakuan bahwa bakat-bakat dan kemampuan kita adalah karunia dari Tuhan.  Hal itu bukan tanda kelemahan, rasa malu, atau minder; itu merupakan pertanda bahwa kita mengetahui di mana letak kekuatan sejati. Kita dapat menjadi rendah hati dan tidak takut. Kita dapat menjadi rendah hati serta berani. Yesus Kristus adalah teladan kerendahan hati terbesar. Selama pelayanan-Nya di dunia,  Dia senantiasa mengenali bahwa kekuatan-Nya datang karena kebergantungan-Nya kepada Bapa-Nya. Dia berfirman: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; …  Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30). Tuhan akan menguatkan kita sewaktu kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Yakobus mengingatkan:  “Allah menentang orang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:6, 10). Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zefanya dengan topik: The Way to Life (Jalan Menuju Kehidupan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 2:1-3. Sahabat, saat ini, sikap individualistis terasa sangat kuat, banyak orang cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya daripada kepentingan bersama. Keinginan untuk diakui, lebih kuat daripada keinginan untuk hidup bersama sebagai manusia yang setara.  Untuk mencapai hal tersebut, orang lain tidak lagi dipandang sebagai subyek yang juga patut untuk dihargai. Hidup yang demikian tentu tidak akan membawa ketenangan, tetapi justru kerisauan yang tidak berkesudahan. Kepada umat-Nya, nabi Zefanya menyerukan ajakan untuk bertobat. Uniknya, ajakannya ini diserukan kepada orang-orang yang rendah hati. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, tetapi karena hanya orang-orang yang rendah hati sajalah yang dapat melihat kesalahan dan kekurangannya, sehingga mereka akan selalu mencari Tuhan dan mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan.  Di sisi yang lain, nabi Zefanya juga menunjukkan, bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang dapat menemukan jalan menuju kehidupan yang sejati, yakni dengan senantiasa mengupayakan keadilan bagi sesama. Dengan demikian, maka Allah akan melindungi mereka, serta membebaskan mereka dari hukuman-Nya. Sahabat, nabi Zefanya mengajarkan bahwa dengan bersikap rendah hati, maka kita akan menjadi pribadi yang bijaksana. Artinya, kita dapat melihat dengan mata terbuka bahwa kita hanyalah manusia yang kecil, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang sejati dengan senantiasa berserah kepada Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang rendah hati? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya orang yang rendah hati yang dapat menemukan hidup yang sejati. (pg).

UP AND DOWN 300 TAHUN

Membaca kitab Hakim-hakim ada perjalanan sejarah bangsa Israel, keluar dari penjajahan Firaun 430 tahun, berkelana 40 tahun menanggung hukuman ketidakpercayaan terhadap janji Tuhan, akhirnya masuk tanah Kanaan dan di bawah Yosua berperang menaklukkan bangsa-bangsa yang menguasai Kanaan selama 30 tahun.  Sebelum Yosua dan angkatannya meninggal dunia, mereka memperingatkan orang Israel agar tetap menjaga Firman Tuhan dan menaatinya agar kehidupannya tetap baik sesuai berkat Tuhan yang telah dijanjikan. Kenyataannya lain, ada penampakan Malaikat Tuhan: “ … janganlah kamu mengikat perjanjian dengan penduduk negeri ini; mezbah mereka haruslah kamu robohkan. Tetapi kamu tidak mendengarkan firman-Ku. Mengapa kamu perbuat demikian? (Hakim-hakim 2:2) Akibatnya orang Israel di tanah Perjanjian dijajah silih berganti oleh berbagai bangsa. Terjadi penindasan yang sangat berat, ingat Tuhan kembali, bertobat kepada Tuhan, Tuhan mendengarkan permohonan, lalu Tuhan memilih beberapa tokoh menjadi hakim berperang melawan bangsa-bangsa penindas. Menang, para hakim memerintah orang Israel, kondisi menjadi tenteram dan aman, si hakim meninggal dunia, dan mulailah orang Israel lupa untuk tetap taat kepada Tuhan. Lalu ditindas musuh lagi. Up and down kehidupan rohani dan jasmani orang Israel, siklusnya selalu berulang, terjadi selama 300 tahun lebih. Zaman Yosua aman 30 tahun, Otniel menjadi hakim 40 tahun, Ehud menjadi hakim 80 tahun, Samgar – tidak dicatat berapa tahun, Debora dan Barak 40 tahun, Gideon 40 tahun, Abimelekh anak Gideon mengangkat diri menjadi raja 3 tahun, Tola 23 tahun, Yair 22 tahun, Yefta menjadi hakim selama 6 tahun, Ebzan 7 tahun, Elon 10 tahun, Abdon 8 tahun, Simson 20 tahun. Total ada 12-13 periode hakim-hakim sejak Yosua, jumlah tahunnya selama 329 tahun sejak masuk tanah Kanaan. Sangat lama up and down kehidupan rohani dan jasmani, saat kerohanian baik Tuhan memberkati, saat meninggalkan Tuhan hukuman dan penindasan datang. Saudaraku, terjadi up and down selama 300 tahun lebih, jelas, karena tidak mendengarkan, apalagi menaati firman Tuhan. Gereja-gereja yang megah di ratusan kota di luar negeri mulai ditinggalkan jemaatnya. Sepi, bahkan anggota jemaat yang tersisa tidak mampu membiayai perawatan gedung gereja. Pemerintah memandang bangunan gereja sebagai cagar budaya, akhirnya menetapkan pajak gereja (Kirchensteuer).  Di Google dapat kita temukan besaran panjaknya: Sebesar 9% dari PPh, atau 8% di Bavaria dan Baden-Württemberg Jerman, jika berpenghasilan 50.000€ per tahun, pajak gereja sekitar 800€ per tahun. Di Swiss besaran pajak gereja ditentukan oleh Kanton atau negara bagian setempat, berlaku terhadap perorangan maupun badan hukum.  Saudaraku, mari kita sadar, bahwa gereja-gereja di Jerman dan Swiss didirikan dan dibangun oleh para pengikut Martin Luther, William Tyndale, Ulrich Zwingli, Yohanes Calvin, dan Menno Simons,  yang ajaran-ajarannya hingga hari ini menjadi pengajaran cukup banyak gereja-gereja di Indonesia. Menghadapi tantangan tersebut, aku mengajak Saudara untuk merenungkan kitab Ulangan 6:1-9. Umat Tuhan diselamatkan dari perbudakan Mesir untuk suatu kehidupan yang baru, yaitu hidup dalam iman. Hidup dalam iman berarti terhubung dengan dengan Allah dalam sebuah relasi yang dilandasi oleh kasih. Umat Tuhan bukan hanya mengakui Tuhan, tetapi mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.Sebelum umat Tuhan sampai ke tanah perjanjian, Tuhan mengingatkan umat-Nya melalui Musa bahwa hal yang terutama dalam hidup mereka adalah memiliki kehidupan yang beriman. Iman kepada Allah yang menyelamatkan mereka menjadi bagian hidup yang terpenting dan paling berharga turun-temurun. Itulah WARISAN TERBESAR  umat Tuhan kepada ANAK-ANAKNYA : IMAN YANG HIDUP.Hal yang terutama, terpenting, dan paling berharga bagi umat Tuhan di sepanjang masa adalah iman yang hidup kepada Allah di dalam Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa. Karena itu, seharusnya setiap orangtua Kristen mewariskan iman yang hidup itu kepada anak-anaknya.Saudaraku, mewariskan iman memang harus dilakukan dengan cara mengajarkan dan menunjukkan sikap hidup sehari-hari di dalam mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Mari kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan dalam setiap aktivitas hidup kita sehari-hari. (Surhert).

DARAH YESUS

Saudaraku, karena sesuatu hal, aku mesti dirawat di rumah sakit 3 hari. Kamar RS semuanya penuh dan aku mendapat bed kosong di ruang yang pasiennya 6 orang. Ya gimana lagi, ya masuk aja karena memang perlu infus. Ternyata di ruang ini aku melihat banyak kehidupan di ambang kritis. Di sebelahku umur 50 tahun sudah ngorok koma, keluarganya nangis-nangis, baru 30 menit lalu mesti dibawa ke ICU. Lalu ada pasien baru yang datang dalam keadaan tidak sadar, infus dan oksigen, karena semalam dia ada di dalam mobil ber-AC terlalu lama dan tiba-tiba pingsan. Kemarin ada seorang Pendoa yang besuk ke setiap pasien dan mengajak doa. Suaranya keras, dan ayat-ayat berikut ini yang selalu dibacakan ke setiap pasien dan penunggunya. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:4-5)  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Matius 8:17) Lalu Si Pendoa mengajak pasien dan penunggu untuk doa bersama dan minta ampun kepada Tuhan agar bisa mendapatkan kesembuhan, sebab darah Yesus akan menyembuhkan. Nah ini, melihat adegan yang diulang, mungkin dari kamar ke kamar, tiba-tiba timbul pertanyaan di benakku: Apakah penebusan Tuhan Yesus di salib, bilur-bilur akibat penyiksaan yang kejam, apakah darah penebusan Yesus hanya dikhususkan untuk kesembuhan penyakit?  Dalam posisi masih berbaring, aku mendengar bisikan lembut: “Sur, coba renungkan dalam-dalam 1 Petrus 2:24-25”. Segera aku membacanya: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.  Saudaraku, sejatinya manusialah yang memikul dosa-dosanya. Manusia harus membersihkan dirinya dari segala dosanya agar bisa memperoleh kehidupan yang kekal, sebab  upah dosa adalah maut atau kematian kekal.  Usaha manusia untuk menjadi sempurna dengan menanggalkan segala dosa tidak mungkin terjadi. Satu-satunya cara membersihkan manusia dari keberdosaannya adalah menjadikan Yesus memikul dosa itu di kayu salib. Hal pertama yang dirampungkan Kristus di kayu salib ialah menanggung segala kelakuan dosa kita, yakni dosa-dosa yang kita lakukan agar kita diselamatkan, berpindah dari dalam maut ke dalam hidup. Pada saat yang sama, Kristus di kayu salib menyingkirkan sifat dosa di dalam kita (dosa yang diwariskan sejak lahir) agar kita diselamatkan dari sifat dosa yang ada di dalam kita. Kristus menanggung dosa-dosa lahiriah kita juga menyingkirkan sifat dosa di dalam kita di atas salib: Ia menerima kutuk yang harus dipikul berdasarkan hukum Taurat Allah atas kejatuhan dan dosa kita. Kematian Kristus di kayu salib bukan hanya membereskan dua aspek dosa tersebut namun juga menyalibkan manusia lama kita agar tubuh dosa kita kehilangan fungsinya sehingga kita tidak perlu lagi diperbudak dosa. Kristus mengambil dosa-dosa kita ke dalam tubuh-Nya sendiri dan membawanya pergi, naik ke bukit Kalvari, ke kayu salib, dan di sana Ia telah membayar lunas harga dari dosa-dosa kita.  Saudaraku, inilah yang disebut dengan substitusi atau penggantian penebusan. Dia yang tak bernoda, rela menebus kita. Karena itu, berilah syukur dan terimakasih bagi Yesus yang telah rela memikul dosa-dosa kita agar kita beroleh kehidupan yang kekal. Dia yang sudah menanggung segala kelemahan kita agar kita menikmati pembebasan dari efek dosa (overguilty, kepahitan hati) yang bisa menimbulkan kelemahan fisik. Mari nikmati kuasa darah Yesus yang membebaskan kita secara holistis.   (Surhert)

MOBILITAS

Saudaraku, sementara menunggu antrian dokter di rumah sakit, aku perhatikan pergerakan pasien. Yang dari Unit Gawat Darurat (UGD) ke bangsal lain diangkut menggunakan ranjang beroda. Lalu yang paling banyak pergerakan pasien dan orang sakit memakai kursi roda, jarang melihat yang memakai kruk atau tongkat.  Di Alkitab aku tidak menemukan adanya kursi roda, entah mengapa, padahal saat itu kereta beroda merupakan salah satu moda  transportasi. Justru gambar orang dengan kursi roda dari China zaman Samkok pada tahun 220–280, yakni ahli strategi militer Zhuge Liang yang pergi kemana pun duduk di kursi roda yang didorong. Aku menemukan cukup banyak cerita tentang orang lumpuh di Alkitab. Ternyata lumpuh termasuk salah satu penyakit dan kelemahan yang cukup banyak  diderita manusia sejak dulu. Mengapa lumpuh? Jelas karena tidak bisa berdiri, entah itu karena usia lanjut ataupun penyakit. Sering kita mengabaikan kekuatan kaki dalam menopang tubuh. Misalkan berat badan 60 kg, maka satu kaki menopang tubuh 30 kg selama 24 jam sepanjang hari, sepanjang tahun, padahal air dalam kemasan galon beratnya hanya 20 kg tapi kalau kita mesti menggotong 1 galon saja selama 15 menit akan sangat lelah. Saudaraku, Tuhan menciptakan struktur tubuh kita sangat unik dan hingga hari ini dunia kedokteran masih menemukan hal-hal baru tentang tubuh manusia.  Pemazmur mengingatkan kita: ”…  Engkaulah, Tuhan, yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139:13). Penulis kitab Ayub juga mengingatkan kita: “Engkau mengenakan kulit dan daging kepadaku, serta menjalin aku dengan tulang dan urat” (Ayub 10:11).  Terjadinya seluruh tubuh dan diri kita sebenarnya ada kuasa dan tangan Tuhan yang mengerjakannya. Sayangnya, tidak semua kita menyadarinya. Akhirnya melakukan perbuatan yang tidak senonoh, bersikap sembrono tidak memedulikan kesehatan akibatnya tidak mampu bergerak akibat suatu penyakit dan bahkan terjadi kelumpuhan. Saudaraku, raja Daud dalam Mazmur 94:18 menulis: Ketika aku berpikir: “Kakiku goyang,” maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Kaki adalah bagian tubuh yang sangat penting sebab kaki akan membawa kita kemana saja yang kita sukai.  Jika kaki kita mengalami gangguan maka kita tidak bisa berjalan kemana-mana lagi. Terkadang kaki kita bisa mengalami gangguan, misalnya kaki kita tidak kuat menahan beratnya tubuh kita, atau kaki kita tidak bisa berjalan jauh, akhirnya kaki kita goyang dan tidak bisa lagi berdiri kokoh. Sesungguhnya yang sering membuat kaki kita goyang adalah masalah yang sedang kita hadapi. Kita tidak bisa melangkah karena banyaknya pergumulan hidup yang kita hadapi. Kita enggan melangkahkan kaki kita karena beban yang sedang kita pikul saat ini. Kita merasa malu berjalan karena tubuh kita dipenuhi masalah.  Penyakit yang mengganggu tubuh kita membuat langkah kita terhenti dan sulit melangkah. Ekonomi yang tidak memadai membuat langkah kita terseret-seret jalannya. Masalah anak, suami dan istri bahkan keluarga membuat kaki kita sulit melangkah keluar rumah. Kadang masalah di kantor dan pekerjaan membuat langkah kita tidak percaya diri lagi dan depresi. Ada cukup banyak hal yang membuat kaki kita goyang dan tidak tahan lagi berjalan. Pada situasi itu kita butuh kekuatan yang bisa membuat kaki kita kokoh dan kuat kembali. Hanya TUHAN-lah yang bisa dan mampu memberikan kekuatan baru bagi kaki kita agar kuat dan kokoh kembali melangkahkan kaki untuk berjalan menapaki kehidupan ini walau ada banyak pergumulan yang menghimpit kita.  Saudaraku, kita berjalan bersama TUHAN maka kaki kita kuat menahan derita dalam perjalanan hidup di dunia ini. Karena itu, teruslah mengandalkan TUHAN agar kaki kita tidak goyang namun kokoh dan kuat menjalani perjalanan hidup kita di dunia ini. (Surhert).

PERNAK PERNIK PASKAH

Saudaraku, pada hari ketiga Tuhan Yesus bangkit dari kematian, dan peristiwa ini disebut sebagai Paskah. Istilah Paskah di PL yakni perayaan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir. Pada saat itu diadakan upacara Roti Tak Beragi dan persembahan anak sulung dengan upacara korban domba. Ini merupakan perintah Tuhan yang harus dikenang oleh Musa. Lalu mengapa kemudian umat Kristen memperingati kebangkitan Tuhan Yesus sebagai Paskah atau Easter, aku kutipkan dari source Encyclopaedia Britannica, Inc tahun 2024 dan beberapa sumber  lainnya. Paskah atau Easter (bahasa Inggris) paralel dengan kata Jerman Ostern. Ada pendapat bahwa kata ini berasal dari Eostre, atau Eostrae, dewi musim semi dan kesuburan Anglo-Saxon. Pandangan tersebut seperti mengaitkan asal mula Natal pada tanggal 25 Desember sama dengan perayaan titik balik matahari musim dingin.  Kini ada konsensus berasal dari kata Pascha (Latin dan Greek) kemudian menjadi kata Pâques (Perancis). Kemungkinan lain asal kata Easter dari bahasa Jerman kuno Eostarum yang berarti FAJAR. Jadi menunjukkan pada saat fajar di hari Paskah, saat Maria Magdalena pergi ke kuburan Yesus. Bagaimana menentukan tanggal hari Paskah? Saat Tuhan Yesus disalib dan bangkit dicatat dalam penanggalan Republik Romawi yakni kalender Julian yang ditetapkan oleh Julius Caesar dan kemudian oleh Kaisar Agustus pada akhir abad 1 SM.  Gereja mula-mula merayakan hari Penyaliban pada hari yang sama dengan hari orang Yahudi merayakan persembahan Paskah, yakni, pada hari ke-14 bulan purnama pertama musim semi, tanggal 14 Nisan (kalender Yahudi).  Maka, Kebangkitan terjadi dua hari kemudian, pada tanggal 16 Nisan dalam minggu itu. Tentu penanggalan kalender Yahudi ini cukup menyulitkan karena saat itu berlaku penanggalan Republik Romawi. Kemudian ada 318 orang uskup dari seluruh Gereja pada zaman itu mengadakan Konsili Nicea pada tanggal 20 Mei – 19 Juni 325 M. Perlu diketahui saat itu ada 5 pusat kekristenan yakni: Yerusalem, Anthiokia, Roma, Aleksandria dan Konstantinopel. Setiap pusat Gereja memang menyelenggarakan Gerejanya sendiri-sendiri, namun ajarannya bersumber dari satu yaitu Tuhan Yesus Kristus yang kemudian disebarkan oleh Para Rasul. Hasil dari Konsili Nicea adalah Pengakuan Iman (Rasuli) yang disetujui oleh semua Gereja dan diikrarkan di Kebaktian Raya hari Minggu hingga saat ini. Selain itu Konsili juga menetapkan bahwa Paskah harus dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah equinox musim semi (20 Maret). Equinox yakni saat matahari melintasi garis khatuliswa. Equinox terjadi 2 kali setiap tahun yakni 20 Maret sebagai awal musim semi dan 23 September sebagai awal musim gugur, dan perhitungan Paskah dihitung dari equinox awal musim semi. Oleh karena itu, Paskah dapat jatuh pada hari Minggu mana pun antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Untuk jelasnya kita dapat download kalender lunar. Dari kalender lunar ini dapat diketahui kapan bulan purnama atau bulan pas tanggal 15 setelah equinox di bulan Maret, dan cari hari Minggu terdekat setelahnya, itulah Paskah. Contoh untuk tahun 2024, equinox tanggal 20 Maret 2024 dan bulan purnama pada Senin 25 Maret 2024, jadi Paskah pada tanggal 31 Maret 2024, hari Minggu terdekat dari bulan purnama 25 Maret.  Tapi kalau Pembaca tidak mau jelimet ya bisa ketik Easter tahun 2024 di Google, langsung keluar tanggal 31 Maret 2024, dan Anda bisa tahu tanggal Paskah tahun 2050 yakni tanggal 10 April 2050. Dari penetapan tanggal Paskah bisa dihitung kapan lent atau puasa enam minggu, tidak termasuk hari Minggu, sebelum Paskah dan dimulai pada hari Rabu Abu. PERNAK-PERNIK PASKAH begitu banyak, sesungguhnya intinya tetap satu, yakni memperingati KEBANGKITAN  Tuhan Yesus Kristus dari KEMATIAN. Dasar iman kita percaya pada Yesus Kristus yang telah bangkit, yang hidup, bukan mati. Karena kebangkitan ini maka YESUS KRISTUS TETAP SAMA, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8) Saudara, kita mempunyai Allah yang tidak berubah. Kita dapat memercayai-Nya seratus persen dan tidak perlu ragu terhadap janji-janji-Nya. Apabila bangsa Israel pernah ditolong dan dilepaskan dari tentara Mesir, maka saat ini juga Dia sanggup menolong kita dan melepaskan kita dari KEJARAN MASALAH KITA.  DIA TIDAK BERUBAH!!! Karena itu teruslah hidup bersama Yesus. (Surhert). 

DARKNESS OVER ALL THE EARTH

Saudaraku, Yesus disalib, melalui  Google kita  dapat mengetahui tanggalnya, yakni 3 April AD 33. Hari itu ada fenomena alam dahsyat, Lukas 23:44-45 mencatat: “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar.” Saat itu di Israel jam 12.00 siang dan matahari tidak bersinar hingga jam 15.00. Kita tidak tahu apakah matahari mendadak tidak bersinar di lokasi penyaliban, atau meliputi seluruh dunia yang pas siang hari, sebab wilayahnya luas sekali. Kegelapan melanda seluruh siang hari di dunia saat itu, Alkitab KJV menyebutkan “darkness over all the earth”, yakni dari jam UTC (Universal Time Coordinated) atau Greenwich Mean Time (GMT) saat kegelapan jam 12.00-15.00 Israel ini juga terjadi di: Kawasan Britain, London, jam 10.00 – 13.00 (2 jam lebih awal). Kota Roma Italia zaman Kaisar Tiberius, jam 11.00 – 14.00 (1 jam lebih awal). Di wilayah Kashmir India zaman Kaisar Meghavahana Dinasti Gonanda II, jam 15.30 – 18.30 (3,5 jam lebih maju). Di wilayah Kaisar Guangwu Dinasti Han Timur di China, mendadak gelap saat matahari terbenam jam 18.00 – 21.00 (6 jam lebih maju). Di Pulau Jawa saat itu Jawa-Dwipa, jam 17.00 – 20.00 (5 jam lebih maju), mendadak petang hari menjadi gelap, bulan bintang tidak kelihatan, dan tiba-tiba jam 20.00 langit malam kembali cerah. Wah peristiwa alam yang mahadahsyat. Di zaman Firaun Mesir pernah ada kegelapan setempat selama tiga hari penuh. Keluaran 10:22-23 Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya. TUHAN pencipta semesta alam, TUHAN Yang Mahakuasa, dapat membuat perubahan alam semesta, berkuasa membuat matahari tidak bersinar selama beberapa hari atau tidak bersinar pada jam saat penyaliban. Di kitab Yosua, matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Juga di 2 Raja-raja 20:11 Nabi Yesaya berdoa kepada TUHAN, dan dibuat-Nyalah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak, yang sudah dijalani bayang-bayang itu pada penunjuk matahari buatan Ahas. Jadi jarum jam malahan berjalan mundur. Hati orang mana yang merasa tidak gentar dan sangat takut melihat fenomena alam matahari mendadak gelap selama 3 jam, membuat kepala pasukan Romawi yang berdiri berhadapan melihat kematian Yesus disalib berkata: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39)  Saudaraku, dari Lukas 23:44-48, kita diajak memahami bahwa peristiwa penyaliban Yesus sesungguhnya menjadi peristiwa kasih yang melahirkan banyak peristiwa dan perubahan ajaib: Langit yang gelap karena mentari tidak bersinar, tabir Bait Suci terbelah dua, kepala pasukan memuliakan Allah, hingga orang banyak yang menyesali apa yang terjadi (Ayat 44-48).   Orang-orang yang mengenal Yesus dari dekat serta para pengikut-Nya melihat dan menjadi saksi akan peristiwa kasih terbesar sepanjang masa (Ayat 49) ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya (ayat 46). Karena kasih-Nya, Yesus telah mati untuk kita (bdk. Yohanes 3:16). Dengan lebih dalam, mari kita lihat dan resapi semua peristiwa ini, dan katakan: “Yesus, terima kasih untuk kasih-Mu”.Saudaraku, tatanan masyarakat kita sekarang ini sedang kering dengan cinta kasih. Semua orang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan dunia yang dipenuhi oleh nilai-nilai egoisme dan individualisme ini, kita belum bisa memiliki kualitas kasih seperti Yesus.Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mengasihi sama seperti Ia mengasihi dunia dan umat manusia. Dengan demikian, kasih terbesar yang telah Ia lakukan dan tunjukkan tidak hanya terjadi di atas salib 2.000 tahun yang lalu, namun bisa terus tampak nyata sampai akhir zaman MELALUI DIRI KITA. (Surhert).

MENGHAMPARKAN PAKAIAN MEMBUKA JALAN

Saudaraku, di awal perenungan kita pada hari ini, coba kita menelaah apa yang dicatat oleh Markus: “ … mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.” (Markus 11:7-8) Lho kok mau-maunya orang sampai menghamparkan pakaian untuk jalan? Tapi ada juga di PL, pasukan Panglima Yehu masing-masing mengambil pakaiannya dan membentangkannya di hadapan kakinya begitu saja di atas tangga, kemudian mereka meniup sangkakala serta berseru: “Yehu raja!” (2 Raja-raja 9:13). Gereja kami saat acara HUT di Istora Senayan mengundang Gubernur Ahok untuk hadir. Saat masuk Istora Ahok didampingi Ketua Majelis berjalan gagah, hadirin sekitar 10.000an orang berdiri bertepuk tangan, dan Ahok tersenyum cerah beberapa kali melambaikan tangan ke jemaat. Saya pernah menonton show penyanyi raja ndang-dut, yang saat masuk di stadion setidaknya sekitar 10 orang kekar membuka jalan menyibak massa yang ingin berebut bersalaman. Juga saya melihat seorang paslon presiden datang ke kampanye puluhan ribu orang, berjalan masuk stadion dengan tegap, melambaikan-lambaikan tangan, beberapa kali mengepalkan tangan, berteriak “Merdeka!”, hadirin gemuruh bertepuk tangan. Yang keren lagi, sekitar sepuluh tahun lalu, saat Pdt Benny Hinn datang memimpin KKR di Ancol yang dihadiri lebih dari 200.000 orang, wah … datang dari Hotel Borobudur ke belakang panggung KKR dengan naik helikopter. Itulah hidup, tapi aku belum pernah melihat orang menghamparkan pakaian di jalan untuk menyambut kedatangan seorang tokoh. Saudaraku, waktu Yesus naik keledai arak-arakan menuju Yerusalem, keledai berjalan di atas bentangan pakaian warga, dan di kanan-kiri warga melambai-lambaikan ranting-ranting hijau. Kira-kira saat itu apakah Yesus senyum-senyum bahagia, melambai-lambaikan tangan dan menyalami massa? Tidak dicatat begitu ya, malahan Yesus MENANGISI Yerusalem (Lukas 19:41). Mengapa warga Yerusalem yang menyambut Yesus rela menghamparkan pakaiannya agar keledai yang ditunggangi berjalan lewat hamparan itu? Saat itu Yesus tidak pakai voorijder untuk membuka jalan, rakyat pasti akan berebut menyalami, berebut, malahan akan menghambat jalan ke depan. Karenanya ada pakaian-pakaian yang dihamparkan di depan pasti dimaksudkan untuk membuka jalur jalan, dan orang-orang yang ingin berebut bersalaman tidak ikutan menginjak-injak pakaian, supaya rombongan Yesus lancar jalannya dan segera masuk kota Yerusalem. Menyambut kedatangan Yesus, bahkan menghamparkan pakain untuk membuka jalan, menunjukkan antusias yang sangat besar. Mungkin orang-orang Yahudi saat itu berpikir Yesus masuk Yerusalem, lalu akan cari panggung besar di alun-alun, berdiri di mimbar tinggi, umbar seyum dan tawa bahagia, dan di depan massa akan mengepalkan tangan ke atas, lalu meneriakkan: “Merdeka! Kita usir penjajahan Romawi hari ini!” dan mengharapkan Yesus mengadakan berbagai mukjizat, menandakan datangnya raja atau ratu adil makmur yang ditunggu-tunggu. Saudaraku, hari ini, kira-kira bagaimana suasana hatimu saat ibadah di hari Minggu Palem? Ikutan menyambut Yesus atau ah … merasa biasa-biasa saja karena ini rutin tahunan diadakan di gereja? Kalau kita benar ingin menyambut kehadiran Yesus di hati, apakah kita jelas maksud dan tujuannya? Supaya Tuhan Yesus selalu melakukan mukjizat dan melimpahkan berkat bagi diri kita? Jangan sampai Yesus kembali menangisi diri kita: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” (Lukas 19:42) Saudaraku, mengapa dan kapan saja kita menangis? Apakah kita lebih banyak menangis karena dan bagi diri sendiri? Saat kita merasa sakit, kehilangan, dirugikan, dan lain sebagainya?  Yesus menangis karena manusia berdosa terpisah jauh dari Bapa yang sangat mengasihi mereka. Mereka tidak juga mengerti bahwa jalan untuk kembali kepada Bapa dan kemuliaan-Nya sudah dijembatani oleh-Nya. Apakah hati kita juga menangis melihat jiwa-jiwa yang tersesat? Maukah kita terus mendoakan, memerhatikan, dan menyampaikan berita keselamatan-Nya, agar mereka tidak menangis selamanya dalam kebinasaan kekal? (Surhert).

God Never Sleeps

PENGANTAR KITAB ZEFANYA. Sahabat, ada cukup banyak orang percaya mengenal nama Raja Yosia sebagai salah seorang raja Yehuda yang baik, tetapi kurang mengenal nama Nabi Zefanya. Padahal, mereka hidup sezaman dan keduanya adalah keturunan dari Raja Hizkia (Zefanya 1:1).  Walaupun Raja Yosia termasuk generasi ketiga sesudah Raja Hizkia, sedangkan Nabi Zefanya merupakan generasi keempat, tampaknya usia Nabi Zefanya lebih tua daripada Raja Yosia, karena kondisi saat Nabi Zefanya menyampaikan pesan dari TUHAN lebih cocok bila disampaikan di awal pemerintahan Raja Yosia. Raja Yosia mulai memerintah pada usia delapan tahun. Pada tahun kedelapan belas pemerintahannya, yaitu saat dia berumur dua puluh enam tahun, dia memerintahkan agar Bait Allah di Yerusalem direnovasi. Saat renovasi dilakukan, Imam Besar Hilkia menemukan kitab Taurat, lalu kitab Taurat itu diserahkan kepada Panitera bernama Safan untuk disampaikan kepada Raja Yosia.  Saat Safan membaca kitab Taurat itu, sadarlah Raja Yosia bahwa kehidupan umat Yehuda telah sangat berdosa di hadapan TUHAN, sehingga ia merendahkan dirinya, menangis, lalu mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda penyesalan.  Konteks sejarah inilah yang membuat kita menduga bahwa Nabi Zefanya menyampaikan nubuat penghukuman TUHAN di awal pemerintahan Raja Yosia, dan besar kemungkinan bahwa nubuat Nabi Zefanya adalah salah satu penyebab munculnya reformasi pada zaman pemerintahan Raja Yosia (2 Raja-raja 22). Dalam kitab Zefanya dan juga dalam berbagai kitab lain dalam Perjanjian Lama, hari saat Tuhan menjatuhkan hukuman disebut hari TUHAN. Bagi umat Yehuda yang telah meninggalkan TUHAN dan menggantikannya dengan menyembah berhala, termasuk bagi para pemimpin umat yang telah menyelewengkan umat dari praktik penyembahan kepada TUHAN, hari TUHAN itu merupakan hari penghukuman yang amat mengerikan! Akan tetapi, bagi umat TUHAN yang setia atau bagi umat TUHAN yang telah bertobat, hari TUHAN itu merupakan hari yang membangkitkan pengharapan. Kita perlu menyadari bahwa hari penghukuman yang pernah dijatuhkan TUHAN kepada umat-Nya itu bukanlah penghukuman final. Hari penghukuman final masih belum tiba! Syukur kepada Tuhan, hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Zefanya dengan topik: “God Never Sleeps (Tuhan Tidak Pernah Tertidur). Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 1:2-18. Sahabat, meraih suatu pencapaian yang luar biasa tentu membuat diri merasa bangga. Ada kalanya kegembiraan tersebut membuat orang lepas kendali dan ingin menceritakannya kepada setiap orang yang dijumpai, juga menuliskannya melalui dinding media sosial. Tujuannya tak lain untuk menunjukkan eksistensi diri, mencari pengakuan bahwa kitalah yang melakukan hal besar dan luar biasa itu.Jika kita memiliki kebiasaan mengagungkan kemampuan atau pencapaian diri, waspadalah supaya jangan sampai kita memiliki pandangan yang menganggap Allah tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia. Padahal, bukankah TUHAN TIDAK PERNAH TERTIDUR? Dia tetap memegang kendali. Pada saat-Nya Dia akan menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya, tak segan menghukum setiap manusia yang berani berbuat dosa karena tidak memiliki kepedulian pada keberadaan-Nya.Sahabat, anggur yang baik mutunya, yakni jernih dan bebas ampas, didapatkan karena mengalami proses penuangan atau pemindahan dari tempayan satu ke tempayan lain melalui penyaring.  Karena itu mari kita perhatikan kehidupan kita, supaya hidup kita tidak mengental seperti anggur di atas endapannya: Berpuas diri karena merasa bahwa semua kemampuan dan pencapaian adalah hasil usaha sendiri; bertingkah sesuka hati dan berkubang dalam dosa tanpa perasaan takut kepada Allah layaknya seorang pemabuk yang sedang teler. Orang yang terbuai dalam kenyamanan karena merasa diri hebat tidak akan pernah mengalami PROSES PEMURNIAN TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Membuka hati dan menjadi peka membuat kita merasakan keterlibatan Allah secara aktif dalam kehidupan kita. (pg).