PILIHLAH KEBAIKAN

Hidup itu  sebuah pilihan. Sahabat, dalam perjalanan hidup, kita sering diperhadapkan dengan pilihan: Mau berbuat kebaikan atau kejahatan? Sebagai orang percaya  kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berbuat baik atau berbuat jahar. PILIHLAH KEBAIKAN. Untuk lebih memahami topik tentang: “PILIHLAH KEBAIKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 52:1-11. Sahabat, Mazmur 52 ditulis oleh Daud ketika Doeg, orang Edom, memberitahu Saul mengenai keberadaan Daud di rumah Ahimelekh (ayat 2; bdk. 1 Samuel 22:9-10). Mari kita memerhatikan seruan Daud dalam Mazmur 52. Ia menyoroti orang-orang yang dalam hidupnya senang merancangkan hal-hal buruk (ayat 4). Kata merancangkan dipakai untuk menjelaskan unsur pilihan yang diambil secara sadar. Secara spesifik, hal jahat yang dilakukan berkaitan dengan perkataan dusta atau menipu orang lain. Daud mengecam orang yang menyakiti sesamanya melalui perkataan yang dilontarkan (ayat 5-6). Ironisnya, kejahatan-kejahatan yang dilakukan justru semakin membuat orang-orang ini bangga dan memegahkan diri (ayat 3). Tidak ada penyesalan di dalam diri orang-orang tersebut. Hingga pada akhirnya, Allah sendirilah yang akan merobohkan segala keangkuhan mereka (ayat 7). Sahabat,  bagi orang-orang benar, nasib mereka akan berbanding terbalik dengan nasib orang-orang fasik. Mereka memilih untuk mencari ketenteraman hidup dengan berdiam bersama dengan Allah. Orang-orang ini adalah pihak yang senantiasa menghayati kasih setia Allah. Mereka terus berjuang untuk taat kepada-Nya (ayat 10). Allah berpihak kepada mereka yang berjuang untuk berbuat benar dalam kehidupannya. Sementara itu, orang yang terus-menerus terjebak dalam perbuatan jahat akan menemui kebinasaan. Sahabat, bagaimana dengan pilihan kita saat ini?  Sebagai manusia biasa, kita memang tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa. Namun, kondisi tersebut bukan pembenaran, sehingga kita bisa mendukakan-Nya. Sadarilah, kita akan terbiasa dengan dosa jika kita terus-menerus memakluminya. Sebaliknya, kita harus berani memilih segala sesuatu yang selaras dengan kehendak Allah. Jangan ragu memilih yang baik! Jangan pernah ragu: Pilihlah Kebaikan! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang telah diperbuat Saul dan Doeg dalam ayat 3-5? Apa yang akan diperbuat Allah bagi orang-orang yang merancangkan dan berbuat kejahatan? (Ayat 7 dan 9) Sebaliknya, apa yang diyakini dan dilakukan oleh Daud? (Ayat 10-11) Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Tuhan, mampukan kami untuk berani memilih kebaikan dan berbuat baik bagi sesama.” (pg)

Menyadari, Mengakui, dan Meminta Pengampunan

Sahabat, menyadari kesalahan itu biasa, tetapi mengakui kesalahan yang telah kita perbuat, kemudian meminta pengampunan, dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi adalah tindakan yang luar biasa. Kehidupan kita tidak terlepas dari pelanggaran. Intinya, tidak seorang pun kebal terhadap dosa! Yang membedakan adalah respons kita setelah kita menyadari bahwa kita telah melakukan suatu pelanggaran. Ada perbedaan yang mencolok antara pribadi Raja Saul dan Raja Daud.  Salah satunya adalah, Saul tidak pernah berjiwa besar untuk mengakui kesalahan, tidak pernah merasa menyesal ketika melakukan sebuah pelanggaran, melainkan selalu berkilah dengan menyalahkan situasi atau menyalahkan orang lain.  Berbeda sekali dengan Daud!  Hati Daud selalu terbuka untuk teguran dan koreksi  Ketika sadar telah melakukan kesalahan, Daud segera datang kepada Tuhan, mengakui dengan jujur kesalahan yang telah diperbuatnya, memohon pengampunan kepada Tuhan dan bertobat, tanpa pernah menutup-nutupi kesalahannya, membenarkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain. Untuk lebih memahami topik tentang: “Menyadari, Mengakui, dan Meminta Pengampunan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 51:1-21 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, Mazmur 51 merupakan doa dan refleksi iman Daud. Ia begitu menyesali dosanya dan memohon pengampunan kepada Allah. Secara khusus, doa penyesalan dosa ini terkait penyesalan Daud yang merampas Batsyeba, istri Uria. Sahabat, penyesalan dan pengampunan selalu diawali dengan pengakuan. Sebuah pengakuan yang didasarkan oleh kesadaran betapa rapuh diri yang penuh dosa ini (ayat 5). Dosa bagaikan belenggu yang menawan dan menjerat hidup manusia. Akibat dosa ialah rusaknya relasi dengan sesama dan Tuhan. Daud sadar betul bahwa untuk memulihkan relasi itu, Tuhan perlu campur tangan. Berulang kali ia memohon pengampunan dan campur tangan Allah (ayat 10-12). Daud yakin bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya. Sebab, Tuhan adalah pribadi yang penuh kasih terhadap umat-Nya. Ia akan mengasihani umat-Nya dan dalam rahmat-Nya manusia akan diberikan hidup yang baru (ayat 3). Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan  pesan bagi kita saat ini. Daud mengajak kita agar selalu menyadari dan mengakui dosa kepada Allah. Sering kali, kita berlagak seolah-olah bisa “menyembunyikan dosa” dari Allah yang maha mengetahui segalanya. Padahal, tidak ada yang bisa bersembunyi dari dekapan kasih-Nya. Akuilah dosa kita di hadapan-Nya, maka pengampunan Allah pasti tersedia bagi kita. Sadarilah bahwa pulihnya relasi dengan Allah adalah satu-satunya yang berharga di dunia ini. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Ketika nabi Natan menegur Daud yang telah melakukan pelanggaran, bagaimana respons Daud? (Ayat 5) Meskipun hatinya diliputi penyesalan, hari-hari kesalahan Daud  tidak dapat diputar ulang. Lalu apa yang dilakukan oleh Daud? (Ayat 3) Apa yang menjadi permohonan Daud kepada Allah dalam ayat 9? Apa yang menjadi permohonan Daud kepada Allah dalam ayat 13? Selamat sejenak merenung. Sekarang, mari kita renungkan dalam-dalam pernyataan Daud berikut ini, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (ayat 19). (pg)

IBADAH dan KEHIDUPAN HARIAN

Sahabat, apa makna ibadah bagi kita? Mungkin ada diantara kita akan menunjuk kepada rangkaian peribadahan yang kita lakukan pada hari Minggu. Rangkaian puji-pujian, doa, dan pelayanan firman itulah yang sering melekat dalam benak kita sebagai makna dari ibadah kita kepada Tuhan. Memang, dalam satu sisi, pernyataan tersebut  benar. Namun, mungkin perlu kita pertanyakan dalam hati kita masing-masing, “Apakah ibadah hanya memang sebatas itu? Ibadah yang sejati itu seperti apa? Bagaimana pula relasi antara ibadah dan kehidupan harian?” Untuk lebih memahami topik tentang: “IBADAH dan KEHIDUPAN HARIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 50:1-23. Sahabat, sering kali, kita merasa cukup baik kalau sudah rajin beribadah kepada Tuhan. Seolah, urusan kita dengan Tuhan hanya sebatas ritual belaka. Kemudian, kita beranggapan bahwa kehidupan harian merupakan urusan kita semata; Tuhan tidak boleh ikut campur. Maka pada saat ini kita akan membaca  refleksi penulis Mazmur 50. Ia menggambarkan Allah sebagai Sang Pencipta yang memanggil umat-Nya untuk mendengarkan titah-Nya (ayat 1-6). Allah mengingatkan bahwa yang terpenting dari segala kurban persembahan adalah motivasi yang mendasarinya. Bangsa Israel berusaha mencari kurban yang terbaik. Mereka percaya kualitas kurban atau ibadah yang dilakukan adalah sogokan agar Allah berbuat sesuatu. Padahal, bagi Allah yang terpenting adalah rasa syukur atas pemeliharaan-Nya. Inilah seharusnya yang tercermin melalui ritual-ritual tersebut (ayat 14). Sahabat, rasa syukur, yang mendasari ibadah orang percaya, harus tercermin pula dalam perilaku hidup harian. Allah mengkritik orang-orang fasik. Mereka rajin berkurban dan fasih akan ketetapan, hukum, dan peraturan dari Allah. Namun di sisi lain, mereka melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan (ayat 16-21). Orang-orang itu mengira bahwa mereka dapat menipu Allah, sebagaimana mereka menipu sesamanya lewat tampilan luar dengan jubah kegiatan agama. Pada akhirnya, kebaikan-kebaikan Allah seharusnya menuntun kita untuk mewartakan kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari. Artinya, ibadah tidak berakhir di hari Minggu, tetapi juga berlanjut di hari-hari selanjutnya. Setiap hari, praktik hidup kita harus sama. Jika hari Minggu kita hidup jujur, pada hari yang lain pun kita mesti berlaku serupa. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang digambarkan oleh Pemazmur dalam ayat 1-6? Dalam ayat 14, pesan apa yang ingin disampaikan oleh Pemazmur? Apa saja teguran Allah kepada orang fasik? (Ayat 16-21) Apa yang dijanjikan Allah di ayat 15 dan 23? Selamat sejenak merenung. Sekarang marilah kita berdoa, “Tuhan, mampukan kami agar rasa syukur, yang mendasari ibadah kami, tercermin dalam perilaku hidup harian kami.” (pg)

BUKAN Kekayaan, Status, dan Jabatan

Sahabat, di Zaman Now, ketika sosial media menjadi raja, maka STATUS menjadi SESUATU, menjadi WOUW!. Maka tidak heran orang-orang yang mengutamakan kekinian dalam hidupnya akan memberlakukan filosofi   bahwa kekayaan, status, dan jabatan adalah syarat untuk memperoleh kebahagiaan. Maka tidaklah mengherankan jika cukup banyak orang  menghalalkan segala cara untuk memperoleh ketiganya. Untuk lebih memahami topik tentang: “BUKAN Kekayaan, Status, dan Jabatan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 49:1-21 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, ada cukup banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan diperoleh ketika seseorang kaya raya, atau punya status sosial yang baik atau punya kedudukan tinggi. Namun tidaklah demikian menurut bani Korah dalam Mazmur 49. Dalam Mazmur 49, Pemazmur mengungkapkan pemahamannya tentang kehidupan (ayat 2-5). Pertama, status semua orang itu sederajat di hadapan Tuhan (ayat  2-3). Orang yang hina, yang mulia, yang kaya, yang miskin, semuanya dipanggil untuk memperhatikan pesan dari firman Tuhan. Kedua, semua orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dengan harta atau pun kekuatannya sendiri (ayat  8-10). Ketiga, semua orang pada akhirnya akan mengalami kematian (ayat 11-15, 17-20).Karena itulah, kekayaan sebesar apapun tidak dapat menghindarkan seseorang dari kematian. Jika semua tampak sama saja dan harta kekayaan tidak dapat berdampak banyak bagi hidup kita, lalu apa yang dapat membuat kita berbahagia? Pemazmur menjawabnya di ayat 16, “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” Itu artinya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, bukan pula pada umur yang panjang, melainkan di dalam Tuhan yang menyelamatkan kita dari cengkeraman maut. Pertanyaannya adalah, sudahkah Sahabat mengenal dan mengalami keselamatan yang terdapat di dalam Tuhan Yesus, Juruselamat dunia? Carilah kebahagiaan hidupmu bukan pada kekayaan materi atau kedudukan tinggi, melainkan di dalam Dia yang menyelamatkanmu jiwamu. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati hanya ada di dalam Dia.  Sahabat, mulai sekarang, kita jangan lagi memfokuskan diri hanya untuk mencari kekayaan, status, dan jabatan. Apabila hal tersebut masih  terjadi, kekayaan fisik kita mungkin saja semakin bertambah, namun pada saat yang sama, jiwa kita semakin miskin akan kehadiran dan relasi dengan Allah. Sadarilah bahwa Allah sajalah satu-satunya tempat kita bersandar. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 2-3? Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 8-10? Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 11-15? Apa makna pernyataan Pemazmur dalam ayat 16? Selamat sejenak merenung. Sahabat, marilah kita berdoa, “Tuhan, mampukan aku untuk  menyandarkan hidupku hanya kepada-Mu saja.” (pg) 

Mengingat, Meresapi, dan Menceritakan KASIH SETIA TUHAN

Sahabat, semoga pengalaman hidup kita bercerita bahwa pada saat kita mengalami kesulitan, Tuhan memberi kita kekuatan. Ketika kita mempunyai persoalan, Tuhan memberikan kebijaksanaan untuk mengatasinya. Ketika kita harus bekerja keras,  Tuhan memberikan kita semangat untuk menjalaninya. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendiri. Perjalanan hidup kita, baik kemarin sampai saat ini telah membuktikan betapa kasih setia Tuhan berlaku di sepanjang hidup kita, baik di puncak suka maupun di lembah duka. Karena itu sudah pada tempatnya jika kita mengingat, meresapi, dan menceritakan kasih setia Tuhan. Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengingat, Meresapi, dan Menceritakan KASIH SETIA TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 48:1-15. Sahabat, Umat Allah bukan hanya mendengar tentang keselamatan dari Allah. Lebih dari itu, mereka juga mengalaminya sendiri. Tentang kemuliaan Sion, bani Korah memuji Allah karena Sion menjadi mulia, sebab ada Tuhan yang besar dan sangat terpuji di dalam kota itu (ayat 2-3). Bani Korah juga memuji atas keselamatan yang telah Allah perbuat atas Sion (ayat 4-8), karena Allah menegakkan kota itu sehingga tetap jaya. Umat Allah bukan hanya mendengar tentang keselamatan dari Allah, tetapi juga mengalaminya sendiri, yaitu bagaimana Allah hadir di dalam hidup mereka dan menegakkan umat-Nya dan kota-Nya. Dan yang terakhir, bani Korah sangat bangga atas Sion (ayat 9-15) karena kemahsyuran Allah, penguasa Sion dan umat Israel (ayat 11), lagi pula Sion itu milik Allah (ayat 15). Sahabat, sebagai bentuk respons atas karya Tuhan bagi Sion dan umat Allah, bani Korah mengajak umat untuk mengingat kasih setia Tuhan (ayat 10) yang telah dialami oleh umat sepanjang masa. Ya, Israel telah mengalami pasang surut kehidupan bersama Tuhan. Dengan mengingat segala karya Tuhan atas hidup mereka, berarti Tuhan ingin mereka tidak melupakan-Nya dan segala karya perbuatan-Nya. Selain mengingat segala perbuatan Allah yang ajaib, bani Korah juga mendorong umat Allah melakukan tindakan nyata, yaitu menceritakan secara pribadi karya Tuhan kepada orang lain (ayat 14). Karena untuk itulah umat Israel ditebus oleh Allah, yaitu untuk memperkenalkan atau memberitakan keselamatan yang Allah perbuat. Bagaimana dengan hidupmu? Sudah berapa banyak karya Tuhan yang telah kita alami? Adakah kita mengingatnya?Adakah kita meresapinya?  Adakah kita menceritakannya? Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa Sion menjadi mulia? (Ayat 2-3) Mengapa Bani Korah memuji Allah? (Ayat 4-8) Apa yang dialami oleh umat Allah? (Ayat 9-15) Selamat sejenak merenung. Sekarang, marilah kita berdoa, “Tuhan, tolong ajari kami untuk menghayati kasih setia-Mu dalam hidup ini. Bukakanlah hati kami supaya kami mampu melihat kebaikan-Mu yang begitu luar biasa.” (pg) 

ALLAH: Raja Semesta

Sahabat, kita perlu menyadari siapa Allah dan siapa diri kita. Allah adalah Sang Pencipta alam semesta. Dia Mahakuasa. Sedangkan kita adalah makhluk ciptaan, penuh dengan keterbatasan.  Ada cukup banyak  orang percaya  yang kurang menyadari hal tersebut, sehingga hidupnya kurang memiliki gairah untuk menghormati dan menghargai Allah sebagaimana mestinya. Raja di atas segala raja, yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak mendapat penyambutan dan penghormatan yang selayaknya. Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: Raja Semesta”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 47:1-10 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, sebagai umat Allah, sudah selayaknya kita beribadah dan menyembah Dia dengan sepenuh hati. Amat disayangkan, ibadah zaman sekarang kebanyakan dipenuhi oleh hiburan demi kesenangan umat semata, dan bukan dipenuhi oleh penghormatan demi kemuliaan Tuhan. Berbeda sekali dengan cara Pemazmur mengajak umat Allah beribadah. Dalam Mazmur 47, Pemazmur memberikan alasan utama mengapa umat harus menyembah Tuhan. Karena Ia adalah Raja segala raja (ayat 3, 7, 8, 9). Sebagai Tuhan dan Raja, Allah patut ditinggikan dan dimuliakan sebab Ia Mahatinggi (ayat 3), Tuhan yang dahsyat (3), Raja yang besar (ayat 3), Raja seluruh bumi (ayat 8), bersemayam di atas takhta yang kudus (ayat 9), dan sangat dimuliakan (ayat 10). Kekuasaan dan kebesaran-Nya sungguh luar biasa, namun Ia bersedia memilih dan mengasihi umat-Nya (ayat 5). Sahabat, dengan segala atribut dan keagungan Allah yang demikian, tidak mengherankan jika respons yang dicatat oleh Pemazmur untuk ditujukan kepada Allah penuh dengan antusiasme dan sukacita. Misalnya, bertepuk tangan (ayat 2), elu-elukan (ayat 2), sorak-sorai (ayat 6), diiringi sangkakala (ayat 6), dan umat diajak untuk bermazmur demi Dia (dalam ayat 7-8 disebutkan hingga 5 kali). Bagaimanakah dengan kita? Adakah kita juga menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang besar dan luar biasa? Adakah kita mengamini bahwa Ia adalah Raja di atas segala raja? Jika iya, lalu bagaimana dengan ibadah kita kepada-Nya? Masih adakah antusiasme dan sukacita ketika kita menghadap hadirat-Nya dan menyembah Dia? Atau justru ibadah kita  dipenuhi dengan kesenangan dan hiburan belaka? Sekarang, marilah kita menyembah-Nya dengan yang benar. Beribadah kepada-Nya dengan penuh hormat dan takut akan Dia, karena Dialah Raja di atas segala raja, Tuhan kita. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah bagaimana kesanmu dengan suasana ibadah di gerejamu pada saat ini, Selamat sejenak merenung. Sahabat, sudahkah kita menghormati dan mengagungkan Tuhan dengan sungguh-sungguh? (pg)

ALLAH: KOTA BENTENGku

Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar atau membaca ungkapan: “Setiap orang punya salibnya sendiri-sendiri.”  Ungkapan tersebut mau bertutur bahwa setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak ada seorang pun  yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tidak dapat terhindar dari problematika dan dinamika kehidupan. Berita baiknya: Pergumulan bisa saja datang silih berganti, namun, ada satu yang tetap sama, yakni Allah sumber pertolongan kita. Allah: Kota Bentengku. Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: KOTA BENTENGku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 46:1-12. Sahabat, Pemazmur mengingatkan bahwa kita punya Allah yang adalah kota benteng kita. Perhatikan bagaimana Pemazmur sangat menegaskan hal tersebut dengan menyebutkannya sebanyak dua kali, yaitu di ayat 8 dan 12. Sebagai kota benteng, Allah adalah “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ayat 2). Bahkan, Pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (ayat 2-3). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia. Sahabat, Allah adalah kota benteng kita yang teguh. Oleh karena itu, Pemazmur mendorong kita agar di tengah kesukaran yang  kita alami, kita memandang pekerjaan Tuhan (ayat 9) dan berdiam diri di hadapan-Nya (ayat 11). Frase “pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 9) mengacu pada tindakan mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita dan di bumi ini. Ingat dan lihatlah sekelilingmu! Perhatikan betapa Allah punya kuasa untuk mengatur segala sesuatu demi kebaikan kita. Sedangkan frase “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (ayat 11) menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, hendaknya kita berdiam diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sebaiknya mengandalkan Tuhan. Sekalipun bencana alam menimpa, didera sakit penyakit, kemiskinan, pengkhianatan, atau persoalan hidup apapun yang membuat kita takut dan gentar, maka pandanglah kepada Tuhan. Andalkanlah Dia senantiasa karena Dialah kota benteng kita yang teguh. Allah: Kota Bentengku. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pemahamanmu tentang: “Allah: Kota Bentengku.” Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa: “Tuhan, tuntunlah dan mampukan aku untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya.  Biarlah melalui pergumulan yang hadir dalam hidupku,  aku semakin mengenal dan merasakan kasih-Mu.” (pg) 

LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH

Sahabat, di komunitas orang percaya dikenal beberapa jenis nyanyian yaitu himne,  lagu-lagu segar (lagu pujian populer), lagu-lagu penyembahan, dan lain-lain. Sedangkan di masyarakat umum dikenal banyak macam jenis nyanyian atau lagu. Ada lagu pop, lagu ndang ndut, lagu mars, lagu melow, lagu balada, lagu cadas, dan lain-lain. Lalu apa yang dimaksud dengan Lantunan Pengajaran dan Kidung Kasih? Untuk lebih memahami topik tentang: “LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 45:1-18. Sahabat, Mazmur 45 merupakan nyanyian yang disampaikan oleh bani Korah pada waktu pernikahan raja. Uniknya, bani Korah menyatakan nyanyian tersebut bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran. Bahkan nyanyian pengajaran ditempatkan terlebih dahulu sebelum penyebutan nyanyian kasih. Sahabat, bukankah nyanyian pada waktu pernikahan lebih cocok disebut sebgai nyanyian kasih? Tetapi, mengapa bani Korah juga menyebutnya sebagai nyanyian pengajaran? Ternyata selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya (ayat  3, 4, 10, 11, 12), nyanyian tersebut juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan (ayat 5, 7, 8), melebihi keelokan fisik semata. Selain itu, mazmur tersebut juga mengajarkan betapa pentingnya ketundukkan dan hormat dari sang mempelai perempuan kepada raja karena ia adalah tuannya (ayat 12). Tindakan mempelai laki-laki yang didasarkan pada kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan, ditanggapi dengan hormat dan ketundukkan dari mempelai perempuan. Nah, konsep yang sama juga dapat kita jumpai  di  surat-surat Paulus, khususnya surat Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19. Sahabat, menariknya, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Ibrani 1:8-9, penulis Surat Ibrani mengutip bagian mazmur ini untuk merujuk kepada pribadi Yesus Kristus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata:…” (Ibrani1:8a). Itu  berarti, mazmur ini bukan sekadar mazmur yang dinyanyikan dalam rangka pernikahan raja, tetapi juga merupakan mazmur mesianis yang menggambarkan tentang keagungan pribadi dan relasi Yesus Kristus dengan gereja-Nya. Yesus yang di dalam kebenaran dan keadilan telah menunjukkan kasih-Nya bagi kita yang adalah gereja-Nya dan umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada-Nya di sepanjang hidup kita.  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Bagaimana Pemazmur menggambarkan karakter seorang pemimpin (raja) dalam ayat 5, 7, dan 8? Pengajaran apa yang hendak disampaikan oleh Pemazmur dalam ayat 3-4 dan 10-12? Ternyata Mazmur 45 juga merupakan Mazmur Mesianis, bagaimana Pemazmur menggambarkan  relasi Yesus dengan gereja-Nya? Selamat sejenak merenung.  Semoga kita dimampukan untuk dapat menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada Yesus di sepanjang hidup kita. (pg)

IMAN yang KUKUH

Sahabat, bak air laut, ada pasang surutnya, demikian juga dengan perjalanan hidup kita, ada pasang surutnya. Masa lalu yang baik bukan jaminan bahwa keadaan akan selalu baik. Ada saatnya kita  mengalami kesusahan di tengah dunia ini, baik karena perbuatan diri sendiri, orang lain, atau karena sistem/keadaan dunia yang jahat dan berdosa. Bagaimana respons kita menghadapi pasang surut kehidupan. Bagaimana perjalanan relasi kita dengan Allah dalam menghadapi pasang surut kehidupan? Apakah kita punya iman yang kukuh?  Iman yang tidak mudah goyah. Untuk lebih memahami topik tentang: “IMAN yang KUKUH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 44:1-27. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah refleksi Pemazmur. Ia menggambarkan penziarahan bangsa Israel bersama dengan Allah di dalam sejarah. Sekilas, perikop ini sedang bercerita tentang seruan bangsa Israel kepada Allah ketika mengalami penindasan. Namun jika dibaca secara utuh dan teliti, ternyata ada sebuah dinamika yang lebih mendalam. Mazmur 44 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (ayat 1-9). Bagian kedua, Pemazmur memaparkan kehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan. Sahabat, sekali pun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (ayat 18-22). Pada bagian terakhir, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (ayat 23-27). Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang atau pun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya. Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (ayat 5). Sahabat, pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekali pun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu, bagaimana imanmu kepada Allah ketika engkau sedang menghadapi masa surut dalam kehidupanmu?  Selamat sejenak merenung. Sudahkah Sahabat  mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan mengalami Dia di dalam hidupmu? (pg)

RUANG KOSONG di HATI MANUSIA

Blaise Pascal asal Perancis, seorang penemu teori tentang probabilitas, dan menaruh minat di bidang filsafat dan agama berkata bahwa ada sebuah ruang kosong di hati manusia yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus. Sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang mampu mengisi ruang kosong tersebut baik harta, kekuasaan, maupun pemuasan keinginan lahiriah. Untuk lebih memahami topik  tentang: “RUANG KOSONG di HATI MANUSIA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Pemazmur menyatakan, jiwanya merindukan Tuhan seperti rusa merindukan sungai yang berair (ayat  2). Dalam situasi seperti itulah, Yesus Kristus hadir sebagai jawaban karena Dia telah datang sebagai Air Hidup (Yohanes 4:10) dan Roti Hidup (Yohanes 6:35). Di dalam Yesus, manusia menemukan kepuasan dan kebahagiaan sejati. Menurut nabi Yesaya, jika kita memerhatikan perintah Tuhan, kita akan memperoleh damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti (Yesaya 48:18). Sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera (Rama 15:33 dan 16:20). Sahabat, bila saat ini kamu merasakan adanya kekosongan hati yang membuat kamu merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, berarti kamu perlu semakin mendekat kepada Tuhan, agar Dia mendekat kepadamu (Yakobus 4:8). Sebaliknya, jika Sahabat menjauh dari Tuhan dengan terus mengejar hal-hal duniawi yang nikmat bagi daging, ruang kosong di hatimu  akan semakin menganga, menenggelamkan kepuasan dan kebahagiaan yang seharusnya menjadi bagianmu. Kita dapat mengundang Tuhan mengisi ruang kosong di hati kita  dengan damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Maka, kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung oleh baik-buruknya situasi dan kondisi. Sahabat, kenikmatan duniawi membuahkan kekosongan batin;  sedangkan Tuhan menawarkan kepuasan dan kebahagiaan.  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang dilukiskan oleh Pemazmur dalam ayat 2 dan 3? Apa yang diingat Pemazmur dalam ayat 5? Dalam ayat 7 Pemazmur ingin menggambarkan tentang apa? Apa yang ingin digambarkan oleh Pemazmur dalam ayat 4 dan 10-11? Apa yang dilakukan Pemazmur dalam ayat 2 dan 6? Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa, “Tuhan, terima kasih saat kami merindukan-Mu, di situ Engkau selalu hadir dan menyapa kami.” (pg)