Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN

Tidak seorang pun yang hidupnya selalu lancar dan baik. Seorang yang sehebat dan sekuat apa pun pasti suatu saat lemah, sakit, atau terluka, baik secara fisik maupun emosi. Orang percaya pun mengalami hal yang sama. Sesungguhnya menderita sakit atau mengalami penderitaan tubuh yang disebabkan oleh penyakit itu bukanlah kehendak Tuhan, karena Dia tidak senang melihat umat-Nya menderita, sama halnya ketika Ia melihat umat-Nya hidup dalam dosa.  Itulah sebabnya, Tuhan Yesus rela menanggung segala dosa dan penyakit kita, melalui kematian-Nya di bukit Golgota (1 Petrus 2:24).  Ia melakukan itu sekali dan berlaku untuk selama-lamanya  (Ibrani 9:26-b). Untuk lebih memahami topik tentang: “Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, Dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, ada orang-orang yang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (ayat 6). Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (ayat 10). Para pembencinya mengatakan bahwa Daud menderita  penyakit jahanam/berat (ayat 9). Bagaimana sikap Daud  menghadapi sakit penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (ayat 4). Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (ayat 14) seolah-olah Allah telah menyembuhkannya. Sahabat, adakah hari ini ada diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Di tangan Tuhan ada kesembuhan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan  berikut ini: Dalam ayat 2-4, siapa yang dikatakan orang yang berbahagia dan apa saja yang akan diperolehnya dari Tuhan? Apa yang menjadi doa dan harapan Daud di ayat 5? Apa yang dikatakan dan diperbuat oleh musuh-musuh Daud? (Ayat 6-9) Apa yang telah dilakukan oleh seorang sahabat karib Daud? (Ayat 10) Apa yang Tuhan telah lakukan untuk Daud? (Ayat 13) Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita mengikrarkan keyakinan kita,  “Tuhan, aku percaya dalam tangan-Mu ada kesembuhan.” (pg)

Ketika JIWA kita TERTEKAN

Hari-hari ini cukup banyak orang percaya yang mengalami tekanan jiwa sehingga mereka kehilangan sukacita dalam menjalani hidup. Tekanan itu dikarenakan adanya Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun. Akibat adanya pandemi tersebut, muncul berbagai persoalan dan  pergumulan yang tidak mudah  dalam hal:  Keuangan, hubungan keluarga, pekerjaan, sekolah/kuliah,  bisnis, dan lain-lain yang membuat kepala pening, stres dan tidak tenang dalam menjalani hidup. Beban persoalan yang makin berat menindih, membuat pikiran semakin ruwet dan jiwa semakin tertekan. Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika JIWA kita TERTEKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 43:1-5.  Sahabat, tampaknya Pemazmur berada pada situasi yang tidak memungkinkan baginya beribadah kepada Allah. Ia berada di tempat yang jauh, yaitu di tempat di mana orang tidak mengenal Tuhan (ayat 2). Orang-orang di situ mencela kepercayaannya kepada Allah (ayat 1-2). Untuk menguatkan hati, Pemazmur menyerukan kepada dirinya sendiri untuk berharap dan bersyukur kepada-Nya (ayat 5). Ia berharap bahwa Allah akan membawanya kembali pulang untuk beribadah kepada-Nya (ayat 3-4). Tentu saja jiwa Pemazmur sangat tertekan. Nah, pada saat jiwa kita sedang tertekan. Apa yang harus kita lakukan? Pertama, berharaplah pada TUHAN. Terkadang ALLAH memakai masalah-masalah untuk menarik kita lebih dekat, lebih mengerti dan mengetahui akan Diri-Nya. Pengalaman-pengalaman yang paling indah, intim dan mendalam adalah dalam masa-masa yang sulit, beban berat dan seolah ditinggalkan oleh-Nya. Kedua, teruslah mengucap syukur untuk setiap peristiwa. Sikap dan respons atas pergumulan kita juga menyebabkan jiwa kita makin tertekan, jika kita makin membiarkan amarah, emosi, bersungut-sungut, protes, kecewa kepada TUHAN maka jiwa kita makin tertekan. Mengucap syukur adalah bukti bahwa kita bisa menerima dan memahami bahwa apapun yang terjadi adalah seizin TUHAN dan membawa kebaikan bagi kita. Masalah itu hanya bungkusnya saja dan di dalamnya ada kebaikan dan berkat TUHAN. Ketiga, percaya mukjizat masih ada. Yakinkan dirimu dan percaya bahwa persoalan itu adalah cara TUHAN untuk memberikan mukjizat-Nya bagi kita. Apa pun penyebab masalah itu, percaya bahwa di dalamnya pekerjaan-pekerjaan ALLAH akan dinyatakan dalam hidup kita. Penuhi hati kita dengan kepercayaan akan janji Firman TUHAN yang merupakan kepastian jawaban dan dasar kebenaran bahwa TUHAN sanggup menolong dan melakukan mukjizat bagi kita. Mukjizat masih ada, buat apa jiwa kita tertekan? Percaya saja pada firman-Nya maka TUHAN YESUS akan melakukan perkara ajaib di tengah persoalan kita. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu, apa yang engkau lakukan ketika jiwamu tertekan? Selamat sejenak merenung.  Yakinlah, ketika jiwa kita tertekan, hanya Allah yang dapat memberi kelegaan.  (pg)

BERSYUKUR, TAAT dan MENYAKSIKAN

Sahabat, coba sejenak  merenungkan perjalanan hidupmu. Kalau mau jujur, kita akan mengakui bahwa didalam kesulitan hidup dan ancaman bahaya apa pun, ternyata Tuhan menolong kita keluar dari kesulitan atau pun melindungi dari bahaya yang mengancam. Lebih lanjut yang ingin saya tanyakan, “Bagaimana perasaan Sahabat ketika berada dalam keadaan terjepit kesulitan hidup, lalu datanglah pertolongan dari seseorang?” Tentu pertolongan tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti sekali bukan? Sudah pada tempatnya Sahabat  sangat berterima kasih kepada orang tersebut. Sahabat mungkin akan mengingat kebaikannya di sepanjang hidup, bersedia melakukan apa saja yang dikehendakinya  dan menyaksikan segala kebaikannya kepada banyak orang. Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSYUKUR, TAAT, dan MENYAKSIKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 40:1-18. Sahabat, Mazmur 40 merupakan ungkapan hati Daud atas keselamatan yang telah dinyatakan oleh Tuhan atas hidupnya. Ayat 1-3 menggambarkan bagaimana Allah menyelamatkan dirinya dari kehancuran dan menegakkan hidupnya kembali. Lalu di ayat 18 juga melukiskan bahwa meski Daud miskin dan sengsara, namun Allah tetap memerhatikan dan menolongnya. Daud mengalami dan merasakan bahwa dalam penderitaan sehebat apapun, Tuhan selalu menjadi penolongnya dalam kesesakan. Karena itu, ia menaikkan syukur dan puji-pujiannya kepada Allah yang telah menyelamatkannya (ayat 4-6). Bukan hanya itu saja respons Daud.  Perhatikan di ayat 7-9 dan 10-11. Sebagai respons atas pertolongan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya, Daud bersedia, bahkan suka melakukan kehendak Tuhan (ayat 9) karena ia sadar, ketaatan kepada Tuhan jauh lebih berharga dibandingkan kurban persembahan dalam bentuk jasmani (ayat 7). Selain ketaatan, Daud juga bersukacita untuk menyaksikan karya Tuhan kepada orang lain (ayat 10-11). Bersyukur, taat, dan menyaksikan, ketiga hal tersebut menjadi respons Daud atas pertolongan dan karya Tuhan dalam hidupnya. Adakah ketiga hal tersebut  juga menjadi respons kita, ketika kita menyadari betapa luar biasa Allah telah menolong kita? Bagi orang-orang yang mengandalkan Tuhan, firman-Nya berkata, “Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan” (ayat 5a). Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa saja yang telah dikerjakan Tuhan dalam kehidupan Daud? (Ayat 2-4) Apa yang telah diungkapkan oleh Daud dalam ayat 7-9? Apa yang diharapkan Daud dari Tuhan dalam ayat 12-18? Selamat sejenak merenung.  Sahabat, marilah kita berdoa, “Ya Tuhan, tolong aku untuk tidak melupakan kebaikan-Mu agar saat hari esok terasa gelap, aku tetap dapat mengucap syukur.” (pg)  

Ketika HIDUPKU terasa MEMENATKAN

Sore itu dengan wajah lesu Hogi bercerita, “Belakangan ini aku merasa sangat penat dengan hidupku. Aku merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik, tetapi ibarat orang yang berusaha menangkap angin, semua terasa sia-sia. Dalam pekerjaan, ada saja hambatan yang membuat hasil kerjaku terasa tidak memuaskan. Dalam persahabatan, aku masih mengecewakan sahabatku. Dalam keluarga, impianku untuk membahagiakan orangtua kandas karena sebelum bisa mewujudkannya, papiku sudah dipanggil Tuhan.” Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika HIDUPKU terasa MEMENATKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 39:1-14. Sahabat, dalam Mazmur 39, Daud sangat bergumul soal kehidupan yang dijalaninya. Ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa atas pergumulannya (ayat 3a), penderitaannya semakin berat (ayat 3b), dan hatinya dipenuhi dengan gejolak kemarahan dan keluhan yang tak habis-habisnya (ayat 4). Ditambah lagi, orang fasik di sekelilingnya berusaha menjatuhkannya (ayat 2b dan 9b) dan ia mulai penat dengan kehidupannya (ayat 5-7, 12). Meski demikian, Daud tidak membuka mulutnya di hadapan orang fasik yang mencoba menjatuhkannya. Ia memilih diam, agar perkataan dan keluhannya tidak dijadikan senjata untuk menjatuhkannya. Sahabat, Daud kelu, diam dan membisu. Terhadap orang fasik, ia diam seribu bahasa. Tetapi terhadap Tuhan, ia berbicara secara terbuka mengungkapkan isi hatinya kepada Allahnya (ayat 5-14) dan tetap berharap pada Tuhan (ayat 8). Meski Daud menyadari betapa fana hidupnya (ayat 5-7, 12-14), ia percaya Tuhan tidak akan tinggal diam melihat perkaranya (ayat 10). Pergumulan hidup yang Sahabat alami saat ini mungkin terasa memenatkan. Seberapa pun beratnya pergumulan itu, seberapa pun banyaknya orang di sekitar kita yang berusaha menjatuhkan kita, marilah kita belajar seperti Daud, yang tetap berharap kepada Allah dan tidak hilang percaya kepada-Nya. Yakinlah, akan tiba waktunya Allah akan bertindak menolong hidup kita!  Sahabat, Tuhan tahu betul apa yang harus Dia lakukan. Dari sudut pandang manusia yang terbatas, mungkin kita mengira Dia sedang berpangku tangan saat apa yang telah kita usahakan dengan segenap hati tampaknya tidak membuahkan hasil apa-apa. Namun, sebenarnya Dia sedang dan senantiasa bekerja, dengan cara yang melampaui akal kita. Ketika hati kita melekat kepada Tuhan, memercayai-Nya sebagai Penguasa segala sesuatu dan sebagai Bapa yang punya rancangan damai sejahtera bagi anak-anak-Nya (Yeremia 29:11), kita akan selalu memiliki semangat dan kekuatan untuk melakukan yang terbaik, sekalipun situasi tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan kita. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami mengenai hidup manusia di dunia dari ayat 5-7? Apa yang Sahabat pahami mengenai keadaan Daud pada saat itu dari ayat 12? Apa yang Daud lakukan? (Ayat 5-14) Apa yang Daud harapkan dari Tuhan? (Ayat 13-14) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

WARISAN yang terus BERGULIR

Teman saya, Pdt. Andi O. Santoso, menulis buku berjudul: “Live Simply, Leave Legacy”. Hampir dalam setiap kesempatan dia selalu menyampaikan agar kita dapat mewariskan sesuatu yang cukup bernilai kepada generasi penerus. Sahabat, ada berbagai bentuk warisan. Ada warisan yang bersifat kebendaan: Rumah, tanah, perhiasan, surat berharga,  deposito, dan sebagainya. Ada pula warisan yang tidak terlihat: Iman, ilmu pengetahuan, pendidikan budi pekerti, nilai-nilai luhur, teladan hidup, dan sebagainya. Untuk lebih memahami topik tentang: “WARISAN yang terus BERGULIR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 37:21-29, dengan penekanan pada ayat 25-26. Sahabat, Sungguh hebat kasih setia dan anugerah Tuhan. Tidak disangka dan juga tidak pernah diduga. Bukan saja pemeliharaan dan berkatnya melimpah atas kita, tetapi ternyata TIDAK BERHENTI KEPADA KITA SAJA. Berkat dan  kasih setia-Nya, ternyata terus bergulir secara turun temurun, tidak pernah berhenti. Apa yang terbaik yang kita nikmati saat ini, tidak  akan berhenti dan akan terus bergulir kepada anak cucu kita, kepada keturunan-keturunan kita yang berikutnya. Sahabat, hidup benar di hadapan Tuhan adalah kunci untuk mengalami hidup yang diberkati.  Orang yang hidup benar di hadapan Tuhan pasti memiliki hubungan yang karib dengan Dia.  Daud adalah sosok yang memberikan teladan dalam hal kekariban dengan Tuhan.  Sejak muda sampai menjadi raja atas Israel Daud senantiasa bergaul karib dengan Tuhan.  Ratusan pasal yang terdapat dalam Kitab Mazmur adalah pengalaman kekaribannya dengan Tuhan.  Karena karib dengan Tuhan,  Daud dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana Tuhan memberkati orang benar dan memberkati pula anak-cucu orang benar tersebut (ayat 25-26). Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup benar, bahkan langkah-langkahnya pun ditetapkan-Nya (ayat 23).  Orang benar bukan hanya menerima dan mengalami kebaikan Tuhan bagi dirinya sendiri, tapi kebaikan Tuhan itu juga akan dialami oleh anak-cucunya.  Setiap orang yang percaya kepada Kristus secara de jure  (secara hukum)  beroleh status sebagai orang benar.  Sahabat, kita dibenarkan secara cuma-cuma oleh penebusan Kristus di Kalvari.  Dengan kata lain kita diberi status sebagai orang benar, semata-mata karena iman.  Karena itu Tuhan menghendaki supaya kita tidak hanya dibenarkan secara status, tapi kita harus benar-benar bertumbuh dalam kebenaran.  Ini membutuhkan sebuah proses yang berlangsung seumur hidup kita. Jika kita sudah bertumbuh sampai kepada tingkat  “orang benar”, maka janji berkat Tuhan pasti akan digenapi dalam kehidupan kita dan berkat itu juga sampai kepada anak cucu kita.  Orang benar adalah orang yang takut akan Tuhan.  Itu diwujudkan melalui ketaatan melakukan firman Tuhan dan menjauhi segala bentuk kejahatan,  “Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.”  (Mazmur 25:12-13). Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang disaksikan oleh Daud di ayat 23-24? Apa yang disaksikan oleh Daud di ayat 25-26? Apa janji Tuhan bagi orang-orang benar? (Ayat 27-29) Selamat sejenak merenung. Jika Tuhan telah memelihara hidup kita sampai hari ini, maka yakinlah Tuhan juga mampu memelihara hidup anak cucu kita. (pg) 

Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT

Siapa bilang saya tidak pernah sakit? Saya pernah sakit. Sahabat tentu  pernah sakit. Saya yakin setiap orang pasti pernah sakit. Sakit penyakit adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap orang. Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang menjadi sakit. Ketika seseorang sakit, dan lama dia tidak sembuh,  orang bisa merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Apakah Daud pernah sakit? Kalau pernah, bagaimana dia merespons dan mengatasinya? Untuk lebih memahami topik tentang: “Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 38:1-23. Sahabat, Mazmur 38  menggambarkan keadaan Daud pada waktu sakit dan dalam keadaan yang sangat buruk.  Daud menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan:  “Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.”  (ayat 8-9). Daud menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (ayat 4 dan 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (ayat 12). Pada saat yang sama, Daud merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Daud tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya. Sahabat, sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas tersebut. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. Belajar dari Daud, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Keluh kesah apa yang disampaikan oleh Daud dalam ayat 8-9? Pengakuan apa yang disampaikan oleh Daud pada ayat 6? Hal-hal apa saja yang membuat Daud menderita sakit? (Ayat 4-6) Apa yang dinyatakan oleh Daud di ayat 10? Kepada siapa Daud menaruh harapannya? (Ayat 16) Apa permohonan Daud di ayat 23? Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Tuhan, dalam kelemahanku,  nyatakanlah kekuatan-Mu. Bimbinglah aku  agar  tidak mudah  menyerah di tengah segala kelemahan dan kesakitanku.” (pg) 

AIR TUBA dibalas dengan AIR SUSU

Sahabat,  dunia menggemakan ungkapan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Bagi Yusuf ungkapan tersebut tidak berlaku. Yusuf sangat yakin bahwa  Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah  (Roma 8:28 dan Kejadian 50:20).  Itulah sebabnya ia bisa mengampuni dan melupakan kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudaranya. Andaikan Yusuf mengandalkan kekuatan sendiri dan melakukan pembalasan terhadap apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudaranya, ia tidak akan mengalami peninggian dari Tuhan;  mimpi yang pernah ia terima pun tidak akan pernah menjadi kenyataan. Untuk lebih memahami topik tentang: “AIR TUBA dibalas dengn AIR SUSU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 35:1-16. Sahabat, Daud memberikan gambaran unik mengenai cara bersikap terhadap orang-orang yang membencinya dan yang ingin mencelakainya. Daud meminta pertolongan Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan yang memiliki kuasa untuk bertindak kepada mereka. Sekilas tampaknya permohonan Daud menyiratkan dendam, seakan-akan meminta supaya Tuhan mencelakai para musuhnya. Sesungguhnya penekanan Daud bukan pada dendam, melainkan pada penyerahan diri kepada Tuhan. Sebab, ia percaya pada keadilan Tuhan yang akan bertindak terhadap ketidakadilan yang menimpa umat-Nya. Selain itu, Daud juga tidak melakukan pembalasan. Sebaliknya, dia menunjukkan kepedulian dan empati terhadap musuhnya.  Ayat 13-14 menjadi kesaksian mengenai tindakannya bagi orang-orang yang membencinya. Dia berduka atas kemalangan mereka. Sebab dia menganggap mereka sebagai saudara sendiri. Ia tidak bergembira atas sakit mereka. Sahabat, pembalasan seringkali menjadi jalan pintas untuk memuaskan hasrat. Tetapi, pembalasan tidak menghentikan perbuatan jahat dan kekerasan. Meskipun pelaku kekerasan awalnya adalah korban kekerasan. Namun, mereka meniru tindakan kekerasan dengan cara membalas sakit hati dengan kekerasan terhadap musuhnya. Dunia ini penuh dengan kekerasan. Dunia membutuhkan empati dan pengampunan. Kita perlu berempati terhadap pelaku kekerasan dan mengampuni mereka. Empati dan pengampunan akan membuka jalan kepada pelaku kekerasan untuk bertobat. Mengampuni bukan berarti kalah,  justru merupakan jalan menuju kemenangan untuk meraih berkat-berkat Tuhan.  Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik oleh Daud  justru membalasnya dengan kejahatan, apa saja yang diperbuat oleh mereka? (Ayat 4, 7, 11, 15, dan 16) Sebaliknya apa saja yang diperbuat oleh Daud untuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya? (ayat 13 dan 14) Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa, “Tuhan, ajari kami untuk rendah hati  supaya kami tidak mendendam orang-orang yang berbuat jahat kepada kami, melainkan kami mampu untuk  berempati dan mengampuni orang yang berlaku jahat kepada kami.  Mampukan kami Tuhan untuk membalas air tuba dengan air susu.” (pg)

TERSAJI PILIHAN bagi kita

Sahabat, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata PRASMANAN. Kalau saya langsung tertuju ada meja panjang, di situ ditata dengan apik dan menarik beberapa makanan, tamu undangan atau pembeli dipersilakan untuk memilih dan mengambil sesuai dengan seleranya atau kesukaan masing-masing. Selain itu setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan berapa banyak makanan yang hendak disantapnya. Tersaji pilihan bagi kita. Untuk lebih memahami topik tentang: “TERSAJI PILIHAN bagi kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, dalam karya-Nya, Tuhan menciptakan manusia dengan begitu istimewa. Manusia diberi kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Karena itu, dalam relasi dengan Allah, manusia bisa memilih untuk mendekat atau menjauh. Manusia bisa juga memilih untuk mendengarkan firman Tuhan, memerhatikannya, atau menolak firman itu dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Mazmur 36 menunjukkan keberadaan dua cara pilihan itu. Ada orang yang hati dan hidupnya dipenuhi dosa dan perilaku jahat (ayat 2-5). Ada pula orang benar yang berlindung dalam naungan sayap Tuhan (ayat 8). Keduanya sama-sama ciptaan Tuhan. Keduanya sama-sama menerima tawaran kasih setia Tuhan, namun respons mereka berbeda. Sahabat, seperti seseorang yang akan mengambil makanan secara prasmanan. Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap orang. Jika makanan yang diambil terlalu banyak, maka orang itu akan kekenyangan. Jika makanan yang dipilih semuanya berlemak, maka akan berisiko pada kesehatannya. Demikian pula halnya saat merespons kasih setia Tuhan. Orang yang menolak-Nya akan jatuh dan tidak bangkit lagi (ayat 13). Sedangkan orang yang menerima-Nya akan dikenyangkan dan mendapatkan terang kehidupan (ayat 9-10). Betapa berharganya kasih setia Tuhan, tanpa-Nya kita tak bisa berbuat apa-apa! Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikendalikan dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan. Jadi,  manakah yang hendak kita pilih? Sahabat, kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya.  Berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Ayat 2-5 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa? Ayat 8-9 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa? Bagaimana Daud menggambarkan tentang Allah dalam ayat 6-10? Apa akibatnya bagi orang-orang yang menerima kasih setia Tuhan? (Ayat 9-10) Apa akibatnya bagi orang-orang yang menolak kasih setia Tuhan? (Ayat 13) Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Tuhan, kami bertekad untuk setia kepada-Mu dan siap dengan segala konsekuensinya.” (pg) 

MENGECAP KEBAIKAN TUHAN pada saat di NADIR

Ketika berada dalam situasi berat umumnya orang akan menjadi kalut, takut dan frustasi.  Berbeda dengan Daud yang terus mengarahkan pandangannya kepada Tuhan dan mengingat-ingat akan kebaikan-Nya sehingga ia tetap bisa memuji-muji Tuhan.  Ia sangat percaya bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang tidak pernah berubah.  Karena itu dalam keadaan yang seakan tiada harapan Daud selalu mengingat betapa baiknya Tuhan itu dan berusaha untuk mengecap segala kebaikan-Nya. Mengecap kebaikan Tuhan pada saat di nadir. Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGECAP KEBAIKAN TUHAN pada saat di NADIR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 34:1-23. Sahabat, Mazmur 34 ditulis Daud bukan ketika ia sudah menjadi raja atas Israel, bukan pula saat berada dalam situasi yang baik dan tenang.  Melainkan saat ia melarikan diri dari kejaran Saul yang berusaha untuk membunuhnya.  Tragisnya lagi, saat lari ke daerah Filistin raja Filistin mengenali dia sebagai pahlawan Israel yang telah membinasakan banyak perwira-perwira Filistin, sehingga raja itu pun berniat membunuhnya juga.  Daud benar-benar dalam keadaan terjepit!  Sahabat, Daud, yang dalam perjalanan hidupnya mengalami banyak masalah dan penderitaan, bahkan sampai harus berpura-pura gila karena beratnya tekanan hidup, membagikan pengalaman pribadinya yang luar biasa bersama dengan Tuhan.  Ia memberikan rahasia bagaimana supaya kita bisa mengalami kebaikan dari Tuhan.   Pertama,  “Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;”  (ayat 14).  Mari berhati-hati dengan apa yang Saudara perkatakan, karena  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Ingat, ada kuasa dalam setiap perkataan kita.  Oleh sebab itu perkatakan selalu hal-hal yang positif, maka semua yang baik akan terjadi dalam hidup kita. Kedua,  “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik,”  (ayat 15a).  Artinya kita harus hidup sesuai dengan firman Tuhan.  Selama kita hidup dalam ketidaktaatan kita tidak akan pernah mengalami kebaikan Tuhan.  Jadi jika selama ini kita telah menyimpang dari jalan Tuhan, jangan tunda waktu untuk segera bertobat! Ketiga,  “…carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!”  (ayat 15b).  Jangan menyimpan kepahitan, dendam atau sakit hati!  Berilah pengampunan kepada semua orang, sebab jika kita tidak mengampuni orang lain, Tuhan juga tidak akan mengampuni dosa-dosa kita!  (Matius 6:15). Daud merespons penderitaan dengan pujian, dan merespons kebaikan Tuhan dengan ketaatan. Biarlah ini menjadi prinsip rohani bagi kita dalam keadaan apapun, agar kita tetap dekat dan mengalami kasih-Nya senantiasa. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Kebaikan Tuhan berupa apa saja yang dialami oleh Daud ketika dia dalam masa yang sangat sulit? (Ayat 5, 7, 8 dan 19) Apa respons Daud ketika dia menerima banyak kebaikan Tuhan? (Ayat 2, 3, 4, 10 dan 12) Selamat sejenak merenung. Sahabat, menaati firman Tuhan adalah rahasia untuk mengalami dan menikmati semua yang baik dari Tuhan!  (pg)

TUHAN MAHAKUASA namun MAU PEDULI

Sahabat, salah satu arti dari kuasa adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Dalam arti demikian, seorang yang berkuasa bisa menggunakan kekuasaannya sesuai kehendaknya. Bisakah seseorang yang berkuasa peduli kepada yang dikuasainya? Tuhan itu Mahakuasa. Segala hal yang ada di dunia ini, segala sesuatu yang berjalan, dan proses kehidupan yang kita jalani, semuanya bersumber dari Tuhan.  Dia adalah pencipta kehidupan, Dia juga yang mengatur dan mengendalikan kehidupan serta seisinya, termasuk kehidupan manusia, mahkluk ciptaan-Nya. Tapi syukur, Tuhan yang mahakuasa namun peduli dengan umat-Nya. Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN MAHAKUASA namun MAU PEDULI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 33:1-22. Sahabat,  saat kita membaca Mazmur 33  segera terbayang mengenai kekuasaan Tuhan. Kekuasaan-Nya tampak dalam alam. Langit dijadikan hanya oleh firman-Nya (ayat 6), air laut bisa dikumpulkan-Nya dan samudera dapat diwadahi-Nya (ayat 7). Kekuasaan-Nya dibandingkan dengan berbagai kekuatan yang seringkali diandalkan oleh manusia. Kalau raja-raja memiliki kekuasaan, maka kuasa Tuhan jauh melampaui mereka (ayat 16). Jika dibandingkan dengan kekuatan seorang pahlawan, maka kekuatan Tuhan tidak ada batasnya (ayat 16). Kuda yang hebat pun tidak sehebat Tuhan (ayat 17). Namun, Tuhan yang berkuasa itu tidak digambarkan sebagai penguasa yang arogan. Karena Dia tidak bertindak sewenang-wenang. Malahan Dia peduli dengan ciptaan-Nya. Dia memandang dari surga untuk menilik anak-anak manusia (ayat 13). Bahkan Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhanlah sumber pengharapan manusia (ayat 20-22). Itu sebabnya Pemazmur mengajak umat senantiasa memuji-muji Tuhan. Sahabat, Tuhan yang berkuasa tetapi tetap peduli membuat kita percaya diri menjalani kehidupan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Sebab itu, Tuhan dapat dijadikan sumber pengharapan  kita. Untuk alasan inilah, kita harus menjalani hidup penuh puji-pujian kepada Tuhan. Puji-pujian itu harus menjadi nyata dalam kehidupan kita dengan meneladani perbuatan Allah. Lagipula setiap orang percaya juga memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan ciptaan lain. Karena itu, kehidupan kita harus dijalani dengan peduli kepada sesama ciptaan Tuhan dan tidak bertindak sewenang-wenang. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Seperti apa penggambarkan kekuasaan Tuhan dalam ayat 6 dan 7? Oleh Pemazmur dalam ayat 16 dan 17 kekuasaan Tuhan dibandingkan dengan apa saja? Dalam ayat 13-15, bagaimana Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhan yang Mahakuasa itu juga Tuhan yang peduli dengan ciptaan-Nya? Dalam ayat 20-22, bagaimana Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhan menjadi sumber pengharapan  manusia? Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa,  “Tuhan, kami bersyukur karena Engkau yang berkuasa, namun tetap peduli kepada kami. Kami bertekad meneladani perbuatan-Mu.” (pg)