DAMAILAH JIWAKU

Sahabat, apakah kamu pernah mengalami perasaan bersalah yang mendalam sehingga kamu  tidak mampu lagi untuk menegakkan kepala? Jika Sahabat pernah mengalaminya, maka secara jujur saya pun pernah mengalaminya. Lalu apakah yang Sahabat rasakan ketika dosa dan pelanggaranmu diampuni? Ya, kita merasakan kedamaian yang luar biasa. Damailah jiwaku. Untuk lebih memahami topik tentang: “DAMAILAH JIWAKU”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 32:1-11. Sahabat, di satu  masa ketika Daud berada di puncak kejayaannya, ia melakukan dosa yang keji. Ia telah berzina dengan istri Uria dan dengan sengaja membiarkan Uria terbunuh di medan pertempuran agar ia dapat memperistri Batsyeba (2 Samuel 11). Syukur pada saat itu TUHAN bermurah hati kepadanya sehingga Ia mengutus Nabi Natan untuk menegur dosa Daud. Teguran keras itu membuat Daud menyadari kesalahan dan kekejiannya. Ia merasa sangat berdosa kepada TUHAN. Perasaannya itu diungkapkannya dalam Mazmur 51. Perasaan bersalah telah menyelimuti hatinya, namun Daud tidak membiarkan hal itu menjadi senjata yang akan menghancurkan dirinya. Ia membawa rasa bersalah dan penyesalannya di hadapan TUHAN (ayat 3-5). TUHAN yang penuh rahmat dan belas kasihan menerima penyesalan Daud dan mengampuni dosanya. Daud menuangkan sukacitanya pada bagian awal dari bacaan kita pada hari ini (ayat 1 dan 2). Sebelum kita menerima pengampunan dari Tuhan, kita akan selalu mengalami tekanan dan penderitaan dalam diri kita.  Titik balik terjadi setelah Daud datang kepada Tuhan dan menyesali dosa-dosanya;  Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memulihkan keadaannya.  Kematian Kristus di atas kayu salib adalah bukti nyata betapa Ia menanggung dosa dan pelanggaran kita.  Pengampunan Tuhan berikan supaya kita mengalami pemulihan. Sahabat, ada begitu banyak orang yang hidupnya penuh rasa bersalah karena dosa pada masa lalu. Akibatnya mereka tidak bisa bangkit karena mereka tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, bahkan cenderung membenci dirinya. Tekanan batin yang berkepanjangan pada akhirnya membuat mereka sakit,  baik jasmani maupun rohani. Tuhan tidak pernah menginginkan kita tenggelam dalam perasaan bersalah. Ia mau kita mengakui dosa secara jujur di hadapan-Nya. Ia akan mengampuni kita. Pesan-Nya adalah jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang dan kita dapat berkata, “Damailah jiwaku karena Tuhan telah mengampuni aku.” Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Siapakah yang disebut orang yang berbahagia dalam ayat 1 dan 2? Daud juga mengungkapkan pergumulannya ketika ia menyembunyikan dosanya. Apa yang dirasakannya pada waktu itu? (Ayat 3-4) Agar Daud bebas dari tekanan berat tersebut, apa yang dilakukannya? (Ayat 5) Apa nasihat Daud bagi kita semua yang sedang bergumul dengan dosa? (Ayat 6-7) Daud juga membagikan pengajaran yang diterimanya dari Tuhan yang telah mengampuni dosanya. Apa isi nasihat Tuhan kepadanya? (Ayat 8-9) Apa himbauan Daud kepada kita dalam ayat 11? Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa, “Bapa yang penuh kasih, aku mengakui segala dosaku. Ampunilah aku oleh karena kasih dan kemurahan-Mu.” (pg)

Tetap PERCAYA di tengah DERITA

Ketika Sahabat menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupanmu, apakah kamu memiliki iman kepercayaan kepada Tuhan? Saat keadaan seperti tidak ada harapan, apakah kamu masih percaya kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya? Beranikah kamu menaruh pengharapanmu kepada Tuhan dan sepenuhnya mengandalkan Dia? Dalam penderitaan ada banyak sekali godaan yang dapat membuat kita mengeluh, bersungut-sungut kepada Allah, menyerah, tidak mau memercayai Allah, atau bahkan beralih kepada illah-illah yang lain. Untuk lebih memahami topik tentang: “Tetap PERCAYA di tengah DERITA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:10-25. Sahabat, Bacaan kita diawali dengan keluh kesah Raja Daud. Ia merasakan keadaan yang begitu sesak, sakit hati,  dan tubuhnya merana, serta sepanjang hidupnya hanya diselimuti oleh duka dan keluh kesah (ayat 10-11). Sahabat, penderitaan Daud bertambah karena ia menjadi celaan dari para lawannya. Kondisinya begitu menakutkan sehingga orang-orang yang mengenalinya pun menjauh dan menghindar (ayat 12). Syukur, sekalipun keadaannya memprihatinkan, ia tetap percaya kepada TUHAN (ayat 15). Ia tahu bahwa kehidupannya ada dalam tangan TUHAN (ayat 16). Dengan iman Daud berkata, “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu. Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!” (ayat 20 dan 22). Ia menaruh harapan bahwa dibalik penderitaan panjang terdapat kebaikan Allah bagi mereka yang takut akan TUHAN dan yang berlindung kepada-Nya (ayat 20). Iman seseorang mungkin saja diuji ketika ia berada di titik terendah. Apakah kita akan tetap percaya kepada Allah atau justru meninggalkan-Nya? Memilih tetap percaya kepada Allah pada saat kita tidak melihat pertolongan-Nya bukanlah hal yang mudah. Sebab, memilih untuk tetap percaya kepada Allah pun tidak berarti akan melepaskan kita dari berbagai penderitaan. Sebaliknya, apakah berpaling dari Allah akan menjadikan semuanya lebih baik? Tidak mungkin. Tidak ada kebaikan dan pertolongan yang sejati di luar Allah. Karena pertolongan-Nya tidak datang terlambat. Ia akan menunjukkan kasih-Nya dengan cara ajaib. Saat kita berpikir bahwa kita sendirian, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhan mendengarkan semua permohonan kita dan Ia akan menjawab sesuai waktu dan cara-Nya. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang dirasakan Daud pada saat itu? (Ayat 10-11) Saat itu Daud keadaannya sangat memprihatinkan, tapi bagaimana dengan  kepercayaannya kepada Allah? (ayat 15 dan 16) Apa yang dikatakan Daud dalam ayat 20 dan 22? Lalu apa yang menjadi harapan Daud? (Ayat 20) Apa yang diserukan oleh Daud di ayat 25? Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa, “Tuhan, aku mau percaya kepada-Mu meskipun saat ini sedang menghadapi situasi dan kondisi  yang berat dan menyesakkan. Tuntun dan sertailah aku, ya Tuhan.” (pg) 

BERSERAH kepada TUHAN

Sahabat, sebagai murid Kristus status kita sebagai anak-anak Tuhan dan kita disebut  sebagai orang percaya, yaitu percaya kepada Kristus.  Kepercayaan yang dimaksud bukanlah sekadar mengaku percaya di bibir saja, tetapi penyerahan penuh kepada Tuhan dan memercayakan segenap hidup kita kepada-Nya,  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;”  (Mazmur 37:5). Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSERAH kepada TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:1-9, dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Mazmur 31 berisi doa memohon perlindungan TUHAN. Dalam permohonannya, Daud memercayakan dirinya kepada TUHAN (ayat 2). Baginya, TUHAN itu seperti gunung batu dan kubu perlindungan yang kukuh (ayat 3). Berada dibalik-Nya pastilah aman dari serangan musuh-musuhnya. Mengapa Daud dapat begitu percaya kepada TUHAN? Karena Daud tahu bahwa TUHAN akan melindunginya oleh karena nama dan kasih setia-Nya (ayat 4 dan 6). Kesetiaan Allah adalah kesetiaan yang teguh. Ketika Ia melindungi orang yang dikasihi-Nya, maka tidak ada satu kuasa pun yang dapat mengalahkan-Nya. Pengalaman Daud selama masa mudanya membuatnya tidak pernah meragukan TUHAN yang disembahnya. Sebab berkali-kali dia diluputkan dari bahaya maut yang dirancang oleh para musuhnya. Ketika Daud memercayakan hidupnya dalam kuasa TUHAN, maka amanlah dia. Karena itu, ia bersorak-sorai dan bersukacita di hadapan para lawannya. Sahabat, milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan karena Dia tahu yang terbaik bagi kita dan tidak ada rancangan-Nya yang gagal atau salah!  Berserah berarti kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di segala keadaan, baik suka maupun duka, saat dalam masalah, penderitaan, sakit, kesulitan, atau sedang naik daun dan sehat wal’afiat,  hari lepas hari, bukan pada saat-saat tertentu saja.  Itulah yang disebut dengan tindakan iman, di mana kita memercayakan hidup dan mempersilakan Tuhan berkarya dalam hidup kita.  Bukan iman yang setengah-setengah, bukan iman musiman, tetapi iman yang utuh dan menyeluruh. Mengapa perlu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan?  Supaya hidup kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.  Ini tidaklah mudah karena sebagai manusia kita cenderung mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri dibanding tunduk kepada kehendak Tuhan.  Namun untuk berkenan kepada Tuhan tidak ada jalan lain selain harus mau dibentuk seperti tanah liat.  Adakah tanah liat memberontak ketika dibentuk dan  diproses?  Tanah liat hanya bisa berserah dan percaya penuh kepada sang panjunan. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Daud memercayai Tuhan sebagai apa? (Ayat 2) Mengapa Daud memercayai Tuhan sebagai pelindungnya? (Ayat 4 dan 6) Apa yang dilakukan Daud di ayat 6? Mengapa Daud bersorak-sorai? (Ayat 8 dan 9) Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa: “Bapa di surga, ajarlah aku untuk dapat berserah penuh kepada-Mu.” (pg) 

BERSYUKUR dalam segala KONDISI dan SITUASI

Saya pernah nenulis qoute tentang bersyukur sebagai berikut: “Salah satu tolok ukur pertumbuhan rohani kita adalah KEMAMPUAN BERSYUKUR dalam segala SITUASI dan KONDISI. Latar belakang penulisan quote tersebut adalah bahwa tak selamanya hidup yang kita jalani ini mendatangkan sukacita dan kegembiraan, adakalanya kita diperhadapkan dengan situasi yang membawa kita larut dalam kepedihan dan ratap tangis. Sedangkan sesungguhnya  suka dan duka, tangis dan bahagia, tawa dan sedih, adalah dua sisi yang datang dan pergi dalam kehidupan ini.  Sahabat ada cukup banyak orang percaya seringkali  rasa syukurnya lebih berorientasi pada berkat atau kesenangan. Bila dalam keadaan yang sulit, terjepit, dan gagal, biasanya sulit bagi mereka  untuk bersyukur. Mungkin karena mereka berpikir, “Apa yang mau disyukuri di tengah kondisi sulit dan terjepit  seperti ini?” Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSYUKUR dalam segala KONDISI dan SITUASI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 30:1-13. Sahabat, Mazmur 30 sangat kental dengan ucapan syukur Daud kepada Tuhan: “Aku akan memuji Engkau, …” (Ayat 2); “Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN …” (Ayat 5); “… jiwaku menyanyikan mazmur bagimu …” (Ayat 13). Sahabat, mengapa Daud bersyukur kepada Tuhan? Pertama, karena meski hidupnya susah, tetapi Tuhan setia (ayat 2-4). Kesetiaan Tuhan dirasakan oleh Daud di tengah kesusahannya karena musuh-musuhnya, dalam kesesakannya, dan dalam dukacitanya. Kedua, karena meski sesaat Tuhan murka, tetapi seumur hidup Tuhan murah hati (ayat 6). Daud tahu rasanya dimurkai Tuhan karena dosanya, tetapi bagi Daud murka itu tidaklah sebanding dengan kemurahan hati yang telah Tuhan nyatakan di dalam hidupnya. Ia telah menyaksikan bahwa murka Tuhan itu hanya sesaat, dibandingkan kemurahan Tuhan di sepanjang hidupnya. Ketiga, karena meski pernah congkak, tetapi Tuhan mau menolong (ayat 7-12). Dalam kesenangannya, Daud pernah jatuh dalam dosa kecongkakan. Ia berpikir bahwa dengan kekuatannya, ia tidak akan goyah. Namun Tuhan menegur kecongkakannya dan menyadarkan Daud bahwa kekuatannya adalah karena pertolongan Tuhan semata. Karena Tuhanlah yang mengubah ratapnya menjadi tarian, perkabungannya menjadi sukacita. Sahabat, dalam kesusahan, dalam keberdosaan, dan dalam kejatuhan, Daud tetap dapat menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Saat ini, masih bisakah kita menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan, dalam segala situasi dan kondisi? Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu bagaimana Tuhan telah menolongmu sehingga kamu tetap dapat bersyukur dalam segala situasi dan kondisi. Selamat sejenak merenung. Naikanlah syukur senantiasa kepada Tuhan. (pg)

BETAPA MULIA RAJA SEMESTA ALAM

Sahabat, salah satu lagu favorit saya yang terdapat di buku “Puji-Pujian Rohani 1” adalah lagu “Betapa Mulia-Mu” (PPR 1 no. 171). Syair lagu tersebut berbunyi: Oh Tuhanku bila ku terpesona, Merenungkan ciptaan-Mu semua, Kusaksikan bintang guruh angkasa, Tanda kebesaran-Mu di dunia. Aku memuji kebesaran-Mu, Juruslamat, Penebusku. Syair lagu tersebut menggambarkan kekaguman penulis kepada Allah ketika melihat karya ciptaan-Nya. Ia begitu kagum akan kebesaran Tuhan sehingga tidak tahan untuk tidak memuji-Nya. Syair dengan judul asli “O store Gud” ini ditulis oleh Carl Gustaf Boberg (1859-1940) Untuk lebih memahami topik tentang: “BETAPA MULIA RAJA SEMESTA ALAM”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 29:1-11. Sahabat, dalam Mazmur 29, Daud mengawalinya dengan seruan kepada segenap penghuni surgawi (mungkin yang dimaksud adalah segenap bangsa Israel sebagai anak-anak Allah) untuk memuji dan sujud menyembah TUHAN. Mengapa? Sebab TUHAN adalah Allah semesta alam. Daud memberikan gambaran betapa besarnya kuasa TUHAN. Suara-Nya mampu mengatasi segala air, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah (ayat 3). Suara TUHAN penuh kuasa dan kekuatan (ayat 4). Suara-Nya mampu mematahkan pohon aras Libanon yang ukurannya sangat besar itu (ayat 5). Suara TUHAN menggetarkan gunung-gunung. Suara TUHAN itu seperti kilat yang menyambar dan menggetarkan padang gurun Kadesh dan sebagainya. Di bagian akhir Daud menutup mazmurnya dengan pengakuan bahwa TUHAN adalah Raja dan permohonan berkat kepada segenap umat-Nya. Carl dan Daud adalah dua penyair yang beda zaman. Akan tetapi mereka memiiki satu kesamaan, yaitu keduanya mengagumi Tuhan ketika melihat karya dan kedahsyatan-Nya atas ciptaan. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kekaguman kita berhenti sampai pada keindahan ciptaan-Nya  saja? Ataukah kita mampu mengarahkan rasa hormat dan kekaguman kita kepada Sang Pencipta? Ketika kita mengakui bahwa Tuhan adalah Raja semesta alam, maka sikap hormat dan kagum kita tunjukkan dengan hidup bersahabat terhadap alam dengan cara tidak mengeksploitasi alam. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, apakah  mungkin bagi kita untuk berjalan dalam damai-Nya meski badai hidup mengamuk di sekitar kita? (Ayat 10-11 dan Yesaya 54:10). O, terpujilah Tuhan dan syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah menguatkan kita!  (pg).

Susah dan Miskin namun KAYA

Kota Smirna, dekat Turki, di utara kota Efesus, adalah kota yang indah, kota perdagangan yang sangat kaya dan maju di zamannya.  Di kota tersebut banyak dibangun kuil-kuil megah untuk penyembahan kepada sang kaisar.  Kuil-kuil tersebut merupakan lambang kemajuan dan perkembangan kota Smirna yang juga merupakan kota pelabuhan yang sangat strategis.  Sebagai kota perdagangan yang maju, Smirna sangat terkenal sebagai pengekspor minyak wangi.  Sahabat, nama Smirna berasal dari kata mur yaitu bahan pembuat minyak wangi, sedangkan kata mur sendiri berarti pahit rasanya.  Itu sangat sesuai dengan keadaan jemaat Smirna yang saat itu mengalami hal-hal pahit karena penderitaan yang dialami, suatu kondisi yang berbanding terbalik dengan keadaan kota yang kaya dan sangat maju.  Keadaan jemaat Smirna sangat memrihatinkan karena mereka hidup dalam keadaan susah dan miskin;  bukan karena mereka malas bekerja, tetapi karena mendapat tekanan dari pemerintah setempat sebab mereka tidak mau menyembah kaisar. Untuk lebih memahami topik tentang: “Susah dan Miskin namun KAYA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari kitab Wahyu 2:8-11 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, meski berada dalam situasi yang sangat sulit karena kehilangan akses ekonomi, mereka tetap setia kepada Tuhan, kasihnya tidak berubah sedikit pun.  Tuhan memuji,  “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu-namun engkau kaya”  (ayat 9).  Sahabat, kemiskinan dalam bahasa Yunani ptocheia  (tidak memiliki apa pun).  Secara materi mereka papa namun kaya dalam iman!  Kondisi ini jauh berbeda dari jemaat Laodikia yang secara materi kaya namun secara rohani papa, buta dan telanjang  (Wahyu 3:17).  Sesungguhnya Tuhan tidak menghendaki umat-Nya hidup dalam kemiskinan karena rancangan-Nya adalah kehidupan yang berkelimpahan, namun jika Tuhan izinkan penderitaan itu terjadi berarti ada maksud dan rencana yang indah di balik semuanya itu! Baik dalam kelimpahan atau kekurangan, kaya atau papa, biarlah kita tetap setia mengikut Tuhan sampai akhir.  Jemaat Smirna menderita karena tidak kompromi dengan dosa, tidak mau menyembah berhala.  Secara fisik papa, tetapi mereka kaya rohani, kaya di mata Tuhan, suatu kekayaan yang bersifat kekal, di mana  ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  (Matius 6:20). Sebagaimana Yesus setia sampai mati di atas kayu salib, Dia mendorong orang percaya untuk setia sampai mati. Marilah kita terus melayani Tuhan sambil mengarahkan mata kita kepada Dia karena mahkota kehidupan ada di tangan-Nya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Bagaimana kondisi jemaat Smirna saat itu? (Ayat 9) Penderitaan apa yang dialami oleh jemaat Smirna saat itu? (Ayat 9-10) Apa yang dipesankan Tuhan Yesus di ayat 10? Apa yang dijanjikan Tuhan Yesus di ayat 11? Selamat sejenak merenung.  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25) (pg)

Benarkah saya DIJOTAK Tuhan?

Ratna bingung saat tiba-tiba dijotak Ratih.  Dijotak, istilah bahasa  Jawa, artinya Ratna didiamkan atau dianginkan atau tidak digubris atau tidak diajak berbicara oleh Ratih. Bagaimana Ratna tidak bingung? Dia tidak tahu secara jelas mengapa tiba-tiba dijotak oleh Ratih? Lagi pula Ratih itu teman sekelasnya di SMP kelas 2. Ratih itu salah seorang teman akrabnya, biasa bercanda dan pergi berdua.  Ratna hanya tahu sejak dia menanggapi candaan Galih, sejak saat itu dia dijotak oleh Ratih. Untuk lebih memahami topik tentang: “Benarkah saya DIJOTAK Tuhan?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 28:1-9. Sahabat, Dijotak (didiamkan)  oleh orang yang kita kasihi adalah pengalaman yang sangat menyedihkan, apalagi bila kita sedang menghadapi masalah yang berat dan butuh pendampingan (ditemani). Daud mengalaminya dalam berelasi dengan Tuhan. Ia merasa Tuhan diam terhadapnya, dan diamnya Tuhan justru ia alami di tengah masa sulitnya,  ia berhadapan dengan orang fasik yang melakukan kejahatan (ayat 3-4), yang kemungkinan adalah teman-temannya sendiri, yang nampak ramah tetapi hatinya penuh kejahatan (ayat 3). Daud membahasakan pengalaman itu seperti “orang yang turun ke dalam liang kubur” (ayat 1), yang menggambarkan kehampaan harapannya bila di tengah kondisi yang demikian, Tuhan nampak diam dan jauh darinya. Sahabat, tetapi menariknya, meski ia merasa Tuhan diam, Daud memilih tidak diam terhadap Tuhan. Perhatikan ayat 2, betapa tidak diamnya Daud: “Dengarlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.”  Meski seakan Tuhan diam, ia tetap memohon, berteriak, dan bahkan mengangkat tangannya tanda berserah penuh kepada Tuhan. Ia tetap memercayai bahwa diamnya Tuhan bukan berarti tidak mendengar, bukan berarti tidak bertindak. Daud percaya Tuhan adalah gunung batunya (Ayat 1), yang menjadi tempat persandarannya yang teguh. Dan itulah yang kemudian dibuktikan oleh Tuhan baginya. Pada ayat 6 Daud berseru,  “Terpujilah Tuhan, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.”  Bukan hanya itu, melalui pengalamannya yang tetap percaya Tuhan meski Ia nampak diam, Daud justru mengalami bahwa Tuhan bukan hanya gunung batu, melainkan juga kekuatan dan perisai (ayat 7), dan benteng keselamatan (ayat 8). Jika Sahabat merasa Tuhan diam, jangan berhenti berharap. Tetap percaya dan berseru pada-Nya. Nanti akan tiba waktunya di mana Tuhan menolong dan membawa kita pada pengalaman rohani yang lebih mendalam tentang Dia. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Bagaimana Daud menggambarkan keadaan dirinya pada saat itu? (Ayat 1) Apa yang dikerjakan Daud ketika dia merasa Tuhan mendiamkannya? (Ayat 2) Siapa yang berlaku jahat terhadap Daud pada saat itu? (Ayat 3-5) Apa yang akhirnya diperoleh Daud? (Ayat 6) Apa pernyataan Daud yang perlu kita pegang kuat-kuat dalam menjalani kehidupan  ini? (Ayat 7-8) Selamat sejenak merenung. Tetaplah berharap dan berserah kepada Tuhan. (pg)

KECIL namun DIPERKENAN TUHAN

Kota Filadelfia merupakan kota termuda di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Kota ini dibangun Raja Attalus II pada 150 SM. Attalus membangun kota itu untuk menyatakan kasihnya kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karena itu, kota ini diberi nama Filadelfia, dari kata bahasa Yunani yang artinya “orang yang mengasihi saudara laki-lakinya”. Kota Filadelfia  berada di tempat yang strategis di jalur utama pos Kekaisaran dari Roma ke daerah timur, karenanya kota ini disebut “Pintu gerbang ke timur”. Kota ini juga disebut “Athena Kecil” karena banyaknya kuil di kota itu. Tidak jauh berbeda dengan kota yang lain, jemaat Filadelfia juga sedang menghadapi penganiayaan. Untuk lebih memahami topik tentang: “KECIL namun DIPERKENAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:7-13 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Yesus menyurati jemaat Filadelfia untuk memuji pekerjaan mereka, ketaatan mereka kepada firman Tuhan, dan keteguhan mereka untuk tidak menyangkal nama Kristus dalam penderitaan. Dia mendorong mereka tetap tekun dan bertahan di dalam penderitaan. Tuhan berjanji kepada mereka yang setia bahwa Dia akan memelihara mereka dari kesukaran lebih besar yang akan terjadi. Sahabat, jemaat Filadelfia dikatakan sebagai jemaat yang kekuatannya tidak seberapa, namun mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Mereka menerapkan kasih persaudaraan di sana, dan ternyata meski kekuatan mereka tidak seberapa, namun kesatuan mereka yang erat dan penuh kasih itu ternyata sanggup membawa pembedaan dan hasil yang luar biasa. Begitu luar biasa hingga Tuhan pun berkenan memuji mereka. Kehidupan jemaat di Filadelfia memberikan inspirasi bagi kehidupan gereja masa kini. Minoritas dengan banyak tekanan dari luar. Tetapi, gereja Tuhan harus memiliki komitmen untuk hidup menaati firman Tuhan dalam situasi apa pun. Tantangan dan kesulitan yang datang justru merupakan ujian iman dan ketaatan kita kepada Tuhan. Mari tetap tekun dan setia kepada-Nya di tengah-tengah kesukaran dan permasalahan yang kita alami. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami dari firman Tuhan yang terdapat di ayat 7? Apa yang menyebabkan Tuhan Yesus sangat berkenan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 8) Apa yang dijanjikan Tuhan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 10-11) Apa yang dijanjikan Tuhan dalam ayat 12? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN

Sahabat, tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka.  Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan itu dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang positif akan menghasilkan kekuatan dan peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan.  Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, tawar hati dan kehilangan pengharapan.  Untuk lebih memahami topik tentang “MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan mazmur pujian ini dilantunkan sang pemimpin biduan, menurut Yedutun. Dia dicatat sebagai seorang Lewi yang diangkat Daud untuk memimpin ibadah musik di Bait Suci. Yedutun dimaknai juga keluarga biduan atau kelompok musik ibadah di Bait Suci. Dikisahkan dalam bacaan kita  bahwa gubahan lirik lagu Mazmur Asaf ini menggambarkan kerinduan Pemazmur untuk berseru-seru dengan nyaringnya kepada Allah. Agar hendaknya Allah berkenan mendengarkan doa dan permohonannya. Supaya Tuhan mengabulkan permintaannya. Di masa lampau, Pemazmur pernah mengalami keajaiban pertolongan dan kasih Tuhan. Namun dalam kesenyapan pergumulannya kali ini, Pemazmur mengungkapkan salah satu pertanyaan: “Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya?” (Ayat 9) Pemazmur hanya punya dua pilihan jawaban: Ya atau tidak. Jika ya, berarti Pemazmur harus menolak segala yang pernah ia percayai tentang Allah. Jika iya, artinya Pemazmur memercayai bahwa kasih setia Allah yang tak berkesudahan itu sesungguhnya hanyalah mitos. Namun jika jawabannya tidak, berarti Pemazmur menerima bahwa Allah adalah Tuhan dan Ia tidak pernah berubah dan kasih-Nya tak berkesudahan. Manakah yang Pemazmur pilih? Syukur, Pemazmur memilih berkata TIDAK terhadap pertanyaan di atas dan tetap memercayai Allah. Oleh karena itu, ia tetap mengingat dan merenung (ayat 12-13). Bila pada bagian sebelumnya, Asaf mengingat dan merenung kesusahannya, penderitaannya, kemalangannya (ayat 3-11). Namun, pada bagian selanjutnya, Asaf mengingat dan merenungkan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib. Di tengah penderitaan yang begitu berat dan kesenyapan yang dia alami, Pemazmur memilih untuk merenungkan perbuatan-perbuatan dan keajaiban-keajaiban yang telah TUHAN lakukan atas Israel umat-Nya (ayat 12-13). Hal itu memberi kekuatan kepadanya, meskipun ia belum memperoleh jawaban atas seruannya agar Tuhan mendengarkan dan memerhatikan dia (ayat 2 dan 10). Sahabat, pada bagian ini, Asaf berseru agar ia melihat Tuhan dan menjadi gentar sebagaimana air dan samudera raya (ayat 17), bahkan tetap gentar sekalipun jejak Tuhan tak terlihat di dalam hidupnya (ayat 20). Ketika Asaf memagari emosi dan kekalutannya dengan kebenaran dan perenungan akan Tuhan, Asaf bangkit dari krisis imannya dan tetap memercayai Allah. Sahabat, di hari pertama dalam tahun baru 2022, mari kita berkomitmen: Tetap memercayai Allah, sekalipun jejak pertolongan-Nya tak terlihat oleh mata jasmani kita. Kiranya dengan mata rohani kita tetap memandang dan percaya kepada-Nya, Sang Penolong sejati. (pg) 

MENUTUP Lembaran Tahun 2021

Pandemi Covid-19 di Indonesia sepanjang tahun 2021 mengguncang iman, hati, dan hidup kita. Namun begitu, kami berharap Sahabat dan kami tetap dapat menikmati campur tangan dan pertolongan  Tuhan dalam perziarahan hidup kita di sepanjang tahun 2021. Sahabat,  lika-liku perjalanan hidup kita yang penuh kegembiraan maupun kesedihan, yang meninggalkan kenangan indah dan kenangan pahit dalam ingatan. Selain itu banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Tuhan dan banyak pula yang masih menunggu waktu Tuhan. Pertanyaannya, sudah berapa jauh kita berjalan menuju arah yang lebih baik? Berapa banyak yang kita lakukan untuk  sesama? Sekarang merupakan saat yang tepat dan baik bagi kita untuk  mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan satu tahun terakhir ini. Kita tahu bahwa waktu yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi. Semua yang telah kita alami adalah guru terbaik yang mengajar kita dalam banyak hal. Kenangan dari setiap perjalanan dan proses yang telah kita lewati adalah pelajaran yang sangat berharga. Kita meyakini, semua itu tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan sebagai bukti kasih-Nya dalam hidup kita. Maka biarlah semua itu semakin menguatkan iman dan pengharapan kita dalam menyambut tahun  baru 2022. Sahabat, bersihkan hati dan buang jauh-jauh hal-hal yang menyakitkan, kepahitan, kekecewaan, kegagalan, iri, dengki, dendam dan yang lain sejenisnya. Hendaklah kita saling mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu. Tanamkan semangat yang positif, senantiasa bersyukur dan percaya pada Allah kita yang luar biasa. Simpan kenangan indah yang telah kita alami untuk dapat kita kenang dikemudian hari.  Tutup tahun ini dengan sukacita dan damai di hati. Ucapkan selamat tinggal pada tahun 2021, yang mungkin merupakan tahun yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Mari  persiapkan hati dan hidup kita menyambut tahun  baru 2022, tahun dengan lebih banyak sukacita dan harapan baru. Sebelum kita menutup lembaran tahun 2021, mari kita mendaraskan: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.”  (Mazmur 77:12). (pp)