BUKALAH PINTU HATIMU

Laodikia terletak kira-kira 43 mil sebelah tenggara kota Filadelfia, 11 mil sebelah barat kota Kolose, dan 6 mil sebelah selatan kota Hierapolis (bnd. Kolose 4:13) di Lembah Lisius. Kota ini adalah pintu gerbang ke Efesus, batas timur kira-kira 100 mil merupakan pintu gerbang ke Siria. Sahabat, Laodikia menjadi pusat perdagangan yang makmur dan  berpengaruh. Industri wolnya berkembang pesat dengan produksi dan ekspor wol hitam, manufaktur pakaian sehari-hari dan pakaian mahal, serta penemuan salep mata yang efektif. Kota ini memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasi dalam bidang pengobatan mata dan telinga, dan telah mengembangkan salep untuk penyembuhan radang mata. Salep mata ini membuat sekolah kedokteran di Laodikia menjadi terkenal pada waktu itu. Untuk lebih memahami topik tentang: “BUKALAH PINTU HATIMU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:14-22, dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan kepada jemaat di Laodikia mengingat kondisi rohani mereka yang tidak dingin dan tidak panas (ayat 15). Keadaan suam-suam kuku itu seperti makanan yang menjadi basi, dan Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya (ayat 16), artinya mereka tidak dapat menyatu dengan Tuhan. Jemaat di Laodikia merasa hidup mereka sudah cukup dengan kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan, namun di mata Tuhan, mereka miskin dan buta rohani (ayat 17). Tuhan menasihatkan agar mereka membeli emas murni, iman sejati dari Tuhan; dan pakaian putih yaitu kekudusan yang dianugerahkan Tuhan; serta minyak untuk melumas mata mereka agar celik dalam melihat kebenaran (ayat 18). Sesungguhnya itulah kekayaan rohani yang dibutuhkan oleh setiap orang percaya Sahabat, Allah menginginkan setiap jemaat-Nya bertumbuh dan berkembang, Allah tidak menginginkan kita berdiri di tempat, tidak maju tidak mundur. Mereka akan mengalami stagnasi dengan tidak bergeming terhadap perubahan atau mereka tidak ada respons untuk bergerak dan maju bagi pertumbuhan rohaninya. Oleh karena itu Allah berdiri di muka pintu dan mengetuk, Allah berusaha mengetuk pintu hati kita yang sudah tertutup. Kadang-kadang kita merasa tidak butuh Tuhan, tidak butuh apa-apa lagi. Keadaan sepeti ini sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kerohanian kita mungkin akan menjadi lemah dan mati. Diri kita menjadi suam, tidak maju dan tidak mundur, bahkan kita sering menjadi apatis terhadap segala kegiatan, pergumulan,  dan perubahan dalam gereja. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan yang disampaikan kepada jemaat di mana? (Ayat 14) Bagaimana kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 15) Apa reaksi Tuhan terhadap kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 16) Mengapa jemaat tersebut kerohaniannya mengalami stagnasi? (Ayat 17) Apa yang harus dilakukan oleh jemaat tersebut agar mengalami pemulihan? (Ayat 18) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

IBADAH: Ungkapan Iman

Ibadah adalah ungkapan iman kita. Apakah artinya? Ibadah yang hidup terpancar dari iman yang dinamis, nyata, dan melewati pergumulan bersama dengan Allah. Adalah hal yang mulia untuk menghadirkan iman kita dalam setiap ibadah dan mengungkapkannya kepada orang-orang yang berada di sekitar kita. Sahabat, bagaimana sikap hati kita saat memersiapkan diri dalam ibadah? Adakah kita berdoa memohon Tuhan untuk menyadarkan kita akan keberdosaan dan kebutuhan kita akan kasih anugerah-Nya? Atau pernahkah kita pergi beribadah dengan maksud untuk bisa memberi yang terbaik kepada Allah? Untuk lebih memahami topik tentang: “IBADAH: Ungkapan Iman”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 24:1-10. Sahabat, Mazmur  24 mungkin dipakai dalam ibadah di bait Allah untuk merayakan Allah sebagai Raja, Pencipta alam semesta (ayat 1-2). Sebagai Raja, Allah berhak menuntut seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia, tunduk menyembah Dia dan taat pada firman-Nya. Dalam tradisi Perjanjian Lama, Mazmur 24 adalah nyanyian bangsa Israel ketika mereka berjalan ke Gunung Sinai untuk beribadah kepada Allah. Mazmur 24 disusun dengan tatanan, misalnya: Pernyataan siapakah Allah, Pencipta semesta dan Raja yang berdaulat. Inilah Allah yang disembah orang Israel sehingga mereka tidak boleh memandang sebelah mata ibadah kepada Allah leluhur mereka. Karena itu, mereka perlu memersiapkan diri sebaik mungkin. Sedangkan ayat 3-6 berperan sebagai pengujian diri, yaitu hal apa saja yang diharapkan Allah dari umat saat mereka datang menyembah-Nya. Mereka tidak boleh dicemari dengan motivasi atau niat yang cemar. Seluruh hidup mereka harus mencerminkan sifat Allah. Prosesi perjalanan menuju Bait Allah akan membawa umat mencapai Pintu Gerbang Bait Allah di mana para imam akan berseru dari dalam: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” dan umat akan menjawab dari luar gerbang, “TUHAN, jaya dan perkasa. TUHAN, perkasa dalam peperangan!” Sahut-menyahut ini diulang saat umat melihat pintu gerbang Bait Allah terbuka untuk menyambut orang-orang yang rindu berbakti kepada Allah (ayat 9-10). Sungguh sebuah cara yang megah untuk memulai ibadah! Sahabat, puncak ibadah ialah undangan bagi Allah untuk bertaktha di bait-Nya yang kudus (ayat 7-10). Kemudian berkumandanglah paduan suara secara bersahut-sahutan, mungkin antara kaum Lewi dengan para imam dan diikuti oleh segenap umat yang ikut beribadah. Bayangkan kemegahan ibadah dan suara pujian yang menggema dan memancar keluar dari pelataran di mana umat berkumpul. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu secara pribadi, apa yang Sahabat lakukan ketika akan mengikuti ibadah di gerejamu. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat mensyukuri untuk tahun baru 2022 yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tuhan memberkati. (pg)

TEMBANG MADAH di saat NATAL

Sahabat, lebih dari duaribu tahun yang  silam, di kota Yerusalem, terdengarlah Maria, perempuan yang beroleh kasih karunia Tuhan,   melantunkan tembang madah (pujian) bagi Tuhan.  Suatu anugerah besar bagi Maria karena Tuhan berkenan menjadikannya saluran berkat bagi dunia, karena melalui dirinya lahirlah Sang Juruselamat dunia.  Untuk menggenapi rencana Tuhan tersebut,  Maria berani membayar harga yaitu menanggung risiko besar, bisa dihukum mati karena dituduh berzinah.  Karena itulah di tengah-tengah situasi sulit Maria bisa bersyukur dan mendedangkan madah  dan memuliakan Tuhan. Untuk lebih memahami topik tentang: “TEMBANG MADAH di saat NATAL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:46-56. Sahabat,  atas respons dan peneguhan dari Elizabet, Maria dengan sukacita mendedangkan madah yang begitu indah kepada Allah. Madah Maria dalam bahasa Latin disebut magnificat artinya memuliakan. Madah tersebut muncul dari hati Maria yang terdalam, menyangkut karya Allah yang besar atas dirinya dan umat-Nya. Dalam bagian yang pertama (ayat 46-49), Maria memuji Allah karena perkara besar yang Allah telah lakukan bagi dia. Maria memahami keberadaan dirinya. Terlebih di hadapan Allah, ia hanya seorang hamba. Itulah sebabnya, orang akan menyebut dia berbahagia karena telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah. Sedangkan pada bagian yang kedua (ayat 50-53), Maria memuji Allah karena kekudusan, rahmat, dan kuasa-Nya, yang ditujukan kepada orang-orang yang takut akan Dia. Allah juga akan menunjukkan kuasa-Nya atas mereka yang meninggikan diri, yaitu mereka yang angkuh, penguasa yang korup, dan orang kaya yang tidak memedulikan orang miskin. Di bagian terakhir,  ketiga (ayat 54-55), Maria memuji Allah yang setia padaperjanjian-Nya dengan umat-Nya. Sahabat, dari madah Maria, nyata imannya bahwa Allah akan setia memeliharaumat-Nya sebagaimana yang telah Dia janjikan kepada Abraham, nenek moyang mereka. Dari pokok-pokok iman di dalam madah Maria, nyata juga pengharapannya sebagai umat Allah, yaitu bahwa Allah akan bertindak menolong mereka. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa Maria mendedangkan tembang madah bagi Allah? (Ayat 46-49) Apa yang Sahabat pahami dari ayat 50 -53? Mengapa Maria mendendangkan tembang madah bagi Allah? (Ayat 54 – 55) Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022.  Pujilah Allah dengan segenap hati dan dengan segenap kesadaran serta pemahaman kita. Terpujilah Tuhan! (pg)

YESUS: TERANG SEJATI

Sahabat, coba bayangkan bila dunia ini gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikit pun.  Pasti tidak akan ada kehidupan karena manusia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak ada makhluk yang dapat hidup.  Karena itu berfirmanlah Tuhan,  “Jadilah terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. …”  (Kejadian 1:3-5a).  Tuhan pun melengkapi dengan benda-benda langit:  Matahari, bulan dan bintang.  Dengan adanya terang, makhluk hidup dapat bertumbuh dan ada kehidupan, manusia pun dapat melakukan aktivitasnya.  Sungguh, semua orang membutuhkan terang atau cahaya.  Memang, kita memiliki mata yang berfungsi untuk melihat, tetapi apabila tidak ada terang atau cahaya, mata kita pun tidak dapat berfungsi untuk melihat. Untuk lebih memahami topik tentang: “YESUS: TERANG SEJATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yohanes 8:12-20 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Yesus melakukan banyak perbuatan besar, seperti mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan lain-lainnya. Hal tersebut membuat banyak orang bertanya mengenai siapa diri-Nya yang mampu melakukan hal-hal seperti itu. Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah Terang dunia (ayat 12). Ia menegaskan bahwa setiap orang yang mengikut-Nya akan memiliki terang dalam hidupnya. Sahabat, orang Farisi tidak menerima pernyataan Yesus tersebut (ayat 13). Mereka meragukan-Nya karena diperlukan dua saksi untuk sebuah kebenaran. Lalu, Yesus menyatakan dengan jelas mengenai diri-Nya. Dia tahu siapakah diri-Nya dan apa yang akan dilakukan-Nya, sementara orang Farisi merasa lebih tahu, padahal mereka sama sekali tidak mengetahuinya (ayat 14 dan 19). Yesus diutus untuk menyatakan kehendak Bapa-Nya (ayat 16). Dengan demikian, ada dua pribadi yang memahami Yesus, yaitu diri-Nya dan Allah (ayat 18). Hal ini dipandang benar menurut hukum Taurat (ayat 17). Sering kali kita juga sulit memahami Yesus. Perkembangan kehidupan dengan segala kemajuannya dapat mengalihkan mata kita dari terang Kristus. Seakan-akan Ia tidak berperan apa-apa dalam kehidupan ini. Kita diingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Terang kehidupan. Yesus ingin pengikut-Nya memahami kehendak Allah dan dapat menjalani kehidupan dengan benar. Dinamika kehidupan yang naik turun dengan cepat seharusnya membuat kita makin percaya dan bergantung penuh kepada Tuhan. Dengan begitu, kita dapat merasakan kuasa penyertaan-Nya yang ajaib dalam setiap kisah kehidupan. Jangan biarkan keadaan yang sulit mengusai diri kita dan menggantikan kuasa Kristus. Yesus adalah Terang dan biarlah Ia senantiasa menerangi setiap langkah dalam hidup kita. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, dan kini Tuhan Yesus menyerahkan tongkat estafet itu kepada kita, anak-anak-Nya, untuk melanjutkan tugas-Nya menyinari dunia ini dengan terang surgawi. Tolong bagikan pemahamanmu bagaimana caranya agar kita dapat berperan sebagai terang dunia. Selamat sejenak merenung. Terang Tuhan menerangi hati, pikiran,  dan langkah kita dalam menjalani tahun baru 2022. (pg) 

KRISTUS adalah ALFA dan OMEGA

Sahabat, dalam mengerjakan misi yang diamanatkan Bapa kepada-Nya, Kristus tidak pernah mengerjakan segala sesuatunya dengan setengah-setengah, tapi diselesaikan-Nya sampai tuntas, dan puncaknya adalah melalui pengorban-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.  Kristus adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang akhir;  Ia yang mengawali dan Ia pula yang mengakhirinya.  Jadi, Kristus selalu menyelesaikan karya-Nya sampai purna,  “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6). Untuk lebih memahami topik tentang: “KRISTUS adalah ALFA dan OMEGA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 1:17-20 dengan penekanan pada Wahyu 1:8. Sahabat, kemarin adalah sejarah, hari ini adalah hidup kita sekarang, sedangkan esok adalah misteri. Tidak ada seorang pun yang mengetahui masa depan. Bahkan, dengan teknologi yang paling mutakhir pun, tidak ada manusia yang dapat memastikan masa depan. Masa depan adalah samar-samar bagi manusia. Manusia hanya bisa membuat rancangan dan predikasi, tetapi tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi. Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa yang menguasai masa depan adalah Tuhan. Dalam bacaan kita pada hari ini, rasul Yohanes menerima wahyu dari Gurunya, Yesus Kristus, untuk diteruskan kepada tujuh jemaat di Asia Kecil. Walaupun Yohanes sangat dekat dengan Gurunya, kali ini ia bertemu dengan Kristus yang hadir dalam kemuliaan-Nya, sehingga ia tersungkur dan sujud di kaki Yang Awal dan Yang Akhir (ayat 17), Alfa dan Omega (ayat 8), Yang telah mati namun hidup selama-lamanya (ayat 18). Kristus adalah Yang Awal karena tidak ada yang ada sebelum Ia ada. Ia mula-mula sudah ada karena Ia adalah Pencipta segala yang ada. Kristus adalah Yang Akhir karena hanya Dia yang mampu memegang masa depan. Sahabat, Allah melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan secara bersamaan karena Ia itu kekal. Ia mengasihi gereja-Nya sehingga Ia menyampaikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan supaya gereja berjaga-jaga dan siap menghadapinya. Supaya setiap orang percaya secara individu bisa mengambil bagian dalam rencana Allah yang besar, kita harus mengerti maksud Allah untuk gereja-Nya. Selama kita tinggal dekat Tuhan dan menyediakan diri untuk disertai, Ia yang berjanji itu setia.  Tuhan berkata,  “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”  (Wahyu 21:6).  Kata cuma-cuma tersebut tidak berarti bahwa semua orang, termasuk  orang yang menolak akan diberi, tapi hanya orang yang merasa hauslah  (yang punya kerinduan besar)  yang akan Tuhan beri,  “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”  (Matius 5:6). Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu mengenai Kristus adalah Alfa dan Omega. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Tuhan Yesus beserta kita dalam memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

MENYINGKAPKAN KEBENARAN

Syukur kepada Tuhan, ada cukup banyak orang percaya yang mengikuti program pembacaan Alkitab secara berurutan dari Kejadian sampai dengan Wahyu dalam waktu satu tahun. Bagaimana perasaan Sahabat ketika mulai memasuki kitab Wahyu?    Sahabat, ada yang menyangka kitab Wahyu hanya berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan penghakiman di akhir zaman dan sangat sulit dimengerti karena banyak menggunakan lambang. Sesungguhnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Untuk lebih memahami topik tentang: “MENYINGKAPKAN KEBENARAN”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari kitab Wahyu 1:1-3. Sahabat, kitab Wahyu, sesuai dengan artinya, ditulis dengan tujuan untuk menyingkapkan atau membukakan kebenaran. Kitab Wahyu diumpamakan seperti sebuah lukisan yang sebelumnya terselubung, lalu selubung itu disingkapkan sehingga lukisan tersebut kini tampak jelas. Bacaan kita pada hari ini  merupakan pembuka dari kitab Wahyu, “Inilah wahyu Yesus Kristus” (ayat 1), itu berarti Yesus sebagai sumbernya, sekaligus Dia sebagai berita utamanya. Keduanya mengungkapkan kebenaran yang penting. Kitab Wahyu merupakan wahyu dari dan tentang Yesus. Dari Yesus Kristus menegaskan bahwa apa yang Yohanes tulis merupakan segala sesuatu yang Yesus telah nyatakan kepadanya. Sedangkan tentang Yesus, berarti wahyu ini menyingkapkan pribadi-Nya. Dia telah mati, bangkit, dan naik ke surga serta karya-Nya di dalam kehidupan orang percaya pada masa kini, dan juga menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali. Sahabat, itulah keindahan kitab Wahyu. Kitab ini menyingkapkan isi hati Allah. Kepada para pembaca kitab ini, Dia berjanji, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (ayat 3) Janji tersebut berlaku bagi setiap orang percaya dari segala abad dan tempat. Juga berlaku bagi kita yang membaca dan menuruti apa yang tertulis di dalamnya. Bagi orang percaya hendaknya bersaksi tentang kasih Kristus dengan cara  menjalankannya. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu ketika membaca kitab Wahyu. Berkat apa saja yang Sahabat peroleh. Selamat sejenak merenung. Selamat menyambut natal dan tahun baru 2022 dengan penuh syukur dan sukacita. Tuhan memberkati. (pg)

DOA membawa KEBERHASILAN

Martin Luther, sang reformator, berkata bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya. Lebih jauh dia berkata  bahwa menjadi orang percaya tanpa berdoa tidak lebih dari menjadi seorang yang hidup tanpa bernafas. Jika dilihat dari sisi medis, orang yang sudah tidak bernafas berarti  sudah meninggal dunia. Kalau frasa “tidak bernafas” dikaitkan dengan kerohanian berarti sudah mati rohani. Atau dengan kata lain, hidupnya telah putus hubungan dengan Allah. Sahabat, sesungguhnya satu-satunya sumber kekuatan bagi orang percaya dalam menjalani  hidup adalah berdoa. Bagi orang percaya, doa membawa keberhasilan. Untuk lebih memahami topik tentang: “DOA membawa KEBERHASILAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 20:1-10 dengan penekanan pada ayat 5. Bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah doa. Sebuah doa dari Daud, sang biduan kenamaan. Daud adalah seorang pejuang, raja, pemikir, pemazmur dan pendoa. Sungguh! Tuhan sudah memberi Daud apa yang dikehendaki dan dimintanya. Apa yang Daud minta dalam doanya sudah diberikan kepadanya oleh Tuhan. Benar! Diberkati-Nya doa-doa Daud dan dilimpahkan-Nya apa yang diminta dan dikehendaki dengan setulus hati dan jiwanya. Ya! Daud diberkati dan dijadikan-Nya semua doanya menjadi nyata. Sahabat, Daud pun mengakui bahwa doa memainkan peranan penting dalam kehidupan jasmani dan rohani seseorang. Sebab doa bukan hanya menjadi sumber nafas kehidupan, tetapi juga motor penggerak utama bagi orang percaya  untuk memperoleh perlindungan dan berkat Allah. Daud juga meyakini bahwa dalam doa terdapat kekuatan Allah. Wujud konkret kekuatan Allah terlihat bagaimana Allah memberikan kemenangan dalam setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya. Hal itu tampak saat umat-Nya berada dalam kesesakan, Allah memberikan solusi dan meluputkan mereka dari bahaya. Karena itu, Daud tidak ragu-ragu mengajak bangsanya untuk berseru kepada Tuhan dan Ia hanya bisa ditemui dalam doa. Sahabat, keyakinan Daud itulah yang memberikan harapan dan sukacita. Harapan dan sukacita itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi umat Allah untuk tidak takut dan gentar dalam menghadapi siapa pun. Sebab mereka menyadari bahwa Allah senantiasa bersama dengan umat-Nya. Bahkan Allah tidak ragu-ragu turun tangan untuk berperang membela umat-Nya dari para musuh mereka. Semua pertolongan Allah ini membuat umat Allah dapat bermegah dan memuliakan nama-Nya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah  salah satu pengalamanmu,  bagaimana Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Selamat sejenak merenung. Selamat natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022 dengan doa dan syukur. Tuhan memberkati. (pg)

Belajar dari ORANG MAJUS

Orang Majus disebut juga orang bijak atau raja-raja dari Timur.  Mereka adalah golongan bangsawan yang belajar  astronomi  (ilmu perbintangan), sehingga mereka tahu benar letak bintang, pergerakan dan tanda-tandanya.  Bukan hanya itu, mereka juga percaya bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang secara periodik memberikan  tanda-tanda yang dapat dipakai meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di  masa depan, baik kaitannya dengan seseorang atau pun satu bangsa.  Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar dari ORANG MAJUS”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 2:1-12. Sahabat, Allah selain memanggil dan memilih orang-orang yang sederhana, seperti Maria dan Yusuf, serta para gembala di padang,  ternyata Allah juga memakai orang-orang terpelajar supaya dengan pengetahuan yang dimiliki, mereka memahami kehendak Allah dalam hidupnya.  Selain itu kita dapat belajar tentang kerendahan hati.  Kita tahu bahwa orang-orang Majus ini adalah raja-raja dari Timur dan astronom, tetapi mereka rela meninggalkan kesibukannya dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk mencari bayi yang baru dilahirkan. Orang-orang Majus dalam bacaan kita pada hari ini adalah para cerdik pandai dan bukan bangsa Yahudi. Ketika mereka melihat bintang yang bersinar istimewa, mereka langsung tahu bahwa itu adalah pertanda kelahiran seorang pemimpin besar. Maka mereka punya tekad yang kuat,  tidak mengenal lelah dalam mengikuti bintang tersebut. Jarak yang mereka tempuh diperkirakan sekitar 600 km. Pasti sesekali mereka beristirahat sepanjang pencarian itu. Namun, mereka begitu bersemangat untuk bertemu dengan Yesus (ayat 10). Mereka pun menyembah dan memberikan persembahan khusus (ayat  11) saat berhasil menemukan Yesus. Orang Majus mau bersusah payah untuk mencari Yesus. Mereka rela membayar harga untuk bertemu dengan Sang Raja.  Setelah bertemu dengan Yesus, mereka bersedia menundukkan diri  untuk menyembah, serta memberikan persembahan khusus yang sudah mereka persiapkan. Bagaimana dengan kita selama ini dalam memaknai  Natal? Mari belajar dari orang Majus kalau kita ingin menimati sukacita natal. MENCARI Tuhan, MENYEMBAH Tuhan, dan  MEMBERIKAN yang terbaik bagi Tuhan. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah apa yang Sahabat lakukan dalam menyambut dan merayakan natal pada tahun ini. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menikmati tahun baru  2022 bersama Sang Imanuel. Tuhan beserta kita di sepanjang perjalanan pada tahun 2022. (pg).  

TETAP PERCAYA kepada TUHAN di MASA SULIT

Sahabat, ada seorang teman bertanya, “Mengapa harus ada bagian yang sulit dan penuh penderitaan dalam hidup ini?”  Itu mungkin menjadi pertanyaan dari sebagian besar manusia, termasuk orang-orang percaya. Ada cukup banyak orang percaya yang mengira bahwa mengikut Yesus berarti bebas dari masa-masa sulit. Jadi mereka sangat terguncang imannya ketika  harus menghadapi pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun. Mereka kemudian melantunkan pertanyaan: “Bagaimana kami bisa tetap percaya kepada Tuhan di tengah-tengah masa yang sulit?” Untuk lebih memahami topik tentang: “TETAP PERCAYA kepada TUHAN di MASA SULIT”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 25:1-22 . Pepatah lama mengatakan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Sahabat,  kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Daud dalam Mazmur 25.  Daud berhadapan dengan orang-orang yang membencinya (ayat 2 dan 19). Ia juga merasa kesepian dan menderita (ayat 16). Ia berada dalam kondisi terdesak (ayat 17). Ia sengsara dan mengalami kesukaran karena dosa (ayat 18). Bila kita mengalami seperti yang dialami Daud pada sat itu, kita mungkin akan putus asa, mengeluh, bahkan marah kepada Tuhan. Namun menariknya, Daud tidak merespons seperti itu. Ia memilih berdoa dan tetap percaya Tuhan di tengah kesulitannya. Perhatikan cara Daud menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan: Kuangkat jiwaku (ayat 1), kepada-Mu aku percaya (ayat 2), Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (ayat 5), mataku tetap terarah kepada Tuhan (ayat 15), aku berlindung kepada-Mu (ayat 20), aku menanti-nantikan Engkau (ayat 21). Sahabat, mengapa Daud tetap percaya Tuhan di masa sulit? Karena ia mengenal Allahnya. Ia mengenal bahwa Allah sebagai:  Penyelamatnya (ayat 5), penuh rahmat dan kasih setia (ayat 6), yang memberi kebaikan (ayat 7), yang bergaul dekat dengan orang yang takut akan Dia (ayat 14), yang peduli pada sengsara umat-Nya (ayat 15-20). Kepada Tuhan yang demikian, Daud berseru. Oleh karena itu, di tengah kesesakannya, Daud mencari Tuhan (ayat 4), terbuka pada ajaran-Nya (ayat 5), memohon pengampunan-Nya (ayat 7, 11), dan berharap pada penghiburan dan kekuatan-Nya (ayat 16-19). Meski situasi hidup menyesakkan dada, tetapi Daud tetap percaya bahwa Allah akan menolong. Bahkan kepercayaan itu membuat Daud berseru kepada Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari segala kesesakannya (ayat 22). Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan  kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu bersama Tuhan, apa yang Sahabat lakukan ketika menghadapi saat-saat yang sulit dalam hidupmu. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan Yesus beserta kita. (pg)

Belajar dari Bunda MARIA

Sahabat, ketika saya sedang menulis “Sejenak Merenung” ini, istri saya sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara peringatan Hari Ibu tingkat RW.  Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Desember.  Sejarah Hari Ibutidak terlepas dari Kongres Perempuan Indonesia. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu merupakan hasil dari Kongres Perempuan Indonesia ke-1 yang digelar pada 22-25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Yogyakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh sebanyak 600 orang perempuan dari puluhan perhimpunan perempuan. Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar dari Bunda MARIA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:26-38 dengan penekanan pada ayat 38. Sahabat, sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan berusaha untuk menutupinya.  Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Bunda Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzina.  Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Bunda Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”(ayat 34).  Ia pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti mengalami pergumulan yang berat. Tetapi ia tetap memilih taat atas berita tersebut. Simaklah responsnya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (ayat 38).  Ia tidak menolak, tetapi menerima  sepenuhnya. Bunda Maria yakin bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya. Sahabat, setiap hari kita diperhadapkan pada pencobaan yang menuntut keteguhan iman. Kehormatan dan kehidupan dipertaruhkan. Tak sedikit orang yang ketika mengalaminya, imannya gugur dan meragukan Tuhan. Mereka takut direndahkan, takut kehilangan pekerjaan, takut dihukum, dan lain-lain. Karena itu, belajarlah dari kesetiaan Bunda Maria. Ia dengan keteguhan hati memilih taat kepada Allah walaupun terbayang risiko hukuman rajam yang harus diterimanya. Walaupun gentar, ia tetap memilih taat kepada Allah. Orang yang setia kepada Allah akan memilih taat walaupun harus menanggung risiko yang dahsyat. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pengalaman hidupmu bersama Tuhan ketika Sahabat harus merespons panggilan hidup dari Tuhan. Selamat sejenak merenung. Selamat menyambut natal dengan penuh syukur dan pengharapan. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)