Membudayakan Sikap RAMAH

Sahabat, keramahan merupakan satu sifat yang  perlu kita budayakan. Keramahan bisa diartikan sebagai sifat ramah; kebaikan hati; baik budi bahasanya dan akrab dalam bergaul. Sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama, sifat ramah akan sangat membantu untuk mencairkan suasana. Orang yang ramah akan lebih mudah didekati dan mendekati sehingga suasana menjadi lebih hangat. Orang yang ramah biasanya merupakan sosok dengan pribadi hangat yang peka dengan kondisi di sekitarnya. Ia juga rendah hati dan murah senyum.  Dalam peta warga dunia, masyarakat Indonesia dikenal dengan keramahtamahannya.  Untuk lebih memahami topik tentang “Membudayakan Sikap RAMAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Efesus 4:17-32 dengan penekanan pada ayat 32. Sahabat, ramah kepada orang yang kita kenal adalah hal yang umum, dan tidak terlalu sulit melaksanakannya. Setiap kita berjumpa dengan orang yang kita kenal pastilah kita bertegur sapa,  ngobrol dan berkelakar dengan mereka. Sahabat, apakah yang dimaksud dengan ramah terhadap yang lain dalam ayat 32? Pertama, harus penuh kasih mesra. Kasih mesra itu artinya kasih kita harus memiliki daya tahan. Tuhan Yesus sudah  memberi teladan bagaimana kasih-Nya yang tidak goyah, walau Ia dikhianati, disangkali, ditinggalkan  dan menghadapi tantangan-Nya sendiri. Kasih mesra itu adalah kasih yang harus dipraktikkan bukan  sekadar teori.  Bagi Yesus, kasih tidak cukup hanya diajarkan, dijadikan simbol, slogan, atau wacana semata. Tetapi harus melekat dalam gaya hidup kita, sehingga menjadi ciri khas setiap murid-murid-Nya.  Kedua,  saling mengampuni. Pengampunan adalah kunci bagi semua hubungan yang sehat, kuat, dan yang kekal abadi. Itulah sebabnya kita harus paham betapa pentingnya mengampuni (Matius 5:23-24; Matius 6:12).   Sahabat, pengampunan kita tidak bergantung pada mau atau tidaknya kita memaafkan orang lain, tetapi mengampuni orang lain haruslah atas dasar pengampunan Allah yang murah kasih dan murah hati atas kita. Pengampunan yang diberikan kepada kita oleh Kristus ialah atas kebaikan-Nya dan kematian-Nya dan kasih-Nya untuk kita. Bila kita sudah mengetahui apa yang telah Kristus lakukan buat kita, maka kita harus mengampuni orang lain. Orang-orang yang telah diampuni harus mengampuni orang lain. Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang sehat dan bersemangat secara rohani, maka kita harus belajar untuk mengampuni. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, tolong bagikan pemahamanmu tentang hidup penuh kasih mesra dan pengampunan. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan Yesus beserta kita. (pg)  

TUHAN TERSENYUM memandang aku

Saya melihat seorang ibu menggendong sambil menyuapi anaknya yang masih bayi. Tiba-tiba tangan si anak menyenggol piring makanan hingga tumpah mengotori lantai. Belum selesai si ibu membersihkan tumpahan makanan, si anak mengompol membasahi baju ibunya. Banyak faktor yang dapat membuat si ibu merasa jengkel dan kesal, tetapi ia terus merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Bagi si ibu, anaknya adalah kebahagiaannya. Menurut Sahabat, bagaimana Allah memandang kita, anak-anak-Nya? Apakah setiap saat Dia memandang kita dengan perasaan marah, benci, dan kecewa oleh sebab dosa yang tiada henti-hentinya terjadi di dunia ini? Memang Allah sangat membenci dosa, tetapi Dia selalu mengasihi kita. Sungguh merupakan suatu kenyataan indah, tetapi sulit untuk dipahami bahwa Allah yang Mahakuasa bergirang atas kita. Bayangkan TUHAN TERSENYUM setiap kali memandang Sahabat dan saya! Untuk lebih memahami topik tentang “TUHAN TERSENYUM memandang kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Zefanya 3:1-20 dengan penekanan pada ayat 17. Pasal tiga dimulai dengan teguran terhadap Yehuda, khususnya terhadap Yerusalem (ayat 1-8). Jelas bahwa kecaman dan penghukuman Tuhan adalah untuk memurnikan. Sebagai umat Allah, mereka perlu dikoreksi dengan keras karena mereka adalah contoh bagi bangsa-bangsa lain. Sekalipun demikian, Allah menjanjikan bahwa Dia akan memurnikan dan menyucikan mereka, sehingga mereka dipulihkan sebagai umat Allah (ayat 9-20). Mereka akan menjadi sisa-sisa yang setia kepada Allah. Ini adalah tema tentang kesetiaan Allah dan kontinuitas umat Allah. Walaupun berbagai kerusakan dan penderitaan menghantam umat Allah, bahkan kelihatannya sangat menghancurkan, Allah tidak menihilkan mereka. Dengan setia, Allah mengoreksi, memurnikan, serta membawa umat-Nya agar terus berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Allah akan mendatangkan pertobatan (ayat 9-10) dan umat-Nya akan dipelihara kontinuitasnya (ayat 11-13). Karena itu, sang nabi memproklamasikan adanya hari sukacita bagi Yerusalem dan umat Allah karena mereka dipulihkan oleh Allah (ayat 14-20). Janji yang paling indah adalah “Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu” (ayat 15). Karena itu, umat Allah tak perlu takut dan jangan menjadi letih lesu (ayat 16). Sahabat, kasih dan sukacita Allah atas kita, kiranya memotivasi kita untuk hidup menyenangkan hati-Nya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang dilakukan Allah agar umat Allah tetap dapat berfungsi sebagai terang dan garam dunia? (Ayat 9-13) Apa yang harus dilakukan oleh umat Allah dalam ayat 14? Apa janji Tuhan dalam ayat 15? Apa yang diharapkan Tuhan dalam ayat 16? Peran apa yang Tuhan janjikan dalam ayat 17? Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyambut tahun baru 2022. (pg)

BERJUANG MENGGAPAI PUNCAK

Seorang sahabat  yang punya hobi mendaki gunung bercerita bahwa dari hobinya mendaki gunung dia semakin berani untuk menjalani kehidupan. Dia berkata,  “Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan begitu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya. Saya mendaki gunung dengan tekad bukan karena nekat. Mendaki gunung  menolong saya  semakin menghargai kehidupan. Yakinlah puncak gunung dapat kita capai jika kita terus mendaki.”   Untuk lebih memahami topik tentang: “BERJUANG MENGGAPAI PUNCAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 9:1-27, dengan penekanan pada ayat 24-27.  Sahabat, kebanyakan manusia cenderung menginginkan sesuatu yang enak, mudah, nyaman, dan serba instan. Nyatanya, kehidupan tidak seperti itu. Lebih sering, untuk mencapai sesuatu, tidak ada jalan instan dan kita mesti menapaki anak tangga demi anak tangga hingga sampai ke tujuan. Mungkin kita pernah berandai-andai.  Seandainya saya memiliki orangtua yang kaya, saya tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan. Seandainya saya mempunyai pendidikan yang tinggi, pasti saya mempunyai posisi yang bergengsi. Seandainya saya berwajah rupawan, pasti akan mudah menjadi pemain sinetron. Ada banyak pengandaian yang dapat melintas dalam benak kita. Namun, kita diingatkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan proses dan latihan. Dalam tugas pemberitaan Injil, meskipun sukar, Paulus tidak menyerah. Ia bersandar penuh kepada Tuhan, tetapi ia tahu bahwa hal itu tidak sama dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Sahabat, rasul Paulus  juga dipanggil untuk membarenginya dengan berusaha dan bekerja keras. Oleh karena itu, kita tidak perlu menyerah karena kelelahan dan kesulitan, tetapi tetap maju dan berjuang. Segala sesuatu, yang dikerjakan dengan bersandar kepada Tuhan demi mencapai tujuan sesuai panggilan hidup kita, pasti ada hasilnya. Perjuangan pengikut Kristus tidak sama dengan berpangku tangan; sesungguhnya ada bagian yang harus kita kerjakan dengan penuh ketekunan. Sahabat, bagi orang yang ingin menggapai puncak kuncinya ada dua: BERDOA dan BERJUANG. Berdasarkan hasilperenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Ketika sebagian jemaat ada yang meragukan otoritas kerasulannya, apa yang dilakukan oleh rasul Paulus? (Ayat 1 dan 2) Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan rasul Paulus dari ayat 13 dan 14? Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan rasul Paulus dari ayat 16 – 18? Metode pendekatan semacam apa yang dipakai oleh rasul Paulus supaya dia dapat memenangkan banyak jiwa? (Ayat 19-23) Apa yang rasul Paulus lakukan supaya dirinya tidak menjadi batu sandungan? (Ayat 24-27) Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyongsong Tahun Baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

Ada KEAMANAN dan KEDAMAIAN

Saat keadaan aman dan segala sesuatu berjalan dengan baik, sangat mudah untuk berkata bahwa kita beriman dan percaya kepada Tuhan. Tetapi ketika berada dalam penderitaan dan kesesakan sangatlah mungkin kita melupakan keyakinan kita tersebut.  Sahabat, sesungguhnya Allah di dalam nama Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman, bahkan di tengah kesulitan yang dahsyat sekali pun.  Keamanan, meskipun dalam situasi yang sulit, akan menjadi milik setiap orang yang tahu bahwa Allah adalah pembebasnya.  Putus asa akan menjauh dari hidupnya, sebaliknya kedamaian akan semakin mendekat. Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada KEAMANAN dan KEDAMAIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 26:1-21 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, percaya adalah tindakan iman seseorang kepada yang Ilahi yang berkuasa atas dirinya. Angin topan kehidupan tidak akan dapat menenggelamkan kita, bila kita tetap berpegang pada janji-janji-Nya. Iman kita tidak akan goyah selama kita menetapkan hati untuk tetap percaya kepada janji Allah. Bersabar dalam proses, setia dalam segala keadaan, mengucap syukur, dan berserah serta berharap selalu kepada Tuhan. Sahabat, mengapa kita percaya kepada TUHAN? Karena TUHAN adalah Gunung Batu kita. Ada gunung batu yang sementara; ada gunung batu yang kekal. Gunung batu yang kekal tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat berlindung bagi semua orang percaya di tengah deru dan goncangan perubahan zaman. Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Ketika bumi hancur seiring hancurnya bangsa-bangsa maka tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan; tidak ada lagi tempat berlindung bagi manusia. Yang tinggal tetap hanyalah Tuhan. Tuhan yang menghancurkan bangsa-bangsa di bumi karena menganggap diri kuat dan perkasa.  Tuhan membangun kota yang kuat dikelilingi tembok dan benteng untuk menjamin keselamatan bagi umat-Nya. Siapakah yang akan masuk ke dalam kota yang kuat itu? Pintu gerbang kota itu akan terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan; orang-orang benar, orang-orang sengsara dan lemah yang tetap setia dan hatinya teguh karena memercayakan hidupnya kepada Tuhan. Tuhan pun akan menjaga mereka dengan damai sejahtera dan membuat mereka berkuasa atas orang-orang kuat. Karena itu, percayalah kepada TUHAN selama-lamanya. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang diserukan Yesaya di ayat 3? Apa yang diserukan Yesaya di ayat 4? Apa yang dikerjakan Yesaya di ayat 9? Apa yang dinyatakan Yesaya di ayat 12? Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyambut tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

Berani MENYAMPAIKAN KEBENARAN

Sahabat, hidup dalam kebenaran itu tidak terjadi dalam semalam, tapi melalui sebuah proses dan ada harga yang harus dibayar!  Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka hati dan mengarahkan teliga untuk teguran dan koreksi (Amsal 15:31).   Kita harus akui bahwa hidup kita ini tidak sempurna, tapi kita sedang berjuang menuju kepada kehidupan yang semakin disempurnakan.  Karena itu izinkan Roh Kudus, Roh Kebenaran itu, membentuk dan memroses hidup kita  (Yohanes 16:13).  Untuk lebih memahami topik tentang: “Berani MENYAMPAIKAN KEBENARAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kisah Para Rasul 4:1-22. Saat Petrus dan Yohanes sedang mengajar orang banyak, datanglah para imam kepala serta orang Saduki. Mereka tidak senang dengan Petrus dan Yohanes yang mengajarkan tentang konsep kebangkitan Yesus dari antara orang mati (ayat 2). Sahabat, orang Saduki sama sekali tidak percaya adanya kebangkitan orang mati. Mereka juga menolak konsep takdir, ganjaran kekal setelah kematian, dan keabadian jiwa. Kaum Saduki lebih menekankan pada kehendak bebas dan kemandirian akal budi manusia. Oleh karena itu, segala hal yang tidak dapat diterima secara logika dianggap omong kosong belaka. Para imam kepala itu marah karena menurut mereka kedua rasul Yesus tidak punya hak untuk berkhotbah dan mengajar, apalagi mewartakan Yesus yang sudah dicap sebagai penghujat Allah. Karena alasan itu Petrus dan Yohanes ditangkap, diadili, dan dipenjara. Dalam persidangan, kedua rasul Yesus mendapat pertanyaan krusial yang bernuansa politis, yaitu dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah mereka bertindak menyembuhkan orang lumpuh itu? (ayat 7). Berkat hikmat dan kekuatan Roh Kudus, Petrus menegaskan bahwa Yesus, yang telah disalibkan oleh para agamawan Yahudi, itulah yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Pernyataan Petrus dan kesaksian orang lumpuh itu sudah membuktikan Yesus adalah Mesias dan Anak Allah (ayat 10-14). Ucapan Petrus bukan hanya melukai perasaan dan harga diri anggota Mahkamah Agama, tetapi juga membuat mereka keheranan. Mereka menghendaki bahwa setelah peristiwa penyaliban Yesus orang Nazaret, tidak akan ada lagi orang yang menyebut nama-Nya. Namun, mereka tidak dapat menghambat karya Allah di tengah bangsa Israel. Sebab, apa yang diberitakan para rasul itu benar adanya. Sahabat, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk berani memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat, Penebus, dan Penghibur bagi manusia berdosa. Fakta dan kebenaran ini sepatutnya mendorong kita untuk lebih berani hidup bagi Kristus dan kerajaan-Nya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa orang Saduki sangat marah kepada Peturs dan Yohanes? (Ayat 2) Apa yang terjadi yang diceritakan oleh Lukas dalam ayat 4? Apa yang disampaikan oleh Petrus dalam ayat 11? Apa yang disampaikan oleh Petrus dalam ayat 12? Apa yang disampaikan oleh Petrus dan Yohanes dalam ayat 19-20? Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyongsong tahun baru 2022. (pg)

Menemukan MATA AIR KESELAMATAN

Sahabat, pada sekitar tahun 1987, untuk memenuhi kebutuhan air di kompleks kantor Sinode GKMI, maka dibuat sumur bor. Biasanya untuk menemukan mata air,  orang mengebor hingga ke dalam perut bumi puluhan sampai ratusan meter. Mata air sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Air digunakan untuk memasak makanan, mencuci pakaian, mencuci perlengkapan dapur dan makan.   juga untuk mandi. Air menjadi bahan dasar untuk semua aneka jenis minuman dan makanan. Untuk lebih memahami topik tentang: “Menemukan MATA AIR KESELAMATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 12:1-6 dengan penekanan pada ayat 2 dan 3. Sahabat, dalam Yesaya 12, kita belajar bahwa Allah menginginkan umat-Nya, yang sedang tinggal di padang gurun, baik secara jasmani maupun rohani, untuk menemukan mata air keselamatan dari-Nya. Yesaya menyamakan keselamatan dari Allah dengan mata air yang memancarkan air yang paling menyegarkan. Setelah bertahun-tahun lamanya berpaling dari Allah, bangsa Yehuda ditentukan-Nya untuk mengalami masa pembuangan ketika Dia mengizinkan bangsa-bangsa asing untuk menaklukkan Yehuda dan menyerakkan penduduknya. Namun, nabi Yesaya berkata bahwa sekelompok sisa dari umat-Nya pada akhirnya akan kembali ke tanah kelahiran mereka sebagai tanda bahwa Allah menyertai mereka (Yesaya 11:11-12). Sahabat, Yesaya 12 merupakan kidung pujian kepada Allah atas kesetiaan-Nya dalam memenuhi segala janji-Nya, terutama janji keselamatan. Yesaya membesarkan hati umat Allah dengan menyampaikan bahwa dari mata air keselamatan Allah, mereka akan menerima kesegaran berupa anugerah, kekuatan, dan sukacita Allah (ayat 1-3). Semua itu akan menyegarkan dan menguatkan hati mereka dan mendorong mereka untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah (ayat 4-6). Allah rindu setiap orang percaya, melalui pengakuan dosa dan pertobatan, menemukan kesegaran sukacita yang terdapat dalam mata air keselamatan-Nya yang kekal. Mata air keselamatan dari Allah tidak akan pernah kering. Karena itu, cari, temukan  dan nikmatilah mata air keselamatan agar kita menerima sukacita, kesegaran, dan kekuatan-Nya.  Kita perlu mengikuti seruan Yesaya yang mengajak kita bersyukur kepada Allah dan memasyhurkan nama-Nya, baik kala senang maupun susah. Allah sang sumber keselamatan akan menguatkan kita hingga kita tidak gentar. Perbuatan-Nya yang mulia perlu diwartakan kepada bangsa-bangsa di seluruh bumi. Dengan sukacita penuh pujian, sudah selayaknya kita selalu bersyukur atas segala berkat-Nya.  Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang diserukan oleh Yesaya kepada umat Allah dalam ayat 1-3? Apa yang diserukan oleh Yesaya kepada umat Allah dalam ayat 4-6? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

Kunci Keberhasilan: HIDUP MENGANDALKAN TUHAN

Hidup mengandalkan Tuhan adalah kunci keberhasilan. Pendapat tersebut benar. Namun, apakah pengertian mengandalkan Tuhan itu? Bagaimana wujudnya? Apakah berarti kita cukup berdoa saja?  Sahabat, sebagian orang berpikir bahwa mengandalkan Tuhan berarti bergantung total kepada Tuhan. Menyerahkan semua persoalan hidup, termasuk hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani kepada-Nya. Tuhan yang bekerja, manusia cukup bersantai-santai. Pemahaman seperti ini tentu tidak tepat. Untuk lebih memahami topik tentang: “Kunci Keberhasilan: HIDUP MENGANDALKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 17:1-18 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, saat itu umat Yehuda mengalami pergumulan serius secara kolektif dengan pilihan-pilihan yang membawa mereka terus hidup dalam dosa. Tuhan menjatuhkan vonis berat kepada mereka: Bukan apa yang di depan matadan bukan kenyamanan yang seharusnya mereka cari; melainkan hidup bagi Tuhan dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan, itulah yang Tuhan inginkan. Karena umat Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, semua itu jadi dirampas orang lain, bahkan umat akan mengalami kejatuhan besar dari kehidupan makmur hingga menjadi budak di tanah asing. Sahabat, Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan, bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (ayat 5-6) dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ayat 7-8). Pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tidak berhenti menghasilkan buah. Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman tidak mudah (ayat 14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita berbeda. Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (ayat 10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (ayat 17) dan menjaga kita hingga akhir (ayat 18), selayaknya seorang gembala menjaga domba-dombanya (bdk. Yohanes 10:14-15). Pada-Nya kita temukan kenyamanan dan keamanan sejati dalam hidup. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahaman yang Sahabat dapatkan tentang: “HIDUP MENGANDALKAN TUHAN”. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

HORMATI dan MULIAKANLAH ALLAH

Sudahkah kita menghormati dan memuliakan Tuhan dengan sungguh-sungguh? Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang kurang  menyadari bahwa Allah kita adalah Pencipta alam semesta beserta segenap isinya, Raja seluruh bumi, sehingga hidupnya tidak memiliki gairah untuk menghormati dan memuliakan Allah sebagaimana mestinya. Raja di atas segala raja, yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak mendapat penyambutan dan penghormatan sepatutnya. Sangat menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi saat Dia datang kepada umat pilihan-Nya sendiri, suatu bangsa yang telah berulang kali melihat mukjizat dan menikmati pertolongan-Nya, kebesaran kuasa-Nya diremehkan,  “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13). Untuk lebih memahami topik tentang “HORMATI dan MULIAKANLAH ALLAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 47:1-10. Dengan penekanan pada ayat 2. Sebagai umat Allah, sudah selayaknya kita beribadah dan menyembah Dia dengan sepenuh hati. Amat disayangkan, ibadah zaman sekarang dipenuhi oleh hiburan demi kesenangan umat semata, dan bukan dipenuhi oleh penghormatan demi kemuliaan Tuhan. Berbeda sekali dengan cara Pemazmur mengajak umat Allah beribadah. Dalam Mazmur 47 ini, Pemazmur memberikan alasan utama mengapa umat harus menyembah Tuhan. Karena Ia adalah Raja segala raja (ayat 3, 7, 8, 9). Sebagai Tuhan dan Raja, Allah patut ditinggikan dan dimuliakan sebab Ia Mahatinggi, Tuhan yang dahsyat, dan Raja yang besar (ayat 3), Raja seluruh bumi (ayat 8), bersemayam di atas takhta yang kudus (ayat 9), dan sangat dimuliakan (ayat 10). Kekuasaan dan kebesaran-Nya sungguh luar biasa, namun Ia bersedia memilih dan mengasihi umat-Nya (ayat 5). Dengan segala atribut dan keagungan Allah yang demikian, tidak mengherankan jika respons yang dicatat oleh Pemazmur untuk ditujukan kepada Allah penuh dengan antusiasme dan sukacita. Misalnya, bertepuk tangan dan elu-elukan (ayat 2), sorak-sorai dan diiringi sangkakala (ayat 6), dan umat diajak untuk bermazmur demi Dia (dalam ayat 7-8 disebutkan hingga 5 kali). Sahabat, marilah kita menyembah-Nya dengan yang benar. Beribadah kepada-Nya dengan penuh hormat dan takut akan Dia, karena Dialah Raja di atas segala raja, Tuhan kita. Dialah Allah dan Raja Kita Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghormati dan memuliakan Allah? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MEMBAWA DAMAI di tengah PERGAULAN

Sahabat, manusia sebagai makhluk sosial, maka perjumpaan dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu realitas. Keberagamaan akan tersaji  di sana, mulai dari canda, tawa, jabat tangan, senyuman, peluk cium,  hingga kekecewaan, penyesalan, atau konflik yang belum terselesaikan, baik karena penyebab yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Semua itu menjadi bagian dari rutinitas kehidupan manusia. Terlebih pada era digital seperti zaman now,   hubungan sosial terasa semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, kepekaan sosial kita akan diuji, yakni sejauh mana kita dapat berbagi rasa dalam menjalani kebersamaan bersama orang lain. Untuk lebih memahami  topik tentang “MEMBAWA DAMAI di tengah PERGAULAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 14:16-23 dengan penekanan pada ayat 19. Sahabat, dalam nasihatnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus mendorong agar sebagai orang percaya, sedapat mungkin hidup mereka jangan sampai menjadi batu sandungan. Paulus  juga mengingatkan bahwa perkara Kerajaan Allah bukanlah soal makanan-minuman, atau hal-hal yang bersifat remeh-temeh lainnya, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Sahabat, dalam menjalani kehidupan bersama, manakala kebenaran dijunjung tinggi dan ditegakkan, akan ada damai sejahtera dan sukacita yang akan kita rasakan didalamnya. Bandingkan dengan kondisi dimana setiap orang yang kita kenal menjalani hidup bebas, semaunya, bahkan cenderung ngawur tanpa memedulikan kebenaran, akankah kita tetap merasakan damai sejahtera dan sukacita saat berada bersama mereka? Sekarang marilah  kita mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan, sehingga hidup kita masih tetap berada di jalur rel kebenaran firman-Nya. Bawalah kebenaran itu dalam relasi kita dengan sesama.  Jadilah lebih peka dalam menjawab kebutuhan sesama sambil melihat kesempatan,  kapan kita dapat bersaksi atau mengajarkan prinsip kebenaran kepada mereka. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami tentang Kerajaan Allah? (Ayat 17) Bagaimana cara kita melayani agar berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia? (Ayat 18 dan 19) Apa nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Roma dalam ayat 20 dan 21? Apa pesan rasul Paulus kepada jemaat di Roma dalam ayat 22 dan 23? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

PERCAYA walau MUSTAHIL

Sahabat, saya punya seorang teman sekaligus menjadi tetangga di tempat tinggal kami di Kampung Nangka. Biasa saya memanggilnya: Pak Sri. Pada tanggal 12 Agustus 2021 Pak Sri jatuh sakit. Dia dirawat di rumah, tapi lama kelamaan sakitnya bertambah parah, kaki tangannya bengkak-bengkak, dan dia tidak dapat berjalan. Kemudian pada tanggal 28 Agustus 2021 Pak Sri dibawa ke rumah sakit oleh anaknya. Setelah diperiksa ternyata kreatinnya 7. Maka dia diharuskan untuk cuci darah. Tapi Pak Sri menolak, tidak mau cuci darah. Dia yakin Tuhan akan menyembuhkannya dengan cara-Nya sendiri. Pada tanggal 7 September 2021 dia minta pulang walaupun belum sembuh, belum dapat jalan. Kemudian dia berobat kepada dr. Lestari (spesialis Ginjal) yang menjadi tetangganya. Oleh dr. Lestari kemudian dia diinfus selama 3 hari. Pada tanggal 10 November 2021 Pak Sri kontrol, dan terjadilah mukjizat, semula kreatinnya 7 dan pada hari itu dapat turun menjadi 2. Sejak saat itu kesehatan Pak Sri terus membaik dan saat ini sudah dapat beraktivitas seperti biasa.  Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “PERCAYA walau MUSTAHIL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:26-38 dengan penekanan pada ayat 37. Malaikat Gabriel muncul di hadapan Maria. Itu pertanda Allah akan bertindak. Gabriel segera menyampaikan rencana Allah. Maria akan melahirkan Yesus yang akan mewarisi takhta Daud sampai selamanya. Hanya ada satu problem dalam pikiran Maria, yaitu dia belum bersuami (ayat 34). Dalam bahasa asli, ungkapan yang dipakai Maria adalah, “Aku belum mengenal laki-laki.” Itu adalah ungkapan halus tentang hubungan seksual. Maria menyadari adalah hal yang mustahil jika seorang bayi laki-laki akan datang melalui dia. Maria menyadari bahwa apa yang diberitakan Gabriel itu di luar logika. Sahabat, ketika Allah bertindak, seluruh kenyataan hidup bisa saja kelihatan berlawanan dengan maksud Allah. Pengalaman Maria menegaskan ini. Sebuah kemustahilan seorang perawan melahirkan anak. Peristiwa demikian tidak tercatat dalam seluruh kitab suci PL. Jadi, bukan sebuah keanehan kalau Maria meragukan berita tersebut. Namun, sesuatu yang lebih mengherankan malah terjadi. Maria justru memilih untuk memercayai berita tersebut! Bagaimana mungkin seorang perempuan belia, justru menunjukkan pilihan iman yang begitu dewasa? Sahabat, Maria mungkin akan sulit mengerti kisah yang akan diceritakan Lukas. Sebuah nubuat Allah untuk mengukuhkan kerajaan Daud dengan cara yang sangat mengherankan. Kerajaan itu akan tegak dengan membangkitkan Gereja Allah di seluruh penjuru dunia. Namun, Maria berani mengemban misi itu. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu, “ (ayat 38). Iman memang selalu bersifat mendua. Iman bisa begitu sulit dan rumit, tetapi iman juga bisa begitu sederhana. Ketika panggilan Allah melampaui pemahaman, janganlah kita menyingkirkan logika kita, sebaliknya, latihlah hati kita untuk semakin peka untuk percaya kepada Allah. Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu ketika kamu menerima penggenapan janji Tuhan dalam hidupmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)