ALLAH: TERANG Bagiku dan Keluargaku

Sahabat, janji pemulihan dan keselamatan bagi umat-Nya telah digenapi melalui kelahiran Sang Juruselamat.  Kehadiran Sang Juruselamat yang adalah Terang Dunia memberikan pengharapan yang pasti dan jaminan keselamatan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya.  Setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam kegelapan, sekalipun kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atas kita, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata dalam hidup kita  (Yesaya 60:2). Untuk lebih memahami topik tentang, “ALLAH: TERANG Bagiku dan Keluarga”, maka Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Yohanes 1:5-10. Sahabat,  dalam ayat-ayat firman Tuhan yang terekam dalam Surat 1 Yohanes 1:5-10 dengan judul “Allah adalah Terang”, rasul Yohanes, memberitakan bahwa Allah adalah Terang. Ia menyampaikan bahwa di dalam Dia tidak ada kegelapan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa di dalam Dia semuanya adalah suci. Oleh sebab itu, janganlah kita menipu, baik kepada Allah, kepada sesama maupun kepada diri kita sendiri. Kita harus mengakui segala dosa kita di hadapan-Nya. Pernyataan “Allah adalah terang” (ayat 5) menunjukkan bahwa Allah adalah Kudus dan Benar. Oleh karena itu, Dia jugalah yang dapat menuntun kita keluar dari kegelapan dosa (ayat 7). Kita pun diminta tidak menipu diri sendiri, mengaku dosa, dan sepenuhnya jujur kepada Allah (ayat 8-10). Dengan demikian, orang percaya tidak boleh lagi hidup di dalam kegelapan melainkan hidup di dalam terang, yaitu dalam kebaikan, kemurnian, kekudusan, dan kebenaran. Namun demikian, pada zaman penulisan surat 1 Yohanes ini ada ajaran sesat yang mengatakan bahwa kita tetap dapat memiliki persekutuan dengan Allah sementara kita masih hidup dalam kegelapan. Menanggapi ajaran sesat tersebut, Yohanes menegaskan bahwa tidak ada seorang pun bisa mengklaim diri sebagai orang percaya jika masih hidup dalam kejahatan dan perbuatan amoral. Kita tidak dapat mengasihi Allah dan pada saat yang sama juga hidup dalam dosa. Jika demikian, kita adalah orang-orang munafik. Kita harus memilih dan menentukan sikap hidup mengasihi Allah dan tidak boleh hidup dalam dosa. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pernyataan apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes kepada kita dalam ayat 5? Apa yang akan diperoleh jika kita hidup di dalam terang? (Ayat 7) Apa yang diminta oleh rasul Yohanes untuk kita lakukan dalam hidup kita? (Ayat 8-10) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MELAYANI SESAMA dan MEMULIAKAN TUHAN

Sahabat, apakah sungguh perlu kita melayani Tuhan dan sesama? Mengapa kita harus mengubah prioritas kita demi memenuhi tugas-tugas yang Tuhan berikan padahal Ia sendiri bisa melakukannya dengan lebih cepat dan lebih baik tanpa kita? Rasul Petrus menjelaskan bahwa kita telah menerima karunia-karunia dari Tuhan untuk dua tujuan, yaitu melayani sesama dan memuliakan Tuhan. Sebagai orang percaya yang telah diselamatkan kita memiliki tugas dan tanggungjawab yang tidak mudah.  Kita harus dapat memelihara dan mempertahankan keselamatan yang telah kita terima dan kita juga harus dapat mempertahankan identitas kita sebagai umat pilihan Allah.   Salah satu caranya adalah dengan terlibat di dalam pelayanan. Untuk lebih memahami topik tentang: “MELAYANI SESAMA dan MEMULIAKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Petrus 4:7-11 dengan penekanan pada ayat 10, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”  Sahabat, ketika kita sudah menjadi percaya, kuasa Kristus mengubahkan tujuan hidup kita, dari seorang yang memikirkan dan mengutamakan kepentingan diri sendiri menjadi seorang yang melayani sesama. Mendekati akhir zaman, dunia semakin kekurangan kasih. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang menyatakan kasih secara nyata. Kita yang sudah terlebih dahulu menerima kasih Tuhan dipanggil untuk menyatakan kasih itu. Tuhan sudah memberikan semua kemampuan yang kita butuhkan untuk melayani sesama, yaitu karunia-karunia-Nya. Pada akhirnya, orang-orang akan melihat bahwa di balik semua keberhasilan pelayanan kita, ada campur tangan Tuhan,  sehingga Tuhan yang dimuliakan. Melayani bukan soal kita menerima perhatian atau penghargaan dari orang lain, tetapi soal Tuhan yang menerima segala kemuliaan. Sahabat, coba sejenak ingat-ingat, kapan terakhir kali Sahabat menyatakan kasih kepada orang lain di dekatmu? Karunia apakah yang Tuhan percayakan kepadamu?  Pikirkan bagaimana Sahabat bisa menggunakan karunia tersebut untuk kebaikan orang lain dan memuliakan Tuhan! Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk melayani, tapi Dia juga memberikan karunia yang berbeda-beda kepada kita untuk melayani dan saling melengkapi.  Jangan tunda-tunda waktu untuk melayani dan memuliakan Tuhan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Apa yang harus kita lakukan sehubungan dengan semakin dekatnya kedatangan Tuhan Yesus kedua kali? (ayat 7-10a) Sebutkan 2 alasan mengapa kita harus melayani? (ayat 10b-11) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

PEMENUHAN KEBUTUHAN

Setiap hari cukup banyak orang dipusingkan oleh kebutuhan hidup sehari-hari.  Apalagi selama masa pandemi Covid-19, cukup banyak orang yang kehilangan bisnis atau pekerjaan, minimal pendapatan tiap bulan menjadi lebih kecil.  Yah… selama hidup di dunia ini memenuhi kebutuhan hidup, baik itu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya, adalah hal-hal yang tidak dapat dipisahkan dari pergumulan dan perjuangan hidup banyak orang.  Itulah sebabnya cukup banyak orang bekerja keras membanting tulang untuk dapat memenuhi setiap kebutuhannya. Sahabat, untuk dapat lebih memahami topik tentang: “PEMENUHAN KEBUTUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Filipi 4:10-20 dengan penekanan pada ayat 19. Pernyataan Paulus, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (ayat 19) merupakan ayat yang banyak disukai orang percaya. Siapa yang tidak suka kalau semua kebutuhan kita dipenuhi? Paulus mulai menyadari kalau ucapan syukurnya tersebut dapat disalahtafsirkan, karena itu Paulus merasa perlu menjelaskan makna dari pengucapan syukurnya. Kalau selama ini jemaat Filipi telah banyak mendukung pelayanan Paulus dalam hal dana maka Paulus ingin mereka menyadari bahwa itu merupakan suatu bukti kalau Allah sudah memenuhi kebutuhan mereka dan sekarang, Allah menggerakkan hati mereka untuk mendukung pelayanan Paulus dalam bentuk persembahan. Yang terpenting bukanlah besarnya jumlah persembahan sebab ada keuntungan lain, yaitu buahnya yang makin memperbesar keuntungan. Di dalam pemberian ada realita pengalaman pergaulan dengan Allah yang hidup. Paulus menyatakan semua tindakan mereka itu baik dan Paulus sungguh bersyukur atas hal tersebut akan tetapi Paulus juga menegaskan bahwa tanpa dukungan mereka pun, hidupnya sudah cukup.  Paulus mengingatkan para orang kudus di Filipi bahwa Allah akan melakukan apa yang tidak dapat Paulus lakukan. Paulus mungkin tidak bisa membalas dengan setimpal semua hal yang dilakukan jemaat Filipi baginya. Namun Allahnya, yang lebih besar dari segala sesuatu, akan membalas mereka dengan berkelimpahan. Allah bisa memberikan segala keperluan mereka terus-menerus dan dengan dahsyat. Perhatikan bahwa Allah memberikan apa yang mereka butuhkan, dan bukannya apa yang mereka inginkan. Sahabat, ketika kita mengutamakan Allah di atas segalanya, maka Dia akan menyediakan segala yang kita butuhkan karena Dia adalah Jehovah Jireh! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Ketika rasul Paulus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah, apa yang dilakukannya? (Ayat 11) Apa yang disaksikan rasul Paulus dalam ayat 13? Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 19? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

BERTOLONG-TOLONGAN

Bapak Ev. Andreas Christanday sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Christopherus dalam rangka menyambut Natal 2021, menulis surat himbauan kepada para Pengurus, Donatur, Pendukung, dan Simpatisan Yayasan Christopherus. Dibagian alinea terakhir Pak Andreas menulis:  Kami tahu semuanya sedang susah dan sulit ekonominya, tetapi ini yang harus kita lakukan: Tetap bersyukur dan mengimani bahwa Tuhan yang sudah Eben-Haezer (1 Samuel 7:12) menyertai kita selama 50 tahun juga akan tetap memberkati kita (Yeremia 31:3). Kita harus berhemat dan kreatif berusaha, dengan terus memegang janji Tuhan dalam Filipi 4:19. Kita harus memenuhi Hukum Kristus dengan saling tolong menolong, belajar memberi justru dalam sikon seperti ini (Galatia 6:2). Dan akhirnya mengikuti pesan rasul Petrus yang terdapat di 1 Petrus 4:7. Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “BERTOLONG-TOLONGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Galatia 6:1-10 dengan penekanan pada ayat 2. Sejatinya, kita adalah orang yang sangat beruntung. Pertama, kita memiliki Tuhan Yesus yang sangat peduli, mengasihi dan memberi didikan, ajaran dan nasihat kepada kita dan semua orang percaya. Kedua, kita memiliki rasul Paulus yang sangat rajin mengajar, mengingatkan dan memberi kita dan semua orang percaya beragam nasihat mengenai kehidupan yang benar di dalam Yesus Kristus. Bertolong-tolongan adalah sifat keunggulan melayani dalam kebersamaan. Dengan bertolongan kita menangung beban secara bersama. Dengan bertolongan kita berbagi pergumulan hidup. Hal ini merupakan sikap mendasar yang dituntut dari para pengikut Kristus dalam hidup mereka. Sahabat, dengan bergandengan tangan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan-kesulitan hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain Hidup yang tolong menolong berarti juga kita saling memberi. Kita saling memberi diri untuk menolong orang lain. Kita memberikan pemikiran dan ide-ide kita untuk menolong orang lain. Dengan bertolong-tolongan kita bisa merasakan penderitaan orang lain. Kita terhindar dari sikap egoisme dan penonjolan diri. Karena itu, marilah berjuang untuk terus bertolong-tolongan untuk meringangkan beban kita. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah praktik bertolong-tolongan dalam komunitasmu. Sudah sejauh mana nasihat rasul Paulus di ayat 2 dilaksanakan di komunitasmu? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberikati. (pg)

KASIH yang TAK BERKESUDAHAN

Siapa yang dapat menggambarkan atau mengukur kasih Allah? Alkitab merupakan sebuah pewahyuan atas fakta bahwa Allah adalah Kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang keadilan, itu adalah keadilan yang diimbangi dengan kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang kebenaran, itu adalah kebenaran yang didirikan di atas kasih. Ketika Sahabat membaca tentang penebusan dosa, itu adalah penebusan yang dilakukan karena kasih, bersumber pada kasih diselesaikan oleh kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan mengenai kebangkitan Kristus, Sahabat membaca mengenai keajaiban kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang hadirat Kristus yang menetap, Sahabat membaca mengenai kuasa kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan mengenai kedatangan Kristus, Sahabat membaca mengenai penggenapan kasih. Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “KASIH yang TAK BERKESUDAHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 31:1-6, dengan fokus pada ayat 3. Kasih ALLAH berbeda dengan manusia. Kasih Allah itu kekal, sementara kasih manusia berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi. TUHAN mengasihi kita dengan kasih kekal. Apa yang dimaksud kasih kekal? Sederhana, kasih-Nya tidak bertambah, tidak berkurang, tidak berubah, dan tidak berkesudahan. “Kenapa kasih TUHAN tidak bertambah dan tidak berkurang?” Karena Dia sudah mengasihi kita dengan kasih yang sempurna yang Dia tunjukkan dengan cara memberikan Yesus bagi kita. Tidak ada yang dapat kita lakukan yang dapat membuat kasih-Nya bertambah, sebaliknya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membuat kasih-Nya berkurang. TUHAN bukan hanya mengasihi kita dengan sempurna, kasih-Nya juga tidak pernah berubah dan tidak pernah berkesudahan. Sama seperti Pribadinya yang tidak pernah berubah, dulu, sekarang, sampai selamanya. Kalau dulu Dia mengasihi kita, sekarang Dia pun mengasihi, begitu juga dengan nanti, Dia akan tetap mengasihi kita. Sadarilah dan tidak cuma mengetahui bahwa Allah mengasihi dan mengubah kita dengan kasih-Nya yang kekal. Apa yang kita ketahui tidak mengubah kita. Namun apa yang kita sadari, dapat mengubah hidup kita. Sahabat, tepatnya pada 3 Mei 2022, Yayasan Christopherus akan genap berusia 50 tahun. Yayasan Christopherus akan merayakan Yubileum. Dan berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu, apa hubungan antara HUT ke-50 Yayasan Christopherus dengan firman Tuhan yang terdapat di Yeremia 31:3. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN

Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang dikenal berhati-hati saat mengambil keputusan, terutama untuk keputusan-keputusan besar, yang berisiko tinggi, berdampak jangka panjang,  yang menyangkut hidupmu dan keluarga? Ada cukup banyak orang akhirnya mengalami kesulitan luar biasa karena gemar mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang, terburu-buru karena desakan waktu, atau ketika kondisinya tidak ideal untuk mengambil keputusan. Para ahli juga menasihatkan agar kita tidak mengambil keputusan penting dalam kondisi jiwa tidak tenang, tertekan, atau saat fisik kita dalam keadaan kelelahan. Untuk lebih memahami topik tentang: “Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 3:19-26, dengan penekanan pada ayat 21 dan 22. Seperti layaknya seorang ayah, Salomo dengan lembut mendidik, mengajar dan menasihati anak-anak pada zamannya, dan kepada kita di zaman now. Pengamsal menyatakan kepada orang-orang Israel pada zaman itu, dan kepada kita pada zaman ini,  “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.” (ayat 21-22) Pertimbangan berarti menurut pendapat umum;  pendapat tentang baik dan buruk. Sedangkan kebijaksanaan berarti kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan sesuatu. Kebijaksanaan juga dimaknai kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan. Jadi, yang dimaksud dengan memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan adalah menjaga kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dan kecakapan bertindak dalam nama Tuhan. Karena itu jangan jauhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dari hati, pikiran dan mata kita. Peliharalah! Peliharalah dengan baik, lebih baik dan sangat baik dalam nama Tuhan. Maka hikmat itu akan menjadi kehidupan bagi jiwa kita. Maka hikmat itu akan menjadi perhiasan di leher kita. Maka hikmat itu akan bermanfaat untuk membangun kehidupan kita yang lebih takut akan Allah. Sahabat, sejatinya setiap hari kehidupan kita diwarnai dengan keputusan demi keputusan. Ada keputusan kecil, sedang, maupun besar dengan dampak atau risiko minimal atau risiko yang cukup besar. Mari turuti nasihat dari bacaan kita pada hari ini demi kebaikan kita. Ambil komitmen bahwa mulai saat ini, kita akan menjadikan pertimbangan dan hikmat sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap keputusan yang kita ambil! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20? Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 21-24? Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 25? Apa yang menjadi keyakinan Pengamsal dari ayat 26? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH

Banyak tanda atau simbol yang dipakai oleh orang-orang untuk menunjukkan identitasnya sebagai orang percaya. Bisa dengan menunjukkan kartu identitas yang tertera dalam kolom agama, atau dengan memakai simbol salib yang dipakai di leher atau digantung di dinding rumah. Ada juga yang mengungkapkannya di depan orang banyak lewat kata-kata: Haleluya, puji Tuhan, Tuhan memberkati, berkat Tuhan, dan lain-lain. Sahabat, sesungguhnya orang percaya memiliki dua identitas, yaitu identitas yang bersifat jasmaniah dan identitas yang bersifat rohaniah. Identitas jasmaniah orang percaya berbeda satu dengan yang lain, tetapi identitas rohaniah orang percaya bersifat seragam. Identitas jasmaniah bisa membuat seseorang merasa bangga (karena kaya, berpendidikan tinggi, tampan/cantik, berkuasa, dan sebagainya) atau merasa dirinya tidak berharga. Sebaliknya, bila kita berpegang pada identitas rohaniah yang kita miliki, tak ada alasan untuk merasa rendah diri. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita harus yakin bahwa di dalam Kristus, kita adalah pewaris segala berkat rohani di dalam surga. Sejak semula (sebelum dunia dijadikan), Allah telah memilih kita agar kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Allah telah menentukan kita menjadi BANGSA yang TERPILIH. Untuk lebih memahami topik tentang: “IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH”, maka Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Petrus 2:9-10. Sahabat, ada satu hal yang hendak kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini yaitu: bangsa yang terpilih. Dari hal tersebut, kita tahu bahwa orang percaya terpilih karena tiga alasan: Pertama,  Ia terpilih karena adanya hak khusus. Dalam Yesus Kristus, ditawarkan kepadanya hubungan baru dan intim dengan Allah. Hanya di dalam dan karena Tuhan Yesus, orang diselamatkan dan masuk ke dalam jajaran bangsa elite pilihan Allah;  Kedua, Ia terpilih karena ketaatan. Hak khusus membawanya pada tanggung jawab. Memang benar bahwa ketika seseorang sudah diselamatkan dalam Yesus maka ia masuk dalam bangsa pilihan, namun sebagai anggota dari bangsa pilihan, ia harus menaati aturan-aturan Allah. Memang, ia bukan lantas tidak selamat kalau tidak taat, namun ia menjadi yang terkecil di antara yang diselamatkan (1 Korintus 3:10-23); Ketiga, Ia terpilih untuk melayani. Kebanggaannya adalah ia dapat menjadi pelayan Allah. Hak khususnya adalah dijadikan sebagai alat untuk maksud Allah sepanjang hidupnya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan pemahamanmu tentang orang percaya sebagai bangsa yang terpilih dan apa yang menjadi tugasnya? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

GELAP Sirna, TERANG Menyala

Kumpulan surat yang ditulis R.A. Kartini dan dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengungkapkan bahwa setiap manusia pasti mengalami masa-masa sulit, masa-masa yang gelap. Dengan perjuangan yang gigih, penuh kesabaran, dan bersandar kepada Tuhan, maka terang terbit mewarnai kehidupan. Setelah masa-masa yang gelap itu sirna, maka terang pun menyala. Untuk lebih memahami topik tentang: “GELAP Sirna, TERANG Menyala”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 60:1-14. Sahabat, Yesaya 58-66 merupakan bagian penutup dari Kitab Yesaya yang mendeklarasikan sebuah pengharapan keselamatan bagi seluruh umat manusia, runtuhnya dinding-dinding pembatas antar-bangsa, dan penyataan kemuliaan Tuhan pada akhir zaman. Sahabat, pembuangan ke Babel merupakan masa sulit yang dihadapi bangsa Israel. Sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan dibawa sebagai tawanan perang. Namun, Nabi Yesaya menyadari kalau semua itu terjadi karena mereka tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Meski demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kendati mereka sering menyakiti hati-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari keterpurukan hingga menuntun mereka sampai ke Yerusalem. Terang Tuhan tetap terbit atas bangsa Israel (ayat 1-2). Bangsa-bangsa akan datang, anak-anak pun datang, dan mereka pun berseri melihatnya (ayat 3-5). Itulah terang yang telah memimpin mereka keluar dari kegelapan. Namun, mereka malah terus hidup dalam ketidakpercayaan. Trauma masa lalu yang mereka hadapi selalu melekat di benak mereka. Mereka bahkan kerap kali meragukan kuasa Allah dengan memertanyakan apakah Allah sanggup memulihkan keadaan mereka atau tidak. Oleh karena penderitaan datang bertubi-tubi, fokus mereka pun menjadi teralihkan. Mereka lupa bahwa selama ini Allah telah menyertai hidup mereka. Sahabat, oleh karena itu, nabi Yesaya mengingatkan kembali agar umat Allah yang ada di pembuangan tetap percaya kepada Allah yang telah menuntun mereka selama masa kesusahan. Yesaya berseru agar mereka bangkit dari kegelapan dan menjadi terang, karena seharusnya mereka tetap percaya dan bersandar kepada Allah, bukannya malah meragukan kuasa-Nya. Allah pun telah menunjukkan terang itu kepada kita umat yang percaya. Oleh karena itu, jangan biarkan masa lalu yang kelam atau penderitaan yang kita alami saat ini membelenggu dan membuat kita ragu seperti orang-orang tak percaya yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bangkit dan menjadi terang sehingga kemuliaan Allah selalu nyata dalam hidup kita. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa nabi Yesaya berseru agar bangsa Israel bangkit dan menjadi terang? (Ayat 1-2) Bagaimana pemahaman Sahabat tentang nubutan nabi Yesaya dalam ayat 3-7? Apa yang akan terjadi dengan bangsa Israel? Gambaran seperti apa yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya dalam ayat 8-14 ketika bangsa Israel bangkit dari keterpurukan? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?

Sahabat, jangan pernah berhenti bersyukur karena Tuhan tidak pernah berhenti memberkati hidup kita. Bersyukur adalah kunci di jagat dan akhirat. Bersyukur merupakan wujud ungkapan perasaan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan dan anugerah yang setiap hari kita rasakan. Namun, tidak jarang kita semua luput dan lupa untuk bersyukur, apalagi ketika kita sedang mendapatkan masalah dan cobaan yang berat. Kadang kala juga ketika kita sudah melewati cobaan tersebut, kita justru sering lupa siapa yang selama ini menolong dan melindungi kita. Untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 9:1-21. Sahabat melalui gubahan lirik lagu Mazmur Daud, menurut lagu Mut-Laben, kita mendapati bahwa betapa Daud merindukan untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Dengan segenap hati dan jiwanya, Daud sungguh rindu menaikkan rasa syukurnya kepada Tuhan Allah Israel yang sudah mengurapinya naik ke takhta kerajaan. Gubahan lirik mazmur pujian itu direkam dalam ayat 1, yang demikian bunyinya: “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mut-Laben. Mazmur Daud.” Selanjutnya di ayat 2 Daud menyatakan: “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;” Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan lirik lagu pujian tersebut juga menyatakan bahwa Daud sungguh ingin menuturkan tentang semua pekerjaan dan karya-karya Tuhan yang sangat dahsyat dan ajaib. Daud ingin memberitakan segala perbuatan tangan-Nya yang sangat indah dan sempurna kepada bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi. Daud, sungguh rindu bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Ia akan menceritakan segala perbuatan Allah yang sangat luar biasa dan mengherankan kepada bangsa-bangsa dan semua suku bangsa di seluruh permukaan bumi. Sahabat, akhirnya marilah kita merenungkan dua nasihat ini. Pertama, janganlah lupa untuk bersyukur. Bagaimanapun, keadaan kita, sejatinya semua itu adalah karunia Tuhan semata. Kedua, jangan selalu melihat ke atas, sesekali lihatlah ke bawah. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Apa yang menjadi tekad Daud dalam ayat 2-3? Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 4-7? Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 8-19? Rasa ungkapan syukur itu tiada habisnya, apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 20-21? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG

Sahabat, NAMA YESUS adalah nama yang indah dan ajaib. Yesus disebut Kristus karena Dialah yang dipilih Allah menjadi penyelamat dan Tuhan. Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan, sifat-Nya yang paling penting bagi orang yang terhilang dan memerlukan keselamatan. Nama-Nya menggambarkan kasih sayang-Nya yang sangat besar, pertolongan-Nya yang tak terhingga, dan belas kasihan-Nya yang tulus. Dia adalah Imanuel, Allah yang selalu beserta dengan kita.  Dalam Perjanjian Lama, sebuah nama memantulkan sifat seseorang. Untuk lebih memahami topik tentang: “NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesata 8:23 – 9:6. Sahabat, bacaan kita pada hari ini  menggambarkan kehidupan bangsa Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena dipimpin oleh raja yang tidak takut akan Tuhan. Di tengah ketakutan ini Yesaya menyuarakan janji Allah tentang kedatangan Mesias. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang besar yang mengenyahkan kegelapan. Janji ini digenapi dengan kelahiran Yesus. Nubuat Yesaya menunjukkan dua hal penting tentang Yesus, yaitu bahwa Dia adalah MANUSIA SEJATI dan ALLAH SEJATI. “Seorang anak telah lahir” menunjuk pada Yesus sebagai MANUSIA SEJATI. Adapun nama yang disandang-Nya menunjukkan bahwa Dia adalah ALLAH SEJATI: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai. Yesaya mencatat empat nama yang akan menandai tugas Yesus selaku Juruselamat. Itu membuktikan bahwa nama  Yesus  bukanlah nama sembarang nama, yang tidak diberikan oleh malaikat, atau pun oleh Maria dan Yusuf, melainkan datang dari surga, pemberian Allah sendiri.  Sahabat, natal merayakan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus Kristus sudah datang, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan damai sejahtera? Itulah tugas kita untuk memperkenalkan Yesus Sang Raja Damai, dan momen Natal adalah salah satu kesempatan yang dapat kita pakai. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong ceritakan secara singkat pemahamanmu tentang nubuatan nabi Yesaya tersebut. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)