CERITAKAN dari GENERASI ke GENERASI

Sahabat, banyak orangtua yang menjalani kehidupan sebagai orang percaya sangat baik. Mereka rajin ke gereja, mendukung dan terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Tetapi di sisi lain, mereka membiarkan anak-anak mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan apa yang mereka imani. Atas nama demokrasi dalam keluarga, mereka membiarkan anak-anak mereka mencari jalannya sendiri, asalkan tidak melakukan perbuatan kriminal. Mereka tidak mengajarkan tentang iman mereka kepada anak-anaknya. Mereka tidak menceritakan pengalaman hidup mereka bersama Tuhan dari hari ke hari. Untuk lebih memahami topik tentang “CERITAKAN dari Generasi ke Generasi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yoel 1:2-12. Dalam bacaan kita pada hari ini, Yoel mengingatkan seluruh generasi Israel, untuk memerhatikan apakah kekacauan yang terjadi saat itu pernah dialami pada zaman leluhur mereka (ayat 2-3). Apakah yang terjadi saat itu? Suatu kengerian besar yang pernah mereka alami akibat tulah belalang digambarkan secara jelas di sini (ayat 4). Ketika bencana itu terulang kembali, tidak seorang pun menyangkanya, baik orang yang sadar maupun orang yang mabuk oleh anggur (ayat 5-7). Semua orang secara pribadi merasakan duka karena bencana itu tidak menyisakan apa pun, termasuk apa yang ada di rumah Allah (ayat 6-9). Bencana itu menghantam semua orang, termasuk para pemilik ladang yang berjerih payah menanami ladangnya. Pada waktu itu, tanah sebagai simbol berkat berubah menjadi kutukan karena tidak ada apa pun yang dihasilkannya (ayat 10-12). Di masa Nabi Yoel, wabah belalang yang mengerikan merusak negeri Israel sebagai tanda penghukuman dan murka Allah atas ketidaksetiaan mereka. Kawanan belalang itu memakan habis tanaman mereka, sehingga bencana kelaparan menimpa mereka. Namun sebenarnya, Tuhan tidak ingin membinasakan mereka. Dia ingin mereka kembali kepada-Nya. Dia memerintahkan agar umat-Nya menceritakan kisah itu kepada anak-anak mereka, demikian juga kepada generasi-generasi yang kemudian, agar mereka belajar menghormati Tuhan serta tetap setia kepada-Nya. Dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya juga diberi tanggung jawab untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah kepada orang lain (1 Petrus 2:9). Tentunya kita tidak memaksakan kehendak kepada mereka, melainkan memberitakan dengan kasih. Ini termasuk kepada anak-anak kita secara jasmani. Bahkan jangkauannya lebih luas lagi, yakni kepada semua orang. Sebab Tuhan ingin Dia dikenal bukan hanya oleh satu generasi, melainkan sepanjang masa, dari generasi ke generasi. Sahabat, kita ini makhluk pembelajar, jadi bisa belajar dari apa saja bahkan dari bencana sekali pun. Kendati bukan berwujud hama belalang, negeri kita akhir-akhir ini tak sepi dari bencana. Seruan Yoel untuk bangun dan meratap mengajak kita untuk memaknai bencana atau krisis atau masalah di negara dan keluarga kita  dengan doa dan keprihatinan seraya bertanya, “Apa suara Tuhan yang hendak diperdengarkan buat bangsa dan keluarga kita?” Kiranya kita belajar untuk peka mendengar suara Tuhan dari balik bencana atau krisis  yang terjadi. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba ingat-ingat pernahkan Sahabat menceritakan pengalaman hidupmu bersama Tuhan kepada anak cucu atau orang-orang yang lebih muda? Kalau pernah, tolong bagikan salah satu pengalamanmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN

Saat ini Pandemi Covid-19  di Indonesia semakin melandai, tapi dalam rangka liburan natal dan tahun baru 2022, pemerintah akan menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan PPKM Level 3 di seluruh Indonesia ini akan berlaku mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mencegah penyebaran virus corona saat libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pada tanggal 3 Mei 2022 Yayasan Christopherus genap berusia 50 tahun. Mengingat situasi dan kondisi masih diliputi ketidakpastian, karena itu Panitia Yubileum Christopherus belum berani membuat keputusan apakah Kebaktian Syukur HUT ke-50 Christopherus akan diadakan secara onsite. Untuk lebih memahami topik tentang: “ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 27:1-14. Sahabat, sungguh, sangat tidak mudah menjalani kehidupan di mana segala sesuatu yang kita lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas dan tak berujung. Kita berdiam diri berdoa, namun tahun-tahun berlalu tanpa tanda jawaban. Akankah kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan pasti akan bertindak pada saat dan waktu-Nya? Sahabat, Daud pernah mengalaminya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sehari-harinya tinggal bersama dua ekor kambing domba di padang rumput? Tetapi Daud belajar memahami maksud Tuhan di balik ketidakpastian itu. Daud belajar untuk sabar, setia dengan panggilannya, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengangkatnya. Daud belajar percaya bahwa Tuhan akan mewujudkan impian-impiannya dalam waktu yang tepat. Ia barangkali berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau memegang kendali. Walaupun aku tidak melihat apa pun sedang terjadi, Engkau sedang bekerja di belakang layar.” Dan di waktu yang tepat, Tuhan membawa Daud keluar dari padang itu dan mengurapinya menjadi raja Israel. Siapa sangka? Sahabat, mari belajar dari Daud, meski kita tidak mampu memahami mengapa Tuhan tidak bersegera melepaskan kita dari sebuah keadaan yang tanpa kepastian, Tuhan ingin kita tetap setia, sabar, dan memegang erat janji-Nya. Ya, Tuhan sangat peduli dan memahami kehidupan kita. Dia merasakan kecemasan dan ketakutan kita. Bertahanlah untuk sedikit waktu lagi dan tetaplah setia! Di satu waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia pasti bertindak. Dia tahu saat yang tepat untuk menolong dan mengangkat kita. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang menjadi keyakinan Daud di ayat 1? Apa yang dipercaya oleh Daud dalam ayat 2? Mengapa Daud ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupnya? (Ayat 4-6) Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-12? Apa yang diserukan Daud kepada kita di ayat 14? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

Ketika Tuhan MENGAMBIL yang MENJADI ANDALANKU

Sore itu saya diajak Gagah (nama samaran) untuk menikmati kopi hitam kesukaan saya di Kedai Kopi. Gagah bercerita mengenai masa lalunya yang kelam. Setelah Gagah lulus SMA, dia tidak melanjutkan studinya atau bekerja. Setiap hari pekerjaannya hanya berhura-hura bersama teman-teman gengnya. Dia menggantungkan hidupnya pada pamannya (adik ayahnya) yang tidak menikah tapi berpenghasilan besar. Dia merasa tenang karena memiliki paman yang dapat mencukupi hidupnya. Sampai suatu hari, paman yang dia andalkan mendadak meninggal dunia karena serangan jantung. Gagah pun limbung karena merasa tak ada lagi orang yang dapat diandalkan. Ketika itulah, Tuhan mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar. Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika Tuhan MENGAMBIL yang MENJADI ANDALANKU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 28:1-9. Sahabat, dalam mazmur tersebut, Daud mengakui bahwa Tuhanlah kekuatan, perisai, dan penolong baginya. Tiga alasan yang lebih dari cukup untuk membuat putra Isai ini bersukacita, percaya kepada-Nya, memuji Dia, dan bersyukur kepada-Nya. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa  tanpa campur tangan Tuhan kehidupan akan semakin sulit dijalani. Bagi orang percaya, terkadang Tuhan terpaksa “mengambil” hal-hal yang kita andalkan, supaya kita  belajar bergantung dan berharap hanya kepada-Nya. Siapakah yang selama ini kita andalkan? Semoga yang kita andalkan  hanyalah TUHAN. Setiap hari kita harus menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan. Akuilah Dia dalam setiap langkah dan andalkan Dia dalam setiap aktivitas kita. Jangan takut dengan apa yang sedang terjadi, tetapi takutlah jika kita mulai menjauh dari Tuhan. Yakinlah bahwa di dalam Tuhan kita akan mendapat kekuatan dan kemenangan. Dengan yakin kita akan berkata bahwa Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada-Nya. Walau perjalanan yang akan kita tempuh masih panjang dan belum tampak ujungnya, tetaplah melangkah dengan iman. Ingatlah selalu janji Tuhan yang tertulis dalam Yesaya 41:10. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Apa yang dilakukan Daud dalam ayat 1-2? Apa yang menjadi permohonan Daud dalam ayat 3-5? Apa yang dialami Daud dalam ayat 6? Apa yang menjadi keyakinan Daud dalam ayat 7-8? Apa yang menjadi permohonan Daud dalam ayat 9? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Aku ingin SATU ANGKA saja

Dalam suatu kejuaraan All England, Rudy Hartono berhadapan dengan Sture Johnson, juara Eropa asal Swedia. Saat itu situasi sangat kritis karena pada set pertama Sture Johnson unggul 15-4 dan set kedua ia sudah unggul 14-0. Semua pendengar RRI dan pemirsa TVRI benar-benar terhenyak karena satu angka lagi tamatlah Rudy Hartono. “Alhamdulillah,” teriak penyiar RRI, shutlecock saat itu berpindah ke tangan Rudy. “Aku ingin satu angka saja” kata Rudy dalam hati ketika memulai servis. Kedudukan kemudian berubah 1-14. Saat itu, Rudy kembali berkata dalam hati. “Aku ingin satu angka lagi”, maka terjadilah 2-14. Akhirnya, Rudy dapat memaksakan hasil imbang 14-14 dan Rudy mengakhiri set kedua dengan 17-14. Untuk lebih memahami topik tentang “Aku ingin SATU ANGKA saja”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 42:1-4. Sahabat, nubuat nabi Yesaya dalam bacaan kita pada hari ini disampaikan sekitar tahun 745-680 Sebelum Masehi. Nabi Yesaya diperkirakan sudah aktif memberikan pelayanan di istana raja beberapa tahun di penghujung pemerintahan raja Uzia. Kemudian nabi Yesaya melanjutkan nubuat-nubuatnya dalam pemerintahan raja-raja: Yotam, Ahas, dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda. Melalui nubuat nabi Yesaya tersebut, kita mendapatkan pembelajaran mengenai Dia yang lemah lembut dan penuh belas kasihan. Dia yang berkuasa tidak mematahkan dan memutuskan harapan orang lemah, orang yang letih lesu, orang berkekurangan dan orang berdosa. Nabi Yesaya mengingatkan: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya” (ayat 3-a). Dia tidak memadamkan semangat dan jiwa semua orang yang patah arang, kecewa dan susah hidupnya. Beginilah firman-Nya: “… sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanny, …” Mengapa? Karena Dia taat akan perintah-Nya. Karena Dia setia kepada perintah Bapa, maka Dia akan menegakkan hukum Tuhan. Ia akan menegakkan Firman Allah. Anak Tunggal Bapa akan “dengan setia ia akan menyatakan hukum” Kerajan-Nya di surga raya. Belajar dari pengalaman Rudy Hartono, jangan pernah cepat putus asa! Seberat bagaimana pun beban yang harus kita tanggung dan sekecil apa pun peluang kita untuk menang, tetaplah beriman karena Tuhan yang selalu siaga menopang kita. Di dalam kelemahan, keraguan dan ketakutan kita, Dia selalu ada untuk menjaga. Hanya, bersabarlah saat menghadapi situasi sulit. Tak perlu tergesa, hadapilah setiap masalah satu demi satu. Berjalanlah selangkah demi selangkah bersama Tuhan! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Siapa sesungguhnya yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam bacaan kita? Apa saja ciri-ciri dari Dia yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya? (Ayat 1-2) Berkat apa yang Sahabat terima dari ayat 3? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

HATI-HATI menjaga HATI

Pepatah lama mengatakan, “Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu” yang artinya sangat sulit dan hampir tidak mungkin untuk mengetahui isi hati seseorang. Sahabat, HATI merupakan kehidupan batin seseorang, yang mencakup keinginan, perasaan, dan pikiran. Maka untuk lebih memahami topik tentang: “HATI-HATI menjaga HATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 17:5-10. Memang tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Bahkan ilmuwan yang paling pintar sekalipun, belum dapat membuat alat yang dapat membaca isi hati seseorang. Manusia hanya bisa mengira-ngira, bagaimana isi hati seseorang dengan melihat penampilan dari luarnya. Yeremia sudah mengingatkan kita,  bagaimana kita begitu mudah tertipu melihat penampilan luar seseorang, tetapi kita tidak tahu apa yang tersembunyi dalam hati mereka yang sebenarnya  (ayat 9). Sahabat, sesungguhnya bukan hanya hati orang lain saja, tetapi hati kita sendiripun bisa seperti itu. Begitu banyak hal negatif yang bisa menghancurkan kita berasal dari hati. Jika tubuh kita saja perlu secara rutin diperiksa, apalagi hati kita yang letaknya tersembunyi, jauh di dalam tubuh kita. Memang sulit bagi kita untuk mengendalikan hati kita, tetapi puji Tuhan, kita punya Allah yang tahu keterbatasan kita. Ketika kita tidak sanggup memeriksa dan memastikan hati kita berada dalam kondisi fit dan bersih dari segala kotoran, Tuhan bersedia untuk itu (ayat 10). Tuhan telah mengatakan bahwa Dia mau memeriksa hati kita, menyembuhkan yang terluka, membersihkan yang kotor dan mengembalikan hati kita ke dalam keadaan yang baik. Mari kita belajar dari Daud yang terus peduli untuk meyakinkan bahwa hatinya berada dalam keadaan bersih atau tahir. Dalam Mazmur 26 dan 139 misalnya, Daud berulang kali meminta Tuhan untuk menyelidiki hati dan batinnya. Daud juga berseru: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12). Sahabat, kiranya apa yang dikatakan penulis Amsal berikut bisa tetap kita ingat dengan baik. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Adalah penting bagi kita untuk menjaga agar hati kita tetap bersih, karena dari sana hal yang baik dan buruk bisa berawal. Pastikan senantiasa kita tetap menjalani hidup dengan sebentuk hati yang bersih. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5 dan 6? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7 dan 8? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 10? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Tolong DOAKAN saya

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan ketika seorang Sahabat menulis WA: “Saya setiap hari berdoa agar Tuhan mengaruniakan pewahyuan kepada Pak Paul sehingga renungan yang Bapak tulis dapat menjadi berkat bagi para pembacanya.” Saya semakin disadarkan bahwa kalau saya dapat menulis “Sejenak Merenung” dan jadi berkat bagi para pembacanya, itu karena banyak Sahabat yang medoakan saya. Pada suatu hari, Charles Spurgeon, pengkhotbah besar Inggris dari abad ke-19, ditanya oleh seorang wartawan:  “Apa yang paling menakutkan bagi Anda sebagai seorang pengkhotbah yang sangat terkenal?” Dengan mantap Spurgeon menjawab, “Saya paling takut bila tidak ada lagi orang yang mendoakan saya!” Sahabat, kita belajar dua hal dari jawaban Spurgeon: Pertama, doa sangatlah penting dan tidaklah terpisahkan dari pelayanannya. Kedua, ia menyadari betapa pentingnya doa syafaat orang lain untuk pelayanannya. Untuk lebih memahami topik tentang: “Tolong DOAKAN saya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 15:22-33. Sahabat, keyakinan Spurgeon sejalan dengan keyakinan rasul Paulus. Walaupun Paulus seorang rasul yang sangat berpengalaman dan berpendidikan tinggi, ia jauh dari sikap congkak sehingga mengabaikan doa.  Ayat 30 mengungkapkan bagaimana Paulus begitu serius dan tekun dalam berdoa. Bukan hanya itu, ia juga dengan rendah hati mendesak supaya saudara seiman di kota Roma turut mendoakannya. Dari bahasanya, kita menangkap betapa tulusnya permohonan Paulus akan dukungan doa dari mereka tersebut. Bukan mung kanggo abang-abang lambe saja (Bukan hanya basa basi saja). Apakah keyakinan Spurgeon dan Paulus di atas juga menjadi keyakinan Sahabat dalam hidup dan pelayananmu? Apakah Sahabat masih melihat dan merasakan bahwa doa itu mutlak dibutuhkan untuk kehidupan dan pelayananmu?   Atau doa telah menjadi sekadar basa-basi saja? Masihkah Sahabat meminta sesama saudara seiman untuk mendoakanmu? Sahabat, saya dan keluarga membutuhkan dukungan doa-doamu. Yayasan Christopherus membutuhkan doa-doamu. Gereja tempat kamu berjemaat membutuhkan doa-doamu. Bangsa dan negara kita juga membutuhkan doa-doamu. Alangkah indahnya jika kita dapat selalu saling mendoakan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu atas ayat 30-32? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

DAMAI SEJAHTERA: Kabar SUKACITA yang Tiada Tara

Sesungguhnya kebahagiaan natal bukan dikarenakan mewah atau semaraknya perayaan, melainkan bagaimana sikap hati kita setelah bertemu dengan Yesus, Sang Juruselamat dunia itu.  Sahabat, rasa takut yang besar mencekam para gembala yang sedang menjaga kawanan ternak di padang Betlehem. Bagaimana tidak? Pada tengah malam, mereka dikejutkan oleh bala tentara malaikat yang memancarkan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah terlalu dahsyat sehingga tidak seorang pun yang sanggup menyaksikannya (1 Timotius 6:16). Untuk lebih memahami topik tentang: DAMAI SEJAHTERA: Kabar SUKACITA yang Tiada Tara”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 2:8-20. Sahabat, Lukas menginformasikan bahwa tempat Maria melahirkan berada dalam satu lokasi dengan padang, tempat gembala-gembala menjaga kawanan ternak mereka (ayat 8). Kepada gembala-gembala inilah, malaikat Tuhan menyampaikan berita besar yang akan mendatangkan sukacita bagi mereka dan bagi dunia. Ia datang bukan membawa pesan penghakiman melainkan pesan damai yang membawa pengharapan bagi manusia. Itulah berita tentang kelahiran Juruselamat (ayat 9-12). Sahabat, Allah tidak mengirimkan seorang guru karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah pendidikan. Allah tidak mengirimkan ilmuwan karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah teknologi. Allah tidak mengirimkan ahli ekonomi karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah uang. Allah mengutus Juruselamat karena kebutuhan manusia yang terutama dan utama adalah pengampunan dan pembebasan dari dosa. Bagi para gembala, malam itu kemudian menjadi malam yang menakjubkan. Kegelapan dan keheningan malam yang biasanya menjadi bagian dari rutinitas keseharian mereka,  dipecah oleh lantunan pujian bagi Allah dari bala tentara surga (13-14). Mereka memuji Allah karena apa yang Dia lakukan bagi manusia. Allah pun akan melakukannya juga bagi kita. Pesan damai dan pengharapan bagi para gembala menjadi pesan pengharapan bagi kita juga. Inilah kesempatan untuk menerima pengampunan atas dosa kita. Inilah kesempatan untuk memperbarui hidup kita. Inilah kabar damai sejahtera yang mendatangkan sukacita yang tiada tara. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa para malaikat sangat ketakutan ketika melihat kemuliaan Tuhan? (Ayat 9) Mengapa berita yang dibawa oleh malaikat membawa kesukaan bagi seluruh bangsa? (Ayat 10-11) Apa makna pujian para malaikat dalam ayat 14? Mengapa para gembala ketika pulang sangat bersyukur, bersukacita dan memuji Allah? (Ayat 20) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

Jangan KHAWATIR dengan ESOK

Sahabat, pandemi Covid-19 telah memporak porandakan segala aspek di dunia ini. Sudah hampir 2 tahun berita-berita yang mengerikan  setiap hari kita dengar, jadi bisa dimengerti jika sebagian besar orang merasa takut dan khawatir menghadapi esok. Jangan khawatir dengan esok,  karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang  (Amsal 23:18).  Esok memiliki kesusahannya sendiri  (Matius 6:34), Kita memang perlu memikirkan esok,  tapi jangan sampai kita dihantui oleh berbagai hal yang membuat kita takut dan khawatir,  sampai-sampai melampaui iman kita kepada Tuhan Yesus. Sekalipun dunia dipenuhi dengan goncangan-goncangan di segala bidang kehidupan, tetapi kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut(Ibrani 12:28), karena penyertaan Tuhan atas kita sampai kepada kesudahan zaman  (Matius 28:20-b).  Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang optimis karena hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).  Hidup karena percaya berarti melangkah dengan iman karena kita bukan lagi mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan dan berserah kepada pimpinan-Nya.  Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan KHAWATIR dengan ESOK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 125:1-5. Sahabat, Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang tidak akan goyang dan tetap untuk selama-lamanya. Pemazmur menggambarkan mereka seperti gunung Sion, sebab Sion terkenal sebagai gunung pilihan Allah, tempat kudus Allah, serta sebagai kota benteng. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan mendapatkan perlindungan, sehingga tidak akan goyah. Sahabat, perlindungan Tuhan juga layaknya Yerusalem yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Melalui letak geografis Yerusalem, Pemazmur hendak memberitahukan bahwa Tuhan senantiasa berada di sekeliling orang-orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka menjadi kuat dan tidak berubah, juga aman dan terlindungi. Mereka akan hidup aman dalam jaring pengaman kehidupan (ayat 2). Oleh sebab itu, jika umat Tuhan hendak memperoleh keamanan sepenuhnya, ada yang harus dilakukan. Pertama, percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Kedua, menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan. Ketiga, hidup dalam ketulusan hati. Keempat, tidak menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ayat 3-5). Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang Sahabat pahami tentang keamanan? Apa yang Sahabat pahami tentang esok? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Kejujuran: BERKENAN DIKOREKSI

Sahabat ada perbedaan yang cukup mencolok antara orang sombong dengan orang jujur. Kesombongan berangkat dari keinginan pribadi untuk mendapatkan hormat atau sanjungan dari orang lain. Sedangkan kejujuran berangkat dari ketulusan dan kelurusan hati tanpa ada motivasi mencari keuntungan. Motivasi utama dari kejujuran adalah cinta akan kebenaran dan kerinduan agar kebenaran itu diungkapkan dengan nyata. Ketika melakukan sebuah kesalahan,  tidak semua orang berkenan ditegur dan dikoreksi.  Kita cenderung membenarkan diri sendiri atau menganggap diri paling benar.  Orang yang merasa dirinya pintar seringkali berpikir bahwa setiap perkataan dan keputusannya adalah selalu benar, sehingga ia sering menempatkan kelemahan, kekurangan dan kesalahan pada pihak lain (Matius 7:3).  Untuk lebih memahami topik tentang “Kejujuran: BERKENAN DIKOREKSI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 26:1-12. Sahabat, mari belajar dari Daud, yang walaupun memiliki kedudukan tinggi sebagai raja, terkenal, memiliki kekayaan yang melimpah dan juga pasukan tentara yang kuat, tetaplah orang yang rendah hati.  Kerinduannya untuk senantiasa berjalan dalam kehendak Tuhan membuatnya berkenan ditegur dan dikoreksi setiap saat.  Bahkan ia memohon kepada Tuhan untuk selalu diselidiki hatinya apabila masih ada hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Mazmur 26 bukanlah mazmur yang ditulis dengan motivasi kesombongan. Daud menuliskan mazmur ini dari kesadaran bahwa ia membutuhkan pembebasan dan belas kasihan Tuhan (ayat 11). Kesadaran akan anugerah ini membawanya kepada cinta dan kerinduan akan rumah Tuhan (ayat 8) serta komitmen untuk hidup dalam ketulusan dan iman tanpa keraguan (ayat 1). Sahabat, Daud tidak merasa dirinya suci dan saleh seolah-olah ia tidak pernah berbuat dosa, tidak pernah melakukan kesalahan. Sebaliknya, ia menyandarkan diri kepada pengampunan dan karya Allah dalam membentuk dan menuntunnya (ayat 1-7, dan 11). Daud menyadari bahwa Allah adalah Allah yang Mahatahu. Karena itu, ia membuka dirinya untuk diuji dan diselidiki oleh Allah (ayat 1-3). Dia menegaskan bagaimana dirinya menjauhi pergaulan dan perkumpulan orang-orang yang berbuat jahat dengan cara menceritakan kemuliaan Allah (ayat 4-7). Ia mengakhiri mazmurnya dengan menegaskan kerinduan hatinya akan rumah Tuhan (ayat 8-12). Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pelajaran apa yang Sahabat dapatkan dari ayat 1-3? Pelajaran apa yang Sahabat dapatkan dari ayat 4-7? Apa yang menjadi pernyataan Daud dalam ayat 8? Apa yang dibutuhkan Daud dalam ayat 11? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Mengembangkan GAYA HIDUP SEMUT

Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah.  Sahabat, mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik. Untuk lebih mendalami topik tentang: “Mengembangkan Gaya HIDUP SEMUT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 6:6-11. Semut rajin bekerja di musim panas, mengumpulkan makanannya, menyimpannya, menjaga sarangnya. Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Bila ada makanan yang lebih besar dari kemampuannya, semut akan memanggil teman-temannya untuk menyeret makanan itu secara beramai-ramai. Makanan yang terkumpul kemudian dinikmati bersama tanpa bersaing dan saling membunuh. Mereka hidup berkelompok, dalam satu koloni yang saling menopang, saling percaya, dan rukun.Sahabat, itulah sebabnya, Salomo, sang raja yang penuh hikmat itu, menasihati rakyatnya agar pergi dan belajar kepada semut. Rajin bekerja kala musim panas, agar saat musim dingin yang sangat menyulitkan bagi binatang sekecil semut, mereka telah memiliki persediaan yang cukup sebagai bentuk pemeliharaan Sang Pencipta. Kiranya kita pun belajar hidup dengan bijaksana. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa raja Salomo menasihati rakyatnya yang malas untuk belajar dari semut? Etos kerja seperti apa yang dapat kita peroleh dari semut? Pelajaran apa yang kita peroleh dari kehidupan semut dalam hal hidup berkomunitas? Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa dalam kehidupan ini ada musim kelimpahan dan ada musim paceklik, pelajaran apa yang kita peroleh dari semut dalam hal pengaturan keuangan (pendapatan) kita? Apa yang akan dituai bagi mereka yang hidup bermalas-malasan? (Ayat 9-11) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)