Siapakah SAUDARA Kita?

Siapakah saudara kita? Secara jasmani atau berdasarkan keturunan, mereka yang satu ayah dan satu ibu dengan kita, serta pertautan keluarga dari kedua belah  pihak. Secara rohani, mereka yang seiman. Secara politik, mereka yang sebangsa setanah air. Sahabat, kehidupan kekristenan itu unik dan luar biasa, berbeda dengan agama atau kepercayaan lain.  Apa uniknya?  Semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat  (pengikut Kristus)  disebut bersaudara, padahal secara biologis kita lahir berbeda, tidak ada hubungan darah (Efesus 2:19). Persaudaraan adalah hal yang baik untuk selalu dirawat, baik persaudaraan karena adanya hubungan darah maupun persaudaraan karena kita disatukan dalam perjumpaan kita dalam perjalanan hidup (salah satunya dalam kehidupan berjemaat).  Sahabat, Paulus mengingatkan kepada jemaat Roma bagaimana mestinya mereka berlaku dalam kehidupan  persaudaraan iman; bagaimana tindakan kita sebagai saudara (Roma 15:1-2) Melalui karya penebusan Kristus semua orang percaya dibawa ke dalam satu persekutuan dalam diri Kristus sendiri dengan Bapa, karena Kristus telah menebus kita dengan darah-Nya sendiri, artinya Ia menganggap kita saudara-Nya  (Ibrani 2:11-13).  Sahabat, untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Siapakah Saudara Kita?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Matius 25:31-46. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Tuhan Yesus menawarkan pengertian yang tak terduga. Siapa saja yang disebut sebagai saudara-Nya? Apa yang harus kita perbuat kepada mereka yang disebut sebagai saudara Tuhan Yesus tersebut? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

JANGAN TAWAR HATI

Hidup itu penuh dinamika. Kadang kita merasa hidup begitu cerah, namun kadang juga merasa hidup ini begitu suram. Suramnya hidup biasanya kita alami jika kita berhadapan dengan sakit penyakit, masalah dalam keluarga,  atau pergumulan hidup lainnya. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita  bahwa akan ada saatnya kita mengalami kesesakan akibat masalah-masalah kehidupan. Kita dapat merasakan kesesakan ketika muncul sakit penyakit, bisnis yang tidak berjalan lancar, atau ketika musibah terjadi. Hidup yang penuh kesesakan hendaknya dihadapi dengan tenang dan kita jaga agar tidak menjadi tawar hati, Tawar hati diartikan sebagai suasana hati yang tidak gembira, tidak bernafsu, tidak bersemangat, atau tidak menaruh perhatian. Tawar hati adalah merupakan suatu kondisi emosional negatif atau energi negatif yang akan merusak hidup dan kesehatan seseorang.  Tawar hati merupakan akumulatif dari beragam energi negatif sepeti patah semangat, pesimis, tidak mempunyai pengharapan, tidak berdaya, putus asa dan perasaan negatif lainnya. Tawar hati dipicu oleh persoalan yang berkaitan dengan kesehatan, masalah finansial, persoalan dalam keluarga, problematika dalam dunia kerja, persoalan sosial yang tidak sehat dan sebagainya. Sahabat, dalam masa kesukaran, pada umumnya orang cenderung kecil hati, semangat menjadi menurun, energi positif menjadi berkurang, dan energi negatif semakin mendominasi. Roh kita menjadi lemah, dan diikuti oleh serangan fisik, berupa sakit penyakit yang bermunculan.  Untuk menggali lebih dalam topik tentang tawar hati, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 24:10. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut: Secara implisit apa yang ingin dinyatakan oleh bacaan kita pada hari ini? Berdasarkan bacaan kita pada hari ini, apa yang menyebabkan kita menjadi tawar hati? Apa yang dimaksud dengan kata “kekuatan” dalam bacaan kita pada hari ini? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

BERSAMA TUHAN MELEWATI LEMBAH KEKELAMAN

Orang bijak berkata, “Tidak ada pesta yang tidak berakhir, dan tidak ada badai yang tidak berlalu”, yang artinya di dunia ini tidak ada yang kekal, semuanya akan berlalu, termasuk pesta dan badai, termasuk kesenangan dan kesusahan. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita pasti pernah mengalami dan merasakan masa-masa yang sulit, serasa berada dalam lembah kekelaman. Maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 23:1-6. Dalam Mazmur 23, Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam ayat 4 Daud menyatakan,  “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku” (ayat 4) Sahabat, dalam ayat 4 Daud menyebutkan bahwa ada dua benda yang selalu dibawa oleh gembala yaitu gada dan tongkat. Gada terbuat dari akar pohon dengan panjang tidak lebih dari 40-50 cm.  Itu adalah senjata ampuh untuk melawan hewan-hewan buas yang hendak memangsa domba-dombanya.  Gada ini adalah gambaran tentang jaminan perlindungan dan pembelaan Tuhan dari para musuh. Sedangkan tongkat berfungsi untuk menepuk-nepuk tubuh domba ketika domba mulai berjalan melenceng arah atau menjauhi kawanannya.  Tongkat ini berbentuk melengkung di bagian pangkalnya seperti gagang payung, agar dapat mengait badan atau leher domba yang jatuh terperosok di lubang atau di jurang.   Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang dimaksud dengan “lembah kekelaman” di ayat  4 dalam kehidupan kita? Apa makna atau arti kata “berjalan” di ayat 4? Mengapa kita tidak perlu takut ketika harus berjalan atau melewati lembah kekelaman? Apa yang Tuhan janjikan ketika kita tetap setia berjalan bersama dengan Tuhan melewati lembah kekelaman? (ayat 5 dan 6) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MELESTARIKAN LINGKUNGAN

Sahabat, bukan rahasia lagi bahwa kerusakan lingkungan terbesar terjadi akibat ulah manusia. Bukannya melakukan eksplorasi, manusia justru mengeksploitasi alam. Berbagai bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor berkaitan erat dengan rusaknya lingkungan di sekitarnya. Pemanasan global yang sekarang sering dikampanyekan juga merupakan akibat kerusakan alam. Sesungguhnya Kewajiban untuk memelihara lingkungan dan alam semesta merupakan  perintah Tuhan.  Walaupun demikian, topik melestarikan lingkungan jarang dibahas dalam kotbah di gereja maupun tulisan renungan, mungkin  karena anggapan bahwa hal tersebut hanya menyangkut hal duniawi dan merupakan kewajiban pemerintah. Sahabat, sejak penciptaan dunia beserta isinya,  Tuhan mengingatkan kita bahwa selama hidup di dunia kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup kita. Hal itu bukan saja menyangkut tanggung jawab kita atas keadaan alam, kesehatan lingkungan dan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut cara hidup dan tindak-tanduk kita yang bisa memengaruhi orang-orang di sekitar kita. Dalam segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, kita harus sadar bahwa kita adalah wakil dan duta besar kerajaan Tuhan di dunia. Selain itu, kabar baik yang kita sampaikan kepada seisi dunia, bukan saja mengenai kebahagiaan di surga tetapi juga mengenai keadilan sosial dan kesehatan lingkungan yang seharusnya bisa dinikmati setiap manusia di dunia. Untuk menggali lebih dalam topik tentang melestarikan lingkungan, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 2:15 dan Ulangan 20:19-20. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bangsa Israel ketika memerangi musuh mereka? (Ulangan 20:19-20) Di kitab Kejadian dinyatakan bahwa seluruh alam semesta ini merupakan karya Tuhan yang diciptakan dengan sangat baik. Tugas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia? (Kejadian 2:15) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Lupa BERTERIMA KASIH

Kami ingat dengan nasihat dari orang bijak: “Tuliskanlah segala kebaikan yang kamu terima di loh hatimu, sebaliknya tuliskanlah segala kebaikan yang telah kamu perbuat untuk orang lain di pasir dekat laut.” Kami terus mengingat dan berusaha mempraktikkan nasihat tersebut. Sahabat untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Lupa BERTERIMA KASIH”, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Lukas 17:11-19.  Dikisahkan saat itu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Ia baru masuk ke sebuah desa. Saat itulah, ada sepuluh orang kusta meminta belas kasih-Nya dan memohon kepada Yesus agar ditahirkan. Sahabat, orang Yahudi menganggap penyakit kusta sebagai hukuman atas dosa tertentu dan mengucilkan penderitanya. Itulah sebabnya mereka hanya berteriak dari kejauhan, “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (ayat 13). Mereka tidak dapat mendekati Yesus karena hukum Ibrani melarang orang kusta mendekati siapa pun. Sepuluh orang kusta itu tidak langsung meminta Yesus memberi kesembuhan. Mereka hanya meminta belas kasih-Nya agar sudi melihat penderitaan mereka. Sahabat, Yesus mendengar teriakan mereka dan menunjukkan kasih-Nya. Akan tetapi, apa yang Ia lakukan kemudian? Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Ia pun tidak menjanjikan kesembuhan. Yesus terlebih dahulu ingin menguji ketaatan mereka. Ia memerintahkan agar mereka pergi menemui imam (ayat 14). Ternyata, para penderita kusta itu memiliki iman untuk menaati Yesus. Mereka menerima ujian dan membuktikan ketaatannya. Setelah itu, kesembuhan pun terjadi. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Mengapa kita perlu berterima kasih kepada Tuhan? Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 17 dan 18? Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 19? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Terus BERBUAH dan Semakin BERKUALITAS

Sahabat, pada hari ini,  saya sungguh bersyukur kepada Tuhan dapat merayakan ulang tahun yang  ke-65 bersama istri tercinta. Tuhan bukan hanya menciptakan kami tapi juga memelihara kami. Semoga di usia emas, kami dapat terus menceritakan bahwa Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Berkaitan dengan ulang tahun saya tersebut,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 92:13-16. Kami rindu dapat menikmati umur panjang dan tetap sehat, dan terus dapat menceritakan pengalaman hidup kami bersama Tuhan. Kami ingin seperti pohon kurma, di usia emas, kami ingin tetap berbuah dan buahnya semakin berkualitas. Sahabat, bukan tanpa alasan jika pemazmur menggambarkan kehidupan yang benar akan bertunas seperti pohon kurma.  Pohon kurma atau pohon palem adalah salah satu jenis pohon yang paling sering ditulis di dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama.  Pasti ada alasannya mengapa Tuhan sering menggunakan lambang pohon kurma ini di dalam firman-Nya. Proses perjuangan pohon kurma untuk bertumbuh dan menghasilkan buah meski hidup di tengah padang gurun adalah simbol dari kehidupan orang percaya yang dikehendaki Tuhan.  Berakar kuat, terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang lebat meski harus diperhadapkan pada masalah dan penderitaan.  Masalah dan penderitaan adalah proses menuju kepada pendewasaan iman (Yakobus 1:12).  Untuk menjadi orang percaya yang bertumbuh dan berbuah sampai masa tua, tidak ada jalan lain selain harus berakar kuat kepada Tuhan Yesus yang adalah Sumber Air Kehidupan.  Tuhan menghendaki agar anak-anak-Nya menjadi seperti pohon kurma, tetap kuat dan menghasilkan buah meski di tengah kegersangan dan badai kehidupan. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan  apa yang harus kamu lakukan agar walaupun usiamu terus bertambah, namun kamu dapat terus berbuah bahkan buahmu semakin berkualitas. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MEMERHATIKAN dan MENGASIHI

Sahabat, saya yakin, kita semua memiliki puluhan,  ratusan bahkan ribuan teman, tapi diantara mereka tentu ada yang menjadi sahabat, bahkan sahabat spesial atau sahabat kental.   Rasul Yohanes menulis 3 surat. Surat pertama Rasul Yohanes menulis  kepada anak-anak rohaninya secara umum (Surat 1 Yohanes). Surat kedua kepada seorang “ibu yang terpilih dan anak-anaknya” (Surat 2 Yohanes). Surat ketiga Rasul Yohanes ditujukan kepada Gayus, yang merupakan salah seorang anak rohaninya. Rasul Yohanes sangat mengasihi Gayus sehingga ia menulis surat khusus kepadanya, Itu berarti Gayus sangat spesial dalam kehidupan Rasul Yohanes. Dalam  bagian awal surat ini,   kita dapat melihat bagaimana sikap Yohanes yang sungguh sangat memerhatikan Gayus sebagai anak rohaninya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengasihi sahabat kita seperti Rasul Yohanes mengasihi Gayus? Sudahkah kita memperhatikan, mendoakan, mengasihi, bahkan memberikan dukungan kepada mereka? Mungkin apa yang kita lakukan seperti mengirimkan WA yang berisi ayat-ayat Alkitab, atau mendoakan mereka dalam doa syafaat kita kelihatannya hanyalah hal sepele, tetapi dalam Tuhan, apapun yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia, selama kita melakukannya dengan tulus, dan dengan motivasi yang benar. Tuhan Yesus berkata, “… barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Matius 10:42). Sahabat, untuk mengenal lebih jauh hubungan Rasul Yohanes dengan Gayus, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari surat 3 Yohanes 1:1-4. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Bagaimana hubungan antara Rasul Yohanes dan Gayus? (ayat 1) Apa yang dilakukan Rasul Yohanes untuk Gayus? (ayat 2) Apa yang dirasakan oleh Rasul Yohanes ketika dia mendengar kabar tentang Gayus? (ayat 3-4) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

TUHAN menyediakan UPAH

Sahabat, tanpa sadar kadang-kadang kita mengadakan hitung-hitungan dengan Tuhan!  Seharusnya selagi tubuh kita masih sehat dan kesempatan masih terbuka, mari kita maksimalkan semua potensi yang ada di dalam diri untuk melayani Tuhan dan melakukan yang terbaik bagi Dia, Tuhan menyediakan upah bagi setiap orang yang mau melayani-Nya dengan sepenuh hati (Amsal 14:23).  Kita harus bisa membedakan antara upah dan keselamatan!  Rasul Paulus  menyatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”  (Efesus 2:8-9).   Dari pernyataan tersebut kita dapat mengerti bahwa keselamatan diberikan kepada orang percaya dengan cuma-cuma karena iman kita kepada Kristus, bukan hasil usaha kita, bukan karena perjuangan kita, bukan karena perbuatan baik kita, melainkan pemberian dari Tuhan, oleh karena kasih karunia-Nya semata.  Sedangkan untuk mendapatkan upah ada  harga yang harus kita bayar, kita harus berjuang, kita harus berusaha, kita harus bekerja keras untuk mendapatkannya.  Sahabat, upah terbagi menjadi dua bagian, yaitu upah selama di bumi dan upah di surga.  Pemazmur menyatakan bahwa orang benar tidak pernah ditinggalkan Tuhan  (Mazmur 37:25)  dan diberkati Tuhan  (Mazmur 112:1-3), artinya Tuhan menjamin kehidupan orang benar selama hidup di bumi;  dan ketika sampai di surga nanti, orang benar juga akan mendapatkan upahnya lagi dari Tuhan:  Mahkota kehidupan  (Yakobus 1:12), mahkota kemuliaan  (1 Petrus 5:4), dan berkat-berkat surga lainnya. Untuk menggali lebih dalam tentang perjuangan, ketekunan dan upah yang didapat, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari surat Ibrani 10:32-39. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini: Mengapa kita rela turut mengambil bagian dalam penderitaan? (ayat 34) Mengapa kita tidak boleh melepaskan kepercayaan kita? (ayat 35) Mengapa kita harus bertekun sampai akhir? (ayat 36) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

KETAATAN: Harga yang Harus DIBAYAR

Sahabat, sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.  “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”  (Mazmur 18:26-27). Jadi jelaslah, di mana ada ketaatan di situ ada berkat;  sebaliknya, tak ada ketaatan tak ada berkat.  Jadi Tuhan menuntut ketaatan kita sebagai bukti bahwa kita percaya kepada-Nya dan mengasihi Dia.  Ketaatan kita kepada Tuhan itulah yang akan membawa kita kepada penggenapan janji Tuhan:  berkat, mukjizat, kemenangan, pemeliharaan, perlindungan dan keluputan dari hal-hal yang membahayakan.  Ada cukup banyak orang mengingini berkat Tuhan dan mengalami perkara-perkara besar dari Tuhan, tapi mereka sendiri tak mau membayar harga dalam hidupnya.  Mereka tak mau taat melakukan kehendak Tuhan tapi mengingini berkat Tuhan.  Bagaimana mungkin? Sahabat, Ishak adalah salah satu contoh tokoh yang mengalami berkat Tuhan secara luar biasa karena taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan meski dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 26:1-6 dan Kejadian 26:12-31. Ishak adalah satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham. Ikatan perjanjian itu diteruskan kepada Yakub. Melalui Yakub lahirlah dua belas suku Israel. Meskipun Ishak adalah orang yang diberkati Allah, namun ia juga menghadapi masalah, tantangan, dan kesulitan, seperti kita juga. Saat itu terjadi bencana kelaparan di beberapa wilayah, termasuk Gerar. Ishak berniat mengungsi ke tanah Mesir, tetapi Allah mencegahnya dan menyuruh Ishak menetap di Gerar sebagai orang asing. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang diperoleh Ishak ketika dia taat menjalankan kehendak Tuhan? (ayat 12-13) Mengapa orang Filistin marah dan apa yang dilakukan oleh mereka? (ayat 14-15) Apa tanggapan Ishak terhadap tindakan Abimelekh yang sewenang-wenang? (ayat 16-17) Apa reaksi Ishak terhadap tindakan orang-orang Gerar yang mau menangnya sendiri? (ayat 19-22) Apa pengakuan Abimelekh tentang Ishak dan bagaimana tanggapan Ishak? Pada akhirnya apa yang terjadi antara Abimelekh dan Ishak? (ayat 26-31) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).   

ATURAN dan KEBIJAKSANAAN TUHAN

Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa untuk segala sesuatu ada  waktunya.  Dalam dunia pertanian, ada waktu untuk:  membajak, mencangkul, menyiangi, menabur, dan memanen.   Jadi tidak seluruh waktu harus digunakan untuk membajak, atau tidak seluruh waktu kita gunakan untuk menabur saja, sebab nantinya juga ada waktu untuk memanen. (Pengkhotbah 3:1-2).       Dalam kitab Imamat 26:3-5a tertulis,  “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan  pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.  Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. …”   Berkat disediakan bagi umat yang hidup menurut ketetapan Tuhan dan perjanjian-Nya. Saya ingat satu paribasan dalam bahasa Jawa yang diajarkan ketika saya duduk di bangku SD , “Desa mawa cara, negara mawa tata”,  artinya setiap tempat atau setiap daerah mempunyai adat dan aturan sendiri-sendiri.  Pribahasa tersebut dipakai untuk menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki adat kebiasaannya masing-masing.  Jika sebuah desa atau negara saja memiliki tata aturannya sendiri, begitu juga Tuhan. Dia memiliki aturan dan  kebijaksanaan sendiri untuk menata kehidupan manusia. Sahabat, untuk mendalami masalah aturan dan kebijaksanaan Tuhan, Bacaan Sabda saya ambil dari  Yesaya 28:23-29. Firman Tuhan yang menjadi bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah metafora yang mengambil latar pertanian untuk menunjukkan aturan dan kebijaksanaan Tuhan. Di bacaan kita, petani itu adalah nabi Yesaya yang melaksanakan kehendak Allah, yaitu menyampaikan pesan Allah kepada umat-Nya dan kepada semua pembesar. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Tolong tuliskan pemahamanmu tentang pekerjaan seorang petani berdasarkan ayat 24-27. Tolong tuliskan pemahamanmu tentang apa yang akan dilakukan oleh Tuhan berdasarkan ayat 28. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)