JALAN TUHAN

Sesungguhnya untuk mencapai suatu tujuan, hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju.  Begitu juga bila kita salah dalam memilih jalan akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan,  “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”  (Amsal 14:12). Sahabat, Daud berkata,  “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.”  (Mazmur 25:10).  Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri.  Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu,  “… lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14).  Ada ungkapan yang mengatakan, “You are what you believe.”  Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita.  Jika kita percaya kepada uang maka perjalanan hidup kita akan sama seperti uang yang mengalami fluktuasi, yaitu keadaan turun-naik harga;  ketidaktepatan atau guncangan.  Namun bila kita percaya kepada Tuhan Yesus dan memercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya, keberadaan hidup kita akan seteguh batu karang yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai apa pun. Bacaan Sabda: Amsal 3:5-8 dan Mazmur 143:8. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

SUKACITA SEJATI: Buah dari Karya Iman

Sukacita adalah sebuah ungkapan rasa ketika kita berhasil menggapai keinginan hati kita. Namun, pernahkah kita mengaitkan sukacita dengan pemeliharaan Allah secara nyata dalam hidup? Lalu bagaimana kita mendapatkan sukacita sejati? Sahabat, Daud menjelaskan perihal sukacita sejati ketika ia menguraikan keberhasilan seorang raja yang berjalan bersama Tuhan. Kebanggaan diperoleh bukan sekadar karena keberhasilan dalam kehidupan atau pun kemenangan dalam peperangan, melainkan semata-mata karena karya Allah dalam hidup orang beriman. Memang tidak mudah meletakkan segala orientasi hidup kita kepada Allah. Namun, oleh Kristus kita telah diberikan pemahaman tentang Allah yang benar dan ditunjukkan tentang keberadaan Allah secara nyata dalam hidup (Yohanes 1:18; dan 17:3). Jalan untuk mendapatkan sukacita hanyalah dengan menerapkan iman sejati dalam kehidupan keseharian. Sahabat, iman yang sejati akan menghadirkan sukacita karena karya Allah dalam hidup orang percaya. Persoalannya adalah apakah kita mendasarkan sukacita pada hal yang bersifat sementara, atau hanya untuk memuaskan keinginan mata dan kedagingan kita. Sesungguhnya, sukacita sejati adalah buah dari karya iman yang kita terima dari Allah! Bacaan Sabda: Mazmur 21:1-14. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

Kuasa Tuhan BEKERJA Untuk Kita

Saat keadaan aman dan segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar, kita sangat mudah dan ringan saja untuk berkata bahwa kita beriman dan percaya kepada Tuhan. Bagaimana jika dalam situasi serba darurat dan mencekam seperti saat ini? Sahabat, sesungguhnya Allah di dalam nama Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman, bahkan di tengah kesulitan yang dahsyat sekali pun.  Keamanan, meskipun dalam situasi yang sulit,  akan tetap menjadi milik setiap orang yang tahu bahwa Allah adalah pembebasnya.  Putus asa pun tidak akan dialami. Memercayai dengan sungguh bahwa Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman,  membuat seseorang berada dalam sebuah kedamaian yang sempurna, tiada rasa panik, sebab ia tahu Tuhan akan menjaganya.  Sahabat, apa pun yang terjadi dalam hidup ini, menjaga pikiran untuk selalu tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus serta memelihara firman-Nya dalam hati adalah dua hal yang sangat penting.  Dalam perlindungan-Nya kita akan hidup dalam damai, bahkan melihat kuasa Tuhan bekerja untuk kita.  Bacaan Sabda: Yesaya 26:1-21. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

BERSERULAH kepada TUHAN

Bartimeus, seorang pengemis yang buta, ketika mendengar bahwa Tuhan Yesus sedang lewat, mulai berseru,  “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”  (Markus 10:47).  Meski ditegor oleh banyak orang supaya ia diam, ia semakin keras berseru,  “Anak Daud, kasihanilah aku!”  (Markus 10:48).  Mendengar seruan Bartimeus Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan memberi pertolongan.  “Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”  (Markus 10:52-b).  Daud, sebelum menjadi raja, kehidupannya diwarnai dengan penderitaan yang disebabkan oleh orang-orang terdekatnya.  Salah satunya adalah Saul yang merupakan mertuanya sendiri.  Bagi Daud, Saul bukan sekadar mertua, tetapi juga seorang raja, pemimpin, panutan yang seharusnya mengayomi, tapi Saul justru berbuat yang sebaliknya yaitu ingin melenyapkan Daud.  Dalam keadaan terjepit Daud pun berseru-seru kepada Tuhan,  “Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.”  (Mazmur 57:3). Sahabat, apakah saat ini kamu sedang berbeban berat?  Datanglah kepada Tuhan dan berserulah kepada-Nya dengan iman, jangan sekali-kali mencari pertolongan di luar Dia. Bacaan Sabda: Yeremia 33:1-13. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

SANG KUASA dan PEMURAH

Sahabat, bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 147:1-20. Mazmur haleluya yang kedua tersebut  unik karena disusun menjadi tiga bagian (ayat 1-6, 7-11, dan 12-20) yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Namun sesungguguhnya  mazmur tersebut menyatu dengan tema: “Kuasa dan kemurahan Tuhan atas Yerusalem (ayat 2 dan 12) dan atas seluruh alam ciptaan-Nya (ayat 4, 8-9, dan 15-18)”. Sahabat, Mazmur 147  ditulis oleh Daud dan berbicara tentang kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Dia akan menyatakan kuasa-Nya kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Begitu pula dengan kemurahan-Nya, semua disediakan bagi orang-orang yang takut akan Dia. Kalau kita perhatikan di dalam kitab Kejadian di bagian awal-awal penciptaan manusia, Tuhan sempat menyesal telah menjadikan manusia, karena waktu itu perbuatan manuasia di bumi sangat jahat dan tidak lagi menghiraukan Tuhan,  “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi di bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6). Sahabat, hati Tuhan akan senang bila kita senantiasa mau memuji dan bermazmur bagi-Nya dalam segala keadaan sebab Tuhan sangat menyukai pujian yang dinaikkan dengan hati tulus. Tuhan sangat senang bila kita benar-benar menjadikan-Nya prioritas utama dalam hidup, yang berarti kita mengasihi-Nya lebih dari semua di dunia ini. Tanda dari orang yang mengasihi Tuhan adalah setia melakukan kehendak-Nya dengan sepenuh hati, dan jangan sekali-kali meninggalkan-Nya dalam keadaan bagaimana pun, tetaplah melekat pada-Nya dan percayakan segenap hidup kita kepada-Nya saja. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

TUHAN sanggup MEMULIHKAN

Hidup orang percaya merupakan hidup oleh anugerah demi anugerah. Anugerah terbesar yang kita peroleh ialah pengampunan dosa dan hidup yang kekal. Dalam menjalani hidup ini, anugerah demi anugerah terus menerus menopang kita sampai Kristus menjemput kita ke surga yang baka! Sahabat, di masa-masa yang sulit seperti saat ini kita harus semakin mendekat dan melekat kepada Tuhan, sebab seberat dan seburuk apa pun keadaan saat ini, TUHAN sanggup MEMULIHKAN.  Ia memiliki rancangan terbaik bagi setiap umat-Nya yang mau datang kepada-Nya. Tuhan berkata,  “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  (Yeremia 29:11).  Tuhan Yesus bersabda, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”  (Yohanes 10:10-b). Sahabat, mengapa kita masih belum mengalami dan menikmati rancangan Tuhan yang baik tersebut?  Karena kita belum mengerti bagaimana meraih janji yang telah disediakan Tuhan itu!  Jika kita taat atau menempuh jalan yang sudah Tuhan tentukan, semua janji Tuhan akan berlaku atas hidup kita,   “…apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;”  (Yeremia 29:12). Berseru bukan sekadar berdoa meminta apa yang kita perlukan;  berseru berarti mengungkapkan isi hati dengan segenap kekuatan kita. Bacaan Sabda: Mazmur 126:1-6. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

BEKERJALAH seperti untuk TUHAN

Ketika Allah memanggil kita untuk menjadi percaya, Dia juga memberi kita panggilan untuk menjadi saksi bagi kemuliaan-Nya di dunia. Karena Allah memilih kita untuk mempersiapkan yang terbaik untuk kita. Dia tidak memanggil kita tanpa mengubah dan membentuk kita. Dia memberikan Roh Kudus untuk memproses kita setiap hari, agar kita dapat menjadi saksi Kristus. Sesungguhnya manusia adalah homo faber (makhluk yang bekerja). Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus bekerja dan berusaha. Manusia purba bekerja dengan berburu, lalu belajar bercocok tanam, dan kemudian menghasilkan barang melalui proses produksi, mulai dari berskala kecil sampai massal. Manusia bekerja untuk mengaktualisasikan diri, sekaligus untuk memenuhi kepuasan batin. Karenanya, bekerja juga memiliki makna spiritual. Sahabat, Rasul Paulus, seorang pemberita Injil, juga bekerja sebagai seorang pembuat tenda. Ia menasihati jemaat Tesalonika supaya mereka giat bekerja. Paulus menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan. Paulus tidak mau menjadi beban bagi orang lain, karena itu, ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Dengan tegas Paulus mengatakan kalau orang tidak mau bekerja, janganlah orang itu makan! BEKERJALAH seperti untuk TUHAN! Sahabat, lihatlah hasilnya, bukan hanya kebutuhan hidup kita terpenuhi, tapi batin pun menjadi kaya. Bacaan Sabda: 2 Tesalonika 3:1-15. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

Rangkullah KEBEBASAN HIDUP Kita

Saya ingat pepatah dalam bahasa Inggris, kalau diterjemahkan bebas, kira-kira bunyinya demikian,   “Khawatir itu seperti duduk di kursi goyang. Dia memberi Anda sesuatu untuk dilakukan, tetapi tidak membawa Anda kemana-mana.” Sahabat, saat ini banyak orang terbelenggu dalam penjara kekhawatiran. Mulai dari perasaan resah dan gelisah sepanjang hari, tidak dapat tidur pulas di malam hari, sampai akhirnya menjadi depresi. Ironisnya karena cukup banyak  orang percaya termasuk di dalamnya! Mengapa?  Sekalipun bertuhan, mereka tidak yakin Tuhan memelihara. Sekalipun sudah berdoa kepada  Tuhan, mereka tidak yakin Tuhan mampu menolong. Atau, sekalipun mereka yakin Tuhan mampu menolong, mereka tidak yakin Tuhan mau menolong . Tuhan Yesus tidak mau anak-anak-Nya tersiksa dalam penjara kekhawatiran. Berulang kali Dia menasihatkan untuk tidak khawatir! Jika Tuhan memelihara burung-burung di udara, mungkinkah Dia tidak memelihara kita? Jika Tuhan mampu mendandani bunga bakung sampai sedemikian cantiknya, mungkinkah Dia tidak mampu menolong kita melewati pandemi? Ingat, kekhawatiran tidak akan dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidup kita.  Kekhawatiran justru akan menghabiskan energi mental kita. Bukankah sia-sia kalau kita mau dibelenggu olehnya? Karena itu RANGKULLAH KEBEBASAN HIDUP KITA dengan sepenuhnya memercayai kasih dan kuasa Tuhan. Bacaan Sabda: Matius 6:25-34 dan Filipi 4:6. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

MEMERCAYAI TUHAN Sepenuhnya

Menunggu bagi banyak orang merupakan sesuatu yang membosankan. Tidak jarang pula orang menjadi kesal ketika menunggu. Dalam Alkitab, kata menanti atau menunggu  sering diarahkan lebih kepada sikap ketimbang sekadar kata kerja aktif. Menantikan Tuhan, itu artinya memercayai Dia sepenuhnya. Itu sebuah sikap yang kemunculannya akan sangat tergantung dari seberapa besar kita memercayai Tuhan dalam segala permasalahan yang kita hadapi. Sahabat, menantikan Tuhan itu artinya percaya sepenuhnya kepada-Nya, menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan-Nya. Menantikan Tuhan juga membawa banyak kebaikan bagi kita. Bagi orang yang tekun menantikan Tuhan, dia tidak akan mendapat malu, “… Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu.”(Yesaya 49:23). Selain itu, orang yang menantikan Tuhan juga dikatakan akan mendapatkan kekuatan baru, “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31) bahkan dikatakan pula akan mewarisi negeri, “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.” (Mazmur 37:9). Bacaan Sabda: Mazmur 27: 1 – 14. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

PERTIMBANGAN dan HIKMAT

Sahabat, sejatinya setiap hari kehidupan kita diwarnai dengan pengambilan keputusan demi keputusan. Ada keputusan kecil, sedang, maupun besar dengan dampak atau risiko minimal atau risiko yang cukup besar. Apakah Sahabat termasuk orang yang dikenal berhati-hati saat mengambil keputusan, terutama untuk keputusan-keputusan besar, jangka panjang, atau berisiko tinggi? Jika ya, maka berbahagialah Anda! Mengapa? Karena Anda tidak hanya sedang menaati nasihat firman Tuhan yang hari ini kita renungkan,  tetapi juga sedang menjaga hidup Anda dari hal-hal yang dapat berakibat buruk hingga berdampak fatal! Sahabat, para ahli juga menasihatkan agar kita tidak mengambil keputusan penting dalam kondisi jiwa tidak tenang, tertekan, atau saat fisik kita dalam keadaan kurang fit. Bacaan Sabda: Amsal 3:19 – 24. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)