Menjadi SAHABAT KARIB Tuhan

Saya memberi nama kategori renungan saya di website Christopherus: ”Karib Dengan Tuhan.” Mengapa? Karena kekariban  dengan Tuhan membuat kita semakin mudah mengerti kemauan-Nya. Kita semakin mengerti apa yang menjadi kesenangan-Nya. Kita semakin mengerti rancangan-Nya atas hidup kita. Sahabat, pemahaman tersebut saya peroleh dari pengalaman pergaulan dengan teman-teman sehari-hari. Saya yakin, kita punya cukup banyak teman, tapi berapa banyak yang menjadi teman dekat atau teman kental? Kalau saya lebih senang menggunakan istilah sahabat karib. Dengan sahabat karib kita bisa saling curhat secara terbuka. Dengan sahabat karib, kita lebih mengenal sifat, kebiasaan dan kesenangannya. Kadang sebelum dia berbicara, kita sudah tahu apa maunya. Nah, demikian pula dengan Musa. Ia menjadi sahabat karib  Tuhan. Bahkan ia bisa mengungkapkan keinginan dan pergumulannya secara  langsung kepada Tuhan dengan berhadapan muka. Sahabat, padahal kita tahu, tidak seorang pun yang dapat melihat Allah dan tetap hidup. Hanya orang yang suci hatinya yang dapat melihat Allah (Matius 5:8). Setelah peristiwa anak lembu emas, Musa membentangkan sebuah kemah di luar perkemahan orang Israel agar setiap orang yang mencari Tuhan dapat datang ke kemah tersebut. Hal tersebut merupakan anugerah bagi bangsa Israel, mengingat mereka adalah bangsa pemberontak. Dosa menghalangi keakraban mereka dengan Tuhan. Namun anugerah-Nya tetap nyata bagi mereka melalui Kemah Pertemuan. Di Kemah Pertemuan tersebut, Tuhan berbicara dan menyatakan janji penyertaan kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. Bacaan Sabda: Keluaran 33:1-23. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Tolong tuliskan 2 berkat yang akan kita terima jika kita menjadi sahabat karib Tuhan. Tuhan memberkati. (pg)

MEWARNAI Segala Aspek KEHIDUPAN Kita

Pada tahun 2008 dirilis sebuah lagu yang berjudul “Ingat Kamu” yang dinyanyikan oleh Duo Maia. Bagian refrainnya berbunyi:  “Aku mau makan kuingat kamu. Aku mau tidur juga ingat kamu. Aku mau pergi kuingat kamu. Oh cinta … mengapa semua serba kamu.” Ketika kita mencintai seseorang, ia mewarnai segala aspek kehidupan kita. Persoalannya menjadi berbeda dalam hubungan dengan Allah. Aneh memang. Dengan Allah, kita malah penuh perhitungan. Ini buat Allah, ini bagianku. Ini urusan Allah, ini urusanku. Ini hidupku, jangan jadi urusan Allah. Aku makan, ya makan tanpa perlu ingat Dia yang memberi makan. Aku hidup, ya hidup tanpa bersyukur kepada sang Pemberi hidup. Sahabat, menurut Rasul Paulus, Allah dan segala keputusan-Nya begitu besar, luas dan akbar, tak terselami oleh akal budi manusia. Manusia tidak mampu menyelami pikiran dan keputusan Allah. Manusia tidak mampu mengetahui persis isi hati Allah. Dia Mahabesar dan kita manusia teramat kecil. Yang pasti, pikiran dan hikmat Allah itu tentu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pikiran dan hikmat manusia. Keputusan-Nya pastilah benar dan tidak pernah salah. Rasul Paulus mengingatkan bahwa Allah tidak memerlukan nasihat manusia. Manusialah yang membutuhkan nasihat dan perintah Allah. Sesungguhnya semua bermula dan berakhir pada Allah. Karena itu kita hidup bukan untuk memuaskan ambisi pribadi, melainkan untuk memuliakan Allah. Apa yang dimiliki, dirasakan, dijalani, diperoleh dan dilakukan manusia semata-mata dari Allah, oleh Allah, dan kepada Allah. Manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Kesadaran akan hal tersebut semestinya membuat kita melakukan segala sesuatu dengan kesadaran akan pertanggungjawaban kepada Tuhan. Bacaan Sabda: Roma 11:25-36. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

Sang Panjunan dan Tanah Liat

Sesungguhnya, Tuhan selalu punya cara membentuk dan memroses kita, bisa melalui masalah, ujian, penderitaan, sakit-penyakit, krisis keuangan, bahkan melalui berkat atau kelimpahan. Tuhan memiliki hak penuh atas hidup kita karena Dialah Sang Panjunan, sedangkan kita ini adalah tanah liat, karena itu Ia akan membentuk kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.  Sahabat, sebagai tanah liat kita tidak dapat menentukan sendiri akan menjadi perkakas yang bagaimana dan seperti apa kita ini karena hal itu sepenuhnya tergantung dari Sang Panjunan. Dari tanah liat yang sama, Sang Panjunan bisa  dan berhak  menciptakan sesuatu, entah itu pot bunga, kendi, kuali, tempayan, jun,  celengan, anglo, wajan, cobek, panci, poci, guci, dan lain sebagainya.    Bagaimana supaya kita menjadi perkakas yang mulia?  Tidak ada jalan lain selain kita harus tunduk, taat dan berserah penuh kepada Tuhan, menanggalkan manusia lama dan hidup sebagai manusia baru. Bacaan Sabda: Roma 9:19-29. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

TUHAN punya BANYAK CARA untuk MEWUJUDKAN Rancangan-Nya

Ada cukup banyak orang yang berpikir bahwa mereka dapat, dan bahkan harus menghitung-hitung segala tindakan dan keadaan untuk dapat menentukan hari depannya. “Masa depan kita ada di tangan kita sendiri”, begitu ungkapan yang sering kita dengar. Mungkin ada diantara kita yang pernah mendengar berbagai nasihat serupa dari beberapa orang  motivator, pesohor dan orang yang sukses dalam bisnisnya. Bagi mereka, segala segi kehidupan dapat dan harus diperhitungkan seperti layaknya menghitung satu ditambah satu saja. Sahabat, ada pula banyak orang yang berpendapat bahwa hidup ini tidaklah semudah apa yang bisa diprediksikan berdasarkan berbagai ilmu perhitungan. Ada banyak faktor yang tidak diketahui, unknown factors, yang bisa mempengaruhi hasil usaha manusia. Mereka menyebutnya sebagai unsur keberuntungan atau luck yang tidak bisa diduga. Karena itu mereka berpendapat  bahwa orang-orang yang tidak “bejo” hidupnya, tentu kurang berhasil sekalipun mereka sudah bekerja keras. Sebaliknya, ada juga orang-orang yang sukses sekalipun nampaknya santai-santai saja. Bagi orang percaya, segala sesuatu ada dalam rancangan Tuhan. Dalam hal ini, jalan pemikiran Tuhan sangat sulit ditebak manusia karena Tuhan mempunyai banyak cara untuk mencapai tujuan-Nya. Jika manusia berusaha menerka apa yang akan dilakukan Tuhan dalam hidup mereka, itu adalah sesuatu yang sia-sia,  jika Tuhan sendiri tidak mau menjelaskannya kepada mereka. Tuhan yang mahakuasa akan mewujudkan semua rancangan-Nya tanpa terpengaruh oleh tindakan manusia. Bacaan Sabda: 2 Petrus 1:16-21 dan Mazmur 139:17-18. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

MENGUNGKIT Kesalahan dan Dosa Masa Lalu

Rasa bersalah dan takut berlebihan dapat menghalangi kita melihat kasih dan anugerah Tuhan. Pengalaman dan pengetahuan kita yang terbatas sering membuat kita meragukan pengampunan tuntas Bapa yang menerima kembalinya anak yang hilang. Dalam keadaan demikian, seharusnya imanlah yang berbicara. Jika Tuhan tidak lagi mengingat dosa kita, masihkah perlu kita terus mengungkit kesalahan dan dosa masa lalu kita sendiri? Sahabat, seringkali timbul pergumulan dalam hati kita: “Apakah Tuhan sungguh melupakan dosa saya? Benarkah Dia telah mengampuni saya sepenuhnya?” Pertanyaan tersebut  ada kalanya muncul begitu saja di benak kita. Mungkin ada ketakutan yang besar setelah kita melakukan dosa. Atau ada rasa tidak layak yang menyiksa. Bisa juga rasa bersalah menindas dan melenyapkan sukacita kita. Sesungguhnya Tuhan kita adalah Tuhan yang baik dan pengampun. Itulah yang dialami dan dikisahkan kembali oleh Daud. Memang dosa Daud tercatat dalam Alkitab dan tidak pernah dapat dihapus sepanjang sejarah umat manusia. Tetapi oleh kebaikan Tuhan, dosa itu sudah Tuhan ampuni.  Bacaan Sabda: Mamur 103:1-22 dan Yesaya 1:18. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

HIDUP DAMAI dengan MEREKA yang BERBEDA

Sejak dahulu kala para pendiri negara Republik Indonesia (RI) telah menetapkan bahwa semboyan bangsa Indonesia: “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Syukur kepada Tuhan, para pendiri negara RI telah diberi hikmat oleh Tuhan untuk mengayomi suku bangsa di Indonesia yang lebih dari 1.000 suku bangsa dengan menetapkan semboyan negara RI tersebut. Sahabat, para Pendiri Negara RI menyadari bahwa lebih dari 1.000 suku bangsa kita hidup di bumi yang sama, di kolong langit yang sama, di bawah mentari yang sama. Karena itu mereka sejak awal punya kesadaran bahwa siapa pun yang tinggal di Indonesia,  kerelaan untuk berbagi ruang hidup dengan semua suku bangsa adalah keharusan yang tak boleh ditawar. Memang bagi sebagian orang, hal tersebut  sama sekali bukan masalah. Namun oleh sebagian yang lain, berbagi ruang hidup dengan suku bangsa yang berbeda dinilai sebagai kesalahan besar, bahkan ancaman. Masih ada orang yang mengeklaim ruang hidup bersama sebagai ruang hidupnya sendiri bersama mereka yang sama, dan menampik kehadiran siapa pun yang berbeda. Sahabat, di awal pertumbuhan gereja, jemaat keturunan Yahudi menolak menerima warga non-Yahudi. Karena alasan-alasan primordialisme, mereka menilai warga non-Yahudi tidak layak untuk ada bersama dengan mereka. Untuk itu, maka  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 15:1-13. Mari kita merenungkan nasihat Rasul Paulus tersebut. Berkat dan pemahaman apa saja yang Sahabat dapatkan? Tuhan memberkati. (pg)

ALLAH sumber KEKUATAN dan BERKAT

Sahabat, Bacaan Sabda kita hari ini saya ambil dari kitab Kejadian 14:17-24.  Sangat menarik, dengan sengaja penulis menyisipkan kisah tentang Abram dengan Melkisedek (ayat 18-20) di tengah kisah Abram dengan raja Sodom (ayat 17, 21-24). Hal tersebut menunjukkan bahwa penulis hendak mengontraskan sikap Abram terhadap Melkisedek dengan sikapnya terhadap raja Sodom. Melkisedek adalah raja Salem (raja Yerusalem), sekaligus sebagai  imam Allah yang Maha tinggi (ayat 18). Ia datang membawa roti dan anggur serta memberkati Abram. Abram merespons dengan memberikan perpuluhan (ayat 19-20). Sedangkan Raja Sodom yang musuh-musuhnya telah dikalahkan oleh Abram (ayat 14:1-16) datang untuk mengambil orang-orangnya yang telah ditolong oleh Abram. Ia bermaksud memberikan semua jarahan yang telah dimenangkan dalam pertempuran tersebut kepada Abram. Bisa jadi sebagian jarahan tersebut merupakan harta Sodom yang telah diambil musuhnya. Namun Abram sama sekali tidak mau mengambil apa pun, supaya jangan ada perbincangan bahwa raja Sodom telah membuat Abram kaya (ayat 21-24). Sahabat, sikap Abram yang begitu menghormati Melkisedek, tetapi tidak mengindahkan raja Sodom menunjukkan bahwa ia lebih menghormati orang yang takut akan Allah. Walaupun bersikap baik terhadap raja Sodom akan memberikan keuntungan secara finansial, tetapi Abram menolak harta dari raja Sodom. Sebaliknya Abram malah memberikan perpuluhan kepada Melkisedek. Bagi Abram bukan harta yang penting, tetapi siapa orang tersebut di mata Allah. Penolakan Abram didasarkan pada keyakinannya bahwa Allah adalah sumber kekuatan dan berkat. Itu sebabnya ia menyambut berkat yang diberikan Melkisedek dan menolak pemberian Raja Sodom. Sahabat, mari kita renungkan sejenak Bacaan Sabda kita pada hari ini. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

BERSYUKURLAH dan PUJILAH

Sahabat, sesungguhnya Allah menginginkan kita bukan hanya sehat secara rohani, tetapi juga secara jasmani. Lalu bagaimana kita dapat mendapatkannya? Apa yang harus kita lakukan. Di dunia medis ada alat yang namanya “Heart Rate Variability Monitor”. Fungsinya untuk mengukur ritme/irama detak jantung seseorang. Idealnya irama atau ritme detak jatung dari detak satu ke detak yang lain itu teratur dan seimbang. Penelitian HeartMath Institute mengungkapkan bahwa penghargaan, pujian, belas kasihan, kemurahan hati dan ucapan syukur dapat menciptakan ritme detak jantung seseorang menjadi seimbang dan selaras. Hal tersebut menyebabkan seseorang merasakan kedamaian dan terhindar dari stres. Sahabat, dalam tradisi Yahudi bersyukur dan memuji Allah adalah ciri kesalehan. Sedangkan Tuhan Yesus memusatkan tindakan dan ajaran-Nya pada kasih. Ia mengajarkan agar setiap orang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti dirinya sendiri. Prinsip tersebut di atas secara ilmiah mengungkapkan bahwa seseorang yang bersyukur dan membiasakan memuji, dengan cepat akan berpindah dari frustrasi, depresi, khawatir, jengkel, marah atau benci kepada penghargaan dan kedamaian. Demikian pula mereka yang menanggapi segala sesuatu dengan puas, nrima, lega, iklas, sabar, penghargaan, pengampunan, sukacita, kasih dan belas kasihan menjadi orang yang sangat damai dalam hidupnya.    Bacaan Sabda: Mazmur 100:1-5. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

Ketika TUHAN Terasa BEGITU JAUH

Salah satu lagu Bimbo yang menjadi favorit saya  berjudul: “Tuhan”.  Penggalan liriknya berbunyi, “Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat.”  Para seniman  tampaknya sering digelisahkan oleh kehadiran Tuhan. Kapankah kehadiran Tuhan menjadi persoalan bagi kita? Ketika TUHAN TERASA BEGITU JAUH. Lalu, kapankah Dia terasa begitu jauh? Ketika semua hal dalam hidup ini menjadi porak poranda seperti saat ini. Sahabat, nabi Habakuk menyaksikan hal-hal yang membuatnya putus asa ketika bangsa Yehuda berubah setia kepada Tuhan. Habakuk sudah berseru kepada Tuhan lewat doa-doanya agar Tuhan bertindak mengganjar kelaliman bangsa itu, tapi Tuhan sepertinya terdiam; walaupun pada akhirnya Tuhan bertindak menghukum bangsa Yehuda dengan penyerbuan orang Kasdim (Habakuk 1:5-11). Tindakan Tuhan membuat Habakuk resah dan gelisah, dan lewat pewahyuan Roh Kudus, muncullah pernyataannya yang melegenda: “orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Orang benar akan hidup oleh iman. Di bagian akhir kitab Habakuk kita bisa membaca, ia menemukan alasan untuk tetap bersyukur (Habakuk 3:17-18) meskipun segala sesuatu yang ia doakan tak cepat dijawab oleh Tuhan. Ia tetap setia menunggu, meyakini bahwa Tuhan tak pernah diam untuk segala ketidakadilan yang disaksikannya. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah tidur. Sahabat, sangat mudah kehilangan kepercayaan ketika harapan dan impian kita tak segera mewujud. Namun, iman sejati mewujud dalam hati yang bersukacita, menanti, dan percaya, bahwa rancangan dan tindakan Tuhan selalu mewujud pada waktu-Nya. Bacaan Sabda: Habakuk 1:2-4. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

DUA UNSUR PENTING: Iman dan Perbuatan

Ada dua unsur penting,  iman dan perbuatan.  Seseorang dapat dikatakan memiliki iman bila ia percaya meski belum melihat bukti;  selain itu, seorang beriman taat melakukan apa yang dia imani, apa pun risikonya.  Jadi, iman juga harus disertai perbuatan atau tindakan nyata.  Sahabat, jika kita berbicara mengenai iman tetapi tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita percayai, hal itu adalah sia-sia.  Iman yang sejati bukanlah sekadar perkataan, namun harus diwujudkan ke dalam gaya hidup kita.  Iman yang disertai dengan tindakan pasti membuahkan hasil.  Rahab, perempuan sundal dalam kitab Yosua 2, merupakan penduduk kota Yerikho. Rahab telah mendengar tentang kuasa Allah Israel yang mengalahkan banyak bangsa, dan ia tahu orang Israel sedang menuju Yerikho sementara Allah menyerahkan kota itu ke tangan mereka.  Ketika dua orang pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab melihat itu sebagai kesempatan emas dan ia bertindak  (Yosua 2:1-20).      Sahabat, ketaatan Rahab mengaitkan tali kirmizi menunjukkan imannya pada perkataan para pengintai itu, yang secara tidak langsung merupakan janji Tuhan.  Karena iman pengharapan yang ditaruhnya pada Allahnya yang baru dia kenal, dan disertai tindakan nyata sebagai respons terhadap imannya, Rahab dan segenap keluarganya diselamatkan ketika orang Israel menguasai dan menghancurkan kota Yerikho.  Pelajaran dari hidup Rahab sudah jelas:  iman yang disertai tindakan selalu membuahkan hasil! (Yosua 2:21) Bacaan Sabda: Yakobus 2:14-26. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)