One Episode of Life

LEMBAH KEKELAMAN. Sahabat, di Israel, di jalanan antara Yerusalem dan Yerikho, ada sebuah lembah yang disebut Lembah Kekelaman. Di zamannya,  Raja Daud mungkin telah melalui jalanan itu berkali-kali. Beberapa lembah di sepanjang jalan Yerikho menyempit di bagian dasar, dalamnya sekitar 243 meter. Satu-satunya waktu di mana kita bisa melihat sinar matahari ialah di waktu siang hari dan ketika matahari berada tepat di atas kepala.  Di dalam Alkitab, lembah seringkali dijadikan sebagai metafora untuk masa-masa sulit, masa kegelapan, keputusasaan, kekalahan, atau ketidakberdayaan. Lembah adalah bagian dari kehidupan.  Lembah tidak bisa dihindari. Saat ini kita bisa saja sedang mendaki keluar dari lembah kesukaran atau sedang berada di tengah-tengah kesukaran atau akan menuju lembah kesukaran lainnya, karena inilah yang namanya kehidupan. Kita tidak bisa menghindari lembah kesukaran, tetapi sebaliknya kita bisa melewati lembah itu  BERSAMA dengan TUHAN.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “One Episode of Life (Satu Episode Kehidupan)”. Bacaan Sabda diambil dari: Mazmur 23:1-6 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam salah satu kutipannya Daud mengatakan: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”  (Ayat 4). Mungkin kita pernah berpikir: “Jika Tuhan itu Gembala yang baik, mengapa ada lembah kekelaman?”Dunia penuh dengan tantangan. Setiap saat kita mungkin dihadapkan pada masalah kesehatan, keuangan atau hubungan. Inilah yang disebut LEMBAH KEKELAMAN dalam hidup! Berita baiknya, dalam lembah kekelaman itu kita BERJLAN, bukan TINGGAL atau BERHENTI. Hal itu menunjukkan bahwa lembah kekelaman bersifat SEMENTARA! Ada batas kedaluwarsa bagi setiap persoalan kita.  Sahabat, tantangan yang kita hadapi hari ini mungkin tidak akan berarti di kemudian hari. Satu hal yang pasti, saat kita berjalan, kita tidak dibiarkan sendirian. Tuhan, Gembala yang baik, senantiasa BESERTA kita. Tuhan siap sedia menolong dan menyelamatkan kita. Inilah yang menjadi jaminan bahwa setiap persoalan, tidak peduli entah berat atau ringan, semua pasti akan DAPAT TERSELESAIKAN! Lembah kekelaman seperti apakah yang kita hadapi saat ini? Tidak perlu khawatir ataupun cemas! Yakinlah kita tidak akan selamanya ada di sana! Kita hanya berjalan melewatinya bersama Sang Gembala.  Tidak ada bahaya dapat mengancam kehidupan kita selama kita berjalan bersama Tuhan. Saat persoalan datang menerpa, katakan kepada diri sendiri: “Masalahku akan berlalu. Tangan Gembalaku akan menuntunku berjalan melewati lembah kekelaman sampai akhirnya mataku melihat sinar terang.”  Sahabat, LEMBAH KEKELAMAN seumpana SATU EPISODE KEHIDUPAN yang akan kita lewati bersama dengan Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat pahami dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah jalani lembah kekelaman bersama Tuhan, sebab TUHAN punya rencana dalam setiap lembah yang kita lewati. (pg).

Rely to God

MAZMUR 22. Sahabat, Mazmur 22 menerangkan bahwa Mazmur ini dituliskan oleh Daud, seperti tertulis di ayat 1. “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud”.  Menariknya sebagai sebuah pujian kepada TUHAN Pemazmur memulai nyanyiannya dengan ratapan-ratapan kehidupannya, tetapi kemudian diakhir dengan suatu pengharapan dan pujian akan kekuasaan TUHAN. Oleh karena itu, ketika membaca Mazmur 22, setidaknya kita dapat membaginya menjadi dua bagian.  Pertama menggambarkan ratapan dan permohonan Pemazmur akan perasaannya ditinggalkan oleh Allah (Ayat 1-22); sedangkan bagian kedua (ayat 23-32), menjadi ucapan syukur atau jawaban Pemazmur atas pemeliharaan Allah kepada umat-Nya di masa lalu dan akan datang, sekaligus menyatakan kedaulatan ALLAH atas dunia ini.  Bagian pertama itulah yang akan menjadi bahan renungan kita pada hari ini.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Rely to God (Bersandar pada Allah). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 22:1-22. Sahabat, pergumulan hidup senantiasa terjadi dan dialami orang percaya. Sebab Yesus pernah mengatakan bahwa tekanan dan pergumulan iman akan dialami oleh para murid-Nya (Markus 4:17). Bagaimana sikap hati dan hidup orang percaya saat menghadapi pergumulan iman?Mazmur 22 merupakan buah perenungan Daud saat ia menghadapi pergumulan iman. Di satu sisi, ia mengakui bahwa Allahnya Mahakuasa. Namun, pada saat itu Allah terkesan “berdiam diri” (Ayat 2). Mazmur ini menyingkapkan dengan jelas bagaimana seorang percaya berseru kepada Tuhan dalam pergumulannya: ia berseru, tetapi tetap menyadari bahwa Allah berkuasa dan akan menyelamatkannya (Ayat 4, 9, 11, dan 22).Sahabat, keadaan seperti itu dapat menggoda orang percaya jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Namun, Daud mengajarkan untuk menengadahkan iman ke surga dan melihat bagaimana Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya pada masa lampau, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan kita saat ini? (Ayat 4-6).Untuk sementara imannya dikuatkan, namun perasaan dapat menggoyahkan iman (Ayat 7-9). Maka Pemazmur mengajak kita melihat pada fakta, bukan kepada fenomena. Allah adalah Penolong umat-Nya sejak saat mereka masih tidak berdaya sebagai anak. Jadi, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan umat-Nya (Ayat 10-12)?  Di sinilah Pemazmur mendapatkan kekuatannya kembali bahwa Allah akan menolongnya demi kesetiaan-Nya (Ayat 21). Tugas kita adalah PERCAYA dan BERSANDAR kepada-Nya.Sahabat, masalah utama yang sering kali kita hadapi adalah ketidaksabaran menantikan waktu Allah. Kita mungkin sudah sangat lama mendoakan satu pokok pergumulan, dan kita belum mendapatkan jawabannya. Sebagaimana Pemazmur, kita bisa mengatasi kegalauan pergumulan kalau kita berani BERSANDAR kepada ALLAH. Renungkan karya Allah pada masa lalu dan berpeganglah kepada janji penyertaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-12? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kesusahan dan sakit penyakit menghimpit kita, datang dan berserulah kepada Tuhan. Katakan kepada-Nya: “Tolonglah Aku, ya Tuhan!” (pg).

BERAWAL DARI KEBIJAKSANAAN

Saudaraku, beberapa tahun lalu seorang selebritis Korea Selatan yang terkenal ditemukan meninggal di rumahnya dan diduga ia melakukan bunuh diri.  Beberapa jam sebelum ia bunuh diri, dia merekam video yang berisi curahan hatinya yang tidak tahan dengan komentar negatif di media sosialnya sehingga membuatnya sangat putus asa.  Kasus bunuh diri dengan alasan yang sama makin banyak dijumpai.  Lalu apa kata Alkitab tentang komentar negatif yang dilontarkan manusia?  Mari renungkan Yakobus 3: 5-10 dan Amsal 16:24. Rasul Yakobus memberikan pesan yang sangat penting berkaitan dengan interaksi antar manusia melalui peringatannya tentang fungsi lidah yang memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga digambarkan bagaikan api yang bisa saja membakar segalanya bila tak dikendalikan (Yakobus 3:5).   Peringatan Yakobus diberikan kepada para pengajar yang perlu selalu berhati-hati dengan pengajarannya karena kata-kata seorang pengajar memiliki pengaruh kepada para pendengarnya.  Kata-kata memang dahsyat pengaruhnya dan itulah sebabnya manusia perlu hikmat untuk mengucapkannya.  Amsal menuliskan bahwa kata-kata yang baik akan dimiliki oleh orang yang bijaksana.   Bahkan lebih lanjut ia mengatakan bahwa perkataan yang baik bagaikan madu yang menyehatkan dan mengobati kelemahan (Amsal 16:24).  Ini menunjukkan korelasi antara kebijaksanaan dan perkataan baik yang memberi pengaruh yang baik pula.   Di zaman digital ini manusia perlu untuk memiliki kebijaksanaan sebelum ia melontarkan berbagai bentuk perkataan, baik yang diucapkan secara verbal maupun yang diketikkan dalam percakapan di berbagai platform media sosial.  Karena identitasnya tersembunyi maka seringkali manusia tak merasa bersalah saat ia merespons negatif sebuah unggahan di media sosial, sebenarnya ia sedang menyulut api yang bisa saja membakar habis sebuah relasi sosial dan bahkan memadamkan semangat orang lain.  Saudaraku, bila manusia ingin memiliki dampak yang baik bagi sesamanya maka penulis Amsal mengatakan bahwa setiap orang sebaiknya memiliki bijak dalam perkataan dalam bentuk apapun.  Kebijakan ini akan didapat manusia saat ia tunduk kepada Allah karena Dialah sumber segala hikmat dan pengetahuan (Amsal 1:7) Mari belajar untuk memiliki kebijaksanaan dalam mengucapkan perkataan ataupun menuliskan pendapat di dunia digital sehingga apa yang dikatakan dan dituliskan akan membangun dan menyehatkan untuk orang lain.  Saudaraku, mari menjaga relasi dengan Tuhan agar hikmat itu membuat perkataan menjadi berkat dan menguatkan orang lain.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

True Joy is the fruit of Faith Work

SUKACITA SEJATI. Sukacita merupakan hal yang agak langka pada hari-hari ini. Mengapa? Karena beratnya himpitan ekonomi, banyak sekali orang kehilangan sukacita.  Apakah sukacita itu? Sukacita merupakan suatu kondisi hati yang meluap dengan syukur, bukan karena kondisi tetapi karena merupakan suatu kesadaran. Sukacita berbeda dengan gembira, senang, atau bahagia. Gembira, senang, atau bahagia timbul karena sesuatu yang terjadi di luar diri kita: Menang tender, mendapat kenaikan gaji, berhasil mendapat calon pasangan hidup, sembuh dari sakit kronis, dan lain-lain.  Sukacita jauh melebihi gembira, senang, atau bahagia. Sukacita adalah keputusan. Ya, suatu bentuk kesadaran kita untuk memutuskan bahwa kita memang ingin bersukacita, tanpa menghiraukan kondisi yang kita alami. Sumber sukacita ada di dalam hati kita. Ya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari sukacita itu, apalagi harus membayar mahal. Biaya bersukacita adalah gratis. Karena sukacita merupakan sikap hati dan bukan kondisi, itu sebabnya dalam Alkitab diajarkan bagi kita untuk bersukacita, dan bukan bergembira. Sukacita merupakan suatu hal yang mutlak kita miliki.  Bagi orang percaya sukacita merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semua persoalan boleh terjadi, namun sukacita adalah hak kita. Sudahkah kita memilih untuk bersukacita?  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “True Joy is the Fruit of Faith Work  (Sukacita Sejati Merupakan Buah dari Karya Iman)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 21:1-14. Sahabat, sukacita merupakan sebuah ungkapan rasa ketika kita berhasil menggapai keinginan hati kita. Namun, pernahkah kita mengaitkan sukacita dengan pemeliharaan Allah secara nyata dalam hidup? Bagaimana kita mendapatkan sukacita sejati?Pemazmur menjelaskan perihal sukacita sejati ketika ia menguraikan keberhasilan seorang raja yang berjalan bersama Tuhan. Kebanggaan diperoleh bukan sekadar karena keberhasilan dalam kehidupan atau pun kemenangan dalam peperangan, melainkan semata-mata karena karya Allah dalam hidup orang beriman.Perhatikan bagaimana Daud menggambarkan peranan Allah dalam keberhasilannya, antara lain: Pertama,  sukacita datang dari Allah semata (Ayat 2-3); Kedua,  Allah menjadikan raja sebagai pengantara keberhasilan dan kemenangan-Nya (Ayat 4-7); Ketiga,  penyertaan dan pemeliharaan Allah ada bersama umat-Nya (ayat 8-14).  Berbagai kemenangan yang dialami Raja Daud (Ayat 3) menjadi dasar pujian umat kepada Allah (Ayat 7-12). Puji-pujian itu juga diarahkan kepada masa depan, yaitu ketika Allah hadir dalam penghakiman-Nya pada akhir zaman (Ayat 10-11). Selain itu, Raja Daud juga mengakui bagaimana Allah terlibat secara nyata dalam setiap pergumulan kehidupannya, termasuk dalam pemerintahannya. Itulah sumber sukacita yang sejati.Memang tidak mudah meletakkan segala orientasi hidup kita kepada Allah. Namun, oleh Kristus kita diberikan pemahaman tentang Allah yang benar dan ditunjukkan tentang keberadaan Allah secara nyata dalam hidup (Yohanes 1:18; 17:3). Jalan untuk mendapatkan sukacita hanyalah dengan menerapkan iman sejati dalam kehidupan keseharian.Sahabat, iman yang sejati akan menghadirkan sukacita karena karya Allah dalam hidup orang percaya. Persoalannya adalah apakah kita mendasarkan sukacita pada hal yang bersifat sementara, atau hanya untuk memuaskan keinginan mata dan kedagingan kita. Sesungguhnya, sukacita sejati adalah buah dari karya iman yang kita terima dari Allah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang Sukacita Sejati? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserah merupakan tindakan iman kita bahwa Allah akan memelihara dan memberikan yang terbaik untuk hidup kita. (pg).

HE’s Just as far as Prayer

MAZMUR 20. Sahabat, dari berbagai sumber saya mendapat informasi bahwa Mazmur pasal 20  dikategorikan pada genre Mazmur Raja. Syair ini mengungkapkan tentang permohonan bagi raja Israel, keyakinan atas karya Tuhan bagi raja, perbandingan dan hasil serta seruan untuk kemenangan raja.  Syair ini telah disajikan dengan berbagai karakteristik tertentu yang menunjukkan bahwa teks ini memiliki kualitas tersendiri sebagai teks syair. Ciri khas sebagai teks syair dalam pasal ini nampak pada kesejajaran atau perimbangan gagasan antar baris.  Keindahan teks syair pada pasal ini dikategorikan sebagai Mazmur Raja nampak pada pemilihan kata-kata kunci yang berhubungan dengan raja Israel, misalnya: Kesesakan dan membentengi (Ayat 2), rancangan (Ayat 5), memegahkan (Ayat 8) dan kemenangan (Ayat 5, 6 dan 9).  Keindahan lainnya nampak pada ciri teks syair dalam bentuk paralelisme sintesis (Ayat 3, 7) dan paralelisme antitesis (Ayat 8 dan 9). Syair ini diakhiri dengan sentuhan keindahan penutup yakni pengulangan pokok penting yang menjadi kebutuhan raja Israel, yakni kemenangan.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “HE’s Just as far as Prayers (DIA Hanya Sejauh Doa)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 20:1-10. Sahabat, satu-satunya sumber kekuatan bagi orang percaya dalam menghadapi kesulitan hidup adalah berdoa.  Salah seorang reformator, Martin Luther, pernah mengatakan bahwa menjadi orang percaya tanpa berdoa tidak lebih menjadi seorang yang hidup tanpa bernafas. Jika dilihat dari sisi medis, orang yang sudah tidak bernafas biasanya disebut sudah meninggal dunia. Kalau frasa “tidak bernafas” dikaitkan dengan kerohanian berarti sudah mati rohani. Atau dengan kata lain, hidupnya telah putus hubungan dengan Allah.Daud pun mengakui bahwa doa memainkan peranan penting dalam kehidupan jasmani dan rohani seseorang. Sebab doa bukan hanya menjadi sumber nafas kehidupan, tetapi juga motor penggerak utama bagi umat Allah untuk memperoleh perlindungan dan berkat Allah.Daud juga meyakini bahwa dalam doa terdapat kekuatan Allah. Wujud konkret kekuatan Allah terlihat bagaimana Allah memberikan kemenangan dalam setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya. Hal itu tampak saat umat-Nya berada dalam kesesakan, Allah memberikan solusi dan meluputkan mereka dari bahaya. Karena itu, Daud tidak ragu-ragu mengajak bangsanya untuk berseru kepada Tuhan dan Ia hanya bisa ditemui dalam doa.  Sahabat, keyakinan Daud inilah yang memberikan harapan dan sukacita. Harapan dan sukacita itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi umat Allah untuk tidak takut dan gentar dalam menghadapi siapa pun. Sebab mereka menyadari bahwa Allah senantiasa bersama dengan umat-Nya.  Bahkan Allah tidak ragu-ragu turun tangan untuk berperang membela umat-Nya dari para musuh mereka. Semua pertolongan Allah ini membuat umat Allah dapat bermegah dan memuliakan nama-Nya.Sahabat, masihkah kita  berdoa setiap hari? Bagaimana kondisi hidup kita saat jauh dari Allah? Bertambah baik atau semakin buruk? Marilah kita bertobat dan bertekad kembali kepada Allah. Ia dapat ditemui sejauh doa. DIA hanya sejauh doa.  Karena dalam doa kita menemukan kekuatan, penghiburan, dan sandaran yang kukuh untuk berlindung. Bahkan melalui doa, Allah akan memberikan kita KEMENANGAN hari demi hari. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kemenangan sejati atas pergumulan hidup kita hanya ada di dalam Tuhan. (pg).

God Speaks Through His Word

MAZMUR 19. Sahabat, dari beberapa sumber saya menemukan bahwa hal yang sangat diharapkan dari pengenalan akan sifat dan karakteristik dari firman Tuhan adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya. Pengertian suci, tidaklah sebatas bersih melainkan lebih dalam dari itu; suci artinya tetap ada untuk selamanya. Jika ada sebutan: Janji pernikahan adalah janji suci, maka hal itu berarti janji yang tetap ada, yang tidak akan berubah oleh hal apa pun yang terjadi.  Firman Tuhan dan takut akan Tuhan memiliki hubungan sebab dan akibat yang searah. Jika benar mengenal dan memahami firman Tuhan maka sesungguhnya akan tercipta sikap yang takut akan Tuhan. Kedua hal itu disebutkan dalam Mazmur 19 sebagai sesuatu yang lebih indah dari pada emas bahkan lebih indah dari emas tua; dan lebih manis daripada madu bahkan lebih manis dari madu tetesan sarang lebah. Firman Tuhan dan sikap takut akan Tuhan mengungguli keindahan dan rasa manis yang ada. Sedangkan ungkapan syukur kepada Allah atas firman Tuhan yang sempurna, tak boleh lepas dari permohonan pada perlindungan Tuhan atas banyak hal yang tidak sempurna dalam hidup ini. Banyak hal yang tidak sempurna dalam dunia ini, sehingga terjadi penyesatan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin berkuasa. Bahkan diri kita ini adalah oknum yang tidak sempurna, karena akan mati dan mudah tergoda. Mari tetap menjaga diri kita agar setiap gerak langkah hidup tetap diperkenan oleh Tuhan. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajr dari kitab Mazmur dengan topik: “God Speaks Through His Word (Tuhan Berbicara Melalui Firman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 19:8-15. Sahabat, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui firman-Nya. Firman-Nya menguatkan kita yang letih, juga menegur kita ketika langkah kita mulai serong. Firman-Nya menuntun kita untuk hidup seturut dengan kehendak-Nya. Bagian ini jugalah yang menjadi doa dari Pemazmur agar Tuhan selalu menuntunnya dengan firman-Nya sehingga hidup Pemazmur berkenan di hati Tuhan.Sahabat, berbicara mengenai menaati firman Tuhan, di satu sisi ada banyak orang percaya yang merasa kebebasannya hilang dan kesenangannya diambil sehingga memilih untuk hidup dalam keinginannya sendiri tanpa merasa bersalah. Ia tidak mau membiarkan firman Tuhan menuntun hidupnya sehingga ia pun kehilangan arah. Di sisi lain, ada orang percaya yang berusaha dengan gigih melakukan firman-Nya; tetapi, ketika mendapati dirinya gagal dan gagal lagi, ia merasa bersalah karena hidupnya tidak bisa memenuhi standar yang Tuhan inginkan. Mereka akhirnya putus asa dan menyerah.Melalui bacaan kita pada hari ini , di satu sisi, kita diingatkan bahwa ketika kita menaati kebenaran firman Tuhan, sukacita yang sesungguhnya akan memenuhi hati kita. Ketika kita hidup seturut dengan firman-Nya, kita menemukan kebebasan yang sejati. Hidup kita tidak lagi diikat oleh dosa, melainkan kita bisa melakukan kebenaran (Ayat 8-11). Di sisi lain, kita juga diingatkan untuk senantiasa mengevaluasi diri dan mengandalkan Roh Kudus untuk hidup seturut kehendak-Nya. Allah kita penuh rahmat dan pengampun, Ia tahu siapa kita. Ketika kita gagal, jangan menyerah, melainkan berusaha lagi dengan memohon pertolongan-Nya.Sahabat, mari kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang mau menyatakan kehendak-Nya dan mau berkomunikasi dengan kita melalui Firman-Nya. Mari kita bersyukur karena Allah kita penuh rahmat dan maha pengampun serta selalu siap menolong kita yang mau sungguh-sungguh menaati firman-Nya. Dengan memahami hal ini, mari kita senantiasa berdoa seperti Pemazmur agar pikiran, ucapan, dan tindakan kita senantiasa dikoreksi oleh Tuhan sehingga hidup kita dapat berkenan di hadapan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Aturan dan sistem nilai itu diberikan Allah agar manusia menjadi mahkota ciptaan yang bermartabat dan memiliki makna dalam hidupnya. (pg).

Menggali Kehausan yang Sejati

Saudaraku, Pada suatu pagi yang tenang, seorang laki-laki berjalan sendirian di tengah padang pasir yang luas. Matahari mulai menyengat, dan rasa haus perlahan-lahan menggerogoti tenggorokannya. Di kejauhan, dia melihat kilauan air. Dengan penuh harap, dia bergegas menuju kilauan itu, berharap menemukan oase yang akan menyegarkan tubuhnya yang lelah. Namun, saat dia tiba, harapannya hancur. Kilauan itu hanyalah fatamorgana, ilusi yang menipu matanya. Tak ada air, hanya pasir yang semakin menambah rasa hausnya. Kisah laki-laki di padang pasir ini bisa menjadi gambaran kehidupan banyak orang di zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang menawarkan banyak sekali kilauan: Kekayaan, popularitas, dan kesenangan instan, yang terlihat seolah-olah bisa memuaskan kehausan kita. Namun, kenyataannya, semua itu seringkali berakhir seperti fatamorgana, meninggalkan kita dengan kehausan yang lebih dalam dan rasa kecewa yang tak terhindarkan. Di dalam kitab Yeremia, Tuhan menyampaikan keluhan-Nya terhadap umat-Nya: “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor yang tidak dapat menahan air” (Yeremia 2:13).  Ayat tersebut menggambarkan bagaimana umat Israel, dalam upaya mereka mencari kepuasan, justru menjauh dari Tuhan dan memilih untuk menggali “kolam-kolam bocor” yang tak mampu memuaskan dahaga mereka. Kolam-kolam bocor ini bisa berbentuk apa saja dalam hidup kita. Mungkin itu ambisi yang tak ada habisnya untuk mencapai puncak karier, keinginan untuk memiliki harta yang melimpah, atau pencarian tanpa akhir akan pengakuan dari orang lain. Kita mungkin berpikir bahwa jika kita bisa mencapai hal-hal ini, kita akan bahagia dan puas. Tetapi, seperti halnya laki-laki di padang pasir, kita seringkali menemukan bahwa apa yang kita kejar ternyata tidak lebih dari ilusi. Bukannya merasa puas, kita justru semakin haus, merasa ada yang kurang, dan akhirnya, kita hanya merasa lebih lelah dan hampa. Namun, di tengah kehausan ini, ada kabar baik. Tuhan menyebut diri-Nya sebagai “sumber air yang hidup.” Dia adalah satu-satunya yang bisa benar-benar memuaskan kehausan terdalam dalam jiwa kita. Seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria di sumur, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:14). Air kehidupan yang ditawarkan Tuhan ini bukanlah ilusi, melainkan sesuatu yang nyata dan kekal. Mungkin dalam hidup kita, kita sudah terlalu sering menggali kolam-kolam bocor, berharap mendapatkan kepuasan dari hal-hal duniawi yang sementara. Tetapi, ketika kita berbalik kepada Tuhan dan minum dari air kehidupan-Nya, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kepuasan yang Dia berikan bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dalam kekayaan, ketenaran, atau hal-hal duniawi lainnya, melainkan kedamaian sejati, sukacita yang tak tergoyahkan, dan kasih yang tidak bersyarat. Sebagai manusia, wajar jika kita merasa haus, baik secara fisik maupun rohani. Tetapi, penting bagi kita untuk menyadari ke mana kita mengarahkan kehausan itu. Apakah kita akan terus mengejar fatamorgana yang tidak pernah bisa benar-benar memuaskan, ataukah kita akan datang kepada sumber air yang hidup, yang siap memberikan kepuasan sejati? Saudaraku, ketika kita memilih untuk menggali kehausan yang sejati, yakni mencari Tuhan dan mendekat kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa apa yang kita butuhkan bukanlah hal-hal yang sementara, melainkan hubungan yang mendalam dengan Sang Pencipta. Di situlah kita akan menemukan air yang memuaskan, yang tidak pernah habis dan selalu tersedia, tidak peduli seberapa kering padang gurun kehidupan kita. (EBWR).

GAGAH MENGHADAPI MASALAH

Saudaraku, ada tiga mekanisme yang umum dilakukan manusia untuk menyelamatkan dirinya dari tekanan berat dalam hidupnya, yaitu melarikan diri, menyalahkan pihak lain atau menyeret orang lain bersamanya.  Namun Yesus tidak mengambil ketiga mekanisme itu saat Ia berhadapan dengan masalah dan tekanan yang berat.  Mari renungkan Yohanes 18:1-11. Cara bertutur penulis Injil Yohanes memang unik. Dibandingkan dengan ketiga penulis Injil yang lain, Injil Yohanes lebih detail menjelaskan proses penangkapan Yesus yang penuh drama, tanpa ciuman Yudas sebagai petunjuk keberadaan-Nya.  Yesus langsung berhadapan dengan aparat bersenjata dan terus terang mengakui diri-Nya.  Dalam peristiwa itu makin nampak karakter Kristus yang gagah berani yang diidentifikasi dalam dua sikap-Nya : Pertama: Mengakui identitas kepada aparat bersenjata yang mencari-Nya. Yesus tahu apa yang akan Ia hadapi kalau Ia mengakui dirinya sendiri. Ia tak mengelak atau melarikan diri dari konsekuensi itu.  Ia menunjukkan kepada para pengiku-tNya tentang keberanian yang sejati, walau beberapa jam setelah itu Petrus tak mampu meneladani-Nya (Yohanes 18:17, 25, dan 27). Kedua: Meminta agar para pengikutnya tidak dilibatkan dalam ketegangan itu.   Ketegangan-ketegangan yang terjadi sebelumnya dengan para pemimpin agama membuat Yesus menyadari dampak negatif dari pelayanan-Nya dan Dia sadar semua orang di sekitarnya akan terdampak karena-Nya,  maka Ia meminta supaya para aparat itu hanya berurusan dengan Dia saja dan membiarkan para murid itu pergi (Yohanes 18:8). Alih-alih lari dari masalah, menyalahkan orang lain atau bahkan menyeret pengikut-Nya masuk dalam pusaran masalah yang dihadapi-Nya, Yesus  malah menunjukkan sisi gagah-Nya dengan keberanian menghadapi dan melindungi mereka.  Sikap ini kontras dengan Adam dan Hawa yang saling seret saat diminta pertanggung jawaban perbuatannya mengambil buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 3:11-13), sikap umum manusia yang terdesak. Yesus meneladankan kepada para pengikut-Nya untuk menjadi pribadi yang tak pengecut karena Ia tahu panggilan hidup-Nya dan siapa yang mengutus-Nya.  Bila manusia menyadari panggilan hidup-Nya dan memercayai Dia yang mengutus mereka, maka manusia akan berani membayar harga dari iman percaya-Nya.  Saudaraku, mari belajar untuk MEMILIKI KEGAGAHAN  Sang Kristus yang berani menghadapi masalah tanpa menyalahkan situasi atau sesama apalagi menyeret orang lain dalam pusaran masalah.  Tuhan pasti menolong umat-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

God is our Leaning Back Up and Savior

KESESAKAN. Sahabat, setiap orang pasti pernah mengalami situasi hidup dalam kesesakan. Sesak karena persoalan keluarga yang tak kunjung selesai, persoalan pekerjaan yang tidak menggembirakan, persoalan studi yang tidak berjalan dengan lancar, persoalan politik yang mengancam kita, dan lain sebagainya. Kadang ada rasa patah semangat, menyerah dan bahkan ingin segera keluar dari masalah dengan cara-cara yang negatif. Cara-cara negatif yang kerap disebut dengan jalan pintas antara lain: Mencuri, korupsi, bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Cara-cara seperti itu merupakan cara yang paling tidak disukai oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesesakan. Selama kita masih berjalan di jalan Tuhan, maka setiap ujian yang Tuhan izinkan terjadi, Tuhan akan turut memikulnya. Tuhan hanya ingin kita melalui setiap prosesnya dengan iman dan kesabaran agar beroleh kualitas yang luar biasa. Di dalam setiap kesesakan kita, Tuhan ada. Di dalam setiap jalan buntu yang kita alami, Tuhan akan buka jalan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sebab Dia adalah Allah yang setia. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God is our Leaning Back Up and Savior (Tuhanlah Sandaran dan Penyelamat Kita), Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 18:1-20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebagian dari nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul.  Itu berarti nyanyian syukur tersebut lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya. Apakah ucapan syukur kepada Allah itu penting? Hal itu tergantung seberapa jauh dan dalam kecintaan kita kepada Allah. Sebagai orang percaya, seharusnya setiap orang wajib menaikkan rasa syukur kepada Allah. Sebab rasa syukur adalah ungkapan terima kasih atas pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita.Daud adalah pribadi yang selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang menimpa hidupnya, apakah itu baik atau buruk. Rasa syukur itu diungkapkan Daud secara jujur. Dalam kejujurannya terpancar kasihnya yang dalam kepada Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana Daud bisa memiliki perasaan syukur yang mendalam kepada Allah? Dalam hidupnya, Daud menjadikan Tuhan sebagai gunung batu, kubu pertahanan, tempat perlindungan, dan penyelamatnya. Artinya, Tuhan adalah satu-satunya tempat keselamatan yang kukuh, kuat, perkasa, dan abadi bagi Daud (Ayat 3).Ketika seseorang memanjatkan syukur, pasti ada pengalaman khusus yang dialaminya saat itu. Bagaimana dengan dengan Daud? Pengalaman apa yang membuatnya berulang kali bersyukur kepada Allahnya? Ia menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah menyelamatkan hidupnya dari musuh, ketika tali-tali maut melilitnya, banjir-banjir jahaman menimpanya, dan lolos dari berbagai perangkap maut. Saat Daud dalam kesesakan dan berteriak minta pertolongan Tuhan, ia menjumpai bahwa Allah tidak pernah mengecewakan dirinya. Allah selalu mendengar seruan hatinya (Ayat 5-7).Bagaimanakah Tuhan menjawab Daud? Allah memperlihatkan keperkasaan dan kuasa-Nya. Kuasa Allah dilukiskan dengan pernyataan:  “… goncanglah bumi, dasar-dasar gunung gemetar” (Ayat 8), dan suara mengguntur di langit (Ayat 14). Semua kiasan tersebut membuktikan, betapa Allah sayang kepada Daud. Kasih Tuhan itulah yang memberikan Daud kekuatan untuk maju terus dalam iman dan pengharapan.Sahabat, kita PERLU TERUS BELAJAR BERSYUKUR.  Apa pun yang kita alami akan teratasi karena Tuhanlah SANDARAN  dan PENYELAMAT kita yang KUKUH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserulah kepada TUHAN saat kita mengalami kesesakan maka Ia akan menolong kita. (pg). 

Prayers are the Strength of Believers

DOA. Sahabat, ada ungkapan bijak yang menyatakan, “if you only pray when you’re in trouble, then you are in trouble (Jika kamu hanya berdoa ketika kamu dalam kesulitan, maka kamu sedang dalam kesulitan).” Sesungguhnya doa bukan hanya dipanjatkan pada saat seseorang merasa perlu atau ada dalam masalah dan pergumulan saja. Doa itu bukan suatu hal yang remeh dan merupakan nomer dua atau sekadar ritual untuk memperkuat keyakinan atas motivasi seseorang.  Mengapa orang percaya harus berdoa? Firman Tuhan memerintahkan kepada kita untuk berdoa. Tuhan melalui nabi Yesaya mengingatkan kita: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6). Tuhan Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan supaya murid-murid-Nya tidak jemu- jemu berdoa (Lukas 18:1). Rasul Paulus memberi nasihat: “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17).  Kita dapat menarik kesimpulan bahwa doa adalah perintah Allah dan disertai janji Allah. Allah yang memerintahkan untuk berdoa adalah Allah yang berjanji akan menjawab doa dan permohonan setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam doa.  Coba kita simak dua ayat berikut: Pertama: Mazmur 50:15: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau,dan engkau akan memuliakan Aku”. Kedua,  Matius 7:7-8: “Mintalah,maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat;ketoklah,maka pintu akan dibukakan kepadamu. Karena setiap orang yang meminta, menerima,dan setiap orang yang mencari, mendapat,dan setiap orang yang mengetok,baginya pintu dibukakan.”  Sahabat, Allah menginginkan agar setiap umat-Nya berdoa dan hal ini pun diajarkan oleh Tuhan Yesus  kepada para murid-Nya agar mereka berbicara kepada Bapa di surga saat mereka berdoa. Berdoa ialah berbicara dengan Bapa yang di surga. Ini merupakan persekutuan dengan Allah.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Prayers are the Strength of Believers (Doa adalah Kekuatan Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 17:1-15. Sahabat, dalam doa, kita bebas mencurahkan semua isi hati tanpa merasa akan disalahmengerti oleh Allah. Ia sangat peduli dan mau mengerti diri kita. Ia mau memberikan telinga-Nya untuk mendengarkan curahan hati umat-Nya. Di hadapan-Nya, semua orang sama nilai dan derajatnya. Ia bukan Allah yang tebang pilih. Ia sungguh adil adanya.Daud adalah pribadi yang mau belajar hidup berkenan kepada Allah. Dalam berbagai mazmurnya, kita melihat Daud merupakan figur yang suka berdoa. Daud menyampaikan doanya kepada Tuhan dengan kejujuran dan ketulusan, baik menyangkut kepribadiannya, orang-orang di sekitarnya, termasuk juga orang-orang fasik dan orang-orang yang memusuhinya.Saat berdoa, Daud berharap Tuhan mendengarkan seruan hatinya. Sebab apa yang diceritakan dan disampaikan kepada Allah itu benar. Ia tidak merekayasa cerita. Sebab Daud mengerti bahwa Allah itu mahatahu. Bahkan Daud mengatakan bahwa Tuhan menguji dan menyelidiki hatinya. Faktanya adalah Allah tidak akan menemukan kejahatan pada diri dan mulutnya. Karena Daud selalu berpegang pada firman-Nya (Ayat 3). Ia senantiasa menjaga perilakunya terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan.Dalam doanya, Daud memohon agar Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya. Ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dirinya dari para pemberontak. Ia berharap Allah mau menjaganya seperti biji mata-Nya dan menyembunyikannya dalam naungan sayap-Nya terhadap orang fasik (Ayat 8). Tanpa pertolongan Allah, Daud pasti hancur menghadapi gempuran para musuhnya, yang laksana singa siap menerkam. Dalam kondisi seperti ini, Daud berdoa agar Tuhan bangkit melawan mereka dan meluputkannya dari maut.Sahabat, teladan baik yang diberikan Daud patut  kita tiru dan adaptasi dalam kehidupan doa kita. Karena itu, berdoalah dengan ketulusan, kejujuran, dan sukacita. Sebab doa adalah kekuatan, sekaligus nafas, hidup orang percaya.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang doa? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mata hati yang benar akan mengarahkan kita pada jalan hidup yang benar. Bila fokus mata hati kita salah, sesatlah jalan kehidupan kita.  (pg).