Break The Darkness

Saudaraku, mari kita baca dan renungan Kejadian 1:3: Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Suatu kali saya dan 2 teman saya pernah terkunci di gudang dari perusahaan yang cukup besar. Saat itu saya dan teman saya tidak terlalu panik, karena memang itu jam makan siang. Saya berpikir mungkin gudang sengaja dikunci demi keamanan, tapi sayangnya mereka tidak mengecek lebih lanjut jika di dalam masih ada saya dan teman-teman, karena kami sedang stock dan input barang dari gudang. Kami berpikir, setelah jam makan siang pasti gudang akan dibuka kembali, dan sambil menunggu kami tetap melanjutkan untuk bekerja.  Namun setelah ditunggu sampai 3 jam, gudang tidak juga dibuka, kami sudah sedikit panik, karena 1 jam lagi, jam kerja kantor sudah berakhir. Tapi kami masih yakin, jika akan ada orang yang kembali ke gudang sebelum jam kantor berakhir. Namun ketika 5 menit lagi jam kantor akan berakhir, Gudang tetap belum terbuka.  Kami mulai panik, karena tiba-tiba listrik padam, sehingga tidak ada cahaya yang menyinari kami. Tentu saja pada saat kejadian ini terjadi, saya dan teman saya belum memiliki Handphone, sehingga kami tidak bisa menghubungi siapapun atau menyalakan senter di HP. Kepanikan mulai bertambah karena jam kantor benar-benar sudah selesai. Saya yang agak phobia dengan kegelapan, mulai merasa sesak nafas karena panik tidak bisa melihat sekitar. Saya mengajak teman saya untuk mencari pintu keluar, supaya kami bisa menggedor pintu, dan berharap ada orang yang mendengar dan membukakan pintu tersebut.  Bersyukur kejadian tersebut tidak berlangsung lama, karena 15 menit kemudian (disaat kami masih kesulitan mencari pintu keluar), ada seseorang yang tiba-tiba membukakan pintu untuk kami. Ya itu adalah atasan kami, yang sadar ketika kami tidak kunjung kembali ke ruang kantor bahkan setelah jam kantor berakhir.  Momen yang melegakan adalah ketika kami melihat pintu terbuka, dan saya secara pribadi melihat sinar masuk ke gudang, membuat saya merasakan ada kehidupan. Puji Tuhan akhirnya saya dan teman-teman dapat keluar dari gudang yang sangat gelap tersebut. Saat ini kita akan merenungkan bagian dari kisah penciptaan di Alkitab,  Allah berfirman, “Jadilah terang.” Kalimat singkat ini menyiratkan banyak hal. Sebelum terang diciptakan, bumi masih dalam keadaan kosong dan gelap. Dengan adanya terang, kegelapan pun tercerai-berai. Ini adalah momen pertama di mana Allah memperkenalkan keteraturan dan kejelasan di tengah-tengah kekacauan. Kejadian 1:3 mengingatkan kita bahwa Allah adalah sumber terang sejati. Terang ini bukan hanya tentang terang fisik, tetapi juga terang rohani dan moral. Dalam kehidupan,  kita sering mengalami saat-saat kegelapan: kegelapan dalam bentuk ketakutan, kebingungan, dosa, atau putus asa. Namun, kita diingatkan bahwa Allah mampu MEMBAWA TERANG  ke dalam setiap SITUASI KEGELAPAN  yang kita hadapi. Seperti cerita saya di awal. Saya terkunci ruangan yang benar-benar gelap. Tidak ada yang bisa dilihat, saya merasa tersesat serta bingung. Tetapi, saat pintu dibuka, meskipun sinarnya kecil (Karena juga sudah sore), sinarnya tetap bisa menerangi ruangan tersebut. Saya merasa lebih nyaman serta aman. Sinar tersebut adalah gambaran dari terang yang Allah berikan dalam hidup kita. Meskipun kegelapan terasa mencekam dan menakutkan, namun SECERCAH TERANG  dari ALLAJ  cukup untuk mengubah situasi yang terjadi dalam hidup kita. Perenungan : Adakah hari-hari ini kita sedang merasakan kegelapan menyelimuti hidup kita? Kita merasakan kesepian, karena orang-orang di sekitar meninggalkan kita sendiri? Atau kita sedang merasakan keputusasaan karena kita sedang banyak mengalami kegagalan dalam hidup kita? Atau justru kita sedang jatuh dalam dosa yang membuat diri kita merasa tidak berharga?  Percayalah bahwa TERANG ALLAH  mampu membawa kita kepada KEBENARAN,  MEMBERIKAN ARAH,  dan MENAWARKAN PENGHARAPAN.  Dengan mengingat ini, kita bisa yakin bahwa tidak peduli betapa gelapnya situasi kita saat ini, terang Allah akan selalu lebih kuat. Kita hanya perlu meminta-Nya untuk berbicara “Jadilah terang” ke dalam hidup kita, dan kita akan melihat bagaimana terang-Nya MENGUBAH KEGELAPAN  menjadi terang.  Pesan: Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

The Caring and Understanding God

MAZMUR 27. Sahabat, manusia di dunia ini selalu berusaha mencari rasa aman. Namun, sesungguhnya tidak ada tempat yang betul-betul aman selain berlindung dalam naungan Tuhan yang Mahatinggi dan Mahakuasa (bnd. Mazmur. 91).  Melalui Mazmur 27  kita akan belajar betapa amannya tinggal dalam lindungan Tuhan yang Mahatinggi dan Mahakuasa. Dalam Mazmur 27 Pemazmur menggambarkan perlindungan TUHAN bagaikan Terang dan Benteng. Jika TUHAN menjadi Terang dan Benteng kita maka kita akan aman dari segala gempuran musuh kita.  Dalam Mazmur 27 Daud menyatakan bahwa ada banyak tantangan yang datang dari mana saja yang mungkin terjadi dalam kehidupan orang percaya.  Tantangan itu bisa datang dari orang-orang di sekitar yang berniat jahat untuk menjatuhkan dan menghancurkan kita  (Ayat 2);  masalah atau persoalan yang sedang terjadi dan kita alami  (Ayat 3);  ditinggalkan oleh orang-orang terdekat dan yang kita kasihi  (Ayat 10);  orang-orang yang iri dengki yang berusaha memfitnah kita  (Ayat 12) dan masih banyak lagi.  Sikap dalam menghadapi semua itu adalah harus tetap percaya kepada Tuhan dan terus bertekun mencari Dia.   Melalui Mazmur 27 kita juga belajar menghadapi pergumulan dengan melakukan nyanyian sukacita. Mengapa? Karena Pemazmur mengimani bahwa segala ancaman dan kebutuhan hidup ini akan diatasi oleh Tuhan sendiri. Pemazmur menyatakan Allah sebagai terang dan benteng keselamatan, dan kekuatan, maka tidak ada alasan baginya untuk merasa takut atau panik. Ketenteramannya tidak dengan syarat-syarat lahiriah, tetapi tanpa syarat.   Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: ”The Caring and Understanding God (Tuhan yang Peduli dan Memahami).” Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 27:1-14 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, hidup dalam ketidakpastian! Apakah saat ini Anda sedang mengalaminya? Sungguh, sangat tidak mudah menjalani kehidupan di mana segala sesuatu yang kita lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas dan tak berujung. Kita berdiam diri berdoa, namun tahun-tahun berlalu tanpa tanda jawaban. Akankah kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan pasti akan bertindak pada saat dan waktu-Nya?Daud pernah mengalaminya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sehari-harinya tinggal bersama dua ekor kambing domba di padang rumput? Tetapi Daud belajar memahami maksud Tuhan di balik ketidakpastian itu. Daud belajar untuk sabar, setia dengan panggilannya, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengangkatnya. Daud belajar percaya bahwa Tuhan akan mewujudkan impian-impiannya dalam waktu yang tepat. Ia barangkali berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau memegang kendali. Walaupun aku tidak melihat apa pun sedang terjadi, Engkau sedang bekerja di belakang layar.” Syukur, di waktu yang tepat, Tuhan membawa Daud keluar dari padang itu dan mengurapinya menjadi raja Israel. Siapa sangka?Belajar dari Daud, meski kita tidak mampu memahami mengapa Tuhan tidak bersegera melepaskan kita dari sebuah keadaan yang tanpa kepastian, Tuhan ingin kita tetap setia, sabar, dan memegang erat janji-Nya. Ya, Tuhan sangat peduli dan memahami kehidupan kita. Dia merasakan kecemasan dan ketakutan kita. Bertahanlah untuk sedikit waktu lagi dan tetaplah setia! Di satu waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia pasti bertindak. Dia tahu saat yang tepat untuk menolong dan mengangkat kita. Haleluya! Tuhan itu baik! Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam ketidakpastian, Tuhan menguji kesetiaan dan kesabaran kita untuk menantikan waktu-Nya. (pg)

Ketika Kepercayaan Hancur: Renungan dari Kisah Yudas

Saudaraku, mari kita baca dan renungkan Yohanes 13:18 (TB-1): “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.” Di malam yang penuh kesyahduan, Yesus dan murid-murid-Nya duduk di sekeliling meja, berbagi roti dalam sebuah perjamuan yang akan dikenang sepanjang masa. Di tengah mereka, Yudas Iskariot, salah seorang dari yang terdekat dengan Yesus, menyembunyikan sebuah pengkhianatan di dalam hatinya.  Pengkhianatan ini, yang tak terduga dan menghancurkan, menjadi salah satu kisah paling memilukan dalam Injil. Ia mengkhianati Yesus, Sang Guru, demi 30 keping perak, memutar balikkan sebuah hubungan yang dibangun dengan cinta dan kepercayaan. Pengkhianatan Yudas bukanlah sekadar peristiwa sejarah; ia mencerminkan kenyataan pahit yang sering kita alami dalam hidup ini. Kepercayaan, sebuah fondasi yang begitu vital dalam setiap hubungan, bisa dihancurkan dalam sekejap.  Ketika seseorang yang kita percayai dengan sepenuh hati mengkhianati kita, luka yang ditimbulkan seringkali sulit sembuh. Ini adalah kenyataan yang kita temui di berbagai aspek kehidupan kita, dalam keluarga, di tempat kerja, bahkan dalam komunitas gereja. Di era modern ini, penghancuran kepercayaan sering kali terjadi dengan cara yang lebih halus namun tidak kalah menyakitkan. Dalam keluarga, misalnya, perselingkuhan atau ketidakjujuran finansial dapat menghancurkan kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.  Di tempat kerja, pengkhianatan dari rekan kerja atau pemimpin yang seharusnya menjadi panutan bisa merusak atmosfer kepercayaan dan kolaborasi. Di gereja, isu-isu seperti penyalahgunaan kekuasaan atau gosip bisa menyebabkan perpecahan yang mendalam, menghancurkan iman dan kepercayaan jemaat terhadap pemimpin rohani mereka. Kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga dalam hubungan manusia. Tanpa kepercayaan, hubungan menjadi rapuh dan rentan terhadap perpecahan. Ketika Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid-Nya akan mengkhianati-Nya, itu adalah peringatan tentang betapa berharganya kepercayaan itu dan betapa menyakitkannya ketika kepercayaan tersebut dihancurkan. Yudas adalah bukti tragis dari kenyataan ini. Namun, dari kisah ini, kita juga belajar tentang panggilan kita sebagai orang Kristen untuk menjaga dan memulihkan kepercayaan. Di tengah dunia yang sering kali penuh dengan pengkhianatan, kita dipanggil untuk hidup dengan integritas, menjadi teladan dalam menjaga kepercayaan. Di gereja, kita harus menghindari gosip, fitnah, dan segala bentuk manipulasi yang bisa merusak komunitas iman. Dalam keluarga, kita harus menjaga kesetiaan dan kejujuran, menjadi batu karang yang kokoh di tengah badai kehidupan.  Di tempat kerja, kita dipanggil untuk bekerja dengan jujur dan profesional, membangun lingkungan yang mendukung dan saling percaya. Ketika kepercayaan dihancurkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban, tetapi juga oleh pelaku.  Yudas, setelah mengkhianati Yesus, akhirnya memilih jalan yang tragis karena rasa bersalah yang begitu dalam. Kisahnya adalah peringatan bagi kita semua bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Saudaraku, oleh karena itu, mari kita renungkan pentingnya menjaga kepercayaan dalam setiap aspek kehidupan kita. Mari kita hidup dengan ketulusan, menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepada kita, dan membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih.  HANYA dengan MENJAGA KEPERCAYAAN,  kita dapat menciptakan DUNIA YANG LEBIH BAIK,  penuh dengan CINTA, dan saling PENGERTIAN. (EBWR).

Integrity of the Believer

MAZMUR 26. Sahabat, Mazmur 26 diawali dengan permohonan Daud agar ia menerima keadilan. Mungkin saat itu ia difitnah oleh musuh-musuhnya, sehingga ia memohon agar Tuhan membersihkan nama baiknya.Maka tidak mengherankan jika dalam beberapa ayat berikutnya, Daud menyatakan bahwa dirinya akan tetap hidup dalam kebenaran, bahkan bersedia diuji dan diselidiki oleh Tuhan (Ayat 2).Daud juga menyatakan bahwa ia tidak duduk dengan penipu dan orang fasik. Ia tidak bergaul dengan orang munafik dan ia membenci perkumpulan orang jahat (Ayat 4-5). Komitmen Daud untuk hidup benar bukan sekadar perkataan karena ia melakukan apa yang menjadi komitmennya. Salah satu bukti nyatanya adalah ia menjaga lingkaran pertemanannya. Di tengah lingkungan yang hidup dalam kejahatan dan dosa, ia memilih untuk tetap hidup saleh dan menyembah Tuhan (Ayat 6-7). Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Integrity of the Believer (Integritas Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 26:1-12. Sahabat, ada perbedaan yang cukup mencolok antara orang sombong dengan orang jujur. Kesombongan berangkat dari keinginan pribadi untuk mendapatkan hormat atau sanjungan dari orang lain. Sedangkan kejujuran berangkat dari ketulusan dan kelurusan hati tanpa ada motivasi mencari keuntungan. Motivasi utama dari kejujuran adalah cinta akan kebenaran dan kerinduan agar kebenaran itu diungkapkan dengan nyata.Sahabat, Mazmur 26 bukanlah mazmur yang ditulis dengan motivasi kesombongan. Daud menuliskan mazmur ini dari kesadaran bahwa ia membutuhkan pembebasan dan belas kasihan Tuhan (Ayat 11). Kesadaran akan anugerah ini membawanya kepada cinta dan kerinduan akan rumah Tuhan (Ayat 8) serta komitmen untuk hidup dalam ketulusan dan iman tanpa keraguan (Ayat 1).  Daud tidak merasa dirinya suci dan saleh seolah-olah ia tidak pernah melakukan dosa. Sebaliknya, ia menyandarkan diri kepada pengampunan dan karya Allah dalam membentuk dan menuntunnya (ayat 1-7 dan  11). Sebab, Daud menyadari bahwa Allah adalah Allah yang Mahatahu. Karena itu, ia membuka dirinya untuk diuji dan diselidiki oleh Allah (Ayat 1-3). Dia menegaskan bagaimana dirinya menjauhi pergaulan dan perkumpulan orang-orang yang berbuat jahat dengan cara menceritakan kemuliaan Allah (ayat 4-7). Ia mengakhiri mazmurnya dengan menegaskan kerinduan hatinya akan rumah Tuhan (Ayat 8-12).Ketika Allah berkarya dalam diri manusia, Ia bukan hanya memberikan status yang baru kepada mereka (Yohanes 1:12). Ia juga memberikan kepada mereka cara pandang yang baru (2Korintus 5:16) dan selera hidup yang baru (Mazmur 26:3-8). Allah menginginkan setiap umat-Nya hidup dalam kekudusan (1Tesalonika 4:3). Kerinduan ini masih berlaku sampai hari ini.Integritas orang percaya tidak dibangun atas keberhasilan dan kemampuan manusia, melainkan semata-mata oleh karya Allah dalam iman. Marilah kita menghidupi iman dengan berkomitmen kepada kebenaran dan kekudusan demi kemuliaan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang menjaga lingkaran pertemanan kita? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kiranya komitmen Daud juga menjadi komitmen kita untuk terus menjaga hidup yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan. (pg).

TAK HANYA SETENGAH

Pemahaman iman yang setengah itu sungguh berbahaya.  Itulah yang terjadi pada para murid Yesus  sehingga mereka begitu pesimis walau mereka menjadi pengikut Sang Guru yang adalah Tuhan.  Mari renungkan Yohanes 20:1-10. Para murid yang berlarian ke kubur  setelah diberitahu oleh Maria Magdalena tentang lenyapnya jasad Sang Guru, termangu melihat kubur itu kosong dan hanya tersisa kain kafan.  Mereka tak pernah menyangka kalau jasad Yesus bisa hilang.   Siapa yang mengambilnya?  Tak ada orang Yahudi yang mau menjamah jenazah karena najis.  Itulah sebabnya para murid tidak memercayai ucapan Maria, namun setelah melihat kenyataan itu mereka percaya kepada Maria bahwa Sang Guru telah lenyap.  Petrus dan Yohanes yang menyaksikan hanya tahu bahwa jasad Yesus hilang.  Itu sungguh menyedihkan.  Maria Magdalena bahkan tak sanggup kembali ke rumah tempat mereka berkumpul dan meratap di taman itu.  Mereka tak pernah berpikir bahwa jasad itu hilang karena Yesus sudah bangkit.  Benar-benar tak terpikir oleh mereka.  Penulis Yohanes menyertakan satu ayat yang memberi keterangan: Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati (Yohanes 20:9). Senada dengan Injil yang lain, Yohanes menjelaskan bahwa para para murid juga tidak memahami pesan Guru bahwa Ia akan bangkit di hari ketiga setelah kematian-Nya.   Menemani Yesus siang dan malam tak menjamin para murid paham terhadap perkataan-Nya.  Mereka mendengarkan pengajaran-Nya namun tak memahami pesan-Nya.  Pemahaman iman mereka HANYA SETENGAH  dan berhenti di situ saja.   SETENGAH PAHAM  itulah yang membuat mereka punya respons negatif saat Yesus menjumpai mereka kembali, antara lain Maria mengira Dia penjaga taman, Thomas ingin memegang luka di tubuh-Nya dan para murid bertanya-tanya tentang lelaki yang memberi petunjuk untuk menebarkan jala.   Betapa pentingnya menjadi seorang murid sejati yang tak hanya berada di dekat dan di sekitar gurunya melainkan MEMAHAMI APA YANG DIINGINKAN.  Mengikut Yesus tak bisa setengah-setengah, maka Yesus mengatakan kalau mau mengikut-Nya seseorang harus meninggalkan segalanya untuk fokus kepada-Nya (Lukas 18:29).   Karena setengah paham inilah, mereka berada dalam kemuraman dan ketakutan bahkan kehilangan harapan di tengah keadaan yang susah.  Mereka tak berani memandang kehidupan karena tak belajar untuk melengkapi ‘puzzle’ pesan Yesus.   Saat ini kehidupan makin kompleks dan tantangan makin berat.  Banyak orang meninggalkan iman dalam Kristus dan keluar meninggalkan-Nya.  Inilah realitas kehidupan dan dibutuhkan IMAN YANG TAK HANYA SETENGAH  untuk dapat bertahan tanpa meninggalkan panggilan-Nya.   Saudaraku, iman yang terus belajar, makin diperlengkapi dan makin kuat untuk bertahan dan terus setia dalam panggilan-Nya. Mari terus belajar makin mengenal Dia dan makin dilengkapi sehingga makin kuat berakar dalam iman percaya dan bertahan dalam kasih karunia-Nya. JANGAN SETENGAH-SETENGAH  dalam mengikut Yesus.  TERUSLAH BELAJAR.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Keep Trusting God in Difficult Times

JALAN TUHAN. Sahabat, bagi orang-orang percaya segala jalan Tuhan adalah kasih dan kebenaran. Di dalam jalan-Nya ada cinta yang hangat, kasih yang memulihkan dan memuaskan hasrat kita, dalam kasih-Nya ada kesetiaan kepada kita. Orang yang siap menerima hadirat Allah setiap hari, akan mengalami Tuhan dan berkobar sepanjang waktu. Firman Tuhan menjamin, barangsiapa berpegang pada perjanjian dan peringatan-Nya, maka dia akan mengalami jalan Tuhan yang penuh kasih setia dan kebenaran. Jalan kasih setia adalah jalan yang diberikan oleh TUHAN kepada manusia yang penuh dengan kasih setia. Jalan ini diberikan sebagai wujud kasih setia ALLAH. Wujud perhatian dan pembelaan ALLAH kepada orang-orang yang berpegang pada perjanjian ALLAH dan peringatan-peringatan-Nya.  Mengapa kasih setia harus diberikan? Karena tidak banyak orang yang tetap berpegang kepada jalan TUHAN. Jalan TUHAN seakan adalah beban. Jalan TUHAN seakan adalah tidak sesuai dengan kebutuhan. Jalan TUHAN adalah seakan tidak sanggup memberikan solusi atas persoalan-persoalan hidupnya, sehingga mereka lebih suka memilih jalan sendiri.  Segala jalan TUHAN adalah kasih setia. Artinya tidak ada malapetaka di dalam jalan TUHAN. Tidak ada kecelakaan atau kehancuran di dalam jalan TUHAN. Meski sering jalan TUHAN susah dimengerti dengan akal sehat. Kadang jalan TUHAN tidak sanggup kita mengerti. Tetapi apa pun yang terjadi, Firman TUHAN menyatakan bahwa segala jalan TUHAN adalah kasih setia.  Pengalaman hidup kita bercerita bahwa  tidak mudah memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan itu, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”  (Yesaya 55:8-9).  Karena tak mampu memahami jalan Tuhan, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan, kehendak dan rencana kita, tetapi kita sendiri tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan. Jalan Tuhan itu kadang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Keep Trusting God in Difficult Times (Tetap Percaya Tuhan di Masa Sukar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 25:1-22. Sahabat, pepatah lama  mengatakan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Daud. Dalam Mazmur 25, Daud berhadapan dengan orang-orang yang membencinya (Ayat 2, 19). Ia juga merasa kesepian dan menderita (Ayat 16). Ia berada dalam kondisi terdesak (Ayat 17). Ia sengsara dan mengalami kesukaran karena dosa (Ayat 18). Bila kita mengalami seperti yang dialami Daud, kita mungkin akan putus asa, mengeluh, bahkan marah kepada Tuhan. Namun menariknya, Daud tidak merespons seperti itu. Ia memilih berdoa dan tetap percaya Tuhan di tengah kesukarannya. Perhatikan cara Daud menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan: Kuangkat jiwaku (Ayat 1), kepada-Mu aku percaya (Ayat 2), Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (Ayat 5), mataku tetap terarah kepada Tuhan (Ayat 15), aku berlindung kepada-Mu (Ayat 20), aku menanti-nantikan Engkau (Ayat 21).Mengapa Daud tetap percaya Tuhan di masa sukar? Karena ia mengenal Allahnya. Ia mengenal bahwa Allah adalah penyelamatnya (Ayat 5), penuh rahmat dan kasih setia (Ayat 6), yang memberi kebaikan (Ayat 7), yang bergaul dekat dengan orang yang takut akan Dia (Ayat 14), yang peduli pada sengsara umat-Nya (Ayat 15-20). Kepada Tuhan yang demikian, Daud berseru. Oleh karena itu, di tengah kesesakannya, Daud mencari Tuhan (Ayat 4), terbuka pada ajaran-Nya (Ayat 5), memohon pengampunan-Nya (Ayat 7, 11), dan berharap pada penghiburan dan kekuatan-Nya (Ayat 16-19). Meski situasi hidup menyesakkan dada, tetapi Daud tetap percaya bahwa Allah akan menolong. Bahkan kepercayaan itu membuat Daud berseru kepada Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari segala kesesakannya (Ayat 22).Sahabat, dalam menjalani hidup, pengenalan kita terhadap firman-Nya dan pengalaman kita bersama-Nya akan memupuk kepercayaan dan kasih kita kepada-Nya. Nantikanlah Tuhan dan tetaplah percaya pada-Nya dalam segala keadaan, karena Dialah Allah Penyelamat kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang Jalan Tuhan? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berjalanlah dalam jalan Tuhan maka kita akan menikmati kasih setia- Nya. (pg).

King of Glory

RAJA KEMULIAAN. Sahabat, jika Mazmur 23 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja yang memelihara segala aspek kehidupan manusia, maka Mazmur 24 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan.Pernyataan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan menjadi penekanan dalam Mazmur 24 karena dinyatakan sampai 5 kali (Ayat 7-10). Tuhan berdaulat atas bumi dan isinya (Ayat 1-2). Ia juga berdaulat atas manusia (Ayat 3-6). Ialah Allah yang kudus, yang hanya dapat disembah oleh mereka yang bersih tangannya dan murni hatinya (Ayat 3-4). Ia adalah Raja yang penuh anugerah, memberikan berkat dan keadilan kepada orang yang diselamatkan-Nya (Ayat 5). Ia juga Tuhan yang perkasa, yang kedatangan-Nya dinantikan oleh pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad lamanya menunggu-Nya (Ayat 7-10).Dalam sejarah keselamatan, Mazmur 24 dapat dilihat sebagai mazmur yang diberikan untuk menyambut Allah ketika Daud memindahkan tabut ke Yerusalem (2Samuel 6). Daud mengerti bahwa yang menjadi raja besar bukanlah dirinya, melainkan Allah, Raja Kemuliaan yang bertakhta di atas Kerubim. Karena itu, Daud membawa tabut tersebut ke Yerusalem supaya Allah sebagai Raja Besar bertakhta di ibu kota kerajaan.  Secara teologis, Mazmur 24 dapat ditafsirkan sebagai penyambutan terhadap Kristus sebagai Raja Kemuliaan ketika Ia datang untuk yang kedua kalinya nanti. Kristus akan berjalan masuk melalui pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad menantikan-Nya. Ia akan disambut dengan meriah oleh umat-Nya yang dengan setia menantikan-Nya.Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “King of Glory (Raja Kemuliaan)”, Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 24:1-10 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Mazmur 24 dimulai dengan pengakuan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan, dan seluruh alam semesta adalah hasil karyanya. Mazmur ini kemudian berbicara tentang orang yang dapat mendekati Tuhan, dan pada akhirnya, pintu gerbang dan pintu-pintu gerbang yang kekal akan terbuka bagi Raja Kemuliaan. Bacaan kita pada hari ini menyoroti pertanyaan retorik: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” yang dijawab dengan, “TUHAN, gagah dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!” (Ayat 8). Hal itu merujuk pada pengakuan akan kebesaran Tuhan sebagai Raja yang perkasa, yang memiliki otoritas mutlak atas segala sesuatu, termasuk kemenangan dalam peperangan.  Mazmur 24 memiliki kaitan dengan upacara memasuki Bait Suci di Yerusalem, di mana raja atau pahlawan perang membawa Tabut Perjanjian ke dalam kota dengan upacara kebesaran. Pertanyaan, “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” mencerminkan kekaguman dan hormat terhadap kehadiran Tuhan yang gagah dan perkasa.  Sahabat, bacaan kita pada  hari ini memberikan beberapa poin untuk kita renungkan:  Pertama, pengakuan akan Kebesaran Tuhan. Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan tentang kebesaran Tuhan sebagai Raja Kemuliaan. Hal ini mengajak kita untuk merenungkan dan menghormati keagungan dan keperkasaan Tuhan dalam segala hal.  Kedua, kemuliaan Tuhan dalam pertempuran. Ungkapan “TUHAN, perkasa dalam peperangan” menyoroti bahwa Tuhan adalah penguasa yang memiliki kekuatan dan kemenangan mutlak, bahkan dalam situasi peperangan atau tantangan hidup. Hal ini bisa menginspirasi kita untuk menempatkan kepercayaan dan harapan kita pada Tuhan ketika kita menghadapi cobaan atau pertempuran dalam hidup.  Ketiga, refleksi atas pemimpin dan kepemimpinan. Pernyataan ini merujuk pada pemimpin-pemimpin manusia, seperti raja atau pemimpin perang, yang harus mengakui kekuatan dan kepemimpinan Tuhan di atas segalanya. Hal ini dapat memberikan dorongan untuk mencari pemimpin yang taat kepada Tuhan dan mengingat bahwa keberhasilan sejati datang dari-Nya. Keempat, penghargaan terhadap kekuatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan “gagah dan perkasa” juga dapat mengingatkan kita untuk menghargai kekuatan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Meskipun Tuhan memiliki kekuasaan yang luar biasa, Ia juga peduli dengan kehidupan sehari-hari kita. Karena itu, renungan ini dapat membangkitkan rasa kagum, rasa hormat, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan yang kuat dan mulia dalam hidup kita. Haleluya! Tuhsn itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenungan kita dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari frasa “Raja Kemuliaan”? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita hidup dengan setia menantikan hari kedatangan Raja Kemuliaan. (pg).

HIDUP ADALAH PERJALANAN

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Mazmur 119:105: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Ada satu pengalaman menarik, saya pernah tersesat dengan seorang teman ketika menuju suatu tempat. Kami tersesat karena salah satu aplikasi yang kami gunakan, tidak bisa memberi arah yang benar. Alhasil bukannya kita sampai ke tempat yang kita tuju, justru kita disesatkan melewati jalan yang sangat sempit yang hampir membuat kami celaka. Tentu saja pengalaman saya ini bukan satu-satunya. Mungkin Saudara-saudara juga pernah mengalami kejadian serupa, karena menggunakan aplikasi petunjuk jalan, yang justru menyesatkan perjalanan kita.  Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan lika-liku, pilihan, dan tantangan. Dalam perjalanan ini, kita seringkali dihadapkan pada jalan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, kita bersyukur karena kita memiliki Firman Tuhan yang dapat kita gunakan sebagai pelita yang dapat menerangi, memberikan arah, bimbingan, dan kekuatan dalam langkah hidup kita. Firman Tuhan berbeda dengan aplikasi petunjuk jalan. Walaupun sama-sama dapat memberikan arah, tetapi keakuratan Firman Tuhan 100% dan sudah teruji. Renungkan ! Mungkin hari-hari ini kita sedang hidup dalam kebimbangan dan keragu-raguan. Banyaknya masalah yang terjadi, justru membuat kita jauh dari Sang Firman itu sendiri. Masihkah kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan? Memiliki waktu pribadi dengan bersaat teduh setiap hari? Atau justru kita menggantikan Tuhan dengan hobi, kegiatan-kegiatan yang justru menjauhkan kita dari Sang Firman itu sendiri? Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan dinamika. Kadang kita menghadapi jalan yang terang dan mudah dilalui, namun ada kalanya kita juga berhadapan dengan jalan yang gelap dan penuh ketidakpastian. Mazmur 119:105 mengingatkan kita bahwa firman Tuhan adalah pelita yang dapat menerangi langkah-langkah kita. Dengan firman-Nya, kita tidak perlu takut tersesat atau salah langkah, karena Tuhan akan selalu memberikan kita petunjuk yang tepat pada waktu yang tepat. Marilah kita selalu menjadikan firman Tuhan sebagai panduan utama dalam setiap langkah dan keputusan kita, agar perjalanan hidup kita senantiasa berada di jalur yang benar dan menuju kepada rencana-Nya yang indah. Amin, Tuhan Yesus memberkati. Pesan: Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

Yang Terbatas di Tangan Yang Tak Terbatas:Belajar dari Kisah Gideon

Pernahkah Saudara merasa seperti pensil tua yang hampir habis? Terkadang, hidup bisa membuat kita merasa terbatas, terbatas oleh kemampuan, keadaan, atau bahkan oleh pandangan orang lain terhadap kita.  Ada sebuah pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil dari sebuah pensil biasa. Pensil, meski tampak sederhana, bisa menjadi alat untuk menciptakan karya seni yang luar biasa jika berada di tangan seorang maestro. Demikian juga dengan hidup kita, ketika kita menyerahkannya ke tangan Tuhan yang tak terbatas, hidup kita yang tampak terbatas bisa berubah menjadi luar biasa. Kisah Gideon dalam Alkitab adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana Tuhan mengubah yang terbatas menjadi alat yang luar biasa. Gideon adalah seorang yang sangat biasa, mungkin lebih dari biasa, dia merasa dirinya paling kecil dan paling lemah di antara bangsanya.  Dalam Hakim-Hakim 6:15, dia mengungkapkan keraguannya kepada Tuhan, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.”  Gideon melihat dirinya seperti pensil yang tumpul dan pendek, tidak berguna untuk menulis cerita yang hebat. Namun, justru di saat itulah Tuhan datang dan memanggilnya untuk melakukan sesuatu yang besar. Saudaraku, mari kita ambil ilustrasi sederhana: Bayangkan sebuah pensil kecil yang hampir habis dan sudah tumpul. Pensil itu sendiri mungkin merasa tidak berguna lagi, namun ketika seorang seniman hebat mengambilnya, dia bisa mengubah lembaran kertas putih menjadi karya seni yang mengagumkan.  Demikian juga dengan Gideon. Ketika Tuhan memegang hidupnya, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pemimpin besar yang menyelamatkan bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan kita bukanlah penghalang bagi Tuhan untuk melakukan karya besar melalui hidup kita. Rasul Paulus juga pernah mengalami hal yang sama. Dalam 2 Korintus 12:9, Paulus menulis, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’”  Di sini, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan bisa bekerja dengan cara yang jauh melampaui pemahaman kita. Seperti pensil yang tampak lemah, namun di tangan Tuhan, kita bisa menjadi alat yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Ketika Tuhan memanggil Gideon, Dia tidak melihatnya sebagai orang yang lemah atau terbatas. Tuhan melihat potensi yang besar di dalam diri Gideon, potensi yang hanya bisa terwujud jika Gideon bersedia menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Tuhan berkata kepada Gideon, “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau?” (Hakim-Hakim 6:14).  Ini adalah momen penting di mana Tuhan mulai menulis cerita baru dalam hidup Gideon. Sama seperti seorang seniman yang mulai menggambar, Tuhan mulai menggoreskan rencana-Nya melalui hidup Gideon. Hal yang sama berlaku bagi kita. Mungkin kita merasa hidup kita biasa saja, atau bahkan tidak berarti. Namun, dalam Yeremia 29:11, Tuhan berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”  Saudaraku, Tuhan memiliki rencana yang indah untuk setiap dari kita, meskipun kita merasa terbatas atau tidak cukup baik. Seperti pensil di tangan seorang seniman, hidup kita ada dalam rancangan Tuhan yang sempurna. Puncak dari kisah Gideon adalah ketika dia memimpin pasukan yang sangat kecil, hanya 300 orang, melawan ribuan tentara Midian. Secara manusiawi, ini adalah misi bunuh diri, sebuah pertempuran yang tidak mungkin dimenangkan. Namun, Tuhan tidak membutuhkan banyak orang atau kekuatan yang besar. Dia hanya membutuhkan hati yang taat dan bersedia dipakai.  Sama seperti pensil yang mungkin tidak menyadari bahwa dia sedang digunakan untuk menciptakan sebuah mahakarya, Gideon juga mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang besar melalui dirinya. Dalam 1 Korintus 1:27, tertulis, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Tuhan sering kali memilih yang lemah dan terbatas untuk menunjukkan betapa besar kuasa-Nya. Gideon, yang merasa dirinya tidak layak, akhirnya menjadi alat yang luar biasa di tangan Tuhan. Kesimpulannya, mungkin saat ini Saudara merasa seperti hidupmu adalah pensil kecil yang tumpul dan hampir habis. Tapi ingatlah, di tangan Tuhan, Sang Maestro, hidupmu bisa menjadi alat yang luar biasa untuk karya-Nya. Tuhan bisa memakai setiap kita, seperti Dia memakai Gideon, untuk melakukan hal-hal besar. Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, karena di tangan Tuhan, keterbatasanmu bisa menjadi kekuatan yang memuliakan nama-Nya. Marilah kita serahkan hidup kita kepada Tuhan, seperti pensil yang diserahkan kepada seorang seniman. Biarkan Dia yang menggambar dan menulis cerita hidup kita. Tidak peduli seberapa terbatasnya kita, di tangan Tuhan yang tak terbatas, kita bisa menjadi berkat dan menciptakan sesuatu yang indah dan bermakna. Percayalah, Tuhan punya RENCANA BESAR BAGI HIDUPMU! (EBWR).

LEMAH SAAT MARAH

Saudaraku, titik terlemah manusia bukan pada kemiskinan atau ketimpangan melainkan saat ego yang terusik dan memicu kemarahan tak terkendali.  Sejarah mencatat banyaknya kematian diakibatkan hal ini.  Mari ikuti salah satu kisahnya dengan merenungkan dari Yohanes 19:1-16. Pilatus memang licik. Ia sengaja mengulang kata yang membuat para imam Bait Suci alergi terhadap Yesus untuk membuat mereka makin marah dan brutal.  Kata itu adalah “raja Yahudi”.  Pilatus dengan jitu memanfaatkan orang-orang yang marah itu dan hingga pada akhirnya terlontar kalimat yang haram diucapkan oleh orang yahudi biasa sekalipun yaitu Kami tak punya raja selain Kaisar (Yohanes 19:15).   Kalimat tersebut janggal mengingat kolotnya pemikiran pemimpin agama Yahudi yang haram untuk tunduk di bawah Kaisar Romawi dan bahkan rela mati dibandingkan tunduk kepadanya.  Tapi Pilatus berhasil menggoyangkan prinsip dan akal sehat mereka sehingga mereka bahkan mengatakan hal yang diharamkan oleh mereka sendiri, membelakangi prinsip suci mereka untuk hanya tunduk kepada Tuhan dan bahkan mengkhianati Taurat.  Wow … betapa lemahnya orang yang sudah dibakar kebencian dan kemarahan, saat egonya diobarak abrik oleh orang lain sehingga ia bahkan tak mampu berpikir logis dan benar.  Penulis Amsal mengingatkan bahwa orang yang tak dapat menahan diri bagaikan kota yang runtuh temboknya (Amsal 25:28).  Ego yang terhina menimbulkan kemarahan, menggerogoti penguasaan diri dan pada akhirnya membobol benteng kewarasan sehingga mereka menjadi lemah untuk dimanfaatkan.  Kemarahan selalu membawa kelemahan. Berhati-hatilah dengan usikan ego yang menimbulkan kemarahan yang meledak karena saat itulah manusia berada di titik terlemahnya karena ada banyak prinsip ditanggalkan, dijual dan dikhianati olehnya.  Para imam Yahudi yang terkenal kuat menjaga prinsip dan independensi, terbukti telah masuk dalam jebakan Pilatus dan mengakui Kaisar sebagai raja.  Daripada mengakui anak tukang kayu sebagai raja, lebih baik dikuasai kaisar.  Mungkin itu cara berpikirnya.   Betapa berbahayanya kebencian dan betapa dahsyatnya daya lebur kemarahan sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia yang marah sehingga ia kehilangan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu nasihat Rasul Paulus yang mengatakan saat kemarahan menguasai, jangan sampai pada akhirnya berbuat dosa (Efesus 4:26) menunjukkan betapa lebarnya jalan kepada pelanggaran dan lemahnya manusia saat logikanya dirampas dan dikuasai oleh api amarah.   Saudaraku, logika dan prinsip menguatkan dan menyeimbangkan manusia namun KEMARAHAN  bisa MENGHABISINYA  dalam SEKEJAB, bahkan ia bisa mengambil Langkah yang ditolaknya sendiri dalam kondisi biasa. Hidup bukanlah mudah, marah adalah hal yang biasa ditemui sebagai respons ketidak puasan manusia.  Namun berhati-hatilah Ketika memutuskan untuk marah dan meletupkan kebencian karena saat itu adalah saat genting hilangnya logika dan terbukanya kesempatan untuk berdosa dan bahkan dikendalikan orang lain.   Saudaraku, tetaplah mohon Roh Kudus memimpin sehingga mampu MENJAGA LOGIKA KETIKA MARAH MELANDA.   Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)