Elia dan Overthinking: Belajar Percaya di Tengah Ketakutan

Saudaraku, renungan kali ini saya tulis berdasarkan 1 Raja-Raja 19:4 dan 12. Dalam dunia yang serba cepat ini, kita sering kali tenggelam dalam overthinking, terus memikirkan masalah hingga semuanya terasa lebih besar dari yang sebenarnya. Kita terjebak dalam kekhawatiran dan skenario terburuk yang belum tentu terjadi. Padahal, semakin kita memikirkannya, semakin kita kehilangan ketenangan. Bagaimana jika kita, seperti Elia, bisa belajar untuk berhenti sejenak dan memercayai Tuhan di tengah semua kebingungan? Elia, seorang nabi yang penuh kuasa, baru saja menyaksikan kemenangan besar di Gunung Karmel, ketika Tuhan membuktikan diri-Nya lebih besar dari Baal. Namun, tak lama setelah itu, ancaman Izebel membuatnya lari ketakutan. Di tengah ketakutannya, Elia duduk di bawah pohon arar dan meminta Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. “Cukuplah itu, ya Tuhan, ambillah nyawaku”, katanya dalam keputusasaan (1 Raja-Raja 19:4). Elia yang berani ini, tiba-tiba terjebak dalam overthinking, merasa kalah dan tidak berguna, meskipun baru saja meraih kemenangan besar. Sering kali, kita pun terjebak dalam pola yang sama. Kita merasa takut dan tidak berharga ketika dihadapkan pada masalah yang tampak besar. Pikiran kita dipenuhi kecemasan, dan kita lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita kemarin masih ada bersama kita hari ini. Seperti Elia, kita sering melupakan siapa yang berdaulat di tengah badai kita. Ketakutan dan overthinking membuat kita buta terhadap kuasa Tuhan. Namun, Tuhan tidak meninggalkan Elia dalam keadaan putus asa. Dia tidak muncul dalam gemuruh angin, gempa, atau api, melainkan dalam suara angin sepoi-sepoi (1 Raja-Raja 19:12). Tuhan mengingatkan Elia, dan juga kita, bahwa Dia hadir dalam keheningan, bukan dalam kebisingan. Di tengah kekacauan pikiran dan kecemasan, Tuhan berbicara dengan lembut, memberi kita ketenangan. Pelajaran ini sangat relevan bagi kita hari ini. Kita hidup dalam dunia yang bising, di mana segala sesuatu bergerak cepat dan sering kali membuat kita terjebak dalam overthinking. Namun, Tuhan memanggil kita untuk berhenti sejenak, tenang, dan mendengarkan suara-Nya. Dia mengajarkan kita bahwa kepercayaan kepada-Nya tidak memerlukan kepanikan atau usaha berlebihan, melainkan keyakinan bahwa Dia bekerja dalam cara yang mungkin tidak selalu terlihat. Jadi, bagaimana kita mengatasi overthinking dalam hidup sehari-hari? Pertama, KITA HARUS MENGALIHKAN FOKUS KITA,  dari masalah yang tampak besar ke Tuhan yang lebih besar. Ketika pikiran kita dipenuhi dengan kecemasan, kita harus memilih untuk menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Elia merasa sendirian, tapi Tuhan memberitahunya bahwa masih ada ribuan orang yang setia. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita merasa terisolasi dalam masalah kita, Tuhan selalu memiliki rencana, dan kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kedua, KITA HARUS MENDENGARKAN TUHAN DALAM KETENANGAN. Dalam dunia yang sibuk, kita cenderung mencari jawaban dalam kebisingan, lebih banyak kerja, lebih banyak analisis, lebih banyak usaha. Namun, Tuhan mengundang kita untuk berhenti dan mendengarkan. Dalam momen tenang itu, kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang memberi damai. Overthinking hanya akan membawa kita lebih jauh dari Tuhan, tetapi kepercayaan pada-Nya membawa kita mendekat pada ketenangan sejati. Ketiga, KITA HARUS PERCAYA PADA RENCANA TUHAN,  bahkan ketika kita tidak mengerti semua detailnya. Elia merasa segalanya sudah berakhir, tapi Tuhan masih memiliki rencana besar untuknya. Begitu juga dengan kita. Ketika kita merasa tidak ada jalan keluar, Tuhan sedang bekerja dalam keheningan. Dia memanggil kita untuk percaya, untuk melepaskan kendali, dan membiarkan Dia memimpin. Kisah Elia mengajarkan bahwa overthinking adalah lawan dari iman. Ketika kita terus memikirkan semua yang bisa salah, kita lupa bahwa Tuhan yang berkuasa. Namun, ketika kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dan memilih untuk percaya, kita menemukan ketenangan. Seperti Elia, kita dipanggil untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara Tuhan yang lembut di tengah kekacauan pikiran. Percaya kepada Tuhan tidak berarti kita memahami segala sesuatu; itu berarti kita berserah, bahkan ketika jalan di depan kita tampak gelap. Tuhan tidak hanya bekerja dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam momen-momen kecil yang penuh kedamaian. Di tengah badai pikiran kita, Dia memanggil kita untuk percaya, berhenti overthinking, dan menemukan damai dalam hadirat-Nya. (EBWR).

JEBAKAN RASA INGIN TAHU

Saudaraku, setiap manusia memiliki rasa ingin tahu.  Suatu saat seorang lewat di depan sebuah tembok dan ia melihat sebuah lubang kecil di tembok itu dengan tulisan di bawah lubang itu: “dilarang mengintip!”. Gegara tulisan itu, pejalan kaki itu penasaran dan mengintip dari lubang tersebut.  Karena rasa ingin tahu membuat  larangan bagaikan himbauan. Dahsyatnya pengaruh rasa ingin tahu juga dirasakan oleh Hawa, maka mari membaca dan merenungkan Kejadian 3:1-7. Ular yang cerdik tahu pergolakan batin Hawa dan mengatakan sebuah fakta tentang buah pengetahuan baik dan jahat yang sengaja dibuka untuk menggoda Hawa.  Saat Hawa mendengar informasi faktual dari binatang secerdik ular, ia percaya.   Buah yang tadinya nampak biasa, menjadi luar biasa sehingga ia mengabaikan larangan Tuhan.    Penulis Kejadian menginformasikan dengan buah di pohon itu baik dan menarik untuk dipandang (Kejadian 3:6).  Inilah awal dari kejatuhan manusia. Tuhan memberikan rasa ingin tahu kepada manusia untuk dapat mengembangkan dirinya, namun saat rasa ingin tahu tak terkuasai lagi maka itu akan menjadi jebakan bagi manusia itu sendiri.   Dalam kasus Hawa, sudah ada aturan dari Tuhan tentang pohon itu (Kejadian 2:17) namun Hawa merasa memakan buah adalah solusi memuaskan rasa ingin tahunya.  Hanya saja Hawa tidak mawas diri dan apalagi menyadari bahwa apa yang nampak menarik tak selalu benar.  Hawa terjatuh dalam jebakan keingin tahuan yang tak terkendali sehingga membuat apa yang terlarang menjadi kewajaran dan kejatuhannya berdampak luas hingga berpengaruh terhadap keturunannya.   Gegara rasa ingin tahu yang berlebihan itu, rasa respek kepada Tuhan luntur dan ia tidak lagi mempercayai apa yang dikatakan Tuhan kepadanya tentang akibat memakan buah pengetahuan itu.  Hawa tak lagi percaya, maka itulah yang disebut dengan pemberontakan kepada Allah.  Bagi Hawa, rasa ingin tahu harus dipuaskan tanpa mengindahkan aturan kebenaran. Saudaraku, Aristoteles mengatakan bahwa keingin tahuan adalah gairah awal pengetahuan.  Melalui rasa ingin tahu, manusia mengembangkan pengetahuan dan pengenalannya terhadap sekitarnya.  Namun rasa ingin tahu rawan untuk menjebak manusia dalam  situasi yang tak diinginkan, maka manusia perlu untuk memiliki rasa respek kepada kebenaran dalam Tuhan, padahal hanya kebenaran itulah yang dapat membuat manusia mengendalikan dirinya.   Tak semua rasa ingin tahu harus dipuaskan, karena masih ada norma, aturan dan tentunya Firman Tuhan agar manusia tetap hidup dalam harmoni.  maka manusia harus waspada dengan keinginannya sendiri sebagaimana  Rasul Yakobus mengatakan: Sesungguhnya keinginanmu sendirilah yang membuat kamu tergoda, karena kamu membiarkan dirimu terseret sampai terjerat pada hawa nafsu itu (Yakobus 1:14, TSI).   Saudaraku, mari terus mengembangkan rasa mawas diri agar keinginan tidak menjebak dan menjadi jerat bagi diri sendiri.  Mari pahami bahwa semua rasa ingin tahu tak harus terjawab karena misteri kehidupan akan membuat manusia tetap respek kepada Sang Pencipta.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Surrender in God

MAZMUR 31. Sahabat, menjadikan TUHAN tempat perlindungan kita adalah sikap yang tepat dan benar. Entah apa pun yang terjadi dalam hidup kita, jadikanlah TUHAN tempat perlindungan kita. Jika kita membaca Mazmur 31 secara lengkap, maka kita akan melihat bagaimana Pemazmur sedang mengalami situasi yang genting di dalam hidupnya.  Nama baik Pemazmur dijatuhkan oleh para musuhnya, ia dicela (Ayat 12) oleh persekongkolan orang (Ayat 21), ia dikejar-kejar (Ayat 16), dia ditinggalkan orang (Ayat 12-13), menderita sakit (Ayat 10-11), dipermalukan, seakan-akan ia tidak lagi orang dikasihi Tuhan, bahkan dia adalah orang yang dibuang Tuhan (Ayat 23).  Dalam situasi yang genting tersebut Pemazmur berdoa dan meminta tolong kepada Tuhan; situasi yang genting tersebut membuat Pemazmur memohon supaya Tuhan segera melepaskan dia. Pemazmur menyerahkan permasalahan hidup yang dihadapinya kepada Tuhan dengan harapan bahwa dia tidak akan malu oleh karena musuh-musuhnya. Pemazmur hanya mengandalkan Tuhan dan dengan penuh percaya dia berkata: “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” (Ayat 6).   Bagi Pemazmur, sebagai penolong,  Tuhan itu sangat terbukti dan setia, bagi Pemazmur Tuhan adalah gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan yang menyelamatkan, penuntun dan pembimbing.   Syukur kepada Tuhan, pada hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Surrender in God (Berserah Diri Kepada Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 31:1-9. Sahabat,  pada detik-detik terakhir hidup-Nya, Yesus berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Kalimat tersebut merupakan kata-kata terakhir Yesus setelah melewati jalan salib yang panjang. Apakah itu berarti bahwa Yesus tidak dapat berbuat apa-apa untuk melawan penderitaan yang dialami-Nya? Jawabannya tentu saja “Tidak.” Apa yang Yesus katakan adalah bentuk penyerahan diri-Nya kepada Bapa. Sebab, Yesus tahu itulah tujuan Bapa mengutus-Nya ke dalam dunia.Mazmur 31 berisi doa memohon perlindungan TUHAN. Dalam permohonannya, Daud memercayakan dirinya kepada TUHAN (Ayat 2). Baginya, TUHAN itu seperti gunung batu dan kubu perlindungan yang kukuh (Ayat 3). Berada dibalik-Nya pastilah aman dari serangan musuh-musuhnya.  Mengapa Daud dapat begitu percaya kepada TUHAN? Karena Daud tahu bahwa TUHAN akan melindunginya oleh karena nama dan kasih setia-Nya (Ayat 4 dan 6). Kesetiaan Allah adalah kesetiaan yang teguh. Ketika Ia melindungi orang yang dikasihi-Nya, maka tidak ada satu kuasa pun yang dapat mengalahkan-Nya.  Sahabat, pengalaman Daud selama masa mudanya membuatnya tidak pernah meragukan TUHAN yang disembahnya. Berkali-kali dia diluputkan dari bahaya maut yang dirancang oleh para musuhnya. Ketika Daud memercayakan hidupnya dalam kuasa TUHAN, maka amanlah dia,  karena itu, ia bersorak-sorai dan bersukacita di hadapan para lawannya.Berserah diri kepada Allah berarti kita memercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya. Sepenuhnya berarti segenap  kehidupan kita, seperti: Pekerjaan, pendidikan, keluarga, pelayanan, kesehatan, keuangan, dan lain-lainnya.  Sahabat, berserah diri kepada Allah tidak secara otomatis membuat hidup kita terhindar dari masalah. Mungkin akan ada banyak masalah yang datang. Saat itulah kita akan tahu bahwa Allah adalah PELINDUNG dan PENOLONG yang dapat dipercaya. Marilah belajar dari Daud yang tidak mengandalkan dirinya, melainkan berserah hanya kepada Allah yang setia. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh darai hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan tidak akan membiarkan kita dipermalukan oleh dunia ini dan oleh musuh-musuh kita sebaliknya Tuhan akan meluputkan kita dengan keadilan-Nya. (pg).

Thanksgiving Song

MAZMUR 30. Sahabat Mazmur 30 merupakan nyanyian pada saat penahbisan Bait Suci yang ditulis oleh Daud. Dalam mazmurnya ini, Daud mencoba mengingat hal apa saja yang sudah terjadi di dalam kehidupan yang tidak mudah dijalaninya. Mulai dari ancaman Saul yang iri hati, belum lagi ancaman musuh-musuhnya di medan pertempuran, pemberontakan anaknya sendiri dan masih banyak lagi.  Bahkan tidak mudah bagi Daud mempersiapkan segala sesuatu terkait pendirian Bait Allah. Hanya saja, Daud mengakui bahwa ia tidak tergoyahkan dengan semuanya itu oleh karena ia tahu Tuhan Allah menolongnya. Saat ia berseru dan memohon, Tuhan mendengar. Tuhanlah yang menjadi Penolongnya. Tuhanlah yang membuat segala sesuatu yang awalnya adalah ratapan kesedihan dan kesusahan, menjadi sukacita kebahagiaan.Ada banyak hal yang membuat hidup kita susah, pekerjaan kita sulit dan pelayanan kita seperti berjalan di tempat. Selama kita jalani bersama Tuhan dan karena Tuhan, selalu ada kekuatan dan pertolongan di dalam-Nya. Kita patut berseru dan memohon kepada-Nya, serta percaya Tuhan akan menolong dan memberi kita kekuatan. Sedikit saja waktu untuk terus bertahan di dalam Tuhan menghadapi semuanya, maka Tuhan akan menolong sehingga segala sesuatunya menjadi baik. Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Thanksgiving Song (Nyanyian Syukur)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 30:1-13. Sahabat, bersyukur merupakan  hal yang lazim kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan. Namun seringkali syukur kita lebih berorientasi pada berkat atau kesenangan. Bila dalam keadaan yang sulit, terjepit, dan gagal, biasanya sulit bagi kita untuk bersyukur. Mungkin karena kita berpikir, “Apa yang mau disyukuri di tengah kondisi sulit seperti ini?”Mazmur 30 sangat kental dengan ucapan syukur Daud kepada Tuhan (Ayat 2, 3, dan 13 ). Mengapa Daud bersyukur kepada Tuhan?  Pertama, karena meski hidupnya susah, tetapi Tuhan setia (Ayat 2-4). Kesetiaan Tuhan dirasakan oleh Daud di tengah kesusahannya karena musuh-musuhnya, dalam kesesakannya, dalam dukacitanya.  Kedua, karena meski sesaat Tuhan murka, tetapi seumur hidup Tuhan murah hati (Ayat 6). Daud tahu rasanya dimurkai Tuhan karena dosanya, tetapi bagi Daud murka itu tidaklah sebanding dengan kemurahan hati yang telah Tuhan nyatakan di dalam hidupnya. Ia telah menyaksikan bahwa murka Tuhan itu hanya sesaat, dibandingkan kemurahan Tuhan di sepanjang umurnya.  Ketiga, karena meski pernah sombong, tetapi Tuhan mau menolong (Ayat 7-12). Dalam kesenangannya, Daud pernah jatuh dalam dosa kesombongan. Ia berpikir bahwa dengan kekuatannya, ia tidak akan goyah. Namun Tuhan menegur kesombongannya dan menyadarkan Daud bahwa kekuatannya adalah karena pertolongan Tuhan semata. Karena Tuhanlah yang mengubah ratapnya menjadi tarian, perkabungannya menjadi sukacita.Sahabat, dalam kesusahan, dalam keberdosaan, dan dalam kejatuhan, Daud tetap dapat menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Hari ini, masih bisakah kita menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan, meski di tengah kesulitan dan kesakitan? Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melalui pengalaman hidupnya, Daud meyakinkan kita bahwa satu-satunya penolong hanyalah Tuhan. Allah, bukan hanya memberikan kesembuhan, tetapi juga mengobarkan kembali semangat yang telah padam dan memberikan harapan baru. (pg).

POST HOLIDAY BLUES

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Pengkotbah 3 :11: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Mari kita terlebih dahulu menghafalkan surat Roma 15:13: “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah.” Apakah ada diantara kita yang pernah mengalami suntuk, jenuh, bahkan sedih, sesaat setelah selesai liburan? Jika ya, bisa jadi Saudara mengalami yang namanya “post-holiday blues”. Saat hendak berlibur, kita akan fokus pada rencana perjalanan dan persiapan yang dibutuhkan. Kita merasa akan semangat, gembira, dan penuh gairah. Setelah liburan berakhir, beberapa orang akan merasa bosan, terisolasi, dan “tersesat” saat kembali ke rutinitas mereka yang semula. Masalah yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang mengalami “post-holiday blues” adalah mereka memiliki orientasi yang salah terhadap liburan itu sendiri. Ada yang menganggap liburan sebagai tujuan, beberapa orang berkata,”Cari duit yang banyak, supaya bisa liburan”.  Ada yang terlalu all-out (berlebihan) saat liburan, mereka melakukan pemanjaan diri dan pemenuhan keinginan secara ekstrim saat liburan, bahkan tak jarang melebihi anggaran yang sudah ditetapkan. Mereka menjadikan hari libur untuk memenuhi kekosongan dalam dirinya, mereka lengah saking senangnya.  Namun ketika liburan berakhir, berakhir pula kegembiraannya. Liburan memang musim yang menyenangkan, tapi ketika kegembiraan yang sesaat itu menjadi landasan hidup, kita akan mengalami “post-holiday blues”, harapan itu akan segera menguap.  Ingat, liburan tidak pernah menampung harapan kita akan kepuasan dan kegembiraan. Salomo berkata bahwa Tuhan menempatkan kekekalan dalam hati manusia, dan hanya Tuhan yang kekal yang dapt memuaskan kerinduan hati kita.  Karena itu, di dalam liburan kita, jaga ekspektasi kita tetap terkendali. Atur perjalanan yang masuk akal agar segalanya dapat terlaksana dengan lancar, misalnya sesuai dengan waktu dan anggaran. Jangan lupa bahwa berlibur adalah salah satu bentuk berkat Tuhan. Mari kita mengingat Lukas 12:22: “Aku berkata kepadamu : jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kau makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai”. Kita sering lupa, bahwa penghiburan bukan hanya berlibur. Tapi mensyukuri pemeliharaan kesehatan kita, keluarga kita, dan lain-lain. Lukas menulis dan mengingatkan kita bahwa kekhawatiran/setres kita sering ambil jalan pintas. Bahwa Firman Tuhan adalah penghiburan sejati dan memberikan kepuasan sejati. Kita tidak mencari kepuasan tertinggi pada hal-hal sepele di dunia, yang mudah berubah dan cepat berlalu, melainkan pada saat kita akan bersama Tuhan di kediaman-Nya.  Karena itu, saat berlibur, jangan lupakan waktu-waktu saat teduh bersama Tuhan, kita diperintahkanuntuk bersukacita di dalam Dia. Pandangan yang sehat dan alkitabiah terhadap liburan tidak akan membuat Saudara mengalami “post-holiday blues”, melainkan memberi kesegaran , insprasi, dan rasa syukur kepada Tuhan. REFLEKSI DIRI Pernahkah Saudara mengalami rasa suntuk, jenh, dan sedih ketika Anda baru selesai berlibur? Apa sebabnya? Bagaimana Saudara akan mengatasi post-holiday blues? YANG HARUS DILAKUKAN Jaga ekspektasi kita selama liburan. Jangan berlebihan dan jangan lupakan waktu-waktu saat teduh bersama Tuhan, karena kita diperintahkan untuk bersukacita di dalam Dia. POKOK DOA Tuhan Yesus, aku bersyukur untuk berkat liburan yang Tuhan beri. Kiranya Tuhan memberiku karunia menikmati, agar di dalam liburan ini, aku tetap dapat berukacita di dalam Engkau dan ekspektasiku tetap terjaga. Di dalam nama Tuhan Yesus, amin. HIKMAT HARI INI Kebanyakan orang mengalami “post-holiday blues” karena mereka menetapkan orientasi yang salah terhadap liburan itu sendiri. (PW).

The Sovereign God

SUARA TUHAN. Sahabat kata TUHAN adalah kata paling dominan dalam Mazmur 29. Kata tersebuti diulang 18 kali, seakan-akan Daud ingin memenuhi pikiran dan perasaan pembacanya dengan TUHAN. Jika kita meneliti beberapa nama tempat yang disebut oleh Daud, kita akan mendapati wilayah geografis yang mencakup seluruh wilayah Israel. Libanon (Ayat 5) terletak di wilayah Utara Israel, sedangkan padang gurun Kadesh (Ayat 8) terdapat di wilayah Selatan Israel.  Daud ingin memastikan bahwa tidak ada ruang tersisa dalam hati seseorang yang diisi dengan hal lain selain TUHAN. Hanya TUHAN saja, dengan segala keagungan,  kemuliaan dan kemegahan-Nya, yang sepatutnya memenuhi pikiran kita. Pikirkanlah Dia! Daud melakukannya dan ia tidak tahan untuk tidak mengajak “para penghuni sorgawi” (Ayat 1). Perkataan tersebut berasal dari bahasa Ibrani yang arti harfiahnya adalah “anak-anak Allah”.  Jadi, yang dimaksud bukan hanya para malaikat di surga, tetapi juga semua orang yang percaya kepada Allah, untuk menyembah dan memuliakan TUHAN bersama dengan dirinya. Seandainya kita mengarahkan hati dan pikiran kita hanya kepada TUHAN, orang-orang akan terbawa untuk sujud menyembah dan memuliakan TUHAN.  Sebelum kita mengajak orang lain untuk menyembah dan memuliakan Tuhan pun, kehadiran kita yang terfokus penuh pada Tuhan pun sudah akan membuat suasana terasa berbeda, sehingga orang lain bisa “merasakan” kehadiran TUHAN. Begitu besar kuasa TUHAN jika Tuhan hadir dalam hidup kita. Kemudian, ada frase “Suara TUHAN” yang diulang 7 kali. Angka 7 adalah angka sempurna bagi orang Yahudi. Perhatikan bagaimana Daud menggunakan frasa “Suara TUHAN” yang mengatur alam (Ayat 3-9). TUHAN berkuasa penuh atas alam.  Gambaran tentang suara TUHAN dalam Mazmur 29 mengingatkan kita pada peristiwa penciptaan dalam Kejadian 1 yang mencatat bagaimana TUHAN menciptakan dunia beserta segala isinya. “Berfirmanlah Allah (Kejadian 1:3,6,9,11,14, 20,24,26,29) … Dan jadilah demikian (Kejadian 1:7,11,15,24, 30).”  Sahabat, suara TUHAN tak boleh diabaikan karena pasti penting dan berkuasa. Suara TUHAN mencipta, memberi kehidupan, dan memelihara. Saat ini, suara apa yang lebih banyak kita dengarkan dan kita anggap penting? Sadarilah bahwa suara-suara lain itu membunuh dan menumpulkan kita. Dengarkanlah suara TUHAN dan taatilah! Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “The Sovereign God (Tuhan yang Berdaulat)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 29:1-11. Sahabat, persoalan hidup terkadang membuat kita putus asa dan hilang harapan. Kita seolah-olah hidup ini begitu miris dan tak ada jalan keluar untuk persoalan yang kita hadapi. Ketika kelemahan, keterbatasan, dan keputusasaan melanda, apa sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh kita sebagai orang percaya?Daud mengingatkan dan mengajak segenap makhluk untuk memberikan kemuliaan hanya bagi Tuhan. Dialah Allah yang berkuasa dan berdaulat sepenuhnya atas segala yang diciptakan.Daud mengajak segenap penghuni surgawi untuk memberikan kemuliaan dan sembah hanya kepada Tuhan semesta alam (Ayat 1-2). Suara-Nya diperdengarkan kepada segenap alam ciptaan, dari air dan gunung hingga pohon dan rusa (Ayat 3-9). Dialah Allah yang memberikan kekuatan serta memberkati segenap umat-Nya.Maka, Daud mengajak umat untuk mengakui kebesaran Allah atas segalanya. Tidak ada apa pun yang lebih menggentarkan daripada Allah yang hidup dan bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya (Ayat 10).Melalui sejarah dunia, Tuhan telah menyingkapkan kuasa-Nya dengan mukjizat-mukjizat atas alam semesta. Kepada Dialah umat Allah dalam bait-Nya yang kudus akan berseru, “Mulialah TUHAN!” (Ayat 9).Sahabat, jika dalam menjalani kehidupan ini kita memahami bahwa Allahlah yang berkuasa dan berdaulat atas segalanya, kita akan sampai pada sebuah pengakuan dan seruan “Mulialah TUHAN!”. Tidak ada masalah yang terlalu besar yang Tuhan tidak dapat selesaikan; dan tidak ada persoalan hidup yang terlalu kecil yang luput dari perhatian-Nya. IA BERDAULAT SEPENUHNYA! Kuasa yang telah Tuhan nyatakan dalam sejarah berlangsung di dalam kehidupan orang percaya dalam menghadapi persoalan hidup. Ketika kita merasa lemah dan terbatas, jangan pernah berputus asa. Ingatlah, Tuhan akan memberikan kepada kita hikmat dan kekuatan.Sahabat, kuasa yang telah dinyatakan pada zaman dahulu akan bekerja juga dalam hidup kita. Dialah Allah yang tidak pernah berubah. Itulah janji-Nya bagi umat yang percaya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari tingkatkan kemampuan kita membaca dan merenungkan kebenaran Firman TUHAN, sehingga kita akan memeroleh kekuatan baru setiap hari. (pg).

Sacred Pause: Resting the Spirit

Mari kita membaca dan merenungkan Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Di era modern saat ini, kehidupan berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Kemajuan teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan hidup. Informasi terus mengalir tanpa henti, dan kita sering kali merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu terhubung, responsif, dan produktif. Budaya serba cepat ini, meskipun membawa banyak manfaat, juga menimbulkan beban yang berat bagi jiwa.  Kelelahan emosional dan spiritual menjadi hal yang biasa di tengah kesibukan ini. Dalam konteks ini, istilah “Sacred Pause” atau jeda suci menjadi semakin relevan. Sacred Pause adalah momen yang kita ambil untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk merenung dan menyegarkan kembali roh kita di hadapan Tuhan. Ini bukan sekadar istirahat fisik, tetapi juga istirahat yang mendalam bagi jiwa, “Resting the Spirit”. Pada saat kita mengizinkan diri kita untuk berhenti dan mendekat kepada Tuhan, kita menemukan kelegaan yang sejati seperti yang dijanjikan Yesus dalam Matius 11:28. Yesus mengundang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Ini adalah panggilan yang penuh kasih untuk melepaskan segala beban kita dan menemukan kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Resting the Spirit berarti menyerahkan segala kekhawatiran, ketakutan, dan stres kita kepada Tuhan. Ini adalah tindakan iman di mana kita memilih untuk memercayakan hidup kita kepada-Nya, percaya bahwa Dia mampu memberikan kelegaan yang kita butuhkan. Namun, mengambil Sacred Pause dalam kehidupan modern bukanlah hal yang mudah. Budaya kita cenderung memandang kesibukan sebagai tanda produktivitas dan keberhasilan. Ada tekanan sosial untuk terus bergerak maju, dan seringkali kita merasa bersalah jika berhenti sejenak. Ini menjadi tantangan besar bagi orang Kristen masa kini, bagaimana kita dapat menemukan waktu untuk beristirahat dalam Tuhan di tengah segala tuntutan hidup? Untuk bisa melakukan Sacred Pause, kita perlu memprioritaskan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Ini bisa berupa waktu doa, membaca Alkitab, atau hanya duduk dalam keheningan, merenungkan kasih dan kebaikan-Nya. Tantangannya adalah bagaimana kita melawan dorongan untuk selalu aktif dan memilih untuk taat pada ajakan Tuhan untuk beristirahat. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjaga kesehatan spiritual kita. Sacred Pause adalah BAGIAN PENTING  dari KEHIDUPAN yang SEIMBANG,  DI mana kita tidak hanya fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab, tetapi juga pada pemulihan jiwa kita. Kita perlu ingat bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan dalam kehadiran Tuhan. Saudaraku, Matius 11:28 mengajarkan kita bahwa kelegaan sejati datang saat kita melepaskan beban kita kepada Yesus. Ini adalah panggilan untuk mengandalkan Dia, bukan pada kekuatan kita sendiri. Di tengah tantangan kehidupan modern, mari kita berkomitmen untuk secara teratur mengambil Sacred Pause, menemukan ketenangan di dalam Tuhan, dan membiarkan roh kita diperbarui. Hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup yang sehat secara spiritual, siap menghadapi setiap tantangan dengan hati yang tenang dan penuh percaya. (EBWR)

Pray Until Something Happens

MAZMUR 28. Sahabat, Mazmur 28  terdiri atas tiga bagian, yaitu: Seruan minta tolong (Ayat 1-2), permohonan agar jangan dibinasakan bersama orang fasik (Ayat 3-5), dan ucapan syukur, pengakuan percaya, dan doa syafaat (Ayat 6-9).  Melalui Mazmur 28 kita dapat melihat pengalaman yang dialami oleh Daud ketika ia merasa ditinggalkan Allah. Sesaat ia merasa bahwa Allah tidak mendengar seruan doanya. Ia tidak tahu mengapa Allah diam. Daud merasa tidak ada lagi harapan.Pemazmur berpikir bahwa TUHAN hendak menghukumnya seperti orang fasik. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun (Ayat 3-4). Dalam pengalaman doanya yang panjang, fajar harapan pun tiba. TUHAN menjawabnya. Karena itu ia bersyukur dan memuji TUHAN, sebab TUHAN adalah perisai dan gunung batu tempat perlindungan yang aman dan dapat diandalkan.Sahabat, Mazmur dari Daud ini mengajarkan kita untuk tidak berhenti berdoa. Terkadang Allah memang terlihat begitu jauh sehingga doa kita pun sepertinya tidak pernah sampai ke telinga-Nya.  Kalaupun Allah mendengar, mungkin Ia tidak mau menjawabnya. Pikiran kita mulai membentuk asumsi negatif. Misalnya: apakah aku dihukum oleh Tuhan atau Tuhan itu tidak pernah ada. Tetapi dari mazmur ini kita tahu satu hal, yaitu Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang berseru kepada-Nya, dari orang-orang yang berkeluh-kesah, dan dari orang-orang yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Pray Until Something Happens (Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 28:1-9 dengan penekanan pada ayat 6.  Sahabat, pengalaman kita bercerita, sangat tidak mengenakkan bukan bila ada saudara, teman, pacar, istri atau suami yang diam tak mau bicara pada kita. Ditambah lagi pada saat itu adalah saat-saat di mana kita sangat membutuhkan mereka. Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa lagi yang peduli pada kita. Itu masih manusiawi?  Tampaknya itu yang dirasakan Daud pada bacaan kita hari ini. Daud adalah orang kepercayaan Tuhan. Dia begitu taat dan mengasihi Tuhan. Namun mengapa dia berkata-kata dalam doanya seolah-olah Allah membisu dan tidak mau mendengarnya? Daud berpikir apakah Tuhan sedang menghukumnya karena dia berbuat salah? Tapi Daud tidak merasa ada kesalahan yang sedang diperbuatnya.  Apakah kemudian Daud berhenti berdoa? Apakah Daud malah menjadi seorang yang mengutuki Tuhan? Tentu saja tidak. Dia malah semakin giat berseru kepada Tuhan dan tidak peduli apakah nanti seruannya didengar atau tidak oleh Tuhan. Hingga pada akhirnya, Daud berkata, “Terpujilah Tuhan karena Ia telah mendengar suara permohonanku.” (Ayat 6). Kesetiaannya untuk tetap berpengharapan kepada Allah membuahkan hasil dan Tuhan pun menjawab doanya. Sahabat,   apakah akhir-akhir ini  sedang mengalami persoalan yang cukup berat? Apakah Sahabat sekarang sedang bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak segera menjawab doa dan keluh kesahmu?  Yakinlah, Allah tidak pernah menutup telinga dan memalingkan wajah-Nya untukmu. . Kalau Sahabat belum menerima jawaban doa, hanya ada dua jawabannya, Sahabat bukan Anak Tuhan yang taat, atau Tuhan masih ingin melihat kesetiaan Sahabat seperti halnya Daud.  Maka bacaan kita pada hari ini ingin mengajarkan untuk tidak pernah berhenti berdoa. Maka janganlah terlalu cepat untuk menghakimi dan menolak Tuhan. Seberapa banyak dan berat persoalan kita, Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan-Nya. Berharaplah pada Tuhan, maka Dia akan menolong kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan ajar aku untuk tidak berhenti berdoa dan berharap hanya kepada-Mu. (pg).

EXCELSIOR!

Saudaraku,  Stan Lee merupakan seorang komikus legendaris Marvel yang selalu mengucapkan dan menuliskan satu kata di bagian penutup sesi wawancara : EXCELSIOR!.   Dengan Excelsior, Stan Lee menunjukkan optimisme dan daya juang dalam setiap karyanya yang terbukti mampu menjadi karya yang mendunia dan dicintai semua lapisan usia.   Tentunya cukup banyak orang tak asing dengan superhero ciptaan Stan Lee seperti Spiderman, Hulk, dan lain sebagainya.  Apa arti Excelsior yang sering diserukan Stan Lee?  Berasal dari Bahasa latin, Excelsior memiliki arti: TERUS NAIK, LEBIH TINGGI, TERUS NAIK LEBIH TINGGI.  Kitab Yesaya menuliskan dengan indahnya kondisi iman orang yang memercayakan diri kepada Allah.  Jika membaca dan merenungkan Yesaya 40:27-31, maka penulis Yesaya mengomentari  ucapan pesimis orang Israel yang meragukan perhatian dan perlindungan Tuhan di masa pembuangan.   Alih-alih pesimis, penulis Yesaya justru menuliskan bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang baru seumpama rajawali yang terbang tinggi.  Karakter rajawali dipakai untuk menjadi gambaran tentang KEKUATAN dan DAYA JUANG  yang TANGGUH.   Seekor rajawali tak gentar menghadapi badai dan bahkan ia mampu terbang lebih tinggi di atas awan badai itu untuk mendapatkan arus angin yang lebih tenang.   Dalam Gambaran Yesaya, orang Israel akan diberi kekuatan oleh Tuhan sehingga dalam kondisi terpuruk seburuk apa pun, ia akan tetap kuat untuk tetap “terbang” lebih tinggi hingga menemukan ketenangan pada akhirnya. Bagi seekor rajawali, badai hanya sebuah lapisan udara yang bila ia mampu menaklukkannya maka akan didapati lapisan ketenangan di atas badai itu. Excelsior! Kekuatan untuk terus naik dalam kehidupan dibutuhkan oleh setiap orang yang percaya, bukan untuk kebanggaan dan pencapaian  melainkan untuk melewati setiap permasalahan dalam kehidupannya.  Selama manusia hidup, masalah akan datang silih berganti dan manusia tak akan berhenti untuk memacu dirinya dengan target-target yang baru.   Namun manusia dibatasi oleh ambang batas kekuatan yang unik, yang mampu membuat mereka letih secara fisik dan mental, jasmani dan rohani.  Dalam keadaan krisis seperti inilah manusia perlu untuk menyadari bahwa mereka butuh kekuatan tak terbatas untuk memberikan semangat baru sehingga membuat mereka memiliki daya juang konstan untuk melewati lapisan masalahnya.  Saudaraku, itulah KEKUATAN TUHAN.   Hanya dengan memercayai Tuhan saja maka manusia akan mampu menembus lapisan masalah itu, terbang lebih tinggi untuk menikmati perlindungan dan pemeliharaan-Nya.   Mari beranikan diri untuk bersandar pada kekuatan Tuhan saat dalam masa kelam.  Percayalah lapisan masa sulit ini akan mampu ditembus dengan daya juang yang ditopang penuh oleh rasa percaya kepada Sang Khalik.  Mari terus naik lebih tinggi. EXCELSIOR!    Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

TAK TERDUGA

Saudaraku, seorang ibu membuat satu dana khusus dalam pembukuan bulanan sederhana yang dibuatnya, yang dinamai dana tak terduga. Dana tak terduga dipakai untuk antisipasi kejadian yang tak masuk dalam rencana pengeluaran agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga.  Para murid Yesus pernah mengalami hal tak terduga dan untung saja Yesus hadir di situ sehingga mereka selamat.  Mari merenungkan Yohanes 21:1-14. Tidak ada lagi alasan untuk tetap berkumpul tanpa tujuan pasti.    Maka para murid mulai bergerak untuk kembali menjala, kembali ke profesi semula setelah kematian Yesus.  Namun keanehan demi keanehan mulai terjadi: Pertama, Mereka gagal mendapat ikan walau sudah semalaman berusaha. Sebagai nelayan professional, mereka mengenal benar Danau Galilea.  Tapi mereka gagal malam itu.  Mereka terjebak dengan situasi tak terduga,  bahkan ketrampilan dan pengalaman tak dapat menolong mereka. Kedua, Yesus hadir dan menyapa dengan panggilan “anak-anak” kepada para murid (Yohanes 21:5). Panggilan seperti itu bahkan tak pernah Yesus sampaikan saat Ia bersama mereka.  Yesus paham benar kalau para murid dalam keadaan khawatir tentang masa depan mereka sepeninggal Dia, maka Ia menyapa mereka seperti seorang Bapa kepada anak-anaknya. Ketiga, Konten pertanyaan Yesus tentang lauk pauk.  Yesus menampilkan sisi keibuan dengan menanyakan tentang makanan tambahan, pendamping makanan utama untuk memastikan rasa puas mereka.  Para murid mendengarkan perintah Yesus dan  Dia memberikan apa yang mereka cari, bahkan berlimpah ruah.  Sungguh aneh, mereka sudah mencarinya semalaman dan gagal namun Yesus memberi mereka dalam sekejap. Para murid belajar bahwa Yesus sanggup untuk memenuhi dan memelihara segenap kehidupan mereka, bahkan hal yang menjadi kebutuhan tambahan mereka maka mereka perlu untuk menjaga sikap ketaatan kepada-Nya.  Yesus menggenapi janji-Nya untuk memelihara mereka, maka mereka perlu untuk tetap respek dengan kehadiran-Nya.  Pengalaman mereka puluhan tahun tentang JALA MENJALA  tak membuat mereka mampu menghadapi saat TAK TERDUGA.  BEKERJA a itu sebuah KEHARUSAN  untuk memenuhi KEBUTUHAN, namun mendengarkan Tuhan dalam setiap usaha kita bukanlah hal yang mudah.  Segala pengalaman, kekuatan, kepandaian kadangkala tidak berguna saat menghadapi peristiwa yang tak terduga.   Saudaraku, bila Kristus selalu beserta dan ada sikap respek dari anak-anak-Nya, maka KEADAAN TAK TERDUGA  itu akan MENJADI BERKAT  bagi mereka.  Mari LIBATKAN KRISTUS  dalam KEHIDUPAN  agar HAL TAK TERDUGA  dapat dihadapi dengan KEPALA YANG TEGAK  karena Ia sendiri berkata, “Sebab itu ingatlah; janganlah khawatir tentang hidupmu, yaitu apa yang akan kalian makan dan minum, atau apa yang akan kalian pakai. Bukankah hidup lebih dari makanan, dan badan lebih dari pakaian?” (Matius 6:25, BIS). Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)