Tasting the Goodness of God

MAZMUR 34. Sahabat, dalam Mazmur 34 Daud mengecap kebaikan Tuhan dan mengajak kita ikut menikmatinya. Saat itu, Daud baru saja lolos dari bahaya maut. Sebelumnya, karena dikejar Raja Saul bersama tentaranya yang bermaksud membunuhnya, ia pun melarikan diri sampai ke Gat. Raja Akhis, raja kota itu pun mendapat laporan dari para hambanya bahwa mereka menemukan Daud, pahlawan Israel.  Di tengah rasa takut yang hebat, Daud berakting seolah-olah gila. Daud pun diusir (1Samuel  21:10-15) sehingga ia dapat melarikan diri kembali. Hal tersebut sangat melegakan hati Daud sehingga ia menulis Mazmur 34. Daud bisa lolos karena Tuhan memberi hikmat dan meloloskannya (Ayar 5).Ketika Daud terhindar dari peristiwa mencekam itu, ia belum terbebas sepenuhnya dari bahaya. Ia masih harus bersembunyi sementara di gua Adulam (1Samuel  22:1). Namun, rasa takutnya lenyap. Dengan demikian, mengecap kebaikan Tuhan tidaklah harus menunggu segenap keadaan sudah  menjadi baik.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Tasting the  Goodness of God (Mengecap Kebaikan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 34:1-23 dengan penekanan pada ayat 9, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”  Sahabat, Daud, seorang pemimpin yang dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan, sering mencari perlindungan dan kekuatan dari Tuhan dalam pengalaman hidupnya. Dalam konteks bacaan kita pada hari ini, Daud telah menemukan bahwa ketika seseorang memilih untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan, mereka akan menemukan bahwa Tuhan baik dan setia dalam memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan.  Jadi, secara keseluruhan, bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk mengamati dan merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, serta untuk mencari perlindungan dan kebahagiaan dalam hubungan yang erat dengan-Nya. Hal ini merupakan undangan untuk hidup dengan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, serta untuk mengalami kegembiraan yang bersumber dari ketergantungan kita pada-Nya. Bacaan kita pada hari  ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal penting: Pertama, Kebaikan Tuhan. Pemazmur menekankan bahwa Tuhan itu baik. Meskipun hidup kita penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan, kita dipanggil untuk memerhatikan kebaikan Tuhan di sekitar kita. Banyak kali, kebaikan Tuhan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti berkat yang diberikan, perlindungan yang diberikan, atau kasih yang ditunjukkan kepada kita melalui orang lain. Dengan merenungkan kebaikan Tuhan, kita dapat memperoleh sikap syukur yang lebih besar dalam hidup.  Kedua, perlindungan dalam Tuhan. Pemazmur juga menyatakan bahwa orang yang berlindung pada Tuhan akan berbahagia. Hal ini menunjukkan pentingnya memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita mencari perlindungan dalam Tuhan, kita meletakkan keyakinan kita pada-Nya untuk memberikan bimbingan, perlindungan, dan kekuatan dalam menghadapi segala situasi.  Sahabat, hal tersebut membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, karena kita tahu bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi hidup ini. Karena itu,  kita diingatkan untuk senantiasa mencari kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan untuk memperkuat hubungan kita dengan-Nya sebagai sumber perlindungan dan kebahagiaan yang abadi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kecaplah dan lihatlah kebaikan-kebaikan Tuhan, nikmati perlindungan dan penyertaan-Nya setiap hari. (pg).

Di Medan Hidup: Prinsip Jadi Senjata

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan surat Roma 12:1-2. Di tengah riuhnya dunia yang terus berputar, kita seolah berjalan di tepi jurang, terperangkap dalam arus yang tak henti menggoda. Setiap detik, suara-suara asing menyergap, memaksa kita untuk bertanya: di mana posisi kita? Sebagai orang beriman, tantangan ini terasa semakin pelik. Kita dipanggil untuk hidup berbeda, namun dihadapkan pada pilihan yang tak pernah mudah. Dalam medan pertempuran ini, apakah kita berani berdiri teguh atau justru menyerah pada tekanan? Paulus mengingatkan kita dalam Roma 12:1-2, sebuah seruan yang tak sekadar kata-kata, tetapi panggilan untuk bertindak. “Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.” Kata-kata tersebut memaksa kita untuk merenung: apakah kita benar-benar mempersembahkan diri kita, atau hanya berperan sebagai pengamat dalam perjalanan iman kita? Kehidupan sehari-hari kita harus menjadi bentuk ibadah yang sejati, bukan sekadar rutinitas kosong. PERUBAHAN adalah kata yang sering kita dengar, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar siap untuk berubah? Kita diajak untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi untuk mengalami pembaharuan budi. Apa artinya? Ini berarti merombak cara kita berpikir, membongkar prasangka-prasangka yang menjerat, dan menggantinya dengan perspektif ilahi.  Dalam dunia yang menormalkan kebencian dan egoisme, kita harus berani menjadi agen kasih dan pengampunan. Pertanyaannya: apakah kita siap menghadapi perlawanan saat berdiri dalam kebenaran? Setiap hari kita berhadapan dengan PILIHAN. Apakah kita akan menyesuaikan diri dengan arus besar yang menghanyutkan, atau mengambil jalan sempit yang penuh tantangan? Seperti Yosua yang menantang bangsanya untuk memilih kepada siapa mereka akan beribadah, kita juga harus memilih dengan bijak. Pilihan ini tidak hanya menyangkut hidup kita, tetapi juga dampaknya pada orang lain. Ketika dunia mengagungkan kesuksesan individu, kita dipanggil untuk merangkul prinsip pelayanan dan kasih. Apakah kita akan tetap teguh dalam iman, atau berkompromi demi popularitas sesaat? Saudaraku, PRINSIP, senjata kita yang paling kuat, menjadi landasan ketika badai kehidupan menerpa. Tanpa prinsip yang kokoh, kita bagaikan daun kering yang ditiup angin. Prinsip yang berakar dalam Firman Tuhan memberi kita kekuatan untuk berdiri teguh, meski banyak yang meragukan. Dalam setiap keputusan, dari bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain hingga cara kita menghadapi tantangan, prinsip ini mengarahkan langkah kita.  Ketika dunia menyuguhkan jalan pintas untuk kesuksesan, kita harus ingat: nilai sejati terletak pada kasih dan integritas. Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk memancarkan cahaya di tengah kegelapan. Hidup adalah medan pertempuran yang penuh dengan pilihan dan konsekuensi. Di tengah segala tantangan, kita tidak bisa berjuang sendirian. Dengan perubahan yang berkelanjutan, pilihan yang bijaksana, dan prinsip yang kokoh, kita bisa tidak hanya bertahan, tetapi juga menang.  Saudaraku, jadi, mari kita ambil senjata kita, perubahan, pilihan, dan prinsip, dan berjuanglah dengan sepenuh hati di medan hidup ini. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk mengambil tantangan ini dan menulis cerita iman kita dengan tinta keberanian? (EBWR).

God is Care and Powerful

MAZMUR 33. Sahabat, dalam Mazmur 33, jelas bahwa hati Pemazmur bersukacita. Ia mengajak pembacanya, orang-orang yang sudah mengenal Tuhan, untuk bersorak-sorai, memuji-muji, bersyukur bersama kepada Tuhan. Ia mengajak mereka mengekspresikan sukacita mereka dengan bernyanyi dan bermazmur bagi Tuhan dengan kecapi (Ayat 1-3).  Kapan terakhir kali Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan? Selain bersaksi tentang kebaikan/berkat Tuhan kepada orang lain, jangan lupa mengekspresikan secara langsung kepada Tuhan. Tuhan akan mengangkat jiwa kita seiring dengan pujian yang kita naikkan kepada-Nya. Sangat menarik, berbeda dengan kebanyakan orang yang bersukacita karena mendapat sesuatu, barang atau uang, Ppemazmur bersukacita karena Tuhan. Mulai ayat 4 yang diawali dengan kata “sebab”’, Pemazmur menguraikan alasan mengapa ia begitu bersukacita karena Tuhan, yaitu karena Tuhan menciptakan bumi yang ia tinggali dengan kuasa dan kasih yang hangat. Dengan firman-Nya, Tuhan membuat bumi menjadi tempat yang dapat ditinggali manusia, maka patutlah kita takut, kagum, hormat, dan mengasihi Tuhan (Ayat 4-9).  Kita mungkin tidak menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal kita adalah karya Tuhan melalui tangan manusia. Selain itu, dalam hubungan dengan rencana-Nya terhadap umat manusia, Tuhan berdaulat penuh. Manusia mungkin saja mengatakan bahwa ia punya sumber daya yang cukup untuk memastikan rencananya berjalan (Ayat 16-17) meskipun hal itu melawan dan menentang Tuhan. Akan tetapi, Tuhan memastikan bahwa rencana-Nyalah yang akan terlaksana (Ayat 10-11). Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “God is Care and Powerful (Tuhan itu Peduli dan Berkuasa). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 33:1-22. Sahabat, salah satu arti dari kuasa adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Dalam arti demikian, seorang yang berkuasa bisa menggunakan kekuasaannya sesuai seleranya. Bisakah seseorang yang berkuasa peduli kepada yang dikuasainya?Kalau kita  membaca Mazmur 33  segera terbayang mengenai kekuasaan Tuhan. Kekuasaan-Nya tampak dalam alam. Langit dijadikan hanya oleh firman-Nya (Ayat 6), air laut bisa dikumpulkan-Nya dan samudera dapat diwadahi-Nya (Ayat 7). Kekuasaan-Nya dibandingkan dengan berbagai kekuatan yang sering kali diandalkan oleh manusia. Kalau raja-raja memiliki kekuasaan, maka kuasa Tuhan jauh melampaui mereka (Ayat 16). Jika dibandingkan dengan kekuatan seorang pahlawan, maka kekuatan Tuhan tidak ada batasnya (16). Kuda yang hebat pun tidak sehebat Tuhan (Ayat 17).  Namun, Tuhan yang berkuasa itu tidak digambarkan sebagai penguasa yang arogan. Karena Dia tidak bertindak sewenang-wenang. Malahan Dia peduli dengan ciptaan-Nya. Dia memandang dari surga untuk menilik anak-anak manusia (Ayat 13). Bahkan Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhanlah sumber pengharapan manusia (20-22). Itu sebabnya Pemazmur mengajak umat senantiasa memuji-muji Tuhan.Sahabat, TUHAN yang BERKUASA tetapi tetap PEDULI  membuat kita percaya diri menjalani kehidupan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, Tuhan dapat dijadikan sumber pengharapan kita. Untuk alasan itulah, kita harus menjalani hidup penuh puji-pujian kepada Tuhan. Puji-pujian itu harus menjadi konkret dalam kehidupan kita dengan meneladani perbuatan Allah.Lagipula setiap orang percaya juga memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan ciptaan lain. Karena itu, kehidupan kita harus dijalani dengan peduli kepada sesama ciptaan Tuhan dan tidak bertindak sewenang-wenang. Haleluyta! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Bagaimana Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan?Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita meneladani Tuhan dalam keseharian kita, berkuasa tapi tetap peduli. (pg).. 

KELELAHAN TOTAL

Saudaraku, sayamelanjutkan perbincangan dengan dengan Pak Direktur Ministry Center. Dia menginformasikan malam itu ada satu gereja, Majelis dan rohaniawannya ingin bertemu. Gereja tersebut mau ulang tahun yang ke-40 dan ingin merayakannya dengan cara unik, yaitu memoratoriumkan kegiatan dan hanya menyisakan ibadah, doa dan kelompok kecil. Gereja tersebut mau mengambil waktu diam beberapa minggu, retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun yang baru. Saya bertanya,. “Wah, gereja tersebut defisit dan jemaatnya susut ya? Karenanya kegiatan-kegiatannya mau dihentikan.” “Bukan karena defisit namun karena kelelahan, lengkaplah bentuk kelelahannya, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik, masih beruntung bisa menyadari kelelahan. Banyak gereja tidak sadar, sedang burn out (kondisi stres kronis, seseorang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya).” Jadi ceritanya di gereja ada banyak kegiatan, yang ikutan banyak, tapi setelah selesai kegiatan ya tidak ada bekas-bekasnya, tidak ada catatan sejarahnya, apalagi tindak lanjut, yang tertinggal hanya foto-foto meriah, orang-orang atau anggota jemaat tertawa-tawa renyah, laporan keuangan pokoknya dana sudah terpakai. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun …. beberapa tahun kemudian generasi mendatang tidak tahu itu kegiatan apa dan tidak kenal nama-nama orang yang tertawa renyah karena tidak ada keterangan di foto. Ngenes ya, tiga tugas panggilan gereja tradisional yakni Marturia, Diakonia, dan Koinonia sudah terlaksana, tapi seperti angin berlalu. Marturia, berarti kesaksian atau pemikiran, dalam konteks gereja berarti kesaksian iman, yaitu pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan bagi manusia. Diakonia, berarti pelayanan atau perbuatan, bisa berupa kegiatan sosial, dukungan untuk komunitas sekitar, atau partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan. Sedangkan Koinonia, berarti persekutuan atau kelompok, diwujudkan dengan menghayati hidup berjemaat, seperti berkumpul bersama, bernyanyi, berdoa, melakukan pelayanan dan saling melayani. Tiga tugas panggilan gereja sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi mengapa tiba-tiba merasa kelelahan total, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik/tenaga. Tugas panggilan gereja sudah dilakukan, hasilnya ada, namun bila hal-hal ini dilakukan tanpa dilandaskan pada doa, maka apa yang dilakukan gereja hanya seperti kegiatan organisasi umum lainnya bahkan dilakukan juga oleh parpol, hanya beda visi dan misinya. Kini Gereja merasa lelah dan menyadari semua kegiatannya untuk beberapa saat ke depan perlu dimoratorium, perlu ditangguhkan atau ditunda, dan Gereja mau mengambil waktu diam beberapa minggu, mengadakan retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun-tahun yang baru. Dengan adanya doa bukan saja mendekatkan Gereja pada Tuhan, tapi menyadarkan kembali bahwa ladang yang gereja layani yakni terkait kehidupan rohani, bukan jasmani. Ladang yang dilayani Gereja memang tidak kelihatan, namun berorientasi jangka panjang dan kekal. Rasul Paulus menasihatkan, sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:18).  Ayat berikut mungkin sering kita baca, Matius 11:28:  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tapi saat kondisi kita sedang jaya-jayanya dan sehat walafiat, ayat tersebut mungkin sering diabaikan dan dilupakan, belum dibutuhkan … Saudaraku, perhatikan gereja yang usianya sudah 40 tahun,  yang disebut rumah rohani dan punya pengurus banyak, ternyata bisa kelelahan, karena justru terlalu banyak kegiatan. Bandingkan dengan diri kita, yang seorang diri. Apakah Saudara selalu merasa kuat, jaya dan dapat memperoleh segala-galanya?  Kapan Anda merasa lelah? Inilah saatnya datang berdoa, merendahkan diri di hadapan Allah. Ingatlah selalu: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yesaya 40:29). (Surhert)..

WISTLE-BLOWER

Saudaraku, hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Samuel 12 : 1-5 dan terlebih dahulu kita akan menghafalkan Amsal 10:10: “Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh”. Di dalam pengelolaan organisasi, lembaga, atau pemerintahan, pengawasan dibutuhkan untuk mencapai tata kelola yang baik (good governance).  Salah satunya melalui “whistle-blowing system”, yaitu sistem pelaporan sesuatu perbuatan yang diduga pelanggaran. Seorang “whistleblower” sendiri adalah “orang dalam” yang mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi di tempatnya bekerja. Keberadaan seorang “whistleblower” menjadi sangat penting dalam upaya pembuktian suatu masalah. Keberadaan “whistleblower” tidak hanya dibutuhkan di dalam organisasi atau lembaga formal. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, “whistleblower” bisa jadi adalah orang yang terdekat kita, pasangan kita, orangtua, anak, pemimpin di gereja, atau majelis. Keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berdosa, dimana tidak ada seorangpun yang menjamin dirinya selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan, kita semua memiliki “blind spot” (titik buta).  Daud tidak ada rencana untuk tidur dengan Batsyeba, namun keinginan yang berdosa itu muncul ketika ia berjalan-jalan dan melihatnya dari atas sotoh istana. Dosa itu terus berlanjut hingga ia membunuh Uria. Alkitab mencatat apa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan, maka Ia mengutus Nabi Natan untuk menjadi seorang “whistleblower” dalam kasus Daud.  Setelah kejahatannya terungkap, Daud mengaku dosa, menyesali dan menghadapi konsekuensi dosanya. Bukan hanya Raja Daud yang membutuhkan “whistleblower”, melainkan kita semua tanpa terkecuali. Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikaplah terbuka atas koreksi dan siap berubah melakukan yang benar. Saudaraku,  Bapa akan mendidik dan mengingatkan kita, anak-anak-Nya, ketika kita keluar jalur (Ibrani 12:4-6), dan kitab Amsal menuliskan, “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat (Amsal 10:17). Refleksi Diri: Siapa “whistleblower” Saudara belakangan ini? Apa yang harus diperbaiki dalam kehidupan Saudara?  Apa Yang Harus Kita Lakukan? Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikap terbuka atas koreksi dan siap untuk berubah melakukan yang benar. Pokok Doa: Bapa surgawi, terima kasih telah senantiasa mendisiplinkan aku, agar aku terus hidup benar. Berikanlah aku terus melakukan apa yang benar di hadapan-Mu. Kumohon penyertaan Roh Kudus senantiasa ada padaku. Dalam nama Yesus. Amin. Hikmat Hari Ini: Siapa enggan mengakui kesalahan berada dalam bahaya. (PW)

TERUS BELAJAR

Saudaraku,  tujuan pendidikan adalah perubahan.  Manusia menjalani pendidikan dengan harapan ada perubahan dalam pemikiran, pengetahuan dan karakter.  Kitab Kisah Para Rasul merupakan salah satu kisah perjalanan ragam manusia yang berjuang melakukan kehendak Allah.  Mari mulai merenungkan kitab Kisah Para Rasul  dengan membaca Kisah Para Rasul 1:1-8. Lukas menyambung kisah Yesus yang diceritakan dalam Injil yang ditulisnya dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Lukas mengambil titik berangkat yang menarik yaitu fakta kerapuhan dan gagal pahamnya para murid menangkap misi-Nya ke dunia. Lukas menceritakan juga berbagai upaya Yesus untuk membuat para murid mengerti yaitu dengan pengajaran visual dengan menampakkan diri berulang kali selama empat puluh hari dan pengajaran verbal dengan terus berbicara tentang Kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 1:3).   Secara intensif Yesus berusaha untuk menyadarkan para murid setelah Ia bangkit namun tetap saja para murid tidak memahami maksudnya.  Pertanyaan dalam Kisah Para Rasul 1:6 menunjukkan bahwa pemikiran para murid belum berubah dan tetap memikirkan tentang pemulihan Israel.   Seakan tak lelah dengan kenyataan lambannya daya cerap para murid, Yesus memberikan respons yang sangat baik dengan membuka kenyataan bahwa para muridlah yang akan menjadi pelaku sejarah Kerajaan Allah karena mereka akan dipakai Allah untuk mendirikan kerajaan-Nya di dunia sehingga tidak hanya Israel yang pulih namun seisi dunia menggemakan tentang pekerjaan Allah  (Kisah para Rasul 1:7-8).   Sekalipun para Murid masih belum bisa mengubah pemikirannya karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang kuat dalam pengharapan mesianis yang sempit, namun Allah tak lelah mengajar untuk membongkar tembok identitas yang yang membelenggu mereka.  Menjadi Kristen membutuhkan proses dan kesetiaan untuk bertahan terus belajar sepanjang proses tersebut. Tak disangkal bahwa orang Kristen adalah manusia biasa yang rapuh dan membutuhkan proses untuk memahami pekerjaan Allah dalam kehidupannya.   Tak jarang orang Kristen masih memiliki pemikiran lama, mengambil keputusan yang keliru dan bahkan berangkat dari prasangka dalam perjalanan imannya, namun terpujilah Allah yang tak lelah untuk mengajar dan mendidik hingga orang itu mencapai kemajuan dalam pemahamannya dengan perubahan pemikiran, perubahan karakter yang ditampilkan secara visual dengan perubahan gaya hidup ke arah Firman Tuhan.   Hidup adalah proses belajar, maka mari menjadi manusia pembelajar.  Saat seorang menerima Kristus maka saat itulah dia memulai proses belajar tentang Dia, inilah pesan yang disampaikan Lukas melalui Kitab Kisah Para Rasul.   Saudaraku, orang Kristen adalah pembelajar sejati sebagaimana nasehat Rasul Paulus dalam Kolose 2:7 : Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Mari terus menjadi Kristen pembelajar dan terus diubahkan sesuai Firman Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

MENGABDI KEPADA ALLAH ATAU MAMON

Saudaraku, saya berjumpa dengan seorang Direktur Ministry Center dan berdiskusi terkait Tuhan atau Mamon. Perhatikan dua ayat berikut yang dikatakan oleh Tuhan Yesus saat mengajar: Matius 6:24 (TB-1): “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan …. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Lukas 16:9 (TB-1): “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur ….” Nah, di Matius dinyatakan bahwa kita tidak bisa setengah-setengah mengabdi kepada Allah, juga setengahnya ke Mamon. Tapi di Lukas dinyatakan bahwa kita bisa bersahabat dengan Mamon. “Pak Direktur, zaman Tuhan Yesus mengajar, itu di zaman Kekaisaran Romawi yang juga mendewakan banyak dewa dari zaman Yunani. Kita bisa menemukan beberapa nama dewa disebutkan di Kisah Para Rasul seperti Hermes, Zeus, juga Artemis atau Diana, diidentifikasi juga sebagai Selena, dan memiliki saudara bernama Apollo. Ini nama-nama dewa-dewi yang terkenal, mengapa tidak disebut Tuhan Yesus. Malahan menyebut Mamon, merupakan istilah Yahudi yang dapat merujuk pada uang, kekayaan, keserakahan, atau setan yang mewakili pengejaran kekayaan?.” Nah, Pak Direktur hanya mengguman, “Itu pergumulan kita sepanjang hidup.” Lho, Beliau membawahi suatu organisasi Ministry Center, memotivasi dan mendorong banyak rohaniwan dan awam untuk mengabarkan Injil, tapi mengapa juga menghadapi pergumulan seumur hidup dengan Mamon? Ya itulah kehidupan, kalau mau pergi bermisi ke suatu daerah terpencil ya mesti memikirkan berapa ongkosnya, begitu? Saya pernah menghadiri acara pengutusan lulusan salah satu STT di kawasan blusukan di Jakarta Timur. Para lulusannya tampilannya sederhana saja, baju tidak nampak ada yang ngejreng, tapi tidak ada yang sandalan, hanya sepatu butut. Mereka diutus pulang ke daerah asalnya, kebanyakan ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, NTT, Maluku, semuanya di pedalaman. Setelah acara seremonial ada resepsi, itulah makan siang terakhir mereka di STT yang mereka ikuti 3-4 tahun terakhir. Saya ikut mengambil makanan di meja mahasiswa, bukan untuk tamu undangan. Nasi putih ndak putih, ada tempe dan tahu goreng ukuran sekitar 3×4 cm, ukuran tahu tempe terkecil yang pernah saya rasakan, sayur bening isi labu dan bayam, dan ada satu potong ayam goreng, saya masih ingat ukurannya hingga saat ini, itu kalau kita beli paha bawah KFC ukurannya dibagi empat, jadi satu ayam goreng lebih kecil dari sendok makan. Satu orang dapat satu ayam goreng, satu tahu, satu tempe dan nasi secukupnya, ada kecap dan sambal di ujung meja. Usai makan saya menghampiri seorang lulusan, mau pergi kemana? Kalimantan Tengah, bawa uang berapa? Dia tunjukkan tas dan dompetnya, hanya ada 2 lembar Rp. 20.000,-  dan 2 lembar Rp. 10.000,-. Lho, cukup? Dia tunjukkan, ada satu kilogram garam dan 3 sabun yang dibawa. Lalu, dia bilang, akan nunut truk bak terbuka yang jurusan ke pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara, kemudian ikut kapal kayu yang pulang ke Kalimantan Tengah, kapal ini kosong dan cukup ngomong dengan awak kapal dalam bahasa Kalimantan Tengah, pasti gratis, dia sudah 3 kali pulang ke rumahnya saat praktik dengan cara ini. Garam dan sabun akan menjadi barang sangat berharga di pedalaman sana, sabun yang dipotong dua bisa dijadikan ongkos naik boat ke pedalaman. Ingat kembali kenangan ini, saya jadi mikir, para lulusan STT itu hanya dengan modal semangat menginjil yang berkobar, tidak perlu mikir Mamon lagi. Sementara itu Pak Direktur menunjukkan makalah dari Lausanne Movement 2024, yang mengetengahkan adanya banyak gereja yang mengajarkan “prosperity teaching”, kemakmuran materi terkait dengan kepercayaan kepada Kristus. Pendekatan ini mengajarkan orang-orang bahwa ketika mereka percaya kepada Tuhan, Dia akan menyediakan semua kebutuhan fisik dan kenyamanan hidup mereka. Dengan ajaran ini muncul kepercayaan yang menyesatkan bahwa siapa pun yang percaya dijamin akan mendapatkan kekayaan dan kesehatan dalam hidup ini.  Pendekatan “prosperity teaching” ini cenderung berpusat pada manusia daripada berpusat pada Kristus, untuk mencari pemenuhan kebutuhan duniawi manusia daripada kebutuhan mendalam akan pengampunan dosa dan rekonsiliasi dengan Tuhan. Jadi mengenal Tuhan agar supaya cepat dapat berkat, cepat mendapatkan kesehatan, cepat dapat uang, dan di ujungnya sebenarnya mengajarkan tentang mendapatkan Mamon melalui mengenal Tuhan. Pak Direktur menambahkan, memang tantangan besar spiritual adalah material, untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh atau spiritual memang penurut, tetapi daging lemah terhadap hal-hal materi (Matius 26:41). Yang bisa menguatkan spiritual agar tidak tergoda material apa? Ya hanya dengan melalui doa, dengan berdoa. BERDOALAH  yang SUNGGUH-SUNGGUH, jangan konsentrasi terpecah, Tuhan akan menunjukkan Jalan-Nya kepadamu, dan ikutlah. Saudaraku, memang tidak mudah memilih untuk mengabdi kepada Allah atau kepada Mamon, terlebih lagi bila ajaran tentang Mamon itu disamarkan melalui ajaran-ajaran yang menjanjikan bila menaati kehendak Allah maka akan mendapatkan kelimpahan materi dan kesehatan. Waspadalah dan berjaga-jagalah. (Surhert).

JAM TANGAN SWISS

Saudaraku,  Industri jam di Swiss dimulai tak lama setelah Reformasi tahun 1517 yang dipelopori Martin Luther. Reformasi terhadap ajaran agama Katholik Roma ternyata menimbulkan perang antar pengikut agama, meluas dari Jerman ke negara-negara lain. Perang penganut agama terjadi di Perancis menyebabkan penganiayaan terhadap kaum Huguenot (Protestan Perancis), yang banyak berprofesi sebagai ahli besi dan ahli (pandai) kerajinan emas, akhirnya melarikan diri dan mengungsi ke Swiss Barat, terutama ke Jenewa. Para pandai atau pengrajin ini terkenal sebagai ahli dalam membuat perhiasan dan ukiran-ukiran yang menjadi simbol kemewahan. Saat itu juga terjadi revolusi di Jenewa yang dipimpin oleh John Calvin (10 Juli 1509–27 Mei 1564). Ajaran Calvin menolak segala bentuk pamer kekayaan dan penggunaan perhiasan, memaksa para pandai besi dan emas dari Perancis mencari saluran baru bagi bakat kreatif mereka, bukan lagi membuat perhiasan-perhiasan yang mencolok tetapi bagaimana membuat sesuatu yang kecil dan mahal namun dibutuhkan,  dan mereka menemukan cara membuat jam tangan yang kecil, tidak dalam bentuk yang besar dipajang di luar gedung, tapi jam kecil tidak mencolok saat dipakai, hingga tidak bisa dikategorikan sebagai perhiasan mewah tapi sebagai alat penunjuk waktu. Pada masa itu orang-orang hanya mengenal waktu matahari terbit dan terbenam. Waktu dianggap sebagai suatu rahasia Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, pagi, siang dan malam. Para ahli astronomi di Babil dan Mesir berusaha memetakan waktu jalannya matahari dan menciptakan jam matahari, bahkan bisa memetakan atau membagi waktu 1 hari = 24 jam. Dalam 2 Raja-raja 20:11 ada bayangan jam atau penunjuk matahari yang dibuat zaman Raja Ahas (732-715 SM), dan bayang-bayang jam matahari itu mundur ke belakang sepuluh tapak. Salah satu ajaran John Calvin menjelaskan tentang Kolose 3:23:  “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini sangat memengaruhi para pandai besi pembuat jam yang bentuknya besar-besar, bagaimana bisa membuat alat yang bisa memetakan hari Tuhan dalam suatu bentuk petunjuk waktu yang pas dan tepat, jadi saat pagi hari ya jam 6 tepat, siang jam 12 tepat, juga saat matahari terbenam mesti jam 18.00 tepat, satu hari harus pas 24 jam. Saudaraku, saat itu bentuk jam masih dalam bentuk yang besar dan tampilannya hanya satu jarum saja menunjukkan jam. Nah bagaimana jam ini dibuat kecil hingga bisa jadi dipasang di tangan atau dimasukan kantong, lalu ada 2 jarum yang bisa menunjukkan jam dan menit, kemudian satu jarum lagi yang selalu berputar menunjukkan detik. Untuk membuat jam dalam bentuk yang kecil yang bisa otomatis jalan sendiri, mesti membuat kumparan per sebagai penggerak, juga ada berbagai roda dan perangkat kecil lainnya dalam satu jam kecil, belum lagi cara memasangnya agar semua yang kecil-kecil ini bisa terhubung rapi dan jalan sendiri. Para pandai dalam membuat jam tangan sangat dipengaruhi ajaran Calvin, yakni sebagai manusia boleh mendapatkan kehormatan dalam bekerja mewakili Tuhan yang membagi waktu satu hari dalam jarum-jarum jam, menit dan detik, dan menunjukkan waktu yang tepat. Bisa menciptakan jam tangan yang kecil dengan dengan segenap hati, seperti mempersembahkan kepada Tuhan dan bukan untuk manusia, suatu persembahan yang tidak boleh ada cacat celanya. Akhirnya, ketika peraturan pemerintahan di Jenewa yang melarang pemakaian barang mewah dilonggarkan – sekitar tahun 1600, orang-orang dapat mengenakan perhiasan lagi, keahlian pembuatan jam dapat dipadukan dengan seni dekoratif. Dalam waktu singkat, jam tangan Swiss yang diproduksi di Jenewa menjadi terkenal karena keterampilan para ahlinya, kualitas pembuatan jamnya, juga tampilan jam-jam yang semakin indah, – dan semakin mahal harganya. Saudaraku, menyimak lagi Kolese 3:23, Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kita mungkin tidak melakukan pekerjaan kita dengan sepenuh hati, alasannya mungkin ya lumayan dapat pekerjaan daripada nganggur, pekerjaan ternyata tidak cocok dengan bakat atau ketrampilan, dapatnya duit hanya kecil tidak cukup untuk kebutuhan-kebutuhan yang terus meningkat, menjadi generasi sandwich yang mesti membiayai hidup orangtua, dan berbagai alasan lainnya. Pdahal Tuhan sudah memberikan suatu pekerjaan bagi kita, namun kita tidak bersyukur atas anugerah pekerjaan ini, jadilah dalam bekerja hanya asal-asalan, asal memenuhi target atau sesuai job description, tapi tidak menampilkan kualitas yang mestinya harus menjadi lebih baik, cukup mendapatkan pujian atau predikat lumayan, itu sudah cukup. Nah apa jadinya kalau diri kita hanya bertujuan mendapatkan predikat lumayan, lalu keluarga juga hanya memikirkan cukup dan lumayan, satu daerah dan wilayah merasa cukup dan lumayan, begitu seterusnya dari hal-hal lingkup kecil menjadi lingkup makro, semuanya hanya menginginkan prestasi yang cukup dan lumayan, akibatnya tidak ada kemajuan bahkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan sumber daya alam yang ada di lingkungan, yang disediakan Tuhan malahan dikorupsi atau diolah dengan tidak bertanggung jawab. Saudaraku, para ahli atau pandai besi dan perhiasan di Swiss 400 tahun, meski hanya menggunakan alat-alat manual, tidak memakai alat-alat listrik, bahkan di rumahnya hanya diterangi oleh lampu minyak, tapi a bisa menghasilkan jam-jam tangan yang kecil, indah dan tepat waktu, Bagaimana dengan kita saat ini? (Surhert)

Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Amsal 18:12. Di sebuah kota modern, hidup seorang pria bernama Jeresh. Dia adalah seorang pengusaha sukses dan sangat bangga dengan pencapaiannya. Dalam setiap pertemuan, dia selalu berbicara tentang kekayaan dan kesuksesannya, menganggap bahwa semua orang di sekitarnya harus menghormatinya. Dalam kesehariannya, Jeresh seringkali memandang rendah orang-orang disekitarnya. Jeresh berpikir tidak ada orang lain sebaik dirinya, sehingga dia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Namun tiba-tiba ada satu kejadian yang membuat bisnisnya mengalami masalah besar. Kesombongannya membuat Jeresh enggan mendengarkan nasihat orang lain. Dia mengabaikan peringatan dari rekan-rekannya dan tetap berpegang teguh pada caranya sendiri. Akibatnya, perusahaannya bangkrut.  Setelah jatuh, Jeresh mulai berubah. Dia belajar mendengarkan orang lain, mengakui kelemahannya, dan mulai bekerja keras dengan sikap yang lebih rendah hati. Perlahan-lahan, dia mulai bangkit kembali, namun kali ini dengan sikap yang mau menghargai orang-orang di sekitarnya, bukan karena kekayaannya, tetapi karena kerendahan hatinya. Kisah Jeresh mengajarkan kita bahwa kesombongan hanya akan membawa kehancuran. Tuhan memandang kerendahan hati sebagai jalan menuju kehormatan. Ketika kita bersikap rendah hati, kita membuka pintu bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita dan mengangkat kita pada waktunya. Kerendahan hati tidak berarti kita memiliki kualitas diri yang rendah, tetapi kita mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan bukan dari kemampuan kita sendiri. Hanya dengan sikap kerendahakan hati, kita bisa mendapatkan kehormatan sejati dari Tuhan. Dalam kehidupan, kita sering melihat bagaimana orang yang penuh dengan kesombongan, jatuh ke dalam kehinaan. Sebaliknya, orang yang rendah hati sering kali berakhir dengan kehormatan yang lebih besar, meskipun awalnya mereka mungkin tidak terlihat menonjol. Saudaraku, Amsal 18:12 mengingatkan kita untuk menjadi orang-orang yang rendah hati, sekalipun ada banyak alasan untuk kita memegahkan diri di depan orang-orang yang tidak sebanding dengan kita. Yesus adalah teladan sejati akan kerendahan hati. Dia adalah Tuhan, yang mau menjadi manusia. Seberapa pun beratnya menjadi manusia, Yesus tetap dengan rendah hati menyelesaikan semua misinya di dunia ini. Banyaknya orang yang tidak percaya, menghina-Nya, melecehkan-Nya, bahkan menyalibkan-Nya, tidak membuat Yesus memegahkan diri, dan membalas dengan cara yang sama orang-orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya. Refleksi :  Mungkin saat ini kita sedang diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan, kesehatan, jabatan yang tinggi, mari kita belajar untuk terus rendah hati, dengan tidak memandang rendah orang-orang yang ada di bawah kita. Atau justru kita sedang berada di posisi terendah dalam hidup kita,  banyak orang mungkin menghina kita, tidak menganggap kita, mengabaikan, kita. Mari kita tetap berteladan kepada Yesus. Sekalipun sulit, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang adil, yang tidak akan selamanya membuat kita dalam situasi yang sama.  Mari kita selalu ingat, Ketika Tuhan melepaskan kita dari masa yang sulit, jangan pernah membalas orang-orang yang telah menghina bahkan mengabaikan kita. Tetap menjadi orang yang rendah hati, tetap mau menolong orang-orang disekitar (termasuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita). Pesan: Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

Blessed Those who are Forgiven

MAZMUR 32. Sahabat, Mazmur 32 dibuka dengan pernyataan bahwa orang yang berbahagia  adalah orang yang diampuni pelanggarannya dan dosanya ditutupi (Ayat 1). Dalam Mazmur 32 kita dapat melihat perbedaan yang kontras antara orang yang hidup dalam dosa dan orang yang diampuni Tuhan dosanya. Kita mendapat pengajaran yang berharga melalui pengalaman hidup Daud ketika dia melakukan dosa dan ketika Tuhan mengampuni dosanya. Dosa itu akan membuat kita lemah dan lelah, dosa itu adalah beban yang berat dan seperti terik panas yang mengeringkan sampai ke tulang-tulang. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dosa itu adalah penyakit mematikan yang segera harus disembuhkan sebagaimana yang dikatakan-Nya,  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9: 12).  Dosa adalah penyakit yang mematikan yang segera harus ditangani dan penawarnya hanya satu yaitu Tuhan Yesus. Mukjizat terbesar yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita manusia adalah pengampunan dosa. Namun yang terpenting adalah orang yang diampuni dosanya mau untuk diajar dan dituntun kepada jalan yang benar (Ayat 8).  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tooik: “Blessed Those who are Forgiven (Berbahagialah Mereka yang Diampuni). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 32:1-11. Sahabat, kita sadar, dalam kehidupan ini salah satu problem yang harus kita selesaikan di hadapan Tuhan adalah persoalan rasa bersalah.  Manusia bisa berusaha menekan perasaan bersalah ini dan mengalihkannya pada hal-hal yang lain, atau melakukan semacam kompensasi melalui moralitas, melalui agama, ataupun kebudayaan. Tetapi, apa pun yang dilakukan manusia, kecuali dia kembali kepada Tuhan, sebetulnya tidak ada kebahagiaan yang sejati, tidak ada jalan keluar yang sesungguhnya dari rasa bersalah. Itu sebabnya Saudara membaca di ayat pertama dikatakan: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” Sahabat,  lihat di sini, berapa jauhnya yang disebut “berbahagia” oleh Tuhan dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di dalam dunia. Di dalam dunia ini, mereka punya konsep kebahagiaannya sendiri; tetapi Sahabaat perhatikan, perasaan bersalah ini kalau tidak diselesaikan, tidak mungkin manusia mendapatkan kebahagiaan yang sejati.  Orang seringkali berpikir bahwa pengakuan dosa itu sesuatu yang hiper-religius, semacam penyakit, atau seolah-olah sesuatu yang terlalu radikal secara keagamaan. Tetapi kalau kita membaca dalam bacaan kita pada hari ini, sebetulnya Tuhan memberikan suatu jalan yang bukan hanya benar secara teologis namun juga manusiawi, ada aspek kemanusiaannya, bahwa manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan.  Justru manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan ini sesuatu yang manusiawi, sedangkan yang tidak manusiawi adalah ketika manusia sudah bersalah tapi tidak ada tempat atau pribadi untuk dia mengaku dosanya. Mengapa? Karena manusia akan terus dihantui perasaan bersalah tanpa ada jalan keluar. Bahkan di dalam ayat 3, dikatakan tentang pengalaman Pemazmur yang awalnya dia berdiam diri, tidak mau mengaku dosa, dan di dalam saat  seperti itu  tulang-tulangnya menjadi lesu, dia mengeluh sepanjang hari, tangan Tuhan menekan dia dengan berat. Meskipun demikian, Mazmur 32 juga mengatakan bahwa pengakuan dosa ini mesti dilakukan dengan kejujuran, dengan integritas. Kita tidak boleh menganggap sepi anugerah atau belas kasihan Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk mempermainkan kesabaran atau anugerah Tuhan. Itu sebabnya Sahaba baca di ayat 2 dikatakan: “Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Apa maksudnya “tidak berjiwa penipu”? Yaitu jangan berpura-pura seperti kelihatan menyesal padahal tidak menyesal, jangan berpura-pura seperti mengaku dosa tapi sebetulnya tidak ada pertobatan.  Ada kaitan antara mazmur pengakuan dosa (penitential psalm) pasal 32 ini dengan penitential yang lain yang mungkin paling terkenal, yaitu Mazmur 51. Kalau Sahabat membaca Mazmur 51, dikatakan di ayat 19: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk … .” Sahabat lihat di ayat ini, pengakuan dosa jelas bukan sesuatu yang murahan, bukan suatu praktik yang easy going, yah, pastilah diampuni Tuhan,  melainkan ada pertobatan yang sejati. Berbahagialah mereka yang diampuni dosanya oleh Tuhan; di sini kebahagiaannya bukan berhenti pada diampuni dosanya saja, tetapi di sini disebut berbahagia karena hanya orang yang diampuni dosanyalah yang bisa hidupnya masuk ke dalam kekudusan yang disediakan oleh Tuhan.  Kita berbahagia karena kita tidak harus dan tidak lagi menjadi hamba dosa, sebaliknya kita boleh menjadi hamba kebenaran. Ini adalah kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan, percaya kepada Kristus. Kita tidak harus menyelesaikan dengan kekuatan kita sendiri perasaan bersalah itu, apalagi tangan Tuhan yang menekan. Kita datang kepada Tuhan di dalam pertobatan yang sejati, dan Tuhan yang setia dan adil itu mengampuni Sahabat dan saya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah menyesali kejujuran yang Sahabat lakukan, karena nilainya begitu tingggi di hadapan Allah. (pg).