Saat Tuhan Berhenti untuk Kita

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkaian Markus 10:49:  Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” Di tengah keramaian yang hiruk-pikuk, Yesus berjalan dengan langkah pasti, diiringi orang banyak yang mengikuti-Nya. Namun, di tengah perjalanan menuju Yerusalem, sebuah suara terdengar di pinggiran jalan, suara yang mungkin tak dianggap penting oleh banyak orang. Itu adalah suara seorang buta bernama Bartimeus yang berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Orang-orang di sekitar Bartimeus mencoba membungkamnya. Suaranya dianggap sebagai gangguan di tengah antusiasme banyak orang yang ingin mengikuti Yesus. Tapi bagi Bartimeus, inilah satu-satunya kesempatan untuk bertemu Sang Juruselamat. Dia terus berteriak, tak peduli dengan cemoohan. Di tengah kebisingan itu, Yesus berhenti. Tindakan Yesus itu sungguh luar biasa. Ia tak membiarkan suara kecil itu berlalu begitu saja. Dia berhenti. Inilah momen penting, karena ketika Yesus berhenti, Dia menyatakan sesuatu yang lebih dari sekadar kehadiran-Nya. Dia menyatakan bahwa ada Pribadi yang tak terlihat oleh dunia, namun berharga di mata-Nya. Tuhan, yang memegang seluruh alam semesta, memilih untuk memberi perhatian penuh pada seorang  yang terlupakan. Kehidupan kita sering kali terasa seperti keramaian yang tak pernah berhenti. Kita terus bergerak, dikelilingi oleh masalah, tekanan, dan rasa takut yang membuat kita merasa kecil dan tak terlihat. Kita mungkin merasa seperti Bartimeus, terabaikan di tepi kehidupan, hanya memanggil-manggil Tuhan dalam kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun, kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan jeritan hati kita. Ketika kita memanggil-Nya dengan sungguh-sungguh, Dia mendengar, dan lebih dari itu, Dia berhenti untuk kita. Saat Yesus berhenti, Dia tidak sekadar mendengarkan Bartimeus. Dia memanggilnya untuk datang. Ini adalah panggilan yang mengubah hidup. Bartimeus, yang selama ini hidup dalam kegelapan, dipanggil untuk mendekati Sang Sumber Terang. Tanpa ragu, dia bangkit dan meninggalkan jubahnya, satu-satunya benda yang mungkin menjadi penopang hidupnya. Tapi di hadapan Yesus, jubah itu tak lagi berarti. Bartimeus berlari kepada Tuhan dengan iman penuh, percaya bahwa pertemuan ini akan mengubah segalanya. Ketika Tuhan berhenti dan memanggil kita, Dia tidak hanya memberi perhatian, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk mengalami pemulihan. Dalam hidup ini, mungkin kita memiliki banyak “jubah”, entah itu rasa takut, rasa malu, luka masa lalu, atau beban berat yang terus kita bawa. Tetapi saat Tuhan memanggil, Dia meminta kita untuk meninggalkan semua itu, melangkah dengan iman, dan menerima anugerah-Nya. Bartimeus meninggalkan jubahnya sebagai simbol pengharapan baru, dan ia menerima lebih dari sekadar penglihatan. Ia menerima hidup yang baru. Kisah ini bukan hanya tentang Bartimeus. Ini adalah kisah kita. Di tengah segala krisis yang kita hadapi, entah itu masalah keuangan, kesehatan, relasi, atau bahkan krisis spiritual, Tuhan tetap berhenti untuk mendengar kita. Dunia mungkin berjalan terlalu cepat, membuat kita merasa tak berarti, tapi bagi Tuhan, kita selalu berharga. Tuhan tidak melewati kita begitu saja. Ketika Dia mendengar panggilan dari hati yang tulus, Dia akan berhenti dan mengarahkan perhatian-Nya kepada kita. Saat Tuhan berhenti, Dia selalu membawa perubahan. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk merespons panggilan-Nya? Bartimeus melompat dalam iman, melepaskan jubahnya, dan berlari kepada Yesus. Kita juga dipanggil untuk melakukan hal yang sama, melepaskan apa yang mengikat kita, dan datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kekacauan, kita sering kali lupa bahwa Tuhan tidak pernah tergesa-gesa. Dia punya waktu untuk kita. Ketika Dia berhenti, itu adalah undangan untuk bertemu dengan-Nya secara mendalam, untuk mengalami kasih-Nya yang mengubahkan. Bartimeus yang buta, seorang yang terpinggirkan, diberikan kesempatan untuk melihat bukan hanya secara fisik, tetapi juga melihat kasih Tuhan yang besar. Mungkin saat ini kita berada di posisi Bartimeus, merasa kecil, dilupakan, atau tak berdaya. Tetapi ingatlah, Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu tidak pernah terlalu sibuk untuk berhenti bagi kita. Dia tidak hanya mendengar teriakan kita; Dia memanggil kita untuk datang, mendekat, dan menerima pemulihan. Setiap panggilan-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk mengalami keajaiban, untuk merasakan kasih-Nya yang penuh belas kasihan. Saudaraku, hari ini, jika kita mendengar suara-Nya, janganlah kita tunda-tunda untuk menjawab. Tuhan telah berhenti untuk kita, apakah kita siap untuk bangkit, datang, dan mengalami hidup baru dalam terang kasih-Nya? (EBWR).

Be Silent Before God

BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan Tuhan akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apa yang menjadi panggilan hidup saya?”  Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita  supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati kita dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka.  Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam-Nya  tidak akan terbakar. Tuhan itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya. Sahabat, mari kita membaca dan merenungkan Zakharia 2:6-13 dengan penekanan pada ayat 13. Ayat ke-13 dari bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN.  Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa Zakharia mengajarkan kita untuk berdiam diri di hadapan Tuhan? Ada beberapa alasan mengapa kita harus berdiam diri di hadapan TUHAN, yakni:  Pertama, untuk mengikuti teladan Kristus. Misalnya seperti dalam Matius 14:23, “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”. Markus pun mencatat hal senada, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35) Kedua, untuk mendengarkan suara Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nabi Elia kala bertemu dengan Tuhan.Dalam kitab Habakuk 2:1 dituliskan juga hal serupa, “… aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.”  Ketiga, sebagai ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan. Seperti yang tertulis: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat….” (Zefanya 1:7).  Keempat, sebagai ekspresi iman kepada Tuhan. Pemazmur menyatakannya sebagai berikut: “Hanya dekat Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2).  Kelima, untuk mencari keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Seperti yang tertulis: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” (Ratapan 3:25-26).  Keenam, untuk memulihkan kekuatan jasmani dan rohani. Seperti yang tertulis: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6:31).  Ketujuh, untuk belajar mengontrol diri. Seperti yang tertulis: “Jikalau ada seorang menanggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26).  Sahabat, karena itu, marilah kita BERDIAM DIRI  di HADAPAN  TUHAN sehingga kita dengar-dengaran panggilan suara-Nya sehingga kita dapat semakin hidup sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita menjadi orang percaya hanya karena Tuhan telah memanggil. (pg).

Firm and Fearless along with God

MAZMUR 38. Sahabat, di dalam tradisi Gereja, Mazmur 38 ini termasuk salah satu mazmur yang disebut “Mazmur Pengakuan Dosa” (penitential psalms). Yang menarik, teologi dalam Mazmur 38 mencoba mengaitkan penderitaan yang dialami, termasuk sakit penyakit, dengan dosa Pemazmur.  Memang kita tidak bisa menjadikan hal tersebut menjadi satu prinsip yang kaku, memutlakkan bahwa setiap penderitaan pasti karena dosa, namun di dalam Alkitab ada tempat untuk merelasikannya, bahwa bisa saja sakit penyakit tersebut berkaitan dengan dosa kita. Itu sebabnya, tidak salah kalau setiap kali menderita atau sakit, kita melakukan introspeksi apakah kita sudah bersalah kepada Tuhan. Sahabat bahkan kalau kita membaca Mazmur 38, dalam penderitaan atau sakit penyakit yang dialami, Pemazmur mengertinya sebagai ekspresi murka atau kemarahan Tuhan. Sahabat, relasi yang benar dan baik dengan Tuhan, itu bukan selalu relasi dengan bayangan kita tentang Tuhan yang kasih dan tidak pernah murka. Relasi yang hidup, relasi yang benar, justru relasi yang ditandai dengan: Ketika Allah kita murka, kita tetap berani datang kepada-Nya. Kalau kita mempelajari iman orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama, kita mungkin mendapatkan gambaran yang berbeda dari kekristenan yang agak ke arah stoic (pemahaman yang mengajarkan ke manusia cara untuk menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan nyata). Kita tentu saja percaya kedaulatan Allah, tetapi kepercayaan akan kedaulatan Allah bukan berarti kita tidak boleh berseru kepada Tuhan, hanya boleh berserah, tidak boleh ada keinginan/permintaan, dan sebagainya; kalau seperti itu, jadi mirip Kekristenan stoik. Kalau kita membaca Mazmur 38, dan banyak lagi bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana orang percaya berani berdialog dengan Allah.  Mazmur 38  bukan ekspresi mengasihani diri (self-pity) atau manja (spoilt), melainkan ekspresi akan kedekatan Pemazmur dengan Allah, yang dia percaya sebagai Bapanya.  Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Firm and Fearless along with God (Teguh dan Tak Gentar Bersama Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 38: 1-23. Sahabat, sakit penyakit merupakan  kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh manusia.  Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang sakit. Di tengah kelemahan seperti itu, orang bisa dengan mudah merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Namun, bagaimana Pemazmur mengatasi kelemahan dan penyakitnya?Pemazmur menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (Ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (Ayat 4, 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (Ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (Ayat 12).  Pada saat yang sama, Pemazmur merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (Ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (Ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (Ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Pemazmur tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya.Sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas itu. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan.  Sahabat, belajar dari Pemazmur, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian. Bersama dengan Tuhan, kita dapat  dengan teguh dan tak gentar  menjalani hari-hari bersama penyakit kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12? Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dengan kekuatan dan bimbingan Tuhan kita tidak akan mudah menyerah di tengah segala kelemahan kita. (pg).

Sungai Limmat, Zurich

Saudaraku, dalam rangka menyambut Hari Reformasi pada tanggal 31 Oktober 2024, saya haturkan renungan ini. Tanggal 5 Januari 1527, penduduk Zurich berkerumun di kedua sisi Sungai Limmat yang bermuara di Danau Zurich untuk menyaksikan adegan mengerikan.  Felix Manz, dengan tangan dan kaki terikat, berjongkok di dek pondok nelayan dan menyanyikan mazmur “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” dengan penuh semangat. Dari sebuah perahu kecil, seorang pendeta menceramahinya dengan bertele-tele, sementara algojo menarik sekuat tenaga tali yang diikatkannya di leher terhukum. Teriakan putus asa terdengar di seberang danau, yakni ibu Felix Manz, yang memanggilnya dari tepi sungai dan menyuruhnya untuk tetap teguh dalam imannya. Sebelum kisah ini, ada Gerakan Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yakni Luther menempelkan “Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum” atau 95 Tesis Perdebatan tentang Kuasa Indulgensi di pintu Gereja Wittenburg Jerman. Dimulailah Gerakan Reformasi yang mengoreksi ajaran gereja Katolik saat itu, kemudian hari gerakan ini disebut sebagai Protestan, yang segera meluas ke Perancis, Swiss, dan negara-negara lainnya. Ajaran Reformasi Sola Scriptura mendorong para pengikut Reformasi untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal. Felix Manz awalnya adalah orang kepercayaan Huldrych Zwingli, – seorang Reformator di Zurich Swiss, dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Swiss Jerman. Kaum muda di Zurich bisa membaca bahwa ada ajaran gereja saat itu yang tidak berdasarkan Alkitab, yakni keberadaan api penyucian, pengampunan dosa dengan cara memberikan persembahan, dan baptisan bayi. Beberapa reformis di Swiss yang lebih progresif mulai bertemu sendiri untuk mempelajari Alkitab, sekitar tahun 1523 William Reublin mulai berkhotbah menentang baptisan bayi di desa-desa di Zurich, mendorong para orangtua untuk tidak membaptis anak-anak mereka, tapi hanya penyerahan bayi dan setelah menjadi dewasa barulah dibaptis. Gerakan ini dikenal sebagai Anabaptis, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Reformasi Zwingli. Pada 17 Januari 1525, Zwingli dan para penentangnya berdebat di depan umum untuk pertama kalinya. Menurut Felix Manz, baptisan hanya masuk akal jika orang yang akan dibaptis mampu menyatakan iman mereka sendiri, jadi bukan saat masih bayi. Zwingli dan dewan kota Zurich bersikap keras, dan memerintahkan semua anak atau bayi yang belum dibaptis untuk segera dibaptis dalam waktu seminggu, atau orangtua mereka harus meninggalkan wilayah Zurich.  Malam itu, ada baptisan orang dewasa pertama di Zurich berlangsung di rumah keluarga Felix Manz. Sepuluh hari kemudian, Felix ditangkap, dan Zwingli mencoba membujuknya untuk berubah pikiran. Namun Felix tetap keras kepala dan ditahan, namun dapat melarikan diri dari penjara dan pergi ke wilayah lain di Swiss untuk melanjutkan ajarannya. Sangat populer di kalangan petani, yang berharap bahwa penafsiran Alkitab secara harfiah akan menghasilkan perbaikan status sosial mereka dan ada penghapusan pajak. Pada 7 Maret 1526, konsili Zürich mengeluarkan dekrit yang menyebutkan mereka yang melakukan pembaptisan ulang bagi orang dewasa dapat dihukum. Beberapa bulan kemudian Felix ditangkap lagi dan dideportasi ke Zurich, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Dua minggu kemudian Felix Manz berhasil melarikan diri bersama dengan 13 tahanan laki-laki dan 7 tahanan perempuan, memanjat melalui lubang di atap sel dan menuruni dinding luar penjara. Ia sekali lagi berkeliling negeri untuk berkhotbah dan membaptis, hingga ditangkap dan diadili sekali lagi pada awal Desember, pengadilan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditenggelamkan ke sungai. Pada tanggal 5 Januari 1527, Felix Manz menjadi korban pertama yang menjadi martir Anabaptis. Pada pukul 3:00 sore hari itu, Felix Manz dibawa ke sebuah perahu ke Sungai Limmat, kedua tangannya diikat dan ditarik ke belakang, lalu sebuah tiang ditaruh di antara kedua tangannya, dan ditenggelamkan di muara Sungai Limmat Danau Zürich. Kata-kata terakhirnya yang terdengar adalah, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan nyawaku.”  Ya itulah kisah awal dari Gerakan Anabaptis. Pada tahun 1983, gereja Reformasi Swiss meminta maaf untuk pertama kalinya atas penderitaan yang telah ditimbulkannya kepada kaum Anabaptis. Sebuah plakat peringatan yang didirikan pada tahun 2004 di tepi Sungai Limmat mengenang Felix Manz dan rekan seimannya yakni Hans Landis, yang dipenggal di Fischmarkt, Zurich. Ajaran Anabaptis dan Reformasi memang ada beda di baptisan. Yang jelas Tuhan Yesus memberikan perintah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, …” (Matius 28:19).  Saudaraku, orang yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus mesti dibaptis. Namun dibaptis saat bayi atau saat dewasa, itulah ranah tafsir para rohaniwan di gereja masing-masing. Hal tersebut sangat tergantung dari kesepakatan, doktrin, dan denominasi, di gereja masing-masing. Yang perlu  kita pegang perintah Tuhan Yesus: “ … baptislah mereka …” (Surhert).

SELALU ADA KEJUTAN

Saudaraku, kebiasaan dan pengalaman seorang individu seringkali membuat individu itu membuat persepsi kuat sehingga sering memadamkan semangat saat menghadapi masalah, padahal seringkali Tuhan memberikan banyak ‘kejutan’ dalam kehidupan.  Mari renungkan salah satu kejutan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 3:1-10. Pengemis di Pintu Gerbang Indah sudah lama mencari nafkah di sana dan bertemu ribuan orang yang keluar masuk ke Bait Allah untuk berdoa, sementara ia sendiri tak pernah bisa melakukannya karena tiada tempat bagi orang cacat di Bait Allah.   Sungguh sebuah ironi karena sebenarnya Pintu Gerbang Indah punya nama lain Pintu Gerbang Emas dan orang lokal menyebutnya Pintu Gerbang Rahmat, namun bagi orang lumpuh itu rahmat hanya ilusi walau ia berada di sana.  Ia hanya mampu memandang kemegahan Bait Allah dari jauh, memandang kebahagiaan orang yang datang dan pergi untuk berdoa, mendengarkan mereka yang bercengkerama tentang perkara rohani sementara ia tak penah tahu bagaimana rasanya berjalan, berdiri sejajar dengan orang-orang itu apalagi beribadah bersama mereka karena sejak lahir ia sudah lumpuh.  Ia mendengar bahwa Allah itu mengasihi umatnya, namun ia tak mengharapkan kasih Allah itu terlalu besar selain cukup makan pada hari ini.   Ketika bertemu Petrus dan Yohanes ia menduga bahwa kedua orang itu akan memberi uang sebagaimana biasa dilakukan orang-orang yang kasihan padanya namun hari itu ia menerima kejutan karena Petrus dan Yohanes mempertemukannya dengan rentetan rahmat Tuhan baginya. Bukan uang, namun kesembuhan dalam nama Yesus yang membuka rahmat yang lain :  Pemulihan sosial dan hak-hak nya untuk beribadah.   Tak heran respons pertama yang dilakukannya adalah berjalan, karena ia tak pernah berjalan seumur hidupnya. Hal kedua yang dilakukannya adalah masuk ke Bait Allah bersama Yohanes dan Petrus dan memuji Allah.  Ia sadar bahwa kedua hal inilah yang diinginkan seumur hidupnya yang sore itu diterimanya melalui murid Kristus. Tuhan MAMPU MEMBERI KEJUTAN  dalam kehidupan dan membuat manusia menyadari kelemahan mereka.  Manusia belajar dari pengalaman namun pengalaman kadang kala menghalangi mereka untuk menerima rahmat Allah yang besar.  Keterbatasan inilah sebenarnya yang membuat manusia seharusnya membuka dirinya kepada Sang Rahmat, sebagaimana rasul Paulus mengatakan : “Sungguh hebat kekayaan Allah! Sungguh besar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya!  Siapa yang dapat menyelidiki keputusan-keputusan-Nya?  Siapa yang dapat mengerti cara-caranya Ia bekerja?”  (Roma 11:33 – Versi BIMK).    Andaikan iman ini terus dipegang dalam hati pemuda pemudi yang sangat putus asa beberapa waktu lalu, maka mereka tak akan bunuh diri.  Andaikan iman ini dipegang dalam hati orang percaya, maka mereka akan mampu terus berjuang dalam kehidupan yang makin keras ini.  Tuhan Sang Pemilik Rahmat pasti memberikan KEJUTAN YANG TAK TERDUGA  di MASA SULIT.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Evil Temptation

MAZMUR 37. Sahabat Mazmur 37  dapat digolongkan sebagai Mazmur Hikmat yang bersifat didaktis, bukan sebagai doa.  Pemazmur memulai Mazmur 37 dengan satu pernyataan  yang menusuk persoalan tentang bagaimana respons kita kepada ketidakadilan dalam hidup ini: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” (Ayat 1).  Ya, memang banyak orang yang jujur dan hidup tulus merasakan kecemburuan yang besar, ketika melihat betapa nyaman dan makmurnya hidup orang-orang yang melakukan kejahatan. Sedangkan ia sendiri harus berjuang dan mengalami kesusahan, meski hidup tulus dan jujur.Bukan tanpa alasan Pemazmur memulai mazmurnya dengan pernyataan tersebut. Melalui Mazmur 37 Pemazmur menegaskan betapa rentan dan terbatasnya hidup orang yang berbuat jahat (Ayat 2, 9, 10, 13, 20, 22, 35-36, 38). Itu  berarti, meski kelihatan hidup orang jahat dipenuhi dengan kelimpahan, namun sesungguhnya hidup mereka seperti telur di ujung tanduk. Begitu rentan dan begitu mudah jatuh.  Beda halnya dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Allah. Pemazmur menggambarkan hidup mereka itu kokoh karena ditopang Allah (Ayat 17, 19, 23-24, 30-31, 33, 39-40), penuh kelimpahan dari Allah (Ayat 9, 11, 22, 25-26, 29, 34 ), dan dipelihara selamanya oleh Allah (Ayat 18, 28, 37).Pemazmur mengingatkan kita bahwa di tengah kesusahan dan ketidakadilan yang kita hadapi dalam hidup ini, Allah tidak pernah tinggal diam dan mengabaikan kesusahanumat-Nya. Ia peduli dan memerhatikan, meski tidak selalu kita melihat jalan dan karya-Nya atas hidup kita. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Syukur kepada Tuhan kalau pada hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Evil Temptation (Godaan Untuk Berbuat Jahat)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 37:1-11 dan 39-40. Sahabat dalam suatu pertandingan, kadang kita mendengar  keluhan: “Kalau main curang begitu, ya, pasti menang. Percuma saja saya susah payah bermain dengan jujur jika yang menang adalah orang yang berbuat curang, tetapi tidak ketahuan juri,”  Memang menyesakkan hati ketika kita harus mengalami kekalahan akibat orang lain bermain curang dan tidak ketahuan oleh juri. Mungkin bukan hanya merasa sesak, tetapi kita tergoda juga untuk menempuh jalan yang curang; tergoda untuk berbuat jahat. Pemazmur memberikan nasihat yang konkret dan aplikatif agar kita tak marah dan iri kepada orang-orang yang berbuat jahat dan curang. Sebuah petunjuk bahwa fenomena seperti ini sudah berlangsung lama; sejak ribuan tahun yang lalu.  Mengapa tidak boleh iri hati atau marah kepada orang-orang yang berbuat curang? Pemazmur menggambarkan bahwa orang yang berbuat jahat atau curang itu seperti rumput dan tumbuhan hijau yang akan segera lisut dan layu. Artinya, orang-orang yang berbuat jahat atau curang tidak akan lama menikmati kemenangannya. Mengapa demikian?  Tuhan yang melihat segala sesuatu akan memberikan ganjaran kepada tiap orang menurut perbuatannya. Jangan pernah kita lupakan bahwa Tuhan memerhatikan segala sesuatu. Apa yang kita peroleh dengan cara yang jahat tidak akan bertahan lama. Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati: Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. (pg).

Kasih Tak Bertepi, Pilihan Manusia

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.”. Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, kasih yang tulus kepada Tuhan seolah menjadi barang langka. Kehidupan modern menawarkan begitu banyak hal yang terlihat lebih menarik daripada menjalani hidup dalam kasih kepada Sang Pencipta.  Dengan segala kesibukan, tujuan hidup yang berubah, dan godaan yang memikat, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mengarah pada Tuhan. Persoalan besar dari judul ini adalah: Mengapa Tuhan tidak membuat manusia secara otomatis mencintai-Nya? Mengapa Dia membiarkan manusia memiliki pilihan yang berpotensi membawa mereka jauh dari-Nya?  Kasih sejati selalu melibatkan pilihan. Tuhan yang Maha Pengasih tidak memaksakan cinta. Kasih yang dipaksakan tidak pernah menjadi kasih yang tulus. Jika kita tidak memiliki kebebasan untuk memilih, cinta itu hanyalah kepatuhan buta, tanpa makna.  Tuhan tidak menginginkan robot, melainkan hati yang rela. Kita melihat hal ini dari permulaan sejarah manusia di Taman Eden. Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memilih menaati Tuhan atau melanggar perintah-Nya. Sayangnya, mereka memilih untuk jatuh. Kejatuhan itu membuka jalan bagi penderitaan, rasa sakit, dan kematian. Tapi apakah ini berarti Tuhan gagal? Tidak. Justru di dalam kebebasan itu kita melihat besarnya kasih Tuhan. Kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan hari ini tidak jauh berbeda. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan:  Apakah kita akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau kita akan mengarahkan kasih kita kepada hal-hal lain yang lebih menarik di mata dunia?  Kerap kali, tanpa kita sadari, kita memilih yang kedua. Kesibukan, ambisi pribadi, kenikmatan sementara, semua itu menjadi tuhan-tuhan kecil yang mencuri tempat Tuhan di hati kita. Namun di balik itu semua, Tuhan tetap memberikan kita kebebasan. Dia tidak menghapus pilihan kita untuk mencintai atau menolak-Nya. Bayangkan seorang ayah yang memberikan kunci mobil kepada anaknya yang baru belajar mengemudi. Sang ayah tahu risiko yang ada, namun dia juga ingin memercayai dan memberi kesempatan kepada anaknya untuk bertumbuh. Dalam cinta yang sejati, ada risiko. Risiko bahwa kita akan salah memilih. Risiko bahwa kita mungkin berpaling.  Namun, kasih sejati juga memberi ruang untuk bertobat, kembali, dan mengasihi dengan tulus. Tuhan memilih untuk mencintai kita dengan cara yang sama, membiarkan kita bebas memilih, meski ada risiko kita jatuh, bahkan ketika kita sering kali salah arah. Saudaraku, Firman Tuhan dalam Ulangan 6:5 dengan jelas mengajarkan kita tentang jenis kasih yang Tuhan inginkan: kasih yang total, yang tidak terbagi-bagi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Ini bukan hanya panggilan untuk kasih emosional semata, tetapi kasih yang melibatkan segenap keberadaan diri kita: Pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan.  Mengasihi Tuhan berarti mengutamakan-Nya dalam segala hal, menempatkan Dia di pusat hidup kita, meskipun ada banyak hal lain yang menarik hati kita. Namun, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dengan tulus di tengah dunia yang penuh dengan pilihan? Jawabannya terletak pada pengenalan akan kasih Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita.  Kita mengasihi Tuhan bukan karena kita dipaksa, tetapi karena kita sadar betapa besarnya kasih yang telah Dia curahkan kepada kita. Ketika kita merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, kita melihat kasih yang tak bertepi. Tuhan tidak sekadar mengasihi kita dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan konkret yang membawa keselamatan. Kasih itu harus menjadi sumber kekuatan kita untuk membalas cinta-Nya dengan ketulusan. Apa yang harus kita bangun dalam diri kita sebagai anak-anak Tuhan? Pertama, kesadaran akan kebebasan kita untuk memilih. Kita harus memahami bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk mengasihi Tuhan atau mengejar hal-hal lain.  Kedua, keinginan yang tulus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Kasih kepada Tuhan bukanlah kewajiban yang berat, tetapi respons alami dari hati yang telah mengalami cinta-Nya. Ketiga, komitmen untuk menjaga kasih itu tetap hidup, bahkan ketika godaan datang untuk menarik kita jauh dari-Nya. Saudaraku, ketika kita memilih untuk mengasihi Tuhan dengan tulus, kita tidak hanya memilih kebahagiaan kekal, tetapi juga kehidupan yang penuh makna. Dalam kasih kepada Tuhan, kita menemukan siapa diri kita yang sebenarnya.  Dunia mungkin menawarkan begitu banyak pilihan yang terlihat menarik, tetapi pada akhirnya, hanya kasih Tuhan yang tak bertepi itu yang memuaskan hati kita. Apakah kamu memilih untuk mengasihi-Nya hari ini? Tuhan tidak akan memaksa, tetapi Dia SELALU MENUNGGU. (EBWR).

Life is a Choice

MAZMUR 36. Sahabat, dunia yang kita tempati hari ini adalah dunia yang telah jatuh dalam dosa dan penuh dengan kejahatan. Setiap hari, kita mendengar, membaca, atau menonton medsos dan berita televisi tentang berbagai kejahatan di lingkungan kita, di kota tempat kita tinggal, di negara kita, serta di belahan lain dunia ini. Bagaimana tanggapan kita terhadap berita-berita seperti itu? Dalam Mazmur 36, Daud menyaksikan bahwa orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Hati mereka tidak memiliki rasa takut terhadap Tuhan. Segala perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya.  Menyaksikan hal seperti itu tidak membuat Daud takut, melainkan membuat Daud makin menyadari betapa besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya dan dalam kehidupan orang-orang lain yang mengenal Tuhan. Tuhan yang penuh dengan kasih setia selalu menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan umat-Nya. Tuhan adalah Tempat Perlindungan paling aman di dunia ini. Melalui pembacaan Mazmur 36 pada hari ini, marilah kita belajar untuk tidak terpaku pada dunia di sekeliling kita yang sering nampak menakutkan. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, sesungguhnya hidup ini penuh dengan pilihan, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Mulai dari urusan memilih mau pakai baju apa hari ini, hingga pilihan yang menentukan arah hidup kita di masa mendatang. Terlepas dari begitu banyaknya pilihan dalam keseharian kita, ada pilihan paling penting yang tidak boleh kita abaikan dan harus kita putuskan di dalam hidup ini, yaitu: menjalani hidup penuh dosa ataukah hidup penuh kebaikan Allah?Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud memerlihatkan kontrasnya gambar dari orang berdosa yang penuh kejahatan dan Allah yang penuh kebaikan. Digambarkan bagaimana bagi orang berdosa: Hatinya dipenuhi dosa (Ayat 2) dan hidupnya dipenuhi dengan kesalahan, kebencian serta kejahatan (Ayat 3-5). Akar dari kehidupan yang penuh dosa adalah orang berdosa tidak takut kepada Allah (Ayat 2b).  Gambaran ini sangat kontras sekali dengan gambaran Allah yang penuh kebaikan, seperti: kasih-Nya luas (Ayat 6), keadilan-Nya teguh (Ayat 7), Ia sumber kehidupan bagi segala ciptaan-Nya (Ayat 8-10). Oleh karena itu, bagi orang-orang yang takut akan Allah dan mengenal-Nya, hidup mereka dipenuhi oleh kasih setia dan keadilan Allah (Ayat 11).  Beda halnya dengan akhir hidup dari orang berdosa. Daud menegaskan di akhir mazmurnya:  “…orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi” (Ayat 13).Sahabat, pertanyaan bagi kitah: Hidup manakah yang mewakili kehidupan yang kita jalani sekarang ini? Kehidupan yang tidak takut akan Allah dan penuh dengan keberdosaan? Atau kehidupan yang takut akan Allah dan penuh dengan kebaikan-Nya? Banyak orang mengaku menjalani hidup yang takut akan Allah, namun hidupnya penuh dengan dosa dan kejahatan. Tentu bukan itu yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikekang dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan.

Waiting God’s Times Patiently

MAZMUR 35. Sahabat, Mazmur 35 merupakan Nyanyian Ratapan. Nyanyian Ratapan termasuk satu bagian yang cukup besar dalam kitab Mazmur; dan ini menyatakan bahwa Firman Tuhan memberikan tempat untuk kita berespons di hadapan Tuhan dengan benar waktu kita sedang menderita. Kita bisa membagi Mazmur 35 dalam 2 bagian: Nyanyian Ratapan, dan Nyayian Pujian atau Ucapan Syukur. Mengingat Ratapan termasuk bagian yang besar dari Mazmur, ini berarti Tuhan juga mau mendewasakan kita melalui kita meratap di hadapan-Nya.   Ada orang yang di dalam penderitaan, dia tetap tidak bertumbuh. Meski dia mengalami penderitaan, kehidupannya tidak bertumbuh, karena dia tidak berespons di hadapan Tuhan, dia tidak bergumul di hadapan Tuhan,dia tidak mencari relasi dengan Tuhan, sehingga sia-sia saja penderitaan itu terjadi dalam kehidupannya, tidak menjadikan apa-apa.  Yang pasti, orang tidak perlu bangga karena dia menderita; tidak ada yang perlu dibanggakan dengan penderitaan. Sama juga dengan keberhasilan tidak perlu membuat kita bangga karena itu adalah berkat Tuhan, terlebih lagi, tidak ada yang perlu dibanggakan karena kita menderita. Tidak ada apa pun yang mulia dengan penderitaan. Penderitaan akan menjadi satu sarana yang baik, kalau kita berespons dengan benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dilakukan Pemazmur dalam Mazmur 35. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Waiting God’s Times Patiently (Menunggu Waktu Tuhan dengan Sabar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 35:1-28. Sahabat, Pernahkah  diperlakukan dengan jahat oleh orang-orang yang Sahabat perlakukan dengan baik? Dalam ketidakmengertian atas perbuatan mereka, apa yang biasanya kita lakukan? Mengutuki, bersungut-sungut, mengecam, menyimpan dendam, atau mencari cara untuk membalas perbuatan mereka dengan lebih kejam?Daud pernah mengalaminya. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik olehnya justru membalasnya dengan kejahatan, antara lain: mereka ingin mencabut nyawanya (Ayat 4a), merancangkan kecelakaan baginya (Ayat 4b), tanpa alasan menjebaknya (Ayat 7), menuntutnya (Ayat 11), menistanya terus-menerus (Ayat 15), mengolok-oloknya (Ayat 16), memusuhinya tanpa sebab (Ayat 19), dan menipunya (Ayat 20). Padahal Daud tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat (Ayat 11). Ia berbuat baik kepada mereka (Ayat 12) dan menemani mereka yang sakit (Ayat 13-14). Karena perbuatan jahat yang tanpa alasan itu, Daud merasa hidupnya telah dirusak habis-habisan (Ayat 17).Menariknya, dalam ketidakmengertiannya atas kejahatan yang dialaminya, Daud tidak menyalahkan Tuhan. Ya, ia marah terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu. Ia sakit hati atas kekejian mereka. Ia merasa dikhianati karena perbuatan baiknya dibalas dengan kejahatan. Tetapi semua kemarahan, sakit hati, dan perasaan dikhianati itu diserahkan kepada Allahnya.Kesadaran bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil (Ayat 24), membuat Daudmenyerahkan perkaranya kepada-Nya. Daud paham, pembalasan bukanlah haknya, melainkan hak Tuhan. Daud belum jelas apa yang akan Allah lakukan atas perkaranya, dan entah sampai berapa lama Daud mengalami semuanya kejahatan itu (Ayat 17). Namun Daud tetap bersorak-sorak karena Tuhan (9) dan bersyukur kepada-Nya (Ayat 18). Daud menutup Mazmur 35 dengan doksologi yang agung atas kebesaran Tuhan (Ayat 27-28).Orang-orang di sekitar kita bisa berbuat jahat dan menyakitkan, tetapi percayalah bahwa kita punya Sang Hakim yang Adil. Bagian kita adalah menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan-Nya, maka Ia akan bertindak. Daud sadar bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri dalam bertindak, entah membalas mereka saat itu juga atau di kemudian hari. Sikap Daud yang benar yaitu tetap memuji Tuhan dalam keyakinan imannya akan Tuhan, DIA MENUNGGU WAKTU TUHAN DENGAN SABAR,  bukan menuntut Tuhan bertindak sesuai dengan keinginannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di bagian tengah Mazmur 35 ada sebuah perubahan besar yaitu ketika Daud mengakui bahwa keselamatan itu berasal dari Tuhan (Ayat 9), dan Daud tetap setia memuji Tuhan dalam segala hal (Ayat 18). (pg).

SATU BUKAN SERAGAM

Saudaraku,  Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ada pada lambang negara Garuda Pancasila.  Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda tetapi satu.  Alkitab ternyata juga memuat nilai Bhinneka Tunggal Ika, maka mari kita merenungkan Kisah Para Rasul 2:1-40. Perayaan Pentakosta yang ramai menjadi makin hiruk pikuk dengan  kabar mabuknya para murid Yesus di pagi hari sehingga  rumah itu ramai dikerumuni massa.  Mereka yang mendatangi rumah itu kaget dan heran karena para murid itu bisa berbicara dalam berbagai bahasa dan massa memahami pesan yang disampaikan padahal para murid Yesus adalah orang Yahudi Galilea yang tak menguasai bahasa asing apalagi menerima mereka yang berbeda dengan bangsa dan adat mereka.   Yang lebih mengherankan adalah dari sekian banyak bahasa yang keluar dari mulut para murid yang tersampaikan kepada banyak orang asing itu memiliki  pesan yang sama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar. Pesan inilah yang membuat mereka membuka telinga kepada Injil dan setelah Petrus menjelaskan situasi, mereka menjadi percaya dan dibaptiskan.   Peristiwa Pentakosta ini menjadi titik balik dari para pengikut Yesus dari sekumpulan para penakut yang pesimis, menjadi sekumpulan orang yang berani memberitakan tentang Kristus.  Berita tentang Kristus tersebar dari Yerusalem menuju ke luar Yerusalem melalui orang-orang yang menerima Injil dan dibaptiskan.  Dari lokal menjadi global dalam satu peristiwa dengan satu berita pokok: Pekerjaan Allah yang besar.   Inilah kerja Roh Kudus yang Maha Dahsyat.  Ia menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dalam satu irama, satu frekuensi dalam pekerjaan-Nya.   Manusia membuat banyak tembok dalam kehidupan, diantaranya: Etnisitas, adat istiadat, bahasa dan dialek.  Tak jarang karenanya manusia tidak bisa bersatu dan hidup dalam pertikaian dan kesalah pahaman sehingga saling menjegal dan menjatuhkan.  Namun Roh Kudus datang untuk menyatukan perbedaan dan mengarahkannya kepada pekerjaan Allah.   Tembok pemisah warisan Menara Babel dihapuskan oleh Roh Kudus.  SATU bukan berarti SERAGAM, melainkan menghargai PERBEDAAN untuk SATU TUJUAN.    Indonesia disatukan oleh Pancasila, bukan berarti Indonesia harus menjadi seperti satu suku mayoritas  melainkan segala perbedaan itu dijembatani oleh Pancasila untuk satu tujuan bersama.   Demikian juga Roh Kudus MENJADI PENYATU  setiap orang yang percaya kepada Kristus, apa pun etnisnya, aliran gerejanya, tingkat pendidikannya ataupun usianya.  Roh Kudus menyatukan untuk membuat yang berbeda memiliki satu tujuan bersama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar.   Saudara, masihkah hal ini menjadi tujuan bersama umat Allah?  Atau karya Roh Kudus hanya dipersempit dengan manifestasi ritual yang memperuncing perbedaan dan membuat diskriminasi baru?  Mari kembali kepada asal.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)