Hati Terbuka, Luka Tersembuhkan

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Injil Lukas 7:47: Sebab itu Aku berkata kepadamu: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Setiap orang menyimpan luka dalam hati. Bukan hanya luka fisik yang tampak di permukaan, tetapi juga luka batin yang tersembunyi di balik senyuman, memengaruhi emosi dan kehidupan sosial kita. Luka ini bisa berasal dari banyak sumber: Keluarga yang tak harmonis, tekanan dari masyarakat, lingkungan sekolah yang penuh persaingan, atau dunia kerja yang sering kali keras. Bahkan di tempat yang seharusnya membawa damai, seperti gereja, kita bisa terluka oleh perpecahan atau ketidakpedulian. Luka-luka ini, jika tidak dihadapi, akan mengendap menjadi rasa sakit, kepahitan, dan kesendirian yang sulit diobati. Kita sering melihat orang yang terluka secara emosional atau sosial dalam kehidupan sehari-hari. Di tempat kerja, seseorang mungkin merasa tak dihargai atau diperlakukan tidak adil. Dalam keluarga, seorang anak mungkin tumbuh tanpa cinta yang cukup, atau pasangan suami-istri terjebak dalam konflik yang tak berujung. Bahkan di gereja, jemaat bisa merasa diabaikan karena perbedaan pandangan. Luka-luka ini meninggalkan bekas mendalam yang menghambat hubungan kita dengan sesama, dan bahkan dengan Tuhan. ketika kita terluka, sering kali respons pertama kita adalah menutup hati. Kita meragukan kasih Tuhan dan kehadiran-Nya, merasa sendirian dalam kesakitan. Luka yang tidak pernah diakui atau dihadapi akhirnya menahan kita dari pertumbuhan rohani dan membatasi kasih yang bisa kita berikan kepada orang lain. Di sinilah kita diajak untuk membuka hati, sebab HANYA HATI YANG TERBUKA YANG BISA DISEMBUHKAN.  Saudaraku, Injil Lukas 7:36-50  menghadirkan kita pada kisah seorang perempuan yang hidupnya penuh luka, banyak yang percaya dia adalah Maria Magdalena. Sebagai seorang pendosa, Maria telah dipandang rendah oleh masyarakat. Luka sosial yang ia derita mendalam, namun Maria berani membuka hatinya. Dengan air mata penyesalan, dia mendekati Yesus, mencurahkan minyak wangi di kaki-Nya, membasuhnya dengan air matanya, dan menyeka dengan rambutnya. Sikapnya menunjukkan hati yang benar-benar terbuka, penuh kerinduan akan pengampunan dan kasih. Yesus, alih-alih menghakimi, justru menerima dan menyembuhkan (Lukas 7:47). Tindakan Maria menunjukkan bahwa luka yang terbuka di hadapan Tuhan dapat menjadi jalan untuk pemulihan. Pengampunan yang Yesus berikan bukan hanya menghapus dosanya, tetapi juga menyembuhkan luka emosional dan sosial yang selama ini menghantuinya. Kisah ini mengajarkan kita bahwa luka, jika DIBUKA di hadapan Tuhan, dapat menjadi SUMBER KASIH  dan PEMULIHAN. Ketika kita berusaha menyembunyikan luka-luka kita, kita membiarkannya semakin dalam dan menyakitkan. Tetapi saat kita membuka diri, seberapa pun rapuhnya, Tuhan akan merespons dengan kasih yang menyembuhkan.  Langkah pertama menuju pemulihan adalah menyadari dan mengakui luka-luka itu, sebagaimana Maria membuka hatinya di hadapan Yesus. Selain mengakui, kita juga perlu percaya bahwa Tuhan mampu menyembuhkan. Dunia mungkin menolak kita, tetapi Tuhan selalu hadir dengan tangan terbuka. Ketika orang lain menghakimi atau menolak kita, pengampunan Tuhan melampaui semua penilaian manusia. Seperti Maria yang menemukan kebebasan dalam pengampunan Kristus, kita pun bisa menemukan kebebasan dari luka-luka kita jika kita membuka hati kepada-Nya. Saudaraku, tak hanya kepada Tuhan, kita juga harus membuka hati kepada sesama. Luka yang kita alami sering kali membuat kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Tuhan memanggil kita untuk menjadikan luka kita sebagai pintu masuk bagi kasih yang lebih besar, bukan membiarkan luka itu memupuk kebencian. Mengampuni orang yang telah melukai kita adalah bagian dari proses penyembuhan itu. Ketika kita bisa mengampuni, kita mengambil bagian dalam misi Kristus untuk memulihkan dunia ini, satu hati yang terluka pada satu waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mulai dari hal-hal kecil. Perhatikan mereka yang terluka di sekitar kita, di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di gereja. Sebuah kata penguatan, telinga yang mendengar, atau pelukan hangat bisa menjadi bentuk kasih yang mengalir dari hati yang telah disembuhkan Tuhan. Saudaraku, kita semua diundang untuk terus membuka hati, kepada Tuhan dan kepada sesama. Dalam keterbukaan itu, kita akan menemukan bahwa luka-luka yang kita alami, dengan kasih Tuhan, dapat menjadi sumber kekuatan dan kasih yang menyembuhkan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. (EBWR)

HARAPAN DALAM SEBUAH NAMA

Saudaraku,  selalu ada harapan saat orangtua memberi nama untuk anak-anaknya.  Maka tak heran biasanya nama seorang anak selalu yang terbaik bagi orangtuanya.  Raja Daud juga menamakan anaknya yang tampan dengan nama yang indah: ABSALOM.   Makna Absalom adalah BAPA PERDAMAIAN.   Sungguh indah.  Hanya saja sayang si tampan Absalom memilih jalan yang berbeda dari NAMANYA.  Mari renungkan 2 Samuel 13. Keluarga Raja Daud bak sinetron, lengkap dengan intrik-intriknya.  Kehidupan poligami Raja Daud membawa masalah tersendiri kepada anak-anaknya sehingga mereka mencoba memecahkan masalahnya dengan caranya sendiri.  Mulai dari Amnon, anak sulung Daud yang jatuh cinta kepada Tamar, putri Raja Daud yang rupawan, semua masalah itu dimulai hingga menguras energi dan airmata Daud beserta keluarganya.   Saat akhirnya Tamar dilecehkan parah oleh Amnon, muncul Absalom yang tampan membela Tamar dan membalaskan sakit hati dengan membunuh Amnon.  Dengan cara yang licik dan memakai tangan orang lain, Absalom membalas dendam.  Dari caranya menyelesaikan masalah, jelas Absalom bukanlah Bapa Perdamaian seperti namanya.  Alih-alih menjadi Bapa Perdamaian, Ia menjadi Bapa Kematian untuk Amnon dan membawa kedukaan besar untuk keluarganya.   Sepak terjang Absalom memang jauh dari kata damai, sebuah doa yang dipanjatkan Daud untuk anak lelakinya yang tampan itu. Nama seseorang memang penting namun SIKAP HIDUPNYA-lah h yang MENUNJUKKAN IDENTITAS HIDUP  yang sejati.  Absalom nama yang indah namun karakter dan pilihan hidupnya tak seindah namanya. Ia akan dikenang sebagai seorang anak raja yang memberontak, bukan seorang Bapa Perdamaian. William Shakespeare pernah menuliskan dalam sebuah karyanya: What’s in a name? That’s which we call rose by any other name would smell as sweet (apalah arti sebuah anama? Toh dinamakan apa pun, HARUMNYA MAWAR akan tetap WANGI TERCIUM).  NAMA yang disandang seseorang akan diuji oleh KEHIDUPAN  yang dipilihnya dan seringkali situasinya berlawanan.  Nama begitu indah, tapi pilihan hidupnya buruk  atau sebaliknya.   ORANG KRISTEN  dikenal sebagai pengikut Kristus (Kisah Para Rasul 11:26), sebuah julukan yang diberikan orang Antiokhia kepada komunitas Jalan Tuhan.  Julukan itu melekat sampai sekarang kepada orang yang menjadi PENGIKUT KRISTUS  di seluruh dunia.   Awalnya memang menjadi JULUKAN, namun pada akhirnya menjadi IDENTITAS  karena perjuangan para pengikut Kristus untuk MENGABARKAN INJIL  dan menempuh segala risikonya.  Banyak julukan yang diberikan kepada para pengikut Kristus, namun masihkah orang yang menamakan dirinya pengikut Kristus MENGHIDUPI PANGGILAN KRISTUS?    Terlalu banyak orang yang menyatakan dirinya Kristen namun hidupnya jauh dari nilai dan karakter yang diperjuangkan Kristus dan tenggelam dalam gelombang egosentris, hedonis dan materialisme.   Saudaraku, pada akhirnya tinggal namanya saja Kristen tapi gaya hidupnya bukan lagi Kristus.  Mari belajar untuk terus MEMBUKTIKAN DIRI  bahwa PANGGILAN KRISTUS  Kristus tetap DIRESPONI  dan NILAI-NILAINYA  DIPERJUANGKAN sampai akhir, sampai Dia datang Kembali.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

SPEAK UP

Saudaraku,  belakangan muncul seorang nama besar dalam industri musik yang menghadapi masalah hukum karena pelecehan seksual dan perdagangan manusia.  Kejadian ini tersembunyi bertahun-tahun lamanya dan terbongkar saat para korban dan saksi berani untuk  speak up (berbicara, jujur menceritakan) sehingga mendapat atensi dari banyak pihak.  Yang tersembunyi mulai terungkap, kebenaran mulai terbit.   Dalam Sejarah gereja, pemberitaan Injil secara masif mendapat respons negatif saat para murid mulai dari speak up kepada rohaniawan Bait Allah. Mari renungkan Kisah Para Rasul 4:13-31. Diawali dengan hebohnya Bait Suci saat seorang yang dikenal sebagai pengemis lumpuh yang minta-minta di depan pintu gerbang Indah, tiba-tiba masuk ke dalam lingkungan Bait Allah dengan sukacita dalam keadaan yang pulih dan bisa berjalan.  Para rohaniawan mulai gelisah dan menginvestigasi para pelaku dan saksi sehingga membuat situasi menjadi tegang.   Hal yang seharusnya dirayakan malah dicurigai dan menjadi prasangka. Alih-alih ikut bersukacita, para rohaniawan itu malah mengancam Petrus dan Yohanes agar tidak memberitakan tentang Yesus.  Ancaman ini serius, namun alih-alih ketakutan para murid malah mengatakan: “Silakan  kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 4:19).   Inilah awal perjuangan para pengikut Yesus menghadapi pihak Bait Allah dan menguras banyak energi dan airmata sepanjang Sejarah gereja awal.  Para murid berani mengambil posisi berlawanan dengan para rohaniawan itu yaitu sebagai saksi: “Sebab kami tidak mungkin berkata-kata  tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar.”  (Kisah Para Rasul 4:20). Para murid sudah  posisi berseberangan dan jelas dan menolak pembungkaman walau itu sangat berisiko. Mereka memilih untuk speak up. Ribuan tahun telah berlalu dan umat Kristen sekarang bukanlah saksi utama dari pekerjaan Kristus, namun tugas dari Yesus tidaklah berubah:  “… dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8b).   Maka setiap orang percaya seharusnya menyadari bahwa mengabarkan kabar baik adalah tugas dan prioritas dengan risiko apapun walaupun sudah bukan menjadi saksi utama.  Tantangan akan makin bertambah namun umat Allah tak boleh diam untuk terus mengabarkan kebenaran-Nya, tak boleh bungkam  Ketika ketidak adilan terjadi, tak boleh bebal Ketika penghisapan membuat manusia makin mendiskriminasi sesamanya.  Orang Kristen harus speak up tentang Kristus yang membebaskan, bukan speak up tentang kehidupan hedon dan nyaman seorang pengikut Kristus yang bertaburan berkat dan seabrek privilege (hak istimewa) yang mengatasnamakan anak-anak Allah.   Saudaraku, menjadi Kristen seharusnya MEMPERJUANGKAN  apa yang KRISTUS PERJUANGKAN, bukan memperjuangkan kepentingan sendiri.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

MENABUR PERSEMBAHAN, MENUAI PENGAMPUNAN DOSA

Saudaraku, Paus Leo X (11 Des 1475 – 1 Des 1521) adalah seorang Paus yang menjabat dari tanggal 9 Maret 1514 hingga kematiannya pada 1 Desember 1521. Paus Leo X antara tahun 1515 dan 1517 mengesahkan penjualan SURAT INDULGENSI atau surat pengampunan dosa dengan tujuan mengumpulkan uang guna mendanai pembangunan Basilika Santo Petrus,  yakni semakin banyak uang yang disumbangkan kepada Gereja, maka semakin besar dosa orang yang menyumbang akan diampuni Tuhan. Paus Leo X juga menjual dispensasi kepausan seharga 10.000 dukat kepada seorang tokoh Jerman yang menginginkan jabatan uskup. Ducat adalah koin emas atau perak yang digunakan di negara-negara Eropa, terutama di Italia. Nilainya antara seperlima dan sepertiga pound Inggris. Sedangkan harga surat indulgensi bervariasi tergantung pada status sosial orang yang membeli: Raja, Ratu, dan Uskup Agung: 25 florin emas Pedagang: 3 florin Umat beriman termiskin: ¼ (seperempat) florin Pada tahun 1500, satu florin bernilai tujuh lira Italia.  Indulgensi dimaksudkan untuk mengurangi waktu hukuman yang dihabiskan di api penyucian setelah kematian. Gereja saat itu mengajarkan, setelah seseorang meninggal maka rohnya akan masuk ke tempat api penyucian, di sana roh akan dicuci dengan api hingga benar-benar layak masuk ke surga. Orang-orang yang masih hidup dapat mendoakan orang yang sudah mati dengan melalui perbuatan baik, seperti puasa, sedekah, dan ziarah ke Roma. Kemudian timbul persoalan, jika seseorang atas dasar kasihnya dapat mengirimkan doa kepada orang mati, lalu bagaimana dengan pengampunan dosa-dosa bagi dirinya sendiri?  Indulgensi yang semula dimaksudkan sebagai doa dan perbuatan baik akhirnya dapat digantikan dengan imbalan uang. Jadilah jemaat bisa menaburkan uangnya sebagai persembahan, dan akan mendapatkan hasil berupa surat pengampunan dosa. Paus Leo X mengutus Johann Tetzel, seorang biarawan asal Dominika, untuk menjual surat pengampunan dosa di negara Jerman. Promosi Tetzel yang terkenal adalah “Begitu koin dalam peti persembahan berdenting, jiwa dari api penyucian akan keluar”. Martin Luther, seorang pendeta, melihat penjualan indulgensi tidak sesuai ajaran Tuhan, kemudian Luther menulis 95 tesisnya, yang merinci penentangannya terhadap penjualan surat pengampunan dosa, dan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517, yang intinya meliputi: Ajaran Gereja perlu direformasi. Seseorang hanya dapat diselamatkan melalui iman pribadi kepada Yesus Kristus dan kasih karunia Tuhan, bukan melalui upaya perbuatan. Reformasi adalah gerakan untuk memprotes dan mereformasi Gereja saat itu. Ide-ide utama Reformasi bukanlah hal baru, tetapi Luther dan para reformis lainnya adalah yang pertama menggunakan mesin cetak untuk menyebarkan ide-ide mereka secara luas. Mesin cetak memungkinkan ide-ide Reformasi menjangkau khalayak yang jauh lebih luas daripada yang dapat dijangkau Luther melalui khotbah.  Pengikut Reformasi percaya bahwa orang-orang harus mandiri dalam hubungannya dengan Tuhan, bertanggung jawab secara pribadi atas iman mereka, dan membaca Alkitab untuk dapat lebih mengerti kehendak Allah, jadi bukan hanya mendengarkan ajaran yang dapat menyimpang. Alkitab memang tidak menunjukkan langsung adanya indulgensi, hanya saja ada beberapa peristiwa di Alkitab yang bisa ditafsirkan bahwa iman seseorang bisa mengampuni dosa dan bahkan menyelamatkan orang lain: Kejadian 18:16-33 Tuhan berjanji kepada Abraham bahwa Tuhan tidak akan menghancurkan Sodom jika terdapat 50 orang yang benar di Sodom. Matius 9:1-8 Yesus menyembuhkan orang lumpuh dan mengampuni dosa-dosanya setelah melihat iman teman-teman si lumpuh yang menggotongnya untuk menemui Yesus. Roma 11:28 Paulus berkata bahwa orang Yahudi dikasihi oleh Allah karena nenek moyangnya percaya pada Allah. Saudaraku, apabila jemaat tidak pernah membaca Alkitab dan hanya percaya saja pada ajaran-ajaran dari mimbar, maka ada kemungkinan ajaran bisa menyesatkan atau sesuai keinginan sendiri si pengkhotbah.  Waspadalah, maka saat Saudara mengikuti ibadah hari Minggu atau ibadah-ibadah lain di gereja, doakanlah si pengkhotbah supaya dia hanya benar-benar menyampaikan Firman Tuhan sesuai kebenaran yang diwahyukan kepadanya, dan dalam kehidupan sehari-hari tekunlah membaca Alkitab supaya dapat lebih mengerti kehendak Allah. (Surhert).

SOLA FIDE

Saudaraku, Sola Fide adalah frasa Latin yang berarti “iman saja”. Ini adalah doktrin teologi Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan hanya dimungkinkan melalui iman kepada Yesus Kristus. Doktrin ini merupakan bagian mendasar dari Reformasi Protestan dan sering digunakan untuk membedakan tradisi Protestan dari kepercayaan-kepercayaan lainnya.  Sola Fide menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah dari Tuhan yang dapat diakses oleh semua orang beriman. Sola Fide berarti “hanya iman”, istilah ini digunakan oleh kaum Protestan, bahwa orang harus percaya kepada Yesus untuk membawa mereka kembali ke dalam hubungan dengan Tuhan.  Dosa menciptakan jurang pemisah antara manusia dan Tuhan, tetapi Yesus, yang sempurna, mati dengan menanggung hukuman atas dosa manusia dan dengan demikian menjembatani jurang tersebut. Itulah yang disebut keselamatan karena Yesus “menyelamatkan” manusia dari ketiadaan Tuhan. Idenya adalah percaya kepada Yesus adalah satu-satunya cara untuk diselamatkan dan mendapatkan jaminan kehidupan kekal. Protestan setuju bahwa orang perlu melakukan apa yang benar, tetapi mereka percaya bahwa keselamatan bergantung pada iman saja, bukan harus melalui upaya atau tindakan. John Calvin mengajarkan, bahwa Tuhan memberikan pengampunan kepada orang berdosa melalui iman saja, dan bukan melalui perbuatan baik. Calvin percaya bahwa bersatu dengan Kristus melalui Sola Fide dan Sola Gratia (hanya kasih karunia) menghasilkan dua manfaat: PEMBENARAN dan PENGUDUSAN.  Ajaran tentang Sola Fide memang bergaung sejak Reformasi tahun 1517, namun jika kita perhatikan di kitab Galatia 1:6-7 yang ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 48-49 Masehi telah menyebutkan: ” Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” Jadi saat itu di kalangan orang-orang Kristen di Galilea muncul keraguan tentang ajaran Injil Kristus, dan untuk menyempurnakannya,  ada ajaran baru yang menekankan jemaat perlu melakukan pula ajaran-ajaran hukum Taurat. Galatia 3:2-3: “Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” Jadi untuk memperoleh keselamatan Kristus apakah hanya melalui iman saja, atau melalui iman ditambah dengan melaksanakan hukum Taurat? Dengan kata lain, di kalangan jemaat ada keraguan bahwa keselamatan yang hanya dimungkinkan melalui iman kepada Yesus Kristus dirasa tidak cukup, karenanya perlu ditambahkan ajaran-ajaran hukum Taurat.  Pemikiran semacam ini akan mendorong jemaat untuk mencampurkan atau menambahkan iman kepercayaan dengan berbagai tradisi, kepercayaan atau bahkan dengan aliran agama lain, yang akhirnya menimbulkan SINKRETISME,  dan lebih jauh lagi sinkretisme dapat menghasilkan budaya atau aspek baru dari suatu masyarakat.  Beberapa contoh mencampurkan iman kepercayaan dengan tradisi yang tidak kita sadari, di antaranya: Pertama, ibadah Paskah yang dikaitkan dengan telor dan bahkan dengan kelinci Paskah. Kedua, di beberapa daerah kita melihat adanya rangkaian kebaktian Jumat Agung dan Paskah berupa arak-arakan obor/lilin yang dimulai dari depan gereja keliling kota. Ketiga, ibadah dan perayaan Natal yang jauh lebih megah dan ramai daripada kebaktian Jumat Agung dan Paskah, yang menyiratkan pengorbanan Kristus di salib lebih rendah sambutannya daripada acara Natalan. Keempat, Adanya tradisi atau kepercayaan setempat yang sering ditambahkan pada saat kebaktian penghiburan orang yang meninggal. Kelima, di tembok dalam rumah yang menghadap pintu masuk perlu dipasang salib untuk penolak kuasa gelap … dan sebagainya. Campuran antara kemurnian ajaran Sola Fide dengan budaya atau kepercayaan setempat akhirnya menimbulkan keraguan tidak adanya kebenaran mutlak di dalam Kristus. Kalau belum melakukan ajaran gereja ditambah dengan yang lain-lain itu sepertinya belum memperoleh keselamatan. Saudaraku, waspadalah, sebenarnya anugerah keselamatan dari Kristus dimulai dari iman percaya kepada Kristus. Untuk semakin menumbuhkan dan menguatkan iman, mulailah dengan semakin mengikuti ibadah di gereja, mengikuti kebaktian doa, lebih banyak berdoa secara pribadi, dan yang terutama kita perlu setia membaca Alkitab setiap hari. (Surhert).

Our Life Has Limits

MAZMUR 39. Sahabat, dalam hidup itu ada hal-hal yang sangat berharga, tetapi kita jarang memikirkannya secara serius dan tuntas  sampai Tuhan membawa kita kepada satu konteks kehidupan yang membuat kita sadar bahwa kita terancam.  Mazmur 39  merupakan mazmur yang dinyatakan oleh Daud di dalam kegentaran hidup. Kita mengucap syukur karena Alkitab kita adalah Alkitab yang jujur, yang tulus dan yang terbuka. Di dalam seluruh konteks kehidupan, maka Pemazmur itu menyatakan keluh kesahnya dan kesukaannya di hadapan Allah.  Apa yang terjadi pada Daud di dalam menulis Mazmur 39? Dia sakit karena dosa. Tangan Tuhan menekan dia dengan kuat. Mungkin saja keadaan ini terjadi setelah dia meratap di dalam Mazmur 51. Tetapi kalau Sahabat-Sahabat  membaca dalam Mazmur 38, satu pasal sebelum Mazmur 39, maka Sahabat akan melihat bagaimana dia meratap di dalam kesakitan. Sehingga Mazmur 39 sangat mungkin adalah terusan dari Mazmur 38.  Mazmur 39 menegur kebodohan manusia yang tidak mau serius berpikir akan hidupnya. Di dalam kesulitan yang besar, di dalam kegentaran hampir mati, maka Daud mengajar kepada kita apa yang sebenarnya harus kita pikirkan. Dia mengajarkan kepada kita untuk mengerti siapa manusia dan apa sesungguhnya yang menjadi milik kita.  Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Our Life Has Limits (Hidup Kita Ada Batasnya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 39:1-14. Sahabat,  sebagai raja israel hidup Daud penuh kenyamanan:  Harta kekayaan yang melimpah dan memiliki pasukan tentara yang siap menjaga negerinya.  Meski demikian Daud tidak pernah memegahkan diri.  Dia sadar bahwa hidup di dunia ini tidak untuk selamanya, hanya sementara waktu.  Segala sesuatu ada akhirnya.   Musa berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Itulah sebabnya Daud berdoa: “Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!”  (Ayat 5).  Bukan saja alam semesta dan segala isinya, umur manusia pun ada akhirnya.Jika sadar bahwa umur kita ada batasnya, apa yang harus kita perbuat dengan waktu yang sangat singkat ini?  Waktu adalah anugerah Tuhan, karena itu jangan pernah sia-siakan.  Selagi kita masih bernafas berarti ada kesempatan bagi kita mengumpulkan harta di surga dan berkarya bagi Tuhan.   Bagi kita sebagai orang percaya, kematian bukan lagi menakutkan, dan kita yang ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi tidak perlu tenggelam dan duka yang berlarut-larut.  Rasul Paulus menasihati:  “…saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.  Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.”  (1 Tesalonika 4:13-14).Dengan demikian kita dapat tabah menghadapi kematian, karena semua orang tanpa terkecuali akan mengalaminya.Sahabat, bila selama hidup di dunia ini kita dengan setia mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita dan menjalani hidup selaras dengan firman Tuhan, maka kita pun dapat berkata seperti Rasul Paulus,  “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.”  (Filipi 1:21-22a). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-7? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: . Yakinlah, akan tiba waktunya Allah akan bertindak menolong hidup kita! (pg). 

Rendah Hati

RENDAH HATI. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rendah hati adalah kata sifat yang berarti tidak sombong atau tidak angkuh. Secara umum arti rendah hati adalah orang yang memiliki sifat baik hati, suka menolong dan juga peduli terhadap sesama. Dikutip dari buku “Pengembangan Karakter untuk Anak” oleh John Garmo, kerendahan hati adalah kualitas karakter yang sengaja menempatkan diri pada kondisi yang lebih rendah. Dengan demikian, kita bisa memberikan penghargaan kualitas yang lebih kepada orang lain. Kata kerendahan hati (humility) berasal dari bahasa latin humalitas yang berarti garis terendah atau sikap tunduk. Sikap ini bisa kita dapatkan dengan cara berlatih dan terus belajar. Sahabat, menjadi rendah hati adalah mengenali dengan penuh syukur kebergantungan kita kepada Tuhan. Menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan tetap akan dukungan Tuhan. Kerendahan hati adalah suatu pengakuan bahwa bakat-bakat dan kemampuan kita adalah karunia dari Tuhan.  Hal itu bukan tanda kelemahan, rasa malu, atau minder; itu merupakan pertanda bahwa kita mengetahui di mana letak kekuatan sejati. Kita dapat menjadi rendah hati dan tidak takut. Kita dapat menjadi rendah hati serta berani. Yesus Kristus adalah teladan kerendahan hati terbesar. Selama pelayanan-Nya di dunia,  Dia senantiasa mengenali bahwa kekuatan-Nya datang karena kebergantungan-Nya kepada Bapa-Nya. Dia berfirman: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; …  Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30). Tuhan akan menguatkan kita sewaktu kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Yakobus mengingatkan:  “Allah menentang orang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:6, 10). Mari kita membaca dan merenungkan Zefanya 2:1-3. Sahabat, saat ini, sikap individualistis terasa sangat kuat, banyak orang cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya daripada kepentingan bersama. Keinginan untuk diakui, lebih kuat daripada keinginan untuk hidup bersama sebagai manusia yang setara.  Untuk mencapai hal tersebut, orang lain tidak lagi dipandang sebagai subyek yang juga patut untuk dihargai. Hidup yang demikian tentu tidak akan membawa ketenangan, tetapi justru kerisauan yang tidak berkesudahan. Kepada umat-Nya, nabi Zefanya menyerukan ajakan untuk bertobat. Uniknya, ajakannya itu diserukan kepada orang-orang yang rendah hati. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, tetapi karena hanya orang-orang yang rendah hati sajalah yang dapat melihat kesalahan dan kekurangannya, sehingga mereka akan selalu mencari Tuhan dan mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan.  Di sisi yang lain, nabi Zefanya juga menunjukkan, bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang dapat menemukan jalan menuju kehidupan yang sejati, yakni dengan senantiasa mengupayakan keadilan bagi sesama. Dengan demikian, maka Allah akan melindungi mereka, serta membebaskan mereka dari hukuman-Nya. Sahabat, nabi Zefanya mengajarkan bahwa dengan bersikap rendah hati, maka kita akan menjadi pribadi yang bijaksana. Artinya, kita dapat melihat dengan mata terbuka bahwa kita hanyalah manusia yang kecil, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang sejati dengan senantiasa berserah kepada Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang rendah hati? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya orang yang rendah hati yang dapat menemukan hidup yang sejati. (pg).

SOLA GRATIA

Saudaraku, Sola Gratia merupakan salah satu ajaran Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther tahun 1517. Sola Gratia artinya grace alone, hanya anugerah. Ini berarti sebagai orang Kristen kita percaya bahwa keselamatan dan pembenaran yang kita peroleh semata-mata hanya karena anugerah Tuhan, itu bukan merupakan upah atas hasil usaha atau kerja keras kita di dalam melakukan perbuatan baik. Tapi di lain pihak ada yang mengajarkan bahwa ketika melakukan perbuatan baik maka kita akan mendapatkan balasannya, karena Tuhan melihat apa yang kita lakukan, jadi Tuhan akan membalas perbuatan kita. Ini seperti orang menabur, kalau benih yang ditabur jatuh di batu atau kumpulan tanaman berduri, ya buah tidak akan timbul, tapi kalau jatuh di lahan yang tepat, akan tumbuh 30 kali lipat, bahkan 100 kali lipat. Ajaran tabur dan tuai ini sedikit banyak terpengaruh oleh ajaran tentang hukum karma, yakni hukum perbuatan sebab-akibat yang tidak mungkin keliru. Jika kita sedang melakukan suatu perbuatan baik, maka pada saat yang sama kita akan mendapatkan balasan yang setimpal atau bahkan lebih besar. Tapi jika mendapatkan balasan atau kondisi yang tidak menguntungkan, ya anggap saja seperti kita sedang menanam pohon kelapa, pisang, dan sayur-sayuran bersamaan, masing-masing pohon akan menghasilkan buah yang berbeda pada waktu yang berbeda-beda pula. Namun suatu waktu ketika memetik buah-buahan dan sayuran tersebut ternyata mendapatkan hasil yang lain, seperti kita berharap mendapatkan balasan sebesar pohon kelapa atau setandan buah pisang, tapi kenyataannya hanya mendapatkan segenggam sayur buncis. Jadi, jika hukum tabur tuai tidak selalu tepat, jangan terlalu kecewa, yang penting kita tetap mempertahankan konsistensi untuk berbuat kebaikan meskipun dalam kondisi yang sulit dan tertekan, karena pada saatnya kita akan mendapatkan buah pohon kelapa.  Mengapa tetap berharap pada hukum tabur-tuai yang tidak pasti? Hukum sebab akibat, karena setiap tindakan yang dilakukan akan menghasilkan akibat yang sebanding. Kartu skor kehidupan, dengan adanya tabur-tuai akan menentukan kualitas hidup seseorang dan mendapatkan nilai atau skor. Perbuatan baik dan buruk, karena tindakan yang baik akan menghasilkan tuaian yang baik, sedangkan tindakan yang buruk akan menghasilkan tuaian yang buruk. Perbedaan mental, intelektual, moral, watak, baik buruk, kaya, miskin, sehat, sakit, dan perbedaan lainnya dalam kehidupan manusia disebabkan oleh perbuatan baik atau buruk yang telah dilakukan. Sola Gratia berarti “hanya oleh anugerah”.Ajaran ini menekankan bahwa keselamatan manusia didasarkan pada kasih karunia Allah, bukan pada perbuatan baik atau kesalehan khusus. Bahkan kita melihat Yesus yang sepanjang hidupnya di bumi senantiasa melakukan perbuatan yang baik menolong orang-orang yang sakit, lemah tubuh, disingkirkan masyarakat, bahkan Yesus ditolak oleh orang-orang Yahudi dan akhirnya mati disalibkan. Jadi Tuhan Yesus meskipun senantiasa menabur kebaikan malahan menuai penderitaan. Coba kita simak Yesaya 53:5:  “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Namun justru melalui pengorbanan di kayu salib, orang-orang yang percaya pada Tuhan Yesus akan mendapatkan pengampunan dosa dan akhirnya mendapatkan kehidupan kekal. Anugerah atas pengampunan dosa dan kehidupan kekal ini diberikan secara cuma-cuma pada siapa pun yang memiliki iman untuk percaya pada anugerah keselamatan. Sola Gratia menyatakan bahwa keselamatan adalah anugerah ilahi yang tidak layak diterima manusia, bukan sesuatu yang pantas atau diusahakan oleh pendosa. Keselamatan ini diperhitungkan sebagai kemurahan hati Allah yang dibagikan kepada siapa pun.  Belas kasih Tuhan kepada manusia terjadi semata-mata karena anugerah, sehingga manusia tidak dapat mengklaim keselamatan kekal melalui perbuatan baik maupun oleh kesalehan khusus.  Bagaimana kita memiliki iman untuk percaya pada anugerah keselamatan agar memperoleh anugerah Allah secara cuma-cuma? Coba kita simak dan hayatiRoma 10:17:  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Saudara, tugas kita semua untuk mengabarkan Firman Kristus, agar dapat didengar oleh semua orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, supaya mereka boleh menerima anugerah keselamatan dari Tuhan, bukan atas upaya jerih lelah perbuatan mereka sendiri. (Surhert).

JOHN CALVIN

Saudaraku, menjelang Hari Reformasi 31 Oktober, kita mengingat kembali John Calvin, yang menuliskan buku yang menentukan Reformasi dan menjadi pilar teologi Protestan. John Calvin atau Yohanes Calvin, 10 Juli 1509 – 27 Mei 1564 adalah seorang teolog, pendeta, dan reformis  Perancis yang tinggal di Geneve Swiss selama Reformasi Protestan. Ia adalah tokoh utama dalam pengembangan sistem teologi Kristen yang kemudian disebut Calvinisme. Calvin menerbitkan lima edisi Latin Institutes of the Christian Religion, yang dikenal sebagai Institutio Christianae Religionis, yang dipandang sebagai karya teologi paling berpengaruh sepanjang masa: Tahun 1536: Edisi Latin pertama diterbitkan saat Calvin berusia 26 tahun dan panjangnya hanya enam bab. Tahun 1539: Edisi kedua isinya tiga kali lebih panjang dari yang pertama, dengan 17 bab tambahan. Tahun 1543: Calvin menambahkan banyak tulisan lagi dan memperdalam bab tentang Pengakuan Iman para Rasul. Tahun 1550: Hanya beberapa perubahan kecil ditambahkan ke buku. Tahun 1559: Edisi terakhir Institutio, isinya sekitar 80% lebih banyak dari edisi sebelumnya, terdiri dari empat buku dengan 80 bab. Pemikiran John Calvin tentang hubungan antara doa dan iman ada dalam Institutio edisi pertama tahun 1536, membahas topik-topik doa: Hubungan antara doa dan iman, Perlunya dan manfaat doa, Aturan-aturan untuk berdoa, Jenis-jenis doa, dan Kejadian-kejadian yang tidak disengaja dalam doa. Secara ringkas isinya: Doa adalah latihan iman yang utama. Calvin percaya bahwa doa adalah cara utama untuk menjalani kehidupan beriman dan menunjukkan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Berdoa adalah kewajiban. Calvin percaya bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berdoa, dan bahwa doa merupakan disiplin rohani yang penting dalam kehidupan Kristen. Doa adalah cara untuk mengungkapkan kasih. Calvin percaya bahwa doa syafaat adalah cara yang ampuh untuk mengungkapkan kasih kepada orang lain. Doa adalah cara untuk menemukan rencana Tuhan. Calvin percaya bahwa doa adalah cara untuk menemukan apa yang telah direncanakan Tuhan bagi manusia, dan untuk merasakan penghiburan yang datang dari Tuhan. Doa adalah pergumulan antara iman dan kesalahan. Calvin percaya bahwa bahkan doa orang yang paling taat pun merupakan pergumulan antara iman dan pengakuan dosa yang telah dilakukan. Maka cukuplah untuk mengatakan, bahwa permulaan doa yang benar timbul dari iman, dan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Allah. Calvin menyebutkan: Berdoalah dengan harapan yang pasti. Calvin percaya bahwa Tuhan menjawab doa, dan bahwa orang Kristen harus dikuatkan oleh harapan ini. Berdoalah dalam nama Yesus. Calvin percaya bahwa Yesus adalah perantara dan penengah kita, dan bahwa kita harus berdoa dalam nama-Nya. Doa adalah saluran yang melaluinya kasih Tuhan dan kasih kita kepada Tuhan mengalir bolak-balik. Calvin percaya bahwa ketika kita gagal berdoa, kita kehilangan comfort atau penghiburan/kenyamanan hati dan pikiran, yang dapat datang dari doa. Calvin juga menuliskan: Mengapa kita HARUS BERDOA?  Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa, itu bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan demi kita. Tuhan menghendaki, agar kita mengakui bahwa semua yang diinginkan atau dirasakan manusia sebagai berguna, mesti didoakan agar dapat diperoleh, dan hanya berasal dari-Nya. Jadi meskipun kita dalam kondisi lemah, Tuhan tetap bangun dan memerhatikan kita, dan kadang bahkan menolong kita tanpa diminta. Sangatlah penting bagi kita untuk terus memohon kepada-Nya: Pertama, agar hati kita selalu berkobar dengan keinginan yang sungguh-sungguh dan berkobar untuk mencari, mengasihi, dan melayani-Nya. Kedua, agar kita belajar untuk menempatkan semua keinginan kita di hadapan-Nya dan dengan demikian mencurahkan isi hati kita di hadapan-Nya; Ketiga, agar kita dapat bersiap untuk menerima semua berkat-Nya dengan rasa ucapan syukur, dan doa mengingatkan bahwa semua itu berasal dari tangan-Nya.  Saudaraku, masih panjang lagi yang diketengahkan Calvin agar kita selalu SETIA untuk BERDOA. Masalahnya, apakah kita SUDAH BERDOA,  atau hanya kadang-kadang berdoa, atau berdoa bila ada maunya? (Surhert).

CERN – Swiss

Saudaraku, bulan Desember 1951, ada pertemuan UNESCO di Paris, pada resolusi pertama membentuk Dewan Riset Nuklir Eropa, dalam bahasa Perancis: Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire – CERN. Dua bulan kemudian, ada perjanjian untuk membentuk Dewan sementara yang disebut CERN, bidang penelitian utama CERN adalah fisika partikel, dan laboratorium CERN disebut Laboratorium Fisika Partikel Eropa. Nah, CERN membangun terowongan pada kedalaman rata-rata 100 m, bervariasi antara 175 m di bawah Kanton/Provinsi Jura Swiss, di satu sisi berjarak 50 m di bawah tepi Danau Geneve. Terowongan sepanjang 27 kilometer dibangun di bawah tanah di antara sedimen batu-batu terkeras di dunia, dan di dalam terowongan dibangun mesin akselerator partikel terbesar dan terkuat di dunia, dinamakan Large Hadron Collider (LHC). Tidak pernah disebutkan mengapa terowongan dibangun sedemikian kokoh di bawah tanah. Perkiraan saja, untuk antisipasi risiko jika LHC meledak, maka terowongan akan tertimbun batu-batu keras, juga air dari Danau Geneve yang dingin akan mengalir ke dalamnya. Nah hebatnya lagi, ternyata dekat CERN ada kota Cologny dekat Geneve yang memiliki Bibliotheca Bodmeriana, perpustakaan yang menyimpan sekitar 160.000 barang koleksi, termasuk: Salinan tertua Injil Yakobus yang terlestarikan. Sebuah Alkitab Gutenberg 1452, Alkitab yang dicetak pertama di dunia. Edisi cetak pertama “Sembilan Puluh Lima Dalil”” tulisan Martin Luther, 1517. Gulungan naskah asli “The 120 Days of Sodom” ” karya Marquis De Sade. Nah, mungkin Alkitab-Alkitab yang asli di Cologny akan tertelan ikut menimbun CERN dan ledakannya akan padam. Apa itu LHC yang sedemikian ditakutkan jika meledak? LHC pertama kali beroperasi pada 10 September 2008, secara singkat terdiri dari cincin magnet superkonduktor sepanjang 27 kilometer dengan sejumlah struktur percepatan untuk meningkatkan energi partikel di sepanjang lintasan.  Mesin ini memiliki dinding magnetik yang sangat tebal dan kuat, dipergunakan untuk menembakkan proton yang terbang di dalam LHC dengan energi rancangan sebesar 7 TeV (Teraelectronvolt/1012 eV), jadi ketika dua proton bertabrakan, energi tabrakannya adalah 14 TeV, bahkan berkas inti timbal memiliki energi tabrakan maksimum sebesar 1150 TeV dan hingga saat ini di CERN telah mencapai energi tabrakan sebesar 1040 TeV, ini adalah energi nuklir yang lebih besar dari bom nuklir yang pernah diledakkan. Karena ada energi yang sangat besar, dikhawatirkan bila terjadi tumbukan proton akan ada ledakan, dan terjadi black hole (Lubang hitam adalah wilayah di luar angkasa tempat sejumlah besar massa terhimpit dalam volume yang sangat kecil) sesuai teori Einstein, yang mana black hole ini akan menelan segala materi. Juga di CERN terbukti teori tentang asal-usul “massa” yang ditulis oleh Peter Higgs dan kawan-kawan, hingga disebut Boson Higgs. Menurut para fisikawan, bila terjadi tumbukan energi proton, maka akan timbul energi baru yang menyiratkan adanya kehidupan, atau bisa pula menimbulkan black hole, siapa tahu? Saya suatu ketika pernah bertemu Prof. Yohanes Surya dan menanyakan apakah CERN ini benar ada. Dijawab ya ada, dibiayai oleh puluhan negara maju, Indonesia/LIPI juga pernah diundang ke CERN untuk riset namun tidak dibebankan biaya. Kita membaca di Kejadian 1: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.  … Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Ini keyakinan iman kita, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Namun para ahli fisika, kimia, nuklir di berbagai negara maju berupaya membuktikan bahwa penciptaan bumi bukan dalam sekejap seperti dituliskan di Kejadian 1, tapi merupakan akibat tumbukan-tumbukan massa yang terjadi ratusan juta tahun lalu dan dari tumbukan-tumbukan ini muncul kehidupan, buktinya antara lain ada Dinosaurus.  Para ahli ini menciptakan riset CERN yang di dalamnya ada mesin LHC yang menumbukkan partikel massa proton dan pertikel lainnya untuk membuktikan kebenaran teori-teori para ahli. CERN melambangkan pengetahuan versus Iman. Saudaraku, hari ini kita lebih tekun membaca Alkitab atau tiap saat mengikuti berita-berita medsos yang tidak ada sortir kebenarannya, bahkan asal-usul penulisnya malahan sering tidak jelas? Akibatnya iman percaya kita kepada Tuhan mudah goyah dan bahkan malahan berani mempertanyakan Firman Tuhan.  Apa yang baik bagi diriku, itulah Firman. Apa yang menjadi teguran akibat dosa, itu hanya membuat rasa bersalah sesaat, terlebih lagi ada dosa kecil, dosa abu-abu, dosa-dosaan, dosa yang bisa disangkal, dosa yang ada alasannya, dan lain-lain dosa yang tidak ada hukumannya, lihat tuh buktinya di pengadilan-pengadilan. Menyambut hari Reformasi 31 Oktober 2024, Sola Scriptura, hanya berdasarkan Alkitab saja. Itulah hanya satu-satunya cara yang dapat membuat kita hidup benar di hadapan Allah. (Surhert).