Menghormati Orang yang Diurapi

DIURAPI. Sahabat, dari “Got Question” saya mendapat informasi bahwa pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di zaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal tersebut membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan.Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti untuk mengolesi memakai minyak dengan maksud untuk menahbiskan ke dalam satu jabatan pelayanan. Selain itu juga dipakai kata aleipho, yang berarti untuk mengurapi. Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Keluaran 29:7; Keluaran 40:9; 2 Raja-Raja 9:6; Pengkhotbah 9:8; dan Yakobus 5:14).Sahabat, seseorang diurapi untuk tujuan tertentu: Untuk menjadi raja, untuk menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai  ramuan ajaib. Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun. Hanya Tuhan yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Tuhan lakukan.Hari ini kita akan membaca dan merenungkan dari kitab 1 Samuel 26:1-25 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, menghormati pemimpin merupakan sikap terpuji. Tentu tidak semua pemimpin melakukan kebaikan. Tindakan penghormatan dilakukan karena kita percaya bahwa Tuhanlah yang menghadirkan pemimpin. Menghormati pemimpin adalah tanda menghormati Tuhan.Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud kembali menunjukkan penghormatan kepada Saul,  sekalipun Saul memperlakukannya sebagai buronan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas tindakan jahat Saul. Saat itu, Saul bersama dengan pasukannya tengah beristirahat. Agaknya kelelahan hebat membuat mereka terlelap (Ayat 7). Sebuah kesempatan tepat untuk bertindak menghentikan langkah Saul yang selalu hendak membunuh Daud. Abisai berinisiatif untuk menghabisi Saul (Ayat 8). Daud menolak dengan alasan karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan (Ayat 9).  Sababat, bagi Daud, Tuhan sendiri yang akan bertindak menghentikan Saul. Daud menyuruh Abisai mengambil tombak dan kendi minuman Saul. Dengan tombak dan kendi di tangan, Daud mempertanyakan alasan Saul memburunya. Jika memang Tuhan yang memerintahkan hal itu, Daud akan datang dan bertobat. Jika manusia yang menyuruhnya, Daud mendoakan agar orang itu dikutuk Tuhan (Ayat 19). Pernyataan Daud membuat Saul menyesal. Saul berjanji akan menghentikan tindakannya (Ayat 21). Daud pun mengembalikan tombak dan kendi Saul.Daud memercayai bahwa pemimpin datang dari Tuhan. Jika pemimpin melakukan hal yang buruk, Tuhan yang akan bertindak. Keyakinan Daud ini membuatnya menghargai Saul sekalipun sikap Saul terhadapnya buruk dan menyakitkan.Sahabat, di tengah kehidupan yang cenderung tidak menghargai pemimpin, kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal semuanya disampaikan dengan sikap hormat. Tuhan telah mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup kita. Mari kita menghormati orang yang diurapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mempunyai cara dan waktu sendri untuk menolong kita. Bersabarlah! (pg).

Kesabaran Mendatangkan Kebaikan

KESABARAN. Sahabat, ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak kita dilanggar;  ketika mobil lain memotong jalur kita di jalanan; ketika kita diperlakukan tidak adil; ketika rekan kerja kita mengejek iman kita, dan sebagainya. Ketidaksabaran tampak seperti kemarahan yang kudus. Alkitab menyatakan kesabaran sebagai salah satu dari buah Roh (Galatia  5:22) yang harus dihasilkan oleh semua orang percaya  (1 Tesalonika 5:14). Kesabaran merupakan bentuk perwujudan iman kita terhadap waktu, kemahakuasaan, dan kasih Allah.Kesabaran itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Kuasa dan kebaikan Allah sangat penting dalam membangun kesabaran. Surat Kolose 1:11 menyatakan bahwa kita dikuatkan oleh-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Sedangkan surat Yakobus 1:3-4 menguatkan kita untuk tahu bahwa pencobaan adalah cara yang Dia gunakan untuk menyempurnakan kesabaran kita.Sahabat, di dalam Alkitab, kita melihat banyak contoh dari perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab dengan Allah ditandai dengan kesabaran. Yakobus mengingatkan kita akan nabi-nabi yang merupakan teladan penderitaan dan kesabaran (Yakobus 5:10). Dia juga mengingatkan kita mengenai Ayub, yang ketekunannya dihargai dengan apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11).  Abraham juga, menunggu dengan sabar dan memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya (Ibrani  6:15). Yesus adalah teladan kita dalam segala hal. Dia menunjukkan kesabaran  dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2). Hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Samuel 16:5-16 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, seorang polisi mengalami peristiwa tidak menyenangkan ketika ia menghentikan seorang perempuan bermobil yang melakukan pelanggaran. Ia memberikan surat tilang, tetapi perempuan itu mengamuk, mulai mencakar dan memukul sambil melontarkan perkataan kasar. Hebatnya, polisi itu bergeming. Ia hanya berupaya menghindari pukulan itu tanpa membela diri. Kesabarannya itu mengundang banyak simpati. Akhirnya ia diberi penghargaan oleh Kapolda Metro Jaya.Daud pun pernah mendapatkan perlakuan serupa ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari usaha kudeta Absalom. Di tengah jalan, Simei, yang termasuk salah seorang keluarga Saul, datang dan melempari rombongan Daud dengan batu serta mengucapkan kata-kata kutuk. Abisai, salah seorang pengikut Daud, bereaksi dan meminta izin untuk memenggal kepala Simei. Daud bereaksi sebaliknya. Alih-alih memberi izin, ia justru menegur Abisai dan membiarkan Simei terus mengutuk. Dan Daud menunjukkan kesabarannya dengan perkataan: “Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (Ayat 12). Daud yakin kesabaran mendatangkan kebaikan.Sahabat, memang tindak kebenaran yang kita lakukan tidak selalu membuahkan hal yang baik untuk kita. Kadang-kadang kita justru menerima perlakuan yang buruk. Namun, Tuhan bisa memakai situasi itu untuk menguji hati kita. Setiap perlakuan buruk sesungguhnya menguji kualitas hati kita dan menjadikan kita semakin dewasa secara rohani.  Menjadikan kita semakin sabar. Kesabaran mendatangkan kebaikan.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 12? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sabar adalah kesadaran bahwa kita percaya kepada Tuhan yang Mahakuasa dan yang Mahatahu akan segala sesuatu. (pg).   

SOLA SCRIPTURA

Saudaraku, 31 Oktober 1517, Martin Luther menulis 95 tesis tentang ketidakbenaran ajaran Gereja (saat itu) dan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg, ternyata kemudian menggerakan banyak Reformator di negara-negara lain untuk meluruskan ajaran dan tradisi Gereja. Martin Luther (Jerman): Pelopor Reformasi, mempercepat gerakan Reformasi dengan mengkritik teologi dan praktik Gereja Katolik Roma. John Calvin (Perancis, pindah ke Swiss): Mengajarkan ajaran teologi Kristen yang dikenal sebagai Calvinisme, yang kemudian disebut sebagai Protestan. Huldrych Zwingli: Pastor asal Swiss mengadakan Reformasi Gereja Swiss pada 1523, antara lain tidak setuju dengan tradisi-tradisi yang ditetapkan Gereja dalam menyambut perayaan gerejani. Penerjemahan Alkitab ke bahasa Swiss menimbulkan Gerakan Anabaptis yang menganjurkan baptisan orang dewasa dan menolak baptisan anak, dan yang sudah terlanjur dibaptis saat anak-anak dianjurkan untuk dibaptis ulang atau ana baptize dalam bahasa Yunani. Para Reformator mendorong penerjemahan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa setempat membuat masyarakat luas bisa membaca langsung Alkitab. Juga saat itu Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak, yang digunakan untuk mencetak buku Alkitab dan juga mencetak naskah-naskah ajaran para Reformator. Reformator lainnya di Ingris yakni William Tyndale (1492-1536), seorang sarjana dan teolog yang dikenal menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat Alkitab dapat dibaca oleh masyarakat luas, yang sebelumnya mengandalkan pendeta untuk menafsirkan Alkitab. Upaya Tyndale dianggap radikal, dan ia menghadapi tekanan dari otoritas Gereja, karena rakyat dapat mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang tidak sesuai Alkitab. Pada bulan Oktober 1528 William Tyndale menuliskan buku: “The Obedience of a Christian Man”, isinya antara lain mendukung gagasan bahwa kedudukan Raja Inggris harus menjadi kepala gereja di Inggris, karena otoritas gereja diatur oleh Kepausan Roma, juga Tyndale mengkritik kondisi gereja sebagai berikut: “Betapa hebatnya pekerjaan para pendeta. Mereka menginginkan uang untuk segala hal: Uang untuk pembaptisan, uang untuk kebaktian gereja, untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk patung, persaudaraan, penebusan dosa, misa untuk jiwa, lonceng, (alat musik) organ, piala, jubah, jubah tambahan, kendi, dan segala macam ornamen. Domba yang malang! Pendeta menggunting, pendeta mencukur, pendeta paroki mencukur, biarawan menggaruk, penjual surat pengampunan dosa… yang Anda inginkan hanyalah seorang tukang daging menguliti Anda dan mengambil kulit Anda.” Karena tulisan tersebut akhirnya Tyndale dituduh mengajarkan ajaran sesat, dia pada tahun 1535 melarikan diri ke Belgia, tempat  ia ditangkap dan dipenjara selama lebih dari setahun, dihukum karena ajaran sesat, dieksekusi dengan cara dicekik, setelah itu tubuhnya dibakar di tiang pancang. Doa terakhirnya adalah agar mata Raja Inggris dibukakan. Ironisnya, doa Tyndale terpenuhi ketika satu tahun setelah kematiannya, Raja Henry VIII mengesahkan penerbitan Alkitab Matius dalam bahasa Inggris, yang sebagian besar merupakan terjemahan Tyndale. Pada tahun 1611, Raja James I dari Inggris mengesahkan apa yang kemudian dikenal sebagai Alkitab King James Version (KJV). Sebanyak 47 sarjana yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, mengambil banyak hal dari karya asli Tyndale. Para sarjana Alkitab memperkirakan bahwa Perjanjian Baru King James Version mengandung 83 persen terjemahan Tyndale dan Perjanjian Lama mengandung 76 persen. Saudaraku, ajaran Reformasi Sola Scriptura adalah ajaran yang menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran dan otoritas tertinggi dalam kehidupan dan pengajaran manusia. Penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa-bahasa lokal setempat membuat masyarakat mengetahui apa yang ditulis dalam Alkitab, dan bisa mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang merupakan tafsiran sendiri atau yang menyimpang. Hari ini buku Alkitab sudah banyak dipindahkan ke dalam bentuk digital, hampir selalu ada di dalam handphone Saudara semua. Namun Alkitab apps ini bersanding bersama puluhan apps seperti Whatsapp, TikTok, YouTube, X/Twitter, Shopee, Tokopedia, Gojek, OVO, termasuk bermacam game seperti Mobile Legend. Ironisnya, sementara Hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan dari mimbar, banyak jemaatnya yang menunduk dan membuka berbagai apps, bahkan ada yang membeli baju, sandal, dll saat itu menggunakan apps. ALKITAB SUDAH MEMILIKI SAINGIN SENDIRI DI ZAMAN INI. yakni puluhan apps di handphone, yang siap-siap membawa Saudara ke dunia sekuler atau bahkan ke dunia sesat. Waspadalah dan Berjaga-jagalah. Waspadalah! Waspadalah! (Surhert).

Tune Up Kesehatan Emosional Keluarga:Menciptakan Atmosfer Damai di Rumah

Saudaraku, keluarga di masa kini menghadapi berbagai tantangan yang dapat menggerogoti kesehatan emosional. Kegelisahan akibat kesibukan yang tiada henti, masalah finansial, dan komunikasi yang kurang baik sering kali membuat rumah terasa tidak aman. Sayangnya, tidak sedikit yang akhirnya menyerah, beberapa memilih berpisah, sementara yang lain menghadapi tragedi bunuh diri.  Ketika kita membaca berita tentang seorang remaja yang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak didengarkan, atau seorang ayah yang pergi karena merasa gagal memenuhi harapan, kita diingatkan akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan emosional di dalam keluarga. Di balik DINDING RUMAH  yang tampak TENANG, sering kali tersembunyi BADAI yang dapat menghancurkan ikatan keluarga. Dalam banyak kasus, kurangnya komunikasi menjadi salah satu akar masalah.  Banyak keluarga tidak menyadari bahwa kata-kata yang tidak hati-hati dapat menciptakan jarak yang sulit untuk dijembatani. Dalam konteks ini, Yakobus 1:19-20 menjadi pengingat penting bagi kita: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”  Ayat tersebut menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam komunikasi. Jika kita cepat marah dan lambat mendengarkan, kita berisiko merusak hubungan yang seharusnya penuh kasih. Kesehatan emosional dalam keluarga tidak hanya tentang bagaimana kita berinteraksi saat segalanya berjalan baik, tetapi juga bagaimana kita berhadapan dengan KONFLIK. Seringkali, saat EMOSI MELUAP, kata-kata yang keluar adalah SENJATA  yang MELUKAI bukan JEMBATAN  yang MENYATAKUKAN.  Di sinilah pentingnya MENDENGARKAN, bukan hanya dengan TELINGA, tetapi juga dengan HATI. Ketika kita berusaha memahami emosi dan kebutuhan di balik kata-kata, kita dapat menciptakan ruang di mana setiap anggota keluarga MERASA DIHARGAI.  Namun, mendengarkan saja tidak cukup. Ketika terjadi konflik, kita juga perlu melatih diri untuk LAMBAT  dalam BERBICARA. Mengambil waktu sejenak untuk TENANG  dan BERPIKIR,  sebelum merespons adalah langkah penting dalam menjaga KESEHATAN EMOSIONAL.  Ada KEKUATAN  dalam KEHENINGAN; kadang-kadang, menunggu untuk berbicara adalah bentuk KASIH yang TERBESAR.  Ini adalah saat kita dapat merenungkan kata-kata yang akan diucapkan, memastikan bahwa mereka MEMBANGUN, bukan MERUSAK.  Kesehatan emosional juga berkaitan erat dengan kasih. Kasih yang tulus menciptakan suasana di mana setiap anggota keluarga merasa aman dan diterima. Kolose 3:12-14 mengingatkan kita untuk mengenakan: “… belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran, … Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”  KASIH bukan hanya tentang perasaan; itu tentang TINDAKAN NYATA, Kasih itu terlihat dalam sikap SALING MENGAMPUNI, kesediaan untuk MENDENGARKAN, dan kemampuan untuk MEMBERI DUKUNGAN  di saat-saat sulit. Apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan atmosfer damai di rumah? Mulailah dengan doa bersama, mengundang Tuhan untuk hadir dalam setiap interaksi. Sediakan waktu khusus untuk berkumpul, tanpa gangguan dari gadget, sehingga semua orang dapat saling berbagi.  Saat konflik muncul, cobalah untuk tenang sejenak sebelum merespons, dan fokuslah pada SOLUSI, bukan pada MASALAH. Dengan mengenakan kasih dan berkomitmen untuk mendengarkan, kita dapat menciptakan rumah yang penuh damai. Ketika kita menyelaraskan hati dengan ajaran Kristus, damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memerintah di dalam keluarga kita.  Saudaraku, mari kita bersama-sama berusaha untuk menciptakan RUANG   di mana setiap anggota keluarga dapat pulang dengan hati yang penuh damai, di mana kasih menjadi pengikat utama dan KESEHATAN  EMOSIONAL  menjadi FONDASI  yang KUAT  bagi IKATAN KELUARGA  kita. (EBWR).

God Has Healed Me

MAZMUR 41. Sahabat, memamg penderitaan karena sakit penyakit dan pengkhianatan orang  terdekat merupakan dua penderitaan yang tidak mudah kita terima dan jalani. Dalam Mazmur 41 Daud mengalami keduanya secara bersamaan. Mazmur 41 merupakan penutup dari buku I (pasal 1-41) kitab Mazmur. Mazmur 1 membuka dan Mazmur 41 menutup dengan frasa “Berbahagialah orang yang …” (1:1; 41:2). Mazmur 41 menyimpulkan buku yang berisikan aneka ragam doa dengan pelajaran hikmat. Sahabat, Daud mulai mengajar dengan pernyataan, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah” (Ayat 2-a). Orang seperti itu akan mengalami dipedulikan Tuhan saat ia sendiri lemah (Ayat 1b-3). Daud memakai contoh dirinya (Ayat 5-10). Ia pernah sakit karena berdosa kepada Tuhan. Sakitnya sangat parah sehingga banyak orang percaya ia tidak akan sembuh.  Orang-orang yang membenci dia akan memanfaatkan situasi sakitnya untuk menekan dia. Mereka menggosipkan dirinya bahwa Tuhan telah meninggalkannya, maka ia pasti akan mati. Teman dekatnya ikut-ikutan menghujat. Tak ada yang percaya dia akan sembuh dari sakitnya. Daud mengalami hal itu saat orang datang menjenguknya, tetapi hati mereka penuh dusta dan kejahatan (Ayat 7-9). Ia ungkapkan perasaan itu lewat kalimat, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Ayat 10). Mereka mengira Daud tidak akan selamat dari sakit jasmaninya (Ayat 9) dan tidak akan bangkit lagi, karena kejahatan dan pengkhianatan yang dialaminya (Ayat 6). Tidak demikian yang terjadi, meski situasi hidupnya belum berubah.Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God Has Healed Me (Tuhan Telah Menyembuhkan Aku)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap penyakit. Kita semua pernah mengalaminya. Sejak bayi hingga menjadi tua, tidak terhitung banyaknya penyakit yang pernah kita alami, dari penyakit ringan, seperti flu sampai penyakit berat dan kronis, seperti kanker.  Cara dan sikap orang-orang pun berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada yang menganggapnya biasa; ada yang berjuang untuk sembuh; tetapi ada juga yang pasrah.Dalam bacaan kita pada hari ini, Pemazmur juga sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, orang-orang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (Ayat 6).  Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (Ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (Ayat 10). Pemazmur merasakan dan mengakui bahwa penyakitnya begitu berat (Ayat 9).Bagaimana sikap Pemazmur dan caranya menghadapi penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (Ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (Ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (Ayat 4).  Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (Ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (Ayat 14) seolah-olah ALLAH TELAH MENYEMBUHKANNYA. Sahabat, adakah hari ini diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh.  Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Yang paling penting kita percaya: Tuhan telah menyembuhkan aku. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jalanilah hidup dalam ketulusan dan kepercayaan kepada Tuhan, maka Ia akan menegakkan langkah kaki kita. (pg).

Apakah Anda Orang Sukses?

ORANG SUKSES. Sahabat, Maya Angelou, seorang penulis,  mengatakan bahwa definisi sukses adalah ketika seseorang menyukai dirinya, menyukai apa yang dia lakukan, dan menyukai pekerjaannya. Kata sukses pasti terdengar menyenangkan bagi sebagian besar orang karena itu merupakan tujuan hidup mereka. Makna sukses tidak hanya berarti orang dengan banyak uang, pekerjaan mumpuni, dan strata sosial yang tinggi. Secara harfiah, kata sukses memiliki arti berhasil dalam berbagai aspek. Bisa dibilang, sukses adalah sebuah keberhasilan, terlepas apa pun keberhasilan itu. Lalu bagaimana orang sukses itu? Mungkin mereka adalah seseorang  yang ambisius dan kompeten? Atau mungkin seseorang yang selalu memikirkan bisnis dan apatis? Mungkin sifat-sifat tadi tampak berperan dalam kesuksesan seseorang. Lebih dari itu, ada karakter yang menjadi pertimbangan dan dorongan kuat dibalik kesuksesan seseorang. Lalu bagaimana cara kita mendefinisikan kesuksesan diri kita sendiri? Apakah dengan pendapatan yang besar, tinggal di rumah mewah, atau mengendarai mobil keluaran terbaru?  Konsep kesuksesan setiap orang tentu berbeda-beda. Kesuksesan adalah sesuatu hal yang ingin dicapai oleh seseorang. Bisa jadi sukses adalah hal yang sangat membanggakan sekaligus menggembirakan. Bertumbuh sambil mendengarkan cerita dari orang-orang yang sukses membuat kita bermimpi untuk menjadi seperti mereka suatu hari nanti. Kadang  mimpi itu mulai memudar ketika kita dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras. Sahabat, intinya, tidak ada jalan yang mudah untuk meraih kesuksesan. Kualitas orang-orang yang sukses tampaknya memiliki beberapa ciri khas yang sama, seperti bekerja keras, kompeten, fokus, dan memiliki tekad dan usaha untuk mencapai tujuan yang ditargetkan.  Hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Raja-raja 21:1-26. Sahabat, raja Manasye menggantikan Hizkia, ayahnya, dan berkuasa selama 55 tahun, hampir dua kali lipat masa kekuasaan Hizkia. Dari lamanya berkuasa, tampaknya Manasye jauh lebih berhasil daripada ayahnya yang setia kepada Allah. Apakah kalau begitu raja Manasye tergolong orang sukses?Bacaan kita pada hari ini  menggambarkan Manasye sebagai raja yang jahat yang menyembah Baal dan Asyera (Ayat 3, 7). Pada zaman kuno, penyembahan ilah lain selalu berhubungan dengan politik dan pengaruh kerajaan lain, dalam hal ini Asyur. Justru karena takluk pada Kerajaan Asyur, masa kekuasaan Manasye menjadi yang terpanjang dalam sejarah Yehuda. Manuver raja Manasye tersebut tentu mendukakan hati Tuhan.Maka vonis yang disampaikan nabi sangat jelas. Karena dosa dan kejahatannya, Allah membulatkan hati untuk menghancurkan Yerusalem dan Yehuda (Ayat 10-16). Manasye termasuk sebagai raja yang paling jahat dalam sejarah Yehuda. Bahkan, seluruh kehancuran Yehuda dijelaskan Alkitab sebagai akibat dosa Manasye (2 Raja-raja 24:3). Jadi, kadang apa yang dipandang dunia sebagai kesuksesan, justru dipandang Allah sebagai kejahatan. Sahabat, suara nabi menusuk ke dalam realitas kehidupan. Harta dan kekuasaan, itulah yang dikejar Manasye. Dalam  standar manusia pada umumnya, raja Manasye tampak sebagai orang sukses. Takhta dan kekuasaannya berjaya selama puluhan tahun. Dunia melihat itu sebagai hasil permainan politik yang sangat licin dan hebat, namun, suara nabi mengungkap ujung kematian dan kehancuran untuk raja Manasye dan Yehuda.Apakah Sahabat orang sukses? Ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa orang percaya itu tandanya adalah menjadi orang sukses. Pola pikir dunia dengan Alkitab soal kesuksesan sangat jauh berbeda.   Sahabat, sebagai murid Yesus, kita difokuskan untuk mengejar sesuatu yang kekal, bukan yang fana. Hidup itu berbicara soal penyerahan hak kepada Tuhan. Mengikut Tuhan memang sulit, upahnya juga kadang tidak terlihat kasatmata. Tapi percayalah, saat kita ikut Tuhan ukuran kesuksesan kita bukanlah materi, tapi kebahagiaan saat kita bisa melakukan kehendak Tuhan. Doa kita bukan semoga kita sukses, tapi SEMOGA KITA BERBUAH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4 dan 7? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sukses  adalah saat kita melakukan kehendak Tuhan dan hidup dalam panggilan-Nya. (pg).

Enjoying God’s Work

MAZMUR 40. Sahabat, Mazmur 40 berisi ungkapan syukur Pemazmur kepada Allah atas segala berkat yang telah ia terima. Pemazmur mengawali dengan ungkapan kerinduannya kepada Tuhan (Ayat 2). Kemudian ia mengakui apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Ada tiga contoh penting yang disebutkan. Pertama, Tuhan mendengar teriaknya minta tolong (Ayat 2). Kedua, Ia meloloskannya dari bahaya dan memberinya tempat yang aman (Ayat 3). Ketiga, Ia memberinya alasan untuk selalu memuji Allah (Ayat 4).Pemazmur juga mengungkapkan bahwa mengucapkan perasaan syukur atas berkat-Nya tidak cukup hanya dengan kurban sembelihan. Pemazmur menegaskan bahwa kurban yang terutama adalah melakukan kehendak-Nya (Ayat 7-9).Bagian akhir dari Mazmur 40 berisi doa. Pemazmur berharap agar dilepaskan dari bahaya yang sedang ia alami (Ayat 12-18). Namun sekalipun keadaannya demikian, Pemazmur tetap mengingat apa yang pernah Tuhan kerjakan. Ia menghitung berkat, penyertaan, dan pertolongan Tuhan. Hasilnya ternyata sangat banyak (Ayat 5-6). Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Enjoying God’s Work (Menikmati Perbuatan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 40:1-18 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Carl Honoré, seorang jurnalis-penulis, dalam bukunya yang berjudul “In Praise of Slow”, dengan cermat memotret fenomena dunia masa kini, yang olehnya disebut tengah dibekap oleh mitos kecepatan. Apa yang cepat dipandang bagus dan baik – malah ada yang menganggapnya terbaik. Karenanya, orang-orang modern sepertinya dipacu untuk bergerak lebih cepat dan membuat sesuatu yang super cepat. Bukankah situasi di atas dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan ini? Mereka yang bekerja kantoran, setiap pagi harus bangun cepat-cepat dan berangkat tepat waktu, karena keterlambatan keluar dari rumah lima menit saja dampaknya bisa puluhan menit atau malah berjam-jam. Memang, kecepatan perlu diakui dapat menghasilkan efisiensi.  Jika dulu, dengan teknologi yang dikenal dengan afdruk foto, dalam 3 hari hanya bisa menghasilkan puluhan pas foto, maka dengan teknologi yang ada sekarang, dalam jangka waktu 3 jam bisa menghasilkan ratusan malah ribuan pas foto. Kecepatan memang bisa mendatangkan kebaikan. Sahabat, lalu apakah yang lambat berarti buruk atau tidak baik? Hal inilah yang coba dikritisi oleh Honoré dalam bukunya tersebut. Apa yang lambat bisa juga mendatangkan kebaikan. Misalnya: mengunyah makanan. Bukankah ilmu kesehatan mengingatkan kita untuk mengunyah 30-an kali untuk satu suapan makanan? Dengan mengunyah secara lambat, maka makanan yang ada menjadi hancur dan lunak dengan baik serta bercampur dengan enzim. Dampaknya, lambung kita tidak bekerja dengan berat. Enzim dalam tubuh pun bisa lebih dihemat. Jadi, apa yang lambat tidak selalu buruk. Itulah sebabnya, Honoré memberi judul pada bukunya: “In Praise of Slow” atau memuja kelambatan. Dalam kaitan dengan kehidupan beriman, situasi dunia yang terasa menuntut kita untuk bergerak cepat, bukan tidak mungkin membuat kita terburu-buru dalam berelasi dengan Tuhan. Kehidupan doa, entah yang dilakukan di pagi atau malam hari, dilakukan tergesa-gesa. Kalau tidak cepat, takut terlambat. Alhasil, dalam dunia yang dibekap oleh mitos kecepatan tersebut, bukan tidak mungkin menghasilkan kekeringan spiritual dalam diri orang beriman. Kehadiran dan perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita tidak terlalu dirasakan, sebab banyak hal BERLALU  DENGAN TERBURU-BURU. Pemazmur dalam Mazmur 40, menyatakan bahwa ia mengalami banyak perbuatan Tuhan yang ajaib. Dalam ayat 2, ia menyatakan sebagai pribadi yang menanti-nantikan Tuhan. Itu berarti, ia dengan sengaja meluangkan waktunya, untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Tuhan.  Pemazmur adalah sosok seperti kita: Punya masalah, ada beban dalam kehidupannya. Ia membutuhkan pertolongan Tuhan. Pada saat ia melambatkan ritme kehidupannya dengan menantikan pertolongan Tuhan, lantas ia merasakan perbuatan Tuhan yang ajaib atas hidupnya. Berdasarkan pengalamannya itu, ia menyatakan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan adalah berbahagia, sebab Tuhan sungguh hadir dan bertindak. Sahabat, kehidupan ini terlalu indah untuk dilalui dalam situasi serba cepat. Melambatkan tempo kehidupan kita bukan berarti kita sedang tidak menghargai waktu anugerah Tuhan. MELAMBATKAN TEMPO KEHIDUPAN KITA,  akan menolong kita untuk lebih merasakan KEHADIRAN dan PERBUATAN TUHAN  di dalam kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sekalipun masa sulit melanda, tetapi kita tetap dapat bersyukur dan memuji Dia. (pg).

SANDWICH SYSTEM

Saudaraku, yang menjadi dasar renungan kita pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 1 : 1-30 ; 1 Korintus 2 : 1-16. Sekarang mari kita menghafalkan: Efesus 4 : 29: “ Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”. Renungan Inspirasi pada hari ini: Paulus telah menerima kabar perselisihan jemaat di Korintus dari keluarga Kloe. Ia menuliskan surat penggembalaannya untuk menegur mereka. Saat kita perhatikan suratnya di dalam bacaan Alkitab hari ini, kita menemukan satu metode teguran, yang baru di masa kini kita kenal dengan istilah “Sanwich System”. Di awal surat Paulus, ia mengucapkan salam dan ucapan syukur. Kemudian di pertengahan ia membahas perpecahan dalam jemaat, dan di akhir, ia menutup dengan hikmat yang benar.  Sanwich System merupakan metode umpan balik yang susunannya seperti roti lapis. Lapisan roti atas adalah umpan balik positif. Saat hendak menyampaikan kritik atau masukan, mulailah dengan komentar positif atau pujian. Seseorang pernah berkata, “jika Anda mau didengarkan, buatlah lawan bicara Anda senang terlebih dahulu”. Selain menciptakan suasana yang positif, hal ini akan membuat mereka lebih terbuka terhadap kritik yang akan diberikan. Kemudian isi tengah roti adalah kritik atau hal-hal yang perlu diperbaiki.  Pada titik inilah, pesan harus spesifik, jelas, dan fokus pada perilaku atau tindakan yang salah. Ingat, kita tidak menyerang pribadinya, melainkan titik kesalahannya. Kemudian lapisan roti bawah adalah penutup positif yang memberi semangat dan dukungan bagi mereka untuk melanjutkan usaha terbaik mereka (encourage).  Contoh: Kamu mengerjakan proyek yang luar biasa tahun ini, perhatianmu pada detail sangat baik. Ada satu hal yang harus menjadi perhatian, yaitu tentang berapa tenggat waktu yang terlewat selama proyek ini berjalan. Kamu perlu memperbaiki manajemen waktu, jadi semua target dapat terpenuhi. Saya yakin dengan perbaikan pada pengelolaan jadwal, kamu akan lebih berhasil pada proyek berikutnya. Di dalam lingkungan pendidikan, tempat kerja atau gereja, kita semua membutuhkan kritik konstruktif, yaitu masukan positif terhadap kinerja dan peran kita dengan tujuan perbaikan serta kemajuan. Jadi marilah kita menciptakan suasana hangat di tempat kita bekerja, di sekolah, kampus, dan di gereja, dengan mempraktikan “Sandwich System”. Karena seperti sandwich yang bergizi, biarlah kritik dan masukan kita juga memberi lebih banyak “gizi” bagi penerimanya untuk menjadi orang yang lebih baik.  Mari kita sekarang merefleksi diri: Apakah Anda pernah bersikap apatis, kecewa, atau sakit hati dengan sebuah kritik? Mengapa?  Bagaimana cara Anda ketika hendakmemberikan ritik dan masukan? Tindakan yang perlu kita lakukan:. Mencoba mempraktikkan “Sanwich System” dalam memberi kritik dan masukan.  Doa hari ini: “Bapa, terima kasih untuk hikmat hari ini. Aku belajar untuk lebih berhikmat di dalam menyampaikan kritik serta masukan. Biarlah hikmat Tuhan menuntunku menjadi orang yang berakal budi dan meyakinkan. Di dalam nama Yesus.” Amin.

MENGAMALKAN AJARAN KRISTUS

Saudaraku, seringkali dari mimbar gereja sesaat sebelum kantong kolekte diedarkan maka Liturgos atau Worship Leader (WL) menyerukan agar jemaat bisa menabur, maksudnya memberikan uang persembahan identik dengan menabur, karena akan medapatkan tuaian atau imbal balasan yang nilainya tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. Inilah yang terjadi bila kita jarang membaca Alkitab tentang tabur-tuai, karena katanya Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan hal itu. Benarkah? Mari kita perhatikan di kitab Markus dan Matius yang merupakan kitab-kitab pertama di Perjanjian Baru yang ditulis. Suatu hari Tuhan Yesus dari perahu di tepi pantai mengajar orang banyak tentang adanya penabur, dan nampaknya orang-orang itu dan bahkan murid-murid Yesus tidak paham akan maksudnya, apakah Yesus mengajarkan agar orang-orang menabur uang untuk modal usaha/investasi atau menabur apa lainnya, karena bila benih yang ditabur jatuh ke tanah yang baik maka hasilnya akan berlipat ganda. Ternyata Tuhan Yesus tegas menjelaskan, dan ditulis di kitab Markus 4:14-15, 20 dan Matius 13:18, 23, bahwa Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang adalah tempat firman itu ditaburkan, dan bila orang yang mendengar firman itu mengerti, ia akan berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat, artinya Injil akan diberitakan oleh orang-orang yang mengerti Firman dan akan memenangkan jiwa-jiwa baru. Jadi jelas yang dimaksudkan Tuhan Yesus, yakni menabur Firman Tuhan, bukan menabur uang untuk persembahan atau uang untuk investasi modal usaha. Beberapa tahun kemudian Rasul Paulus menyebutkan adanya upaya tabur-tuai di kitab Galatia 6:9: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Ajaran tersebut ditafsirkan, siapa yang tidak jemu-jemu berbuat kebaikan, akan menuai atau mendapatkan imbal balik pada waktunya nanti. Sebaliknya tokoh Reformasi John Calvin menjelaskan Galatia 6:9 sebagai berikut: Janganlah kita tidak jemu-jemu berbuat baik. Berbuat baik (καλὸν = kalón) tidak hanya berarti melakukan kewajiban kita, tetapi juga melakukan tindakan kebaikan, menunjukkan kemurahan hati. Perintah ini sangat diperlukan; karena kita pada dasarnya enggan melaksanakan tugas kasih persaudaraan, dan ada banyak kejadian tidak menyenangkan menyebabkan semangat orang-orang cenderung mendingin atau menjadi tawar, terlebih lagi bertemu dengan banyak orang yang tidak tahu berterima kasih.  Singkatnya, dunia menghadirkan banyak sekali rintangan, yang cenderung  menuntun kita menjauh dari jalan yang benar. Oleh karena itu, Rasul Paulus sangat tepat menasihati kita untuk tidak letih lesu, bahkan menjadi lemah, tapi tetap bertekun sampai akhir. Mereka yang tidak bertekun menyerupai petani yang malas, setelah membajak dan menabur, meninggalkan pekerjaan yang belum selesai, dan lalai melindungi benih agar tidak dimakan burung, atau hangus oleh matahari, atau hancur karena dinginnya cuaca. Jelas John Calvin tidak menjelaskan siapa yang menabur, maka kelak akan memanen, tapi maksudnya supaya jemaat tetap melakukan tindakan kebaikan, karena ini adalah jalan kehidupan yang benar. Memang Rasul Paulus juga menyinggung tentang adanya persembahan di kitab 2 Korintus 9:6: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Tapi Rasul Paulus juga menyebutkan selanjutnya 2 Korintus 9:7: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Jadi Rasul Paulus mengajarkan, hendaknya orang yang berniat memberikan persembahan bukan karena motif ingin mendapatkan imbal balasan yang lebih besar, tapi supaya berdasarkan kerelaan hati, dan Tuhan akan mengasihi orang yang memberikan persembahan dengan niatan yang baik dan ada rasa sukacita saat memberi. Saudaraku, belajar dari Alkitab, memberikan uang persembahan atau melakukan kebaikan bukanlah untuk mendapatkan pahala atau imbalan. Namun pemberian kita yang baik dan dilakukan dengan sukarela adalah contoh yang benar dalam MENGAMALKAN AJARAN KRISTUS, karena dunia mengajarkan orang untuk bersikap egois, hanya memperhatikan diri sendiri dan tidak mau mendengarkan kebutuhan sesama. (Surhert)