Longing for YOU

MAZMUR 42. Sahabat, Mazmur 42 ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Ia harus hidup di negeri asing yang merupakan negeri penyembah berhala. Perlakuan yang tidak manusiawi, seperti: Kerja paksa, makian, dan cemoohan, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Israel. Jiwa mereka sangat tertekan. Seolah-olah, Tuhan tak lagi hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dalam keadaan seperti itu, Pemazmur tidak tinggal diam. Dia mencari jalan keluar dari depresi rohani yang ia alami: Pertama, Pemazmur memiliki rasa haus akan Tuhan. Pemazmur menggambarkan dirinya bagaikan seekor rusa kurus yang sedang dalam keadaan sangat kehausan dan merindukan sungai yang berair (Ayat 2-4). Analisa Pemazmur yang sedang mengalami kondisi kekeringan rohani ini sangat tepat! Ada banyak orang yang sedang mengalami tekanan berat, namun sayangnya mereka tidak memiliki rasa haus akan Tuhan. Mereka justru berusaha memuaskan jiwanya dengan perkara duniawi. Kedua, Pemazmur mengingat kembali kebaikan Tuhan. Pemazmur mengingat kembali bagaimana dulu ia amat bersemangat menyembah Allah (Ayat 5). Saat itu, hubungan Pemazmur begitu intim dengan Allah. Ada kenikmatan dan sukacita yang tidak terkatakan saat itu. Ingatan tersebut membangkitkan pengharapan dalam hati Pemazmur untuk bisa bersekutu kembali dengan Allah. Ketiga, Pemazmur melakukan self-talk atau berdialog dengan diri sendiri. Pemazmur tidak ingin jiwanya dihanyutkan oleh emosi negatif. Oleh karena itu, Pemazmur berusaha untuk mengendalikan perasaannya dengan berkata-kata secara positif. Pemazmur berkata kepada jiwanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” (Ayat 6a). Di bagian lain, Pemazmur memberi semangat kepada jiwanya dengan berkata, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Ayat 12b) Ketika menghadapi pergumulan dan tekanan ekonomi  yang cukup berat seperti  saat ini, wajar bila kita mengalami kehausan akan Allah. Dengan mengingat kembali kebaikan Allah dan melakukan self-talk secara positif, kita akan menjadi siap untuk menghadapi gelombang kehidupan apa pun. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Longing for YOU (Merindukan ENGKAU)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 42:1-12. Sahabat, hamba Tuhan Martyn Lloyd-Jones memberi pandangan menarik tentang kerinduan kita akan kehadiran Tuhan. Ia menggambarkan bahwa kerinduan akan kehadiran Tuhan diwujudnyatakan dengan tindakan kita untuk meluangkan banyak waktu dalam membaca Alkitab secara disiplin.  “Makin kita mengetahui dan membaca Alkitab, semakin kita dibawanya ke dalam hadirat Tuhan,” ucapnya. Maka jika kita merindukan kehadiran Tuhan nyata dalam hidup ini, kita harus mendisiplinkan diri dalam membaca dan merenungkan firman-Nya. Pada kenyataannya, menjalani disiplinan rohani dalam membaca firman Tuhan tidaklah mudah. Sering kali kesibukan dan rutinitas menjadi penghambat yang tak terelakkan. Namun bagaimana pun juga, upaya yang kita sengajakan untuk meluangkan waktu bagi pembacaan firman Tuhan adalah wujud dari kerinduan kita kepada Tuhan.  Jika jiwa kita memang merindukan Tuhan maka Tuhan adalah prioritas kita. Ketika Tuhan adalah prioritas kita, maka sudah seharusnya kita memberi waktu yang penting bagi-Nya.  Dengan disiplin membaca firman Tuhanlah, maka kita akan semakin mengenali pribadi dan kehendak-Nya. Jangan katakan kita merindukan Tuhan tetapi tidak ada tindakan apa pun. Bayangkan saja, bagaimana kita merindukan kekasih kita. Tentu kita ingin selalu dekat dengannya bukan? Pemazmur berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah,” karena itulah ia merenungkan firman Tuhan sepanjang hari-harinya. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mazmur 119:97)  Kita pun harus mewujudnyatakan kerinduan kita kepada Tuhan. Bacalah Alkitab setiap hari. Sebagai respons dan usaha dalam memahaminya, jangan beranjak jika belum mendapati satu bagian firman Tuhan yang bisa dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani sepanjang hari tersebut. Mari wujudkan KERINDUAN kita KEPADA TUHAN. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:  Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?  Bagaimana cara kita mewujudnyatakan kerinduanmu kepada Tuhan dalam kehidupan sesehari? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bacalah Alkitab setiap hari. Sebagai respons dan usaha dalam memahaminya, jangan beranjak sebelum memperoleh satu bagian firman Tuhan yang bisa dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani sepanjang hari tersebut. (pg).

Buah Ketaatan

NABI HOSEA. Sahabat, bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi nabi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (Hosea 1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya pulang (Hosea 3:1-3). Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat? Bukan. Sama sekali bukan. Bukan berkat yang dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (Hosea 1:4,  2 Raja-raja 10:29, 31).  Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (Tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka berulang kali melawan Dia (Hosea 1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9).  Bagi putra bungsu: “Lo-Ami” (Bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Matius 27:46)? Kehidupan Hosea memang amat tragis. Sangat sulit sekali untuk dipahami mengapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi, bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak.  Mari kita membaca dan merenungkan Hosea 1:10-12.  Sahabat, menjadi taat tidak selalu mudah. Namun, Hosea berhasil menunjukkan ketaatan dan berbuah berkat. Berkat itu tidak hanya secara personal, tetapi juga nasional. Pasalnya, bangsa Israel pun mendapatkan janji keselamatannya kembali. Itu semua tak lepas dari Hosea yang memilih taat kepada Tuhan, walau ia harus menderita.Hosea, sebagai seorang nabi, harus menjadi suami dari perempuan sundal. Ia menjadi ayah Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiganya adalah anak-anak sundal. Syukur kepada Allah, pengorbanan Hosea tidak sia-sia. Cahaya pengharapan bagi Israel pun terbit bak fajar di pagi hari.Sahabat, sebelumnya, Tuhan menolak Israel. Namun, setelah itu mereka disebut sebagai “anak-anak Allah yang hidup” (Ayat 10). Allah juga mengatakan bahwa kelak mereka akan menjadi bertambah banyak jumlahnya. Lebih mengagumkan lagi, orang Yehuda dan Israel, yaitu dua kerajaan yang telah terpecah itu akan bersatu kembali di bawah satu pimpinan (Ayat 11).Sahabat, kemasyhuran Israel dan Yehuda pun dinyatakan kepada Hosea. Firman Tuhan menegaskan supaya Hosea menyebut saudara-saudaranya laki-laki dengan “Ami!”, artinya “bangsa”. Sementara, panggilan kepada saudara-saudaranya perempuan adalah “Ruhama!”, artinya “kasih” (Ayat 12).Ketaatan Hosea kepada Tuhan dengan segala pengorbanan dan keberaniannya layak untuk kita renungkan. Ketaatan kepada Tuhan memerlukan keberanian, kerelaan, ketekunan, pengorbanan, dan keinginan untuk memuliakan Allah.Melalui kisah Hosea, kita menjadi mengerti alasan Tuhan meminta ketaatan dari umat-Nya. Tuhan tidak pernah mengecewakan umat yang taat kepada-Nya. Memang untuk menjadi taat, kita tidak serta-merta mendapatkan kemudahan. Satu prinsip yang perlu kita pegang erat-erat:  Tidak ada pengorbanan yang mudah. Sahabat, kalau serba gampang, itu bukan pengorbanan. Nilai pengorbanan justru sering terletak pada tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun saat kita memilih untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian penting dalam hidup kita, maka ketaatan tersebut akan berbuahkan kebaikan. Yakinlah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dengan istilah: “Pengorbanan”? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada Tuhan lebih penting daripada keberhasilan hidup. (pg).

PETAKA KETIDAK TAATAN

Saudaraku, kisah Raja Saul adalah ironi.  Dia dipilih sendiri oleh Tuhan untuk menjadi raja pertama Israel namun pada akhirnya malah dieliminasi juga oleh Tuhan sendiri.  Hidupnya lurus-lurus saja sebelum menjadi raja, namun menutup usia secara tragis saat mengemban tugas menjadi raja Israel.  Mengapa bisa kisah hidup Saul bin Kisy bisa begitu tragisnya?  Mari renungkan 1 Samuel 13 dan 15. Penulis kitab Samuel menuliskan satu alasan Tuhan pada akhirnya menolak Saul:  Ketidak taatan.  Penyebab Saul bersikap tidak taat sebenarnya sangat rasional, yaitu: Pertama, terdesak untuk mengambil langkah cepat di tengah krisis. 1 Samuel 13: 11 menceritakan bahwa Saul dalam keadaan krisis karena sudah muncul mosi tidak percaya kepada kepemimpinannya sementara musuh juga siap menyerang.    Ia sudah berusaha mencari petunjuk Tuhan tetapi Samuel tidak segera datang sehingga Saul berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil jalan pintas yang fatal bagi relasinya dengan Tuhan. Kedua, ingin memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. 1 Samuel 15 : 20-21 malah menceritakan parahnya Saul menafsirkan pesan Tuhan.  dengan mengatasnamakan perkara rohani, Saul mencari alasan untuk membenarkan pelanggarannya.  Ia tidak menumpas Agag, Raja Amalek dan lembu sapinya dengan alasan agar bisa memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Saul menghancurkan dirinya sendiri dengan KETIDAK TAATANNYA. Bukan karena ia tidak tahu Firman,  namun ia memilih melanggar untuk alasan yang dianggapnya masuk akal dan solutif.  Sungguh ironis.  Ketidak taatan Saul menjatuhkannya habis-habisan.   Saul mengulang sejarah kejatuhan Adam dan Hawa karena sejatinya sikap tidak taat muncul dari defisitnya rasa respek kepada Tuhan sebagai pemegang otoritas.  Padahal rasa respek muncul dari rasa percaya, dari iman.  Ya sedalam itulah kejatuhan Saul dan ia benar-benar tak punya keinginan untuk mengakui semuanya sehingga akhirnya Tuhan MEMBUANGNYA.  Terkadang manusia diperhadapkan dalam situasi yang sulit dan mendesak seperti Saul, namun inilah SAAT-SAAT GENTING  yang menguji RASA PERCAYANYA  kepada Tuhan.  kalau dia memercayai Tuhan maka ia akan berjuang untuk tetap hidup dalam KETAATAN  dalam Firman-Nya.   Memang tantangan terberat saat hidup dalam jalan ketaatan adalah KETIDAK SESUAIAN  dengan LOGIKA BERPIKIRNYA.   Namun Saat manusia memilih jalan ketaatan kepada Tuhan, ia sejatinya sedang menjalani IMAN.  Dalam KETAATAN ketaatan ada sikap RESPEK.   Dalam sikap respek ada rasa percaya dan iman adalah rasa percaya itu sendiri.   Saudaraku, umat Allah seharusnya berjalan dalam kepercayaan kepada Allah dan berjuang untuk mengedepankan ketaatan kepada Firman Tuhan sebagai pedoman pengambilan keputusannya. Memang ini tidaklah mudah dan penuh dengan konsekuensi namun mari terus berjuang untuk berjalan dalam jalan ketaatan karena orang benar akan hidup oleh rasa percayanya (Habakuk 2:4b).  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

MEROKOK: Boleh atau Tidak?

Saudaraku, Ini baru saja diberitakan, omzet 3 perusahaan rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia: GGRM penjualan Januari-September 2024 Rp 73,89 triliun HMSP penjualan Januari-September 2024 Rp 88,47 triliun WIIM omzet per Januari- Juni 2004: Rp 2.22 triliun Total penjualan dari 3 pabrik tersebut Rp 164,58 triliun, belum termasuk pabrik-pabrik rokok yang ada di Kudus dan kota-kota lainnya, mungkin total penjualan seluruhnya pada bulan Januari-September 2024 mencapai Rp 250 triliun. Mari kita perhatikan, 9 bulan = Rp 250 triliun, berarti rata-rata per bulan = Rp 27,8 triliun, per hari (30 hari) = Rp 925,9 miliar, dan penjualan rokok per jam sekitar Rp 38,5 miliar! Jika sebungkus rokok harganya rata-rata Rp 20.000 per bungkus, maka dalam 1 jam saja telah terjual 1.925.000 bungkus. Banyak ya? Di Google kita bisa membaca, rokok tembakau pertama kali digunakan oleh suku Indian di Amerika untuk keperluan ritual keagamaan, seperti memuja dewa atau roh. Rokok diduga berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah sekitar abad ke-9, dalam bentuk buluh dan pipa rokok. Suku Maya dan Aztec sering menggambarkan pendeta dan dewa merokok dalam tembikar dan ukiran kuil. Pada abad ke-16, ketika penjelajah Columbus menemukan benua Amerika, mulailah para penjelajah Eropa mencoba-coba menghisap rokok dan membawa tembakau ke Eropa. Rokok kretek pertama di Indonesia ditemukan oleh Haji Jamhari pada tahun 1880 di Kudus. Rokok kretek ini merupakan perpaduan antara cengkeh dan tembakau yang dibungkus kulit jagung dan dibakar. bunyi “kretek, kretek, kretek” yang dihasilkan dari pembakaran tersebut menjadi asal-usul sebutan “kretek”. Merek rokok kretek pertama di Indonesia adalah Dji Sam Soe, yang diluncurkan tahun 1913 di Surabaya, juga Mas Nitisemito, pengusaha rokok kretek dari Kudus, dianggap sebagai Bapak Kretek Indonesia. Nah saat ini  masih dekat-dekat dengan peringatan Reformasi 31 Oktober, apa pendapat Alkitab tentang rokok? Ternyata di Alkitab tidak ada ayat-ayat yang mengulas tentang rokok, atau sesuatu yang diisap-isap dan menghembuskan asap dari mulut, atau semacam rokok yang dipakai untuk ritual keagamaan penyembahan berhala. Tidak ada, juga di kitab Wahyu yang menubuatkan tentang akhir zaman juga tidak terdapat tentang rokok. Di kitab Amos 4:11 ada kata puntung: “Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora, sehingga kamu menjadi seperti puntung yang ditarik dari kebakaran, …”  Tapi itu bukan puntung rokok, karena arti puntung di Wikipedia adalah sisa (rokok, kayu, korek api, bekas pakai, dan sebagainya) yang sudah terbakar sebagian, jadi puntung artinya adalah sisa pembakaran. Jika ada rohaniwan yang mengatakan merokok itu berdosa dan melanggar Firman Allah, ya hal ini merupakan tafsir, persis seperti sebelum Reformasi ada banyak rohaniwan yang menafsirkan sendiri ayat-ayat Alkitab dalam bahasa latin, karena rakyat tidak punya akses untuk membaca Alkitab, apalagi memiliki Alkitab. Sola Scriptura mendorong para rohaniwan menerjemahkan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa-bahasa setempat, dan mencetaknya, jadi rakyat bisa memiliki dan membaca Alkitab dan membaca ajaran-ajaran para Reformator. Ada dua ayat yang sering dipergunakan untuk diskusi tentang merokok itu boleh atau tidak, yakni 1 Korintus 6:19: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Juga ayat 2 Korintus 7:1: “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Manusia secara asasi terdiri dari jasmani dan rohani, yaitu raga dan jiwa. Jasmani merupakan badan atau tubuh manusia, sedangkan rohani merupakan hakikat Tuhan yang abadi dan kekal. Dalam praktiknya, jasmani dan rohani merupakan ikatan satu sama lain. Kebugaran jasmani berkaitan dengan fisk (physical fitness), sedangkan kesehatan rohani berkaitan dengan mental. Pencemaran jasmani dan rohani adalah hal-hal yang dapat menajiskan tubuh dan jiwa manusia.  Jika kita beriman dan percaya bahwa tubuh kita adalah bait atau rumah bagi Roh Kudus yang sudah kita peroleh dari Allah karena penebusan dosa oleh Yesus Kristus yang mati disalib, apakah kita tega untuk mencemarkan tubuh kita, terlebih lagi melakukan pencemaran jasmani dan rohani?  Saudaraku, perhatikanlah Roma 2:6-8:  “TUHAN akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, …” (Surhert)

REFLEKSI GAMALIEL

Saudaraku, kedalaman pikir seseorang memang dapat dinilai dari caranya menilai sebuah permasalahan.  Di dalam Alkitab ada banyak orang yang diceritakan sebagai orang bijak dan salah satunya adalah Gamaliel.  Mari renungkan Kisah Para Rasul 5:26-40. Siapakah Gamaliel?  Gamaliel yang dimaksud dalam Kisah Para Rasul 5 adalah seorang Farisi, anggota Sanhendrin dan seorang yang sangat dihormati oleh masyarakat.  Dengan gambaran yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul maka bisa dibayangkan pengaruh Gamaliel dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan.  Gamaliel mengikuti semua perkembangan pengikut Jalan Tuhan yang saat itu sedang viral dan beberapa hal yang menarik dari nasihat Rabi Gamaliel antara lain : Pertama, mempertimbangkan lagi respons kepada para rasul. Orang-orang Israel yang sumbu pendek dan sensitif siap untuk meletuskan kemarahan kepada para rasul karena mereka tertusuk hatinya.  Kerasnya mereka memegang Taurat membuat mereka gampang tersulut kemarahan padahal Amsal mengatakan: Orang yang sabar besar pengertiannya tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan (Amsal 14:29).   Kemarahan seringkali menjadi pintu masuk kebodohan yang menyebabkan seorang menjadi monster yang bisa menghancurkan sesamanya.  Namun dalam situasi genting itu, Gamaliel tampil sebagai pribadi yang berbeda.  Sebagai seorang Farisi dan seorang guru, ia menyampaikan refleksinya yang teduh sehingga menyelamatkan nyawa para rasul.   Tak banyak orang melakukan refleksi seperti Gamaliel yang mengamati dan mencoba memahami situasi yang terjadi dengan sudut pandang kedalaman teologinya sehingga yang muncul adalah kebijaksanaan.  Gamaliel berhasil mengerem kemarahan mereka dengan hikmat sehingga berhasil melonggarkan rasa marah yang mencekik.   Kedua, mengingatkan tentang keterbatasan mereka memahami pekerjaan Tuhan. Refleksi Gamaliel menyadarkannya tentang pekerjaan Tuhan yang tak terbatas, tak bisa diperkirakan manusia.  Manusia biasa saja mencoba mati-matian membela apa yang dianggapnya kebenaran, namun kebenaran Tuhan memiliki jalannya sendiri untuk muncul.  Makin berhikmat maka orang akan makin berhati-hati.  Makin dalam seseorang memahami maka ia akan makin sulit terprovokasi.  Semakin dalam seseorang belajar, maka semakin dia merasa tidak tahu.  Gamaliel mengingatkan kemungkinan ini kepada orang Israel yang marah kepada para rasul.  Media sosial membuat informasi mengalir seperti tsunami sehingga kadangkala membuat manusia bereaksi dengan berita yang didengarnya.  Tak jarang Gerakan masyarakat muncul dari media sosial.  Saudaraku, alih-alih terprovokasi, belajarlah dari Gamaliel.  Ada banyak hal harus diamati, direnungkan dan dipikirkan sebelum jemari mengetikkan komentar, sebelum bibir mengucapkan hujatan.  Berilah waktu untuk refleksi supaya hikmat menguasai.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Buah Ketaatan

NABI HOSEA. Sahabat, bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi nabi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (Hosea 1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya pulang (Hosea 3:1-3). Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat? Bukan. Sama sekali bukan. Bukan berkat yang dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (Hosea 1:4,  2 Raja-raja 10:29, 31).  Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (Tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka berulang kali melawan Dia (Hosea 1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9).  Bagi putra bungsu: “Lo-Ami” (Bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Matius 27:46)? Kehidupan Hosea memang amat tragis. Sangat sulit sekali untuk dipahami mengapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi, bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak.  Mari kita membaca dan merenungkan Hosea 1:10-12.  Sahabat, menjadi taat tidak selalu mudah. Namun, Hosea berhasil menunjukkan ketaatan dan berbuah berkat. Berkat itu tidak hanya secara personal, tetapi juga nasional. Pasalnya, bangsa Israel pun mendapatkan janji keselamatannya kembali. Itu semua tak lepas dari Hosea yang memilih taat kepada Tuhan, walau ia harus menderita.Hosea, sebagai seorang nabi, harus menjadi suami dari perempuan sundal. Ia menjadi ayah Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiganya adalah anak-anak sundal. Syukur kepada Allah, pengorbanan Hosea tidak sia-sia. Cahaya pengharapan bagi Israel pun terbit bak fajar di pagi hari.Sahabat, sebelumnya, Tuhan menolak Israel. Namun, setelah itu mereka disebut sebagai “anak-anak Allah yang hidup” (Ayat 10). Allah juga mengatakan bahwa kelak mereka akan menjadi bertambah banyak jumlahnya. Lebih mengagumkan lagi, orang Yehuda dan Israel, yaitu dua kerajaan yang telah terpecah itu akan bersatu kembali di bawah satu pimpinan (Ayat 11).Sahabat, kemasyhuran Israel dan Yehuda pun dinyatakan kepada Hosea. Firman Tuhan menegaskan supaya Hosea menyebut saudara-saudaranya laki-laki dengan “Ami!”, artinya “bangsa”. Sementara, panggilan kepada saudara-saudaranya perempuan adalah “Ruhama!”, artinya “kasih” (Ayat 12).Ketaatan Hosea kepada Tuhan dengan segala pengorbanan dan keberaniannya layak untuk kita renungkan. Ketaatan kepada Tuhan memerlukan keberanian, kerelaan, ketekunan, pengorbanan, dan keinginan untuk memuliakan Allah.Melalui kisah Hosea, kita menjadi mengerti alasan Tuhan meminta ketaatan dari umat-Nya. Tuhan tidak pernah mengecewakan umat yang taat kepada-Nya. Memang untuk menjadi taat, kita tidak serta-merta mendapatkan kemudahan. Satu prinsip yang perlu kita pegang erat-erat:  Tidak ada pengorbanan yang mudah. Sahabat, kalau serba gampang, itu bukan pengorbanan. Nilai pengorbanan justru sering terletak pada tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun saat kita memilih untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian penting dalam hidup kita, maka ketaatan tersebut akan berbuahkan kebaikan. Yakinlah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dengan istilah: “Pengorbanan”? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada Tuhan lebih penting daripada keberhasilan hidup. (pg).

Karya Tuhan dalam Kelemahanku

NICK VUJICIC. Sahabat, kita sering kali merasa apa yang sudah kita miliki belum cukup. Alih-alih bersyukur, kita mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. Padahal, jika dilihat lebih dalam, kekurangan yang kita miliki merupakan sebuah keunikan yang perlu kita syukuri. Sesungguhnya punya kekurangan tidak membatasi diri untuk beraktivitas dan jadi berguna. Seperti apa yang dialami oleh Nick Vujicic. Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Ia mengalami sindrom tetra-amelia, sebuah sindrom langka yang punya karakteristik tanpa lengan dan kaki. Ia lahir pada 4 Desember 1982 di Melbourne, Australia. Nick tumbuh dari keluarga yang sederhana, ayahnya bekerja di kantor administratif sekaligus penginjil dan ibunya seorang bidan juga perawat. Maka Nick kecil tidak hanya berurusan dengan permasalahan sekolah dan remaja seperti intimidasi. Nick kecil juga berjuang dengan depresi dan rasa kesepian sebagaimana ia sering mempertanyakan alasan ia berbeda dari semua anak lainnya. Laki-laki yang memiliki nama lengkap Nicholas James Vujicic itu memang punya masa kecil yang sedikit kelam karena perbedaan fisik yang dimilikinya. Saat berusia 10 tahun, Nick pernah mencoba bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya di bak mandi sendiri karena intimidasi yang dialaminya di sekolah. Syukur , Nick mempunyai orangtua yang suportif. Saat usia 17 tahun, ibu Nick menunjukkan sebuah artikel tentang seorang laki-laki cacat yang berhasil mengatasi kekurangannya. Nick kemudian terinspirasi untuk jadi motivator dan memulainya dengan berbicara di kelompok gereja. Ia menjadi orator profesional pada usia 19 tahun dan kariernya terus menanjak naik. Pada 2005, Nick Vujicic membuat “Life Without Limbs” yang merupakan sebuah organisasi nonprofit internasional tentang pelayanan penginjilan. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk berbagi harapan dan cinta sejati yang Nick sudah alami kepada orang-orang di seluruh dunia. Tercatat sudah 69 negara Nick kunjungi dalam usahanya mencapai tujuan bersama “Life Without Limbs”. Mari kita membaca dan merenungkan dari Hakim-Hakim 3:12-31. Sahabat, jatuh bangun di dalam dosa!  Itulah gambaran kehidupan bangsa Israel.  Ketika tidak ada raja atas Israel, maka mereka melakukan hal yang jahat di mata Tuhan:  Mulai menyembah ilah-ilah lain dan menjauhkan diri dari hadirat Tuhan.   Hal itu menimbulkan murka Tuhan sehingga mereka diserahkan kepada musuh-musuhnya.  Tapi dalam kitab Hakim-Hakim ini setiap kali bangsa Israel jatuh ke dalam dosa dan diserahkan kepada orang asing.  Tuhan selalu membangkitkan seorang pahlawan di antara umat Israel.  Kali ini Tuhan membangkitkan Ehud. Menjadi kidal juga dianggap sebagai sebuah kelemahan atau cacat pada saat kelahiran Ehud. Memang, Alkitab tidak mendetail menceritakan bagaimana Ehud menjalani kehidupannya dengan kelemahannya itu. Namun, Alkitab mencatat bagaimana Tuhan memilih dan memakainya sebagai penyelamat Israel.Pada saat umat Israel merasakan tekanan dan penderitaan yang berat, mereka berseru kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya (Ayat 15). Lalu, Tuhan menjawab mereka melalui Ehud, sang pengantar upeti Israel kepada Moab. Lewat profesi tersebut, ia memiliki peluang untuk menyelamatkan Israel.Kelemahan fisik atau kelemahan yang lain adalah sesuatu yang mungkin sulit kita terima. Dalam menyikapi hal ini, teladan Ehud layak kita contoh. Ia merespons panggilan Tuhan dengan segenap kemampuannya.Demikian juga hendaknya kita bersikap ketika Tuhan ingin memakai kita sebagai alat-Nya. Sekalipun kita memiliki banyak kelemahan, bukan berarti Tuhan tidak dapat memakai kita untuk kemuliaan-Nya. Sebaliknya, jika kita dengan rendah hati menerima tugas panggilan-Nya, Ia akan memperlengkapi kita. Ia juga akan memberi kita kemampuan dan keberanian agar maksud dan tujuan-Nya tergenapi.Oleh sebab itu, kita jangan menyerah pada kelemahan yang ada. Sebaliknya, mari kita tetap melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita dan orang lain pun akan melihat dan merasakan karya-Nya bekerja secara nyata. Dengan begitu, Allah akan dimuliakan.Mari kita belajar bersyukur untuk setiap kelebihan dan kelemahan yang ada pada kita. Semuanya ada untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak boleh berhenti untuk menjadi lebih baik. Tuhan masih tetap dapat berkarya dalam kelemahan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 30? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam pergaulan, selayaknya kita justru berkontribusi untuk membawa perubahan positif. (pg).

Semakin Peka Mendengar Suara Tuhan

ARTI SEBUAH NAMA.  Sahabat, William Shakespeare, Sastrawan terkenal asal Inggris berkata: “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi,”   James Gibson “Gip” Hardin, seorang pengkhotbah Gereja Methodis, memberi nama anak laki-lakinya:  John Wesley, mengikuti nama sang pengkhotbah terkenal. Nama itu mencerminkan harapan Gip atas anak laki-lakinya. Namun tragis, John Wesley Hardin kemudian memilih jalan yang menyimpang jauh dari tokoh iman yang agung itu. Hardin mengaku pernah membunuh 42 orang sehingga ia menjadi salah seorang penjahat bersenjata dan buronan paling terkenal di wilayah barat Amerika pada akhir abad ke-19. Di Alkitab, sama seperti berbagai budaya di zaman sekarang, nama memiliki makna yang istimewa. Ketika membawa berita kelahiran Anak Allah, seorang malaikat memerintahkan Yusuf untuk memberi nama anak Maria itu:  “Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Arti nama Yesus: “Allah yang menyelamatkan”. Itu menegaskan misi-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Sahabat, tidak seperti Hardin, Yesus sepenuhnya hidup sesuai dengan arti nama-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menggenapi misi penyelamatan-Nya. Yohanes menegaskan kuasa nama Yesus yang memberikan hidup: “ … semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31). Mari kita membaca dan merenungkan 1 Samuel 3:1-21. Sahabat, nama Samuel merupakan ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti  TUHAN MENDENGAR.  Itu merupakan ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya:  “…Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.’”  (1 Samuel 1:20).   Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam.  Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan.   Samuel mulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli:  “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.”  (1 Samuel 1:28).  Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli.  Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan.   Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya.  Penulis kitab 1 Samuel mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan.   Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan,  “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar. …”  (Ayat 9).  Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab,  “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”  (Ayat 10).Seiring berjalannya waktu  “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”  (Ayat 19).  Akhirnya Tuhan memercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia semakin memiliki kepekaan akan suara Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa pesan yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Untuk memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan tidak bisa terjadi secara instan, tapi perlu melalui proses bergaul karib dengan Tuhan setiap waktu. (pg).

Jejak Iman dalam Pengasuhan:Menjadikan Amanat Generasi

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan 1 Samuel 2:30-36. Di tengah dunia yang terus berubah, setiap orang tua berjuang membesarkan anak-anak mereka dengan segala usaha dan harapan. Namun, satu hal yang kerap terlupakan adalah amanat iman yang perlu diteruskan bagi generasi berikutnya.  Kita mungkin pernah melihat keluarga-keluarga yang tampak sukses dari luar tetapi rapuh di dalam, terputus dari akar spiritualnya. Sebuah kisah nyata muncul dari seorang pemimpin yang tampak sempurna.  Anak-anaknya bersekolah di tempat terbaik, dan segala fasilitas disediakan demi masa depan yang cemerlang. Tetapi, di balik semua itu, relasi mereka mulai renggang; sang anak merasa jauh dari nilai-nilai iman yang dulu dipegang keluarganya. Apa yang terjadi? Ternyata, masalah ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam 1 Samuel 2:30-36, kita menemukan kisah imam Eli dan kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Sebagai imam, Eli seharusnya menjaga kemurnian pelayanan dan menanamkan amanat iman kepada anak-anaknya. Namun, ia membiarkan anak-anaknya menyalahgunakan posisi mereka di bait Allah. Akibat dari kelalaiannya, Tuhan menghukum Eli dan keturunannya.  Eli yang seharusnya menjadi penjaga iman akhirnya kehilangan warisan rohani itu. Ini bukan hanya kegagalan Eli sebagai ayah, melainkan sebagai pemimpin yang dipercayakan Tuhan untuk memelihara iman. Pengabaian Eli bukanlah kekeliruan sesaat; ini adalah kelalaian terhadap amanat yang berdampak lintas generasi. Jika kita merenungkan kisah ini, masalah utama bukanlah Eli tidak mengasihi anak-anaknya. Masalahnya adalah ia membiarkan mereka tumbuh tanpa prinsip iman yang kuat.  Ada cukup banyak orang tua hari ini, seperti Eli, terjebak dalam pemikiran bahwa kasih cukup diwujudkan dalam menyediakan kebutuhan fisik atau pendidikan yang baik. Namun, lebih dari sekadar kebutuhan duniawi, anak-anak membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh sebagai landasan hidup. Tanpa landasan ini, mereka mudah hanyut dalam pengaruh dunia yang bisa menjauhkan mereka dari tujuan hidup sejati. Sebagai orang tua, kita bisa belajar dari kesalahan Eli. Mewariskan iman dan nilai-nilai kehidupan adalah amanat yang tak boleh diremehkan. Amanat ini bukan hanya “menasihati” atau “mengajari”, melainkan menghidupi nilai-nilai iman dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar dari teladan, bukan hanya dari kata-kata. Dalam menghadapi dunia yang terus menarik perhatian anak-anak ke berbagai arah, orang tua perlu lebih dari sekadar petuah dan nasihat. Mereka harus menjadi teladan hidup yang nyata, iman yang kokoh dan kasih yang tulus. Salah satu langkah sederhana adalah membangun kebiasaan beribadah bersama sebagai keluarga, berbagi pengalaman iman, dan mendampingi pertumbuhan spiritual anak dengan penuh perhatian. Berikan mereka kesempatan untuk bertanya, memahami, dan mengalami Tuhan dalam hidup mereka, bukan hanya di dalam ritual. Ketika mereka melihat bagaimana orang tua hidup dalam iman, kesetiaan, dan pengharapan kepada Tuhan, iman itu akan lebih mudah mereka terima dan hayati. Pengasuhan sebagai amanat generasi membutuhkan ketulusan dan ketekunan. Setiap orang tua adalah perantara yang Tuhan tempatkan untuk menanam benih iman yang abadi dalam diri anak-anaknya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa memberikan warisan terbaik yang bisa mereka miliki, iman yang kokoh, kasih yang tulus, dan komitmen yang teguh.  Saudaraku, hidup ini bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang apa yang kita wariskan kepada generasi mendatang. Melalui kisah Eli, Tuhan memberikan pelajaran yang mendalam; mari kita JAGA JEJAK IMAN  itu agar tidak HILANG, tetapi TERUS HIDUP  dan MENYINARI GENERASI-GENERASI BERIKUTNYA. (EBWR).

Jauh dari Kasih Karunia Tuhan

TITIK NADIR. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nadir adalah  titik yang paling rendah dari bulatan cakrawala (bola langit) yang terletak tepat di bawah kaki pengamat. Sedangkan titik nadir kehidupan  ialah  kondisi terendah dalam kehidupan seseorang. Kondisi yang banyak orang tak menginginkannya. Titik nadir dalam kehidupan adalah saat-saat yang paling sulit atau terendah dalam kehidupan seseorang. Hal itu bisa terjadi karena berbagai alasan seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam karir, masalah keuangan, masalah kesehatan, depresi, dan lain-lain. Hari ini kita akan membaca dan merenungkan dari 1 Samuel 28:1-25 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Tuhan menyediakan berkat dan pemulihan bagi anak-anak-Nya, dan secara terperinci berkat-berkat itu bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan yang paling banyak diingat dan dipegang oleh orang percaya yaitu:  “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, …”  (Ulangan 28:13).   Cukup banyak orang percaya yang mengklaim janji Tuhan ini tanpa memperhatikan lebih dahulu kelanjutan dari ayat tersebut:  “… apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14).  Saul merupakan salah satu contoh orang yang justru mengalami kemunduran atau kemerosotan atau penurunan dalam hidupnya sampai titik nadir.  Kisah Saul dalam bacaan kita pada hari ini  sungguh-sungguh menyedihkan. Ia sungguh-sungguh menyangkali imannya. Kepercayaannya yang paling mendasar kepada Tuhan telah ditinggalkan.  Apa yang menjadi salah satu larangan penting dari Taurat (Ulangan 18:9-14), yang Saul sendiri pada masa permulaan pemerintahannya menaatinya (Ayat 3), telah dilanggarnya sendiri. Percaya pada peramal berarti percaya kepada roh-roh lain di luar Tuhan. Hal itu sama saja dengan menduakan Tuhan, alias menyembah berhala. Ketaatan Saul benar-benar telah memudar. Sahabat, itulah yang terjadi pada Saul. Dalam keadaan kepepet oleh pasukan Filistin, Saul berusaha mencari petunjuk dari Tuhan. Ketika Tuhan tak kunjung menjawab, ia pun nekat mencari pemanggil arwah agar dapat memberi jawaban atas pergumulannya (Ayat 7). Ternyata di Israel masih ada orang dengan profesi semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan Taurat Tuhan. Tidak heran, rajanya sendiri pun kemudian terjebak pada dosa tersebut.Apakah yang muncul benar-benar roh Samuel atau roh “Samuel”, itu merupakan isu kontroversial dalam dunia penafsiran Alkitab. Kalau benar itu roh Samuel, maka itu merupakan kasus khusus yang Tuhan izinkan untuk meneguhkan penghukuman-Nya atas Saul karena jawaban roh Samuel jelas sekali (Ayat 16-19). Kalau itu bukan roh Samuel, maka jelas roh jahat berperan dibalik sang pemanggil arwah untuk menipu Saul. Isi jawaban yang senada dengan berita penghukuman Allah melalui Samuel pada masa lalu tidak perlu diartikan bahwa roh jahat memiliki pengetahuan Ilahi, tetapi bahwa roh jahat akan memakai apa saja untuk menjerat orang semakin jauh dari Tuhan dan terpuruk sampai titik nadir.Sahabat, kita sudah mengikuti perjalanan iman Saul dari permulaan, dan mendapatkan bahwa saat Saul tidak bersedia dikoreksi oleh Tuhan. Ia semakin jauh dari kasih karunia Tuhan. Puncaknya, ia menyangkali Tuhan dengan mencari pertolongan dari yang bukan Tuhan. Sayang sekali teguran Tuhan sama sekali tidak direspons dengan bertobat dan mau belajar menaati kehendak-Nya. Semoga kita belajar dari kisah Saul ini untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga kita tidak semakin menjauh dari kasih karunia Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang titik nadir kehidupan? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita sabar menantikan jawaban dari Tuhan dan jangan mengambil jalan pintas dengan mencari pertolongan kepada allah-allah yang lain. (pg).