Sourced from God

MAZMUR 44. Sahabat, Sahabat, mungkinkah kita memiliki iman yang tidak mudah goyah? Sangat mungkin. Kita akan belajar melalui pengalaman Pemazmur. Mazmur 43 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (Ayat 1-9). Bagian kedua, Pemazmur memaparkankehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (Ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan. Sekalipun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (Ayat 18-22). Pada bagian keempat, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (Ayat 23-27). Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (Ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang ataupun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya. Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (Ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (Ayat 5). Pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekalipun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Sourced from God (Bersumber dari Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 44:1-27 dengan berfokus pada ayat 7-8. Sahabat, Serena Williams merupakan seorang Afro-Amerika yang lahir 26 September 1981 di Saginaw, Michigan, Amerika Serikat.  Ia adalah salah seorang petenis puteri terhebat di muka bumi ini.  Di bulan Januari 2017  Serena  mengukir sejarah baru yaitu merebut gelar grandslam-nya yang ke-23 di Australia Open 2017 setelah mengalahkan Venus Williams  (kakak kandungnya)  dalam partai all Williams final dengan skor 6-4 6-4.  Itu berarti Serena berhasil melewati rekor sang legenda tenis asal Jerman, Steffie Graff, yang mengoleksi 22 gelar grandslam di sepanjang karirnya.  Luar biasa! Meraih kemenangannya adalah impian setiap olahragawan yang biasanya memiliki semboyan vini vidi vici, yang berasal dari bahasa Latin klasik veni, vidi, vici yang artinya:  Saya datang, saya melihat, saya menang.  Awalnya kata-kata ini digunakan dalam pesan Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM yang disampaikan pada senat Romawi. Kata-kata tersebut menggambarkan kemenangannya dalam pertempuran Zela atas Pharnaces II dari Pontus.  Sesungguhnya tak seorang pun olahragawan yang mau mengalami kekalahan dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, karena setiap kemenangan selalu mendatangkan kebanggaan tersendiri, apalagi kemenangan itu diraih dalam kejuaraan yang bertaraf internasional. Sahabat, dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan liku-liku ini setiap orang pasti berharap mampu melewati hari-hari dengan sebuah kemenangan.  Bagi orang percaya hidup berkemenangan bukanlah sekadar impian atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah janji yang pasti dari Tuhan:  “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).  Tuhan telah membuka jalan kemenangan bagi umat-Nya melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yang oleh-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan.  Orang percaya bukan lagi menjadi orang-orang yang kalah, melainkan umat pemenang! Kemenangan orang percaya merupakan KEMENANGAN yang BERSUMBER DARI TUHAN, ketika memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kasih setia Tuhan berkuasa untuk membebaskan kita dari segala penderitaan, asalkan kita tetap setia kepada-Nya. (pg).

Mengendalikan Keinginan

AKHAN. Wikipedia mencatat bahwa Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, adalah tokoh yang muncul dalam Kitab Yosua dalam Alkitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen  sehubungan dengan jatuhnya Yerikho dan penaklukan Ai. Namanya ditulis sebagai Ahar (Achar) dalam 1 Tawarikh 2:7. Menurut penuturan Yosua, Akhan menjarah jubah yang indah buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya dari Yerikho, hal itu bertentangan dengan perintah Yosua (dari Allah) bahwa  segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN (Yosua 6:19). Meskipun dalam catatan tersebut tampaknya hanya Akhan seorang diri yang bersalah karena mengingini dan mengambil jarahan tersebut, Yosua pasal 7 dimulai dengan pernyataan bahwa segenap umat (orang Israel) berubah setia (Yosua 7:1). Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 7:1-26. Sahabat, sesudah peristiwa tembok Yerikho, bangsa Israel tampak semakin percaya diri untuk memasuki tanah perjanjian. Kali ini, mereka akan masuk ke kota Ai yang dihuni orang Amori. Setelah melakukan pengintaian, mereka memutuskan dua atau tiga ribu saja yang akan menggempur.  Menurut laporan, penduduk di sana sangat sedikit (Ayat 2-3). Jadi, cukup logis jika tidak seluruh bangsa datang untuk menyerang kota Ai. Tiga ribu orang Israel berangkat untuk melaksanakan misi itu. Namun, apa yang terjadi? Mereka malah dipukul balik, bahkan melarikan diri (Ayat 4). Dari pihak Israel jatuh tiga puluh enam korban (Ayat 5). Rakyat kota Ai berhasil mempermalukan bangsa Israel. Bahkan, mereka dibuat lari tunggang-langgang. Kenyataan ini membuat Yosua tawar hati. Dia mengoyak jubahnya sebagai tanda perkabungan yang mendalam (Ayat 6). Dia sujud di hadapan tabut Tuhan untuk menunggu jawaban mengapa hal tersebut bisa terjadi. Sahabat, setelah Yosua mengadu kepada Tuhan, didapati bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh Akhan yang melanggar perintah Tuhan dengan mengambil barang yang dikhususkan, yang tidak boleh diambil ketika mengalahkan Yerikho. Keinginannya yang tidak dapat ia kendalikan atas barang-barang yang indah serta perak dan emas, mendatangkan kekalahan bagi bangsa Israel (Ayat 7-12).  Hal tersebut membuat Akhan jatuh dalam dosa besar hingga akhirnya mencelakakan dirinya beserta segenap keluarga. Harta Akhan dan segenap barang-barang khusus yang ia ambil serta anak-anaknya dilempari batu dan dibakar api hingga musnah (Ayat 16-25). Sahabat, Yakobus mengingatkan kita: Sering kali keinginan-keinginan yang timbul menjadi pencobaan bagi diri kita sendiri. Keinginan-keinginan yang belum diuji, apakah sesuai firman Tuhan dan kehendak-Nya, bila tidak kita KENDALIKAN dengan baik, akan menyeret dan memikat kita sehingga mengakibatkan kita jatuh ke dalam dosa, bahkan mendatangkan maut (Yakobus 1:14-15) Belajar dari pengalaman Akhan, tidak bisa MENGENDALIKAN KEINGINAN  yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bisa berdampak besar dan mencelakakan orang lain juga. Memiliki keinginan tidaklah salah, namun kita perlu sangat hati-hati dalam mewujudkan keinginan kita. Perlu minta hikmat dan petunjuk Tuhan terlebih dahulu: “Apakah keinginanku sudah selaras dengan kehendak-Nya?” Kita perlu terus belajar untuk MENGENDALIKAN KEINGINAN KITA. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:14-15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menguji dan menyerahkan keinginan pada Tuhan menghindarkan diri dari pencobaan dan kejatuhan. (pg).

JARAK 37-40 KM

Saudaraku, di kitab Yohanes 4:46-52 ada sebuah cerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan anak seorang pegawai istana, yang tidak dicatat namanya, hanya saja si pegawai ini rumahnya ada di Kapernaum, dan dia datang ke tempat Yesus yang ada di Kana, Galilea.  Jadi kisah ini berjarak dua kota yang disebutkan, yakni Kapernaum dan Kana di Galilea. Hari ini ada Google Maps, dan kita bisa mengetahui jaraknya, oh ternyata sekitar 37-40 km, karena kita tidak mengetahui lokasi rumah si pegawai hingga tempat Yesus di Kana.  Ceritanya si pegawai istana di Kapernaum memiliki anak kesayangan yang sakit dan kondisinya semakin parah, jadi dia selalu mencari tabib atau dokter zaman itu yang bisa mengobati, hingga dia mendengar kabar tentang Yesus yang melakukan mukjizat kesembuhan. Karenanya dia ingin sekali menemui Yesus mohon pertolongan bagi anaknya. Ternyata Yesus ada di Kana, yang jaraknya 37-40 km dari rumahnya. Pergi ke Kana, naik apa? Zaman itu, masa Kerajaan Romawi, belum ada motor, mobil ataupun sepeda, apalagi taksi. Naik kuda, oh itu larangan, karena kuda dipakai oleh tentara, sedangkan rakyat bolehnya naik keledai atau kereta yang ditarik lembu, kecepatannya hanya sekitar 6-9 km per jam, jadi untuk jarak 40 km perlu 5-7 jam, apalagi jika mesti berjalan kaki, dari Kapernaum ke Kana di Galilea bisa mencapai 12-14 jam! Bahkan mungkin ada keraguan selama perjalanan, apakah Yesus masih ada di Kana atau sudah pergi ke kota lain, jadi mesti disusul lebih jauh lagi. Setelah berjumpa Yesus, dia mengutarakan keinginannya supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Tapi kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Untuk kedua kalinya Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Dan ketika si pegawai istana itu masih di tengah perjalanan pulang, hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Jadi untuk pergi dari Kapernaum ke Kana perlu waktu hampir 1 hari, berjumpa Yesus hanya singkat, mungkin kurang dari 30 menit, dan ketika balik mau pulang mungkin sudah malam gelap dan perlu menginap karena di sepanjang jalan pasti tidak ada lampu jalan, dan esok pagi-pagi dia mesti melanjutkan perjalanan pulang. Hamba-hambanya memberitahu, kemarin siang pukul satu anaknya sembuh, bertepatan dia disuruh pergi oleh Yesus. Nah, balik lagi ke jarak Kapernaum ke Kana yang 37-40 km. Ternyata jarak ini di Google Maps identik dengan jarak dari GKMI Kudus di Panjunan Kudus hingga GKMI Jepara. Bayangkan, bila daerah Panjunan Kudus itu kita anggap sebagai Kapernaum, maka si pegawai istana mesti berjalan kaki atau naik keledai atau naik kereta ditarik lembu ke Jepara yang kita anggap sebagai Kana. Zaman sekarang, saat transportasi demikian mudah, adakah orang seperti si  pegawai istana yang mau menempuh jarak 37-40 km untuk menjumpai Tuhan Yesus di gereja? Saat ini lebih banyak orang yang mencari gereja yang dekat-dekat dengan rumah, agar berangkat dari rumah tidak butuh waktu lama, padahal yang terjadi karena bangunnya lebih siang jadi berangkatnya tidak perlu pagi-pagi. Itu pun ternyata banyak yang datangnya terlambat ke gereja. Saudaraku, jarak 37-40 km bagi si pegawai istana bukanlah jarak yang jauh, karena dia ingin sekali menjumpai Yesus, meskipun berjumpa hanya sebentar, hatinya lega dan dia percaya bahwa anaknya akan disembuhkan, maka dia pergi untuk pulang ke rumahnya. Nah, bagi diri kita, jarak 37-40 km untuk datang ke gereja, mungkin benar jarak yang jauh, tapi akan dirasa semakin jauh dan berat bila tujuan ke gereja itu tidak ada dalam keinginan hati kita. Pokoknya bisa sampai ke gereja sudah cukup, duduk dengar sebentar, kenapa gereja tidak bisa liturgi ibadahnya cukup satu jam saja atau bisa lebih singkat lagi? Jadi, jarak 37-40 km bukan sekadar jarak, tapi apakah di hati kita masih merindukan untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus di gereja-Nya? Saudaraku, cerita di Injil  Yohanes 5: 46-52 menunjukkan niat yang teguh ingin berjumpa Yesus, dan benar-benar melakukan tindakan yang nyata, mesti harus berjalan jauh, a long way, entah berapa jam, entah berapa hari, POKOKNYA MESTI  BERTEMU YESUS. (Surhert).

STEFANUS TAK PERNAH MUNDUR

Saudaraku, nama Stefanus hanya tercatat di bagian awal dalam Kitab Kisah Para Rasul,  namun dampak dari kehidupannya mengubah peta sejarah Kristen awal secara drastis.  Mari kita renungkan Kisah Para Rasul 6. Dikisahkan waktu itu terjadi kesenjangan perhatian terhadap para janda Yahudi yang berbahasa Ibrani dan Yunani, maka para rasul menunjuk tujuh orang diakon yang mengurus keperluan itu.  Ada tujuh nama laki-laki yang dituliskan dan menariknya adalah ada catatan khusus untuk seorang diakon yang bernama Stefanus.  Khusus Stefanus ada tambahan catatan: Seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Ayat 5), padahal untuk menyeleksi para diakon ini dimunculkan beberapa kriteria : Dikenal baik, penuh Roh dan hikmat (Ayat 3).   Kesungguhan iman Stefanus teruji saat ternyata ia sanggup untuk berdiskusi dengan jemaat Libertini, sebuah kelompok agama yang dibentuk oleh orang Yahudi  mantan budak kekaisaran Romawi.  Stefanus mampu mempertanggung jawabkan iman percayanya sehingga orang-orang Libertini merasa ‘kalah’ dan memakai cara kotor untuk memfitnahnya (Ayat 9-11).  Stefanus mengejawantahkan iman dengan tidak mundur walau ia ditekan oleh keadaan. Di Zaman yang makin cepat, sibuk dengan situasi politik Indonesia yang nampak “stabil” membuat orang percaya merasa berada di zona nyaman yang membuat orang percaya terlena untuk mengabaikan kebutuhan memperlengkapi diri dengan pemahaman Firman yang dalam dan bahkan enggan terlibat dengan tantangan rohani.   Banyak yang berpikir bahwa menyambut panggilan Tuhan menjadi pengikut Kristus saja sudahlah cukup, padahal Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Kolose :   Saudara-saudara sudah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan. Sebab itu hendaklah kalian hidup bersatu dengan Dia, dan berakar di dalam Dia. Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Dan hendaklah hatimu meluap-luap dengan ucapan terima kasih. (Kolose 2:6-7, BIS).  Perjuangan orang percaya tidak hanya sampai di tahap menerima Kristus namun harus terus berakar, bertumbuh dan berbuah.  Mari belajar bertumbuh secara rohani, makin mantap dari hari ke hari sehingga tugas mengabarkan kabar baik terus dapat dilaksanakan dengan berani apa pun tantangan yang dihadapi. JANGAN TERLENA DENGAN ZONA ZAMAN.    Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Bukan Hanya Berlari, Tapi Menuntaskan!

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan:  2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Hidup sebagai orang beriman adalah perjalanan panjang,  kita dipanggil bukan hanya untuk memulai, tetapi menuntaskan panggilan hidup dengan setia. Layaknya seorang atlet yang berlari di lintasan, kita diundang untuk mencapai garis akhir, meskipun perjalanan penuh tantangan. Di tengah lintasan ini, sering kali kita menemui situasi seperti memakan “buah simalakama”, pilihan-pilihan sulit yang keduanya tampak penuh konsekuensi. Mungkin kita pernah merasa berada di persimpangan, dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak ideal, tetapi harus tetap memilih. Seperti memilih antara pekerjaan stabil yang menguras hati, atau mengejar panggilan yang penuh ketidakpastian. Situasi “buah simalakama” ini menghadirkan konsekuensi di setiap pilihan dan menguji iman kita.  Di saat seperti  inilah kita bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau inginkan?” Terkadang, jawaban tidak langsung muncul, membuat kita terjebak dalam keraguan atau kecemasan. Namun, hidup beriman adalah berani menyelesaikan pertandingan, bahkan di tengah pilihan sulit. Paulus dalam 2 Timotius 4:7 berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Ini adalah suara ketenangan dari seseorang yang telah menyelesaikan lintasannya, bukan karena semuanya berjalan mulus, melainkan karena ia setia pada panggilan Tuhan.  Paulus menghadapi berbagai pilihan serupa dengan “buah simalakama” sepanjang pelayanannya, sering kali harus memilih antara keselamatan diri atau setia pada misi yang berisiko. Namun, ia tetap berpegang pada iman, meskipun banyak yang dipertaruhkan. Ini menginspirasi kita untuk terus setia dan menuntaskan pertandingan hidup dengan penuh keyakinan. Bagi kita, menyelesaikan hidup dengan baik berarti BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN  yang sesuai dengan kebenaran Kristus, meskipun itu sulit. Ketika dihadapkan pada pilihan sulit, yang utama bukanlah mencari jalan termudah, tetapi jalan yang paling mendekati kehendak dan kasih-Nya.  Misalnya, ketika kita memilih untuk mengampuni meski sakit hati, atau memilih jujur meski berisiko, kita sedang berusaha menyelesaikan pertandingan iman dengan ketulusan dan keteguhan. Kita tidak hanya berlari; kita belajar menyelesaikan lintasan dengan komitmen pada nilai-nilai Tuhan. Dalam setiap musim kehidupan, kita menghadapi “garis finis” yang berbeda. Di masa muda, kita mungkin diuji dalam mempertahankan integritas di pergaulan atau tetap setia kepada kebenaran di tengah tawaran kesenangan. Bagi yang berkeluarga, kita mungkin sering bertemu “buah simalakama” dalam membesarkan anak, antara tegas atau longgar, antara bekerja keras atau menyediakan lebih banyak waktu. Meski berat, setiap keputusan yang kita buat untuk menuntaskan pertandingan adalah langkah menuju garis akhir yang telah Tuhan tetapkan. Kita tidak dipanggil untuk menyelesaikan pertandingan ini sendirian. Dalam setiap keraguan atau pilihan yang membingungkan, kita bisa mendekatkan diri pada komunitas iman, sahabat seiman, mentor, atau pemimpin rohani yang bisa membantu memberi pandangan dan dukungan. Pendampingan serta doa dari mereka membantu kita lebih kuat menghadapi situasi-situasi “buah simalakama,” ketika semua terlihat samar. Saudaraku, aada akhirnya, menyelesaikan pertandingan bukanlah soal hasil gemilang, tetapi soal ketenangan dalam hati, bahwa kita telah hidup menurut kehendak-Nya. Di akhir perjalanan hidup kita, damai yang kita rasakan bukan dari pencapaian duniawi, melainkan karena kita telah memilih setia dan jujur pada panggilan-Nya.  Biarlah kelak kita dapat berkata seperti Paulus, bahwa kita telah menyelesaikan pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, dan memelihara iman kita dengan teguh. Kiranya Tuhan memberi kebijaksanaan dan keberanian untuk menuntaskan panggilan hidup dengan setia, bahkan ketika dihadapkan pada “buah simalakama.” (EBWR)

Kasih Gembala yang Baik

GEMBALA DOMBA. Dari Media Online Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) saya mendapatkan informasi bahwa domba  merupakan salah satu bagian sentral dari ekonomi Israel sejak awal sekali (Kejadian  4:2). Beberapa tokoh di dalam Alkitab  seperti Abraham, Ishak, Musa, Daud dan Amos adalah seorang gembala (Kejadian 12:16; 26:14; Keluaran 3:1; 2 Samuel 7:8; Amos 1:1).  Gembala dalam arti harfiah pada zaman dulu dan sekarang, mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya. Gembala harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mazmur 23:2), harus melindungi kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas (Amos 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang tersesat (Yehezkiel 34:8; Matius 18:12).  Jika tugas-tugasnya mengharuskan dia jauh dari perkemahan gembala, segala kebutuhan utamanya ia bawa dalam suatu kantung (1 Samuel 17:40, 49), dan kemah menjadi penginapannya (Kidung Agung. 1:8). Gembala juga menggunakan anjing sebagai pembantunya seperti gembala modern (Ayub 30:1).  Alat utama gembala adalah GADA (untuk mengusir binatang buas dan liar) dan TONGKAT panjang yang ujungnya melengkung (untuk membimbing atau menyelamatkan domba), dan juga UMBAN untuk melontarkan batu ke binatang liar yang menyerang (1 Samuel 17:34-37). Mari kita membaca dan merenungkan Yehezkiel 34:1-31 dengan berfokus pada ayat 31. Sahabat, andaikan kita menjadi gembala dan suatu saat kita harus diperhadapkan dengan suatu pilihan yang berat:  Melindungi domba kita dari binatang buas tapi kita harus mati, atau kita membiarkan domba itu mati asal kita selamat, mana yang kita pilih?   Mari kita jujur saja sebagai manusia kita pasti memilih menyelamatkan diri sendiri daripada harus berkorban nyawa hanya demi domba-domba kita.  Gembala upahan pun melakukan hal yang sama: “… ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.”  (Yohanes 10:12).Sahabat, hampir semua orang pasti tidak mau mati demi seekor domba, karena nyawa domba itu tidak sebanding dengan nyawa manusia.  Tetapi Tuhan Yesus justru datang dengan tujuan mati untuk domba-domba-Nya.  Kalau manusia saja tidak pantas mati bagi domba, maka sangat tidak layak Raja di atas raja mau mati bagi manusia; namun Tuhan Yesus melakukan hal yang tidak lazim itu.  Itulah yang disebut anugerah.   Melalui perumpamaan dalam Lukas 15:1-7 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Dia, Allah, rela turun dari surga untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja yang hilang, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan ekor yang lain.  Apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor?Satu domba yang tersesat adalah gambaran dari manusia yang berdosa dan tersesat.  Orang lain mungkin melupakan atau membuang kita, tetapi Tuhan tetap peduli;  Ia mencari dan menyelamatkan kita walau kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak dicari, bahkan sebaliknya layak dibuang.  Namun kasih Tuhan begitu besar, bahkan Dia rela menderita dan mati di kayu salib.   Sahabat, hal ini membuktikan  bahwa Dia adalah GEMBALA  yang BAIK.  Tidak hanya itu, Dia menuntun domba-dombanya masuk ke kandang dan membawanya ke padang rumput hijau dengan tongkat dan gadanya.   Dia pun mengenal kita secara pribadi, seperti tertulis:  “… Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.”  (Yohanes 10:14).   Ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, penuh cinta kasih.  Bukan sekadar mengenal, tapi Dia tahu segala penderitaan dan pergumulan kita. Dia Gembala Yang Baik yang mengasihi kita.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang sejati, yang betul-betul mengenal kita. (pg).

God is the Relief Provider

PUTUS ASA. Sahabat, karena tekanan hidup yang kian berat dan permasalahan yang dialami, maka cukup banyak orang menjadi putus asa dan frustasi.  Mengapa bisa terjadi?Rasa putus asa muncul ketika seseorang mengalami jalan buntu.  Celah inilah yang digunakan Iblis untuk menanamkan rasa putus asa dalam diri seseorang, sehingga dalam dirinya timbul rasa mengasihani diri sendiri (self pity) dan merasa sudah tidak ada pertolongan lagi.   Kita  tidak lagi mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan mulai meragukan kuasa-Nya.  Dengan kata lain kita putus asa dan menjadi tawar hati, merasa bahwa Tuhan tidak sanggup melakukan perkara besar dalam kehidupan kita. Sesungguhnya rasa putus asa bukanlah karakter anak-anak Tuhan!  Kita adalah lebih dari pemenang karena Tuhan selalu ada di pihak orang percaya.  Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, jangan putus asa, serahkan semuanya kepada Tuhan.  Jangan buang waktu dan tenaga pada hal-hal yang membuat kita putus asa dan lemah.  Mari kita lebih lagi melekat kepada Tuhan.    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God is the Relief Provider (Tuhan adalah Pemberi Kelegaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 43:1-5. Sahabat, tahukah  bahwa tingkat stres manusia ternyata ada skalanya? Menurut acuan Skala Stres Holmes dan Rahe, kematian pasangan menempati angka tertinggi, yakni 100, terhadap stres yang dialami oleh seseorang. Sementara, perceraian, kematian keluarga dekat, dan pemecatan (PHK) mendapat nilai masing-masing 73, 63, dan 47.  Dalam waktu berdekatan, ambang batas maksimal jiwa seseorang dinilai masih mampu menangani stres sampai angka 300. Skala stres 300 disebut dapat berisiko tinggi membuat seseorang sakit, bahkan mengalami goncangan jiwa.Pemazmur juga pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Kejaran orang-orang yang tidak menyukai hingga kejaran para musuh membuat jiwanya tertekan dan gelisah. Namun, Pemazmur  tidak mengizinkan jiwanya mengalami tekanan dan gelisah terus-menerus. Ia memahami bahwa Allah ada di pihaknya, yang akan menolong dan melepaskan dirinya dari setiap kesesakan yang mengimpit jiwanya.  Suatu kunci ketenangan jiwa yang juga dapat kita alami, karena Allah, Sang Pemberi Damai Sejahtera itu ada dalam hidup kita. Meski kita juga perlu belajar mengelola stres dan sedapat mungkin menghindari penyebab stres.Sahabat, namun, kita menyadari bahwa tak mungkin kehidupan ini sepenuhnya berlangsung tanpa ada tekanan, masalah, atau pergumulan hidup. Tindakan pencegahan mungkin sudah kita lakukan, tetapi tetap jiwa kita dapat mengalami tekanan karena masalah kehidupan. Namun setidaknya, hari ini kita mengerti cara merespons stres dengan tepat, yakni datang kepada Allah dan berharap akan pertolongan-Nya. Ketika tekanan melanda jiwa, hanya Allah yang dapat memberi kelegaan.  Tuhan adalah pemberi kelegaan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita penuhi hati kita dengan kepercayaan akan janji Firman TUHAN yang merpakan kepastian jawaban dan dasar kebenaran bahwa TUHAN sanggup menolong dan melakukan mukjizat bagi kita. (pg). 

Tuhan Tidak Pernah Ingkar Janji

MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI. Itu merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh Paramitha Rusady yang menjadi soundtrack dari film “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”  yang dirilis pada tahun 1986. Film tersebut merupakan film arahan sutradara Wim Umboh dan dibintangi oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Mira W. Dikisahkan dalam film tersebut, Maria (Paramitha Rusady) sejak kecil diarahkan ayahnya untuk menjadi biarawati. Akibat pengarahan yang kaku oleh ayahnya, Maria selalu merasa serba salah. Ia jatuh cinta pertama dengan Guntur (Adi Bing Slamet), tetapi Maria akhirnya tetap menjadi biarawati juga. Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 21:43-45 dengan berfokus pada ayat 45. Sahabat,  kita hidup dalam dunia yang dibanjiri dengan janji. Televisi dan media sosial, menjadi corong janji itu diumbar.  Namun sering kali, tebaran janji itu hanya semu. Janji itu akan terpenuhi kalau kita memenuhi syarat yang disodorkannya. Kita terlebih dahulu harus membayarkan sejumlah uang baru kemudian janji itu bisa dirasakan. Bahkan, sering janji itu memanipulasi syarat-syaratnya. Akibatnya, siapa saja yang tidak cermat malah menjadi tertipu. Sahabat, manusia sering lupa akan janjinya. Banyak orang berjanji tetapi ternyata tidak menepatinya. Manusia dengan berbagai alasan mengingkarinya. Akibatnya kita kecewa dengan janji dan akhirnya apatis dengan janji. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Kalau Tuhan berjanji pasti akan menepatinya. Tuhan berjanji kepada nenek moyang bangsa Israel untuk memberikan Tanah Perjanjian. Sekalipun nenek moyang mereka sudah tidak ada, janji Tuhan tetap berlaku untuk keturunan mereka. Sahabat, bacaan kita berbicara tentang janji. Tuhan selalu menepati janji-Nya. Dia tidak mengajukan syarat yang manipulatif. Sebaliknya, syarat pemenuhan janji-Nya cukup sederhana: Melakukan perintah-Nya.Contoh yang paling awal adalah Abraham. Tuhan menjanjikan kepadanya tanah perjanjian asalkan Abraham mau bertindak sesuai firman-Nya. Hal serupa terjadi kepada bangsa Israel. Selama Israel taat pada perintah Tuhan, maka penyertaan dan penggenapan janji-Nya pasti nyata. Tuhan akan membuat semua hal menjadi mudah. Bahkan, jika tantangan musuh datang, mereka tidak akan tahan berdiri menghadapi Israel (Ayat 43-45). Tuhan menjamin keamanan bangsa Israel.Sahabat, relasi dengan Tuhan ternyata cukup sederhana, walau sulit dalam praktik. Kita berhubungan dengan Dia dijembatani oleh janji-Nya dan ketaatan. Dua hal ini harus berjalan seimbang sama seperti antara hak dan kewajiban. Kita akan mendapatkan hak jika sudah melaksanakan kewajiban. Prinsip ini tidak bisa dibalik. Jika kita mengklaim janji-Nya, maka perintah-Nya pun harus kita eksekusi. Pendeknya, mukjizat itu nyata jika firman-Nya pun dilaksanakan. Hanya ketaatan kita yang bisa membuat Tuhan bertindak, bukan uang, korban, atau “sogokan” lainnya.Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kedua aspek ini menjadi seimbang dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya merengek menuntut janji-Nya, namun kita lupa menjalani kewajiban? Bagian kita hanyalah TAAT karena Tuhan pasti setia dalam janji-Nya. Yakinlah, Tuhan tidak pernah ingkat janji.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apakah Sahabat pernah kecewa dengan janji Tuhan? Apa yang harus Sahabat lakukan sambil menunggu janji Tuhan digenapi dalam hidupmu? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sambil menunggu waktu Tuhan menggenapi janji-Nya, jangan tinggal diam, berusalah melakukan perintah-perintah-Nya. (pg).

Panggilan Tuhan Bukan Sebuah Pilihan

KITAB YUNUS. Yunus, yang namanya berarti “merpati”, diperkenalkan sebagai putra Amitai (Yunus 1:1). Ia disebut dalam 2 Raja-Raja 14:25 sebagai:(1) Nabi kepada kerajaan utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM);(2) Ia berasal dari Gat-Hefer,  tiga sampai lima kilometer utara Nazaret di Galilea.Jadi, orang Farisi salah ketika mengatakan bahwa tidak pernah ada nabi dari Galilea (Yohanes 7:52).  Pelayanan nubuat Yunus terjadi tidak lama sesudah masa pelayanan Elisa (bdk. 2 Raja-raja 13:14-19), bertumpang-tindih dengan masa pelayanan Amos (bdk. Amos 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (bdk. Hosea 1:1). Sekalipun kitab ini tidak menunjukkan penulisnya, sangat mungkin penulis itu Yunus sendiri. Kitab Yunus  merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama. Tema : Luasnya Kasih Sayang Allah yang Menyelamatkan. Tahun Penulisan: sekitar 760 SM Kitab Yunus pada intinya adalah sebuah cerita tentang sifat Allah. Karena itu, kitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dipisahkan kira-kira menurut pasalnya: (1) Kedaulatan Allah, (2) Pembebasan Allah, (3) Belas kasih Allah, dan (4) Kebenaran Allah.  Dalam paruhan pertama kitab ini, pembebasan Allah diperlihatkan melalui kedaulatan-Nya. Di paruhan kedua, pembebasan Allah diperlihatkan melalui belas kasih-Nya. Akhirnya, Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan memilih untuk memaksa dan berubah pikiran.  Mari kita membaca dan merenungkan kitab Yunus 1:1-17. Sahabat, panggilan Allah untuk memberitakan firman-Nya merupakan kesempatan istimewa yang diberikan kepada setiap orang percaya. Namun, ada kalanya motivasi terselubung mewarnai setiap keputusan untuk menjalani panggilan ini.Nabi Yunus hidup pada masa pemerintahan Yerobeam II di Kerajaan Utara. Ia mendapat panggilan Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur, yang merupakan musuh Israel (Ayat 2). Kejahatan penduduk Niniwe yang luar biasa telah membuat Yunus bersikap antipati terhadap mereka. Yunus berpikir bahwa ia mempunyai pilihan dalam merespons panggilan Tuhan, karena itu ia memilih melarikan diri ke Tarsis (Ayat 3).  Sahabat, sebagai seorang yang menerima tugas untuk memberitakan firman Allah, Yunus lupa bahwa PANGGILAN TUHAN BUKAN SEBUAH PILIHAN. Menyatakan kehendak Tuhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.Bagaimanapun upaya Yunus untuk lari dari kehendak Tuhan, ada cara Tuhan yang unik untuk membawa kembali Yunus kepada tugas yang ia harus terima, yaitu dengan memakai orang-orang yang tidak percaya.Sahabat. kepastian akan rencana Allah yang harus terlaksana melalui hamba-Nya ini tidak dapat dihalangi oleh apa pun, bahkan sang nabi tidak memiliki pilihan untuk menolak. Atas penentuan Tuhan, seekor ikan besar datang dan menelannya sehingga ia harus berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam.Panggilan Tuhan harus dilihat sebagai HAK ISTIMEWA  dan KESEMPATAN YANG LUAR BIASA  yang dianugerahkan kepada kita. Hal tersebut bukan pilihan antara kehendak kita atau kehendak Allah. Hal tersebut  memang  kehendak Allah.ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya, yakni untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya atas manusia, terimalah panggilan itu sebagai sebuah kehormatan yang diberikan Allah. Hal tersebut bukan pilihan; melainkan kewajiban.  Sahabat, jangan pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab itu, sebab Dia akan mengejar kita dan tangan-Nya yang kuat akan mengarahkan dan menuntun kita kembali untuk menjalaninya. Terimalah panggilan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita dipercaya Tuhan melayani-Nya mari melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, karena tidak semua orang beroleh kesempatan yang sama. (pg). 

Kasih yang Berani Melampaui Rasa Malu

Saudaraku, hari ini kita membaca dan merenungkan Injil Lukas 7:38. Di zaman sekarang, banyak orang hidup dalam tekanan sosial yang besar. Media sosial, budaya perfeksionis, dan standar kesuksesan membuat kita sering kali berusaha tampak kuat dan sempurna. Akibatnya, banyak yang menyembunyikan kelemahan dan luka mereka. Rasa malu, terutama ketika harus menampilkan sisi rapuh di depan orang lain, menghalangi kita untuk bertindak jujur atau bahkan meminta bantuan.  Di tempat kerja, seseorang mungkin terjebak dalam situasi sulit tetapi merasa malu untuk mengakuinya. Di keluarga atau gereja, tidak sedikit orang yang takut membuka hati karena khawatir akan penilaian atau penghakiman dari sesama. Rasa malu sering kali menjadi penghalang besar dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita khawatir tentang bagaimana kita dipandang oleh orang lain, dan dalam ketakutan itu, kita menutup diri dari pengalaman kasih yang sejati. Di tengah realitas ini, kita menemukan sebuah kisah yang menyentuh hati di Injil Lukas, yaitu kisah seorang perempuan berdosa yang berani mendekat kepada Yesus, meskipun ia dipenuhi rasa malu. Dalam Lukas 7:38, perempuan ini datang kepada Yesus dengan hati yang remuk, membawa minyak wangi yang mahal sebagai persembahan. Dia membasuh kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, dan mencium kaki-Nya. Tindakan ini sangat berani, terlebih lagi karena perempuan itu hidup dengan stigma sebagai orang berdosa.  Di tengah tatapan sinis orang banyak, dia menepis semua rasa malu untuk menunjukkan kasihnya yang tulus. Yang menarik, Yesus tidak hanya menerima tindakannya tetapi juga memujinya, menunjukkan bahwa Dia melihat hati perempuan itu, hati yang terbuka dan penuh kasih, tanpa takut penilaian dunia. Saudaraku, kisah ini menantang kita untuk merenungkan, sejauh mana kita berani melampaui rasa malu untuk mendekat kepada Tuhan? Kasih perempuan ini begitu kuat sehingga dia rela menanggung risiko dicemooh. Dia tidak memedulikan pandangan orang, sebab yang terpenting baginya adalah mendekat kepada Sang Penebus. Di sini, Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak melihat masa lalu atau reputasi kita; Ia melihat hati yang datang dengan tulus. Dalam kehidupan kita, sering kali kita merasa malu untuk datang kepada Tuhan, terutama ketika kita merasa penuh dosa atau kekurangan. Namun, Yesus memberi teladan bahwa kasih dan penerimaan-Nya melampaui semua ketakutan dan rasa malu kita.  Ketika kita datang dengan hati yang terbuka, Tuhan selalu siap menerima dan menyembuhkan. Persoalan kita bukanlah besar atau kecilnya kesalahan yang kita bawa, melainkan apakah kita berani membuka diri untuk menerima kasih dan pengampunan-Nya. Saudaraku, bagaimana kita bisa menerapkan kisah ini dalam hidup kita? Pertama, kita diajak untuk datang kepada Tuhan tanpa topeng. Saat kita mencoba menyembunyikan dosa atau kelemahan, kita sebenarnya menjauhkan diri dari kasih-Nya yang memulihkan. Membuka hati adalah langkah pertama menuju kesembuhan dan pengampunan sejati. Kita harus percaya bahwa Tuhan menerima kita apa adanya. Kedua, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang lain. Sering kali, kita mudah menilai seseorang berdasarkan masa lalunya, seperti orang-orang yang menatap sinis perempuan dalam kisah ini. Namun, Yesus mengajarkan bahwa yang paling penting adalah kasih yang sejati, bukan masa lalu atau kesalahan seseorang. Dengan membuka hati untuk menerima dan memaafkan orang lain, kita mencerminkan kasih Tuhan. Ketiga, kita diundang untuk menunjukkan kasih kepada sesama dengan berani, tanpa rasa takut atau malu. Seperti perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak, kita dipanggil untuk mengekspresikan kasih kepada sesama tanpa mengkhawatirkan penilaian orang lain. Tindakan-tindakan sederhana seperti mengulurkan tangan kepada yang terluka atau memberikan dukungan bagi yang terabaikan, adalah cara nyata untuk membawa kasih Tuhan ke dunia ini. Pada akhirnya, kasih yang sejati memang berani melampaui rasa malu. Kita diundang untuk mendekat kepada Tuhan dan sesama dengan hati yang tulus, tanpa takut pada stigma atau penilaian.  Saudaraku, dengan mengikuti jejak perempuan dalam Lukas 7, kita bisa belajar bahwa ketika kita datang kepada Tuhan dengan kasih yang tulus, Tuhan akan menyambut kita dengan penerimaan dan belas kasih yang tak terbatas. Dalam keterbukaan itu, kita menemukan bahwa kasih Tuhan lebih besar dari segala rasa malu kita, dan dalam kasih itu, kita diberi kekuatan untuk mengasihi dunia di sekitar kita. (EBWR)