Mencari Tuhan

MENCARI TUHAN. Mencari Tuhan merupakan sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit. Ketika jalan yang kita tempuh terbentur tembok yang tebal, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.  Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya. Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja. Mengapa kita harus mencari Tuhan? Karena Dia adalah sumber pertolongan sejati. Sementara segala hal yang ada di dunia ini tidak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita. Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan pada  kekayaan, jabatan, pengalaman, kepintaran atau jaringan, semuanya adalah sia-sia.  Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu punya jalan ajaib untuk menolong kita. Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah.  Mari kita akan membaca dan merenungkan Hosea 10:1-15. Sahabat, keadaan yang baik, makmur, sejahtera, penghasilan besar, sehat, kuat, pintar, dan kaya dapat membuat orang melupakan Tuhan. Bacaan kita pada hari ini diawali dengan kehebatan dan kemuliaan Israel. Mereka digambarkan sebagai pohon anggur yang terus bertumbuh bertambah besar. Buah yang dihasilkannya juga banyak oleh karena tanahnya subur. Namun, hati mereka licik. Semakin diberkati, mereka semakin menjauh dari Allah. Kian menjamurnya mezbah dan tugu berhala adalah indikatornya. Perjanjian mereka hanyalah bualan dan sumpah dusta (Ayat 1 dan  4). Maka Hosea mengingatkan bangsa Israel bahwa sudah waktunya untuk mencari Tuhan. Sebab, mereka sudah terlalu banyak berbuat dosa di hadapan Allah. Sekalipun sudah diperingatkan, mereka tetap saja melakukan kefasikan, kecurangan, kebohongan, dan mengandalkan kekuatan sendiri. Padahal, peringatan ini bertujuan agar mereka tidak dihancurkan, diremukkan, dan dilenyapkan. Umat Tuhan digambarkan dengan dua persamaan. Pertama, sebagai anak lembu yang mengirik dan membajak tanah agar menjadi gembur. Kedua, sebagai pemilik tanah yang harus menyisir dan membersihkan tanah agar mudah dituai (Ayat 11). Hal tersebut mengingatkan kita pada Matius 11:29 yang berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Kuk biasanya dipasang pada hewan lembu. Tujuannya agar petani mudah mengendalikan lembu tersebut saat membajak tanah. Artinya, kuk menggiring seekor hewan agar taat pada si pengendali, yaitu petani. Tuhan melatih umat-Nya untuk menjadi taat. Namun, mereka justru merawat kefasikan, yaitu sikap tidak peduli pada perintah Tuhan. Dia mendidik umat-Nya agar jujur, adil, dan tulus. Faktanya, mereka malah terbiasa curang. Tuhan melatih umat agar kelak memanen buah kebenaran. Sebaliknya, mereka justru memanen buah kebohongan dan kepalsuan. Ajakan untuk mencari Tuhan adalah seruan untuk kembali pada maksud dan rencana Tuhan dengan menaati-Nya. Dalam hal ini, jika menabur dengan keadilan dan kasih, kita pun akan menuai kebaikan. Sahabat, dosa menghancurkan semua kemuliaan. Semua kemuliaan yang dibangun dari dosa juga akan bernasib sama. Keduanya bukanlah pilihan bagi kita. Pilihan kita: MENCARI TUHAN.  Pilihan kita hanyalah berjalan dalam kebenaran Tuhan, MENCARI KERAJAAN dan KEBENARAN-NYA!  Hal lainnya Allah tambahkan menurut kehendak-Nya (Matius 6:33). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari Matius 6:33? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita selalu mencari Tuhan! Salah satu caranya adalah dengan membaca dan melakukan firman-Nya. (pg)

KETIKA UANG TAK BERARTI

Saudaraku, ada sebuah film India yang dirilis tahun 2014 dengan judul PK (Peekay = pemabuk) berisi komedi satir tentang “tuhan” yang diciptakan manusia dan permainan uang bagi siapa pun yang menjadi agennya. Ternyata sejak zaman para rasul, keinginan untuk mendapatkan dan mengendalikan Tuhan dengan uang sudah terjadi.  Mari membaca Kisah Para Rasul 8:14-24. Simon dari Samaria tertarik dengan fenomena spiritual baru yang sedang viral saat itu. Karena ia memandang bahwa kuasa yang menyertai para rasul pengikut Yesus adalah kuasa asing jenis baru, maka ia bermaksud “membeli”-nya. Jual dan beli spiritual sepertinya hal yang biasa dilakukan oleh Simon.  Ia menjual kuasa “tuhan” dan orang-orang membelinya dengan uang dan perhatian.  Simon berpikir bahwa “tuhan” yang dilihatnya melalui Petrus dan Yohanes sama saja seperti sehari-harinya, namun Simon gigit jari.  Ia bahkan ditegur keras oleh Petrus karena sikap dan motivasinya.  Simon kaget karena ternyata Tuhan yang diperkenalkan oleh para rasul itu tidak doyan uang.  Petrus bahkan mengatakan, ”Binasalah engkau dengan uangmu itu …” (Ayat 20).  Sangat keras. Pikir Simon, Tuhan macam apa yang tidak tertarik dengan uang?  Setidaknya kalau Tuhan tidak suka, biarlah hamba-hamba-Nya saja yang mengambil uang itu.  Tapi tidak ada kompromi untuk Petrus dan kawan-kawannya.  Integritas mereka menjaga kekudusan Tuhan sehingga Tuhan benar-benar dijunjung tinggi. Praktik spiritual yang melenceng sehingga membuat Tuhan seolah-olah sangat rakus uang dan bisa dibeli bahkan dibujuk dengan segepok uang dan sebongkah berlian sungguh membodohi masyarakat.  Tuhan tidak butuh uang kita, sebanyak bagaimanapun itu.  Tuhan bekerja dengan cara-Nya dan independen dari semua pengaruh manusia.  Penyimpangan terjadi pada ketika agen Tuhan gemar bertransaksi  sehingga memakai nama Tuhan untuk memakmurkan dirinya sendiri.  Pada masa kini ada beberapa oknum yang mencari keuntungan dan bertransaksi dengan nama Tuhan dan pada akhirnya membuat pembusukan pada nama-Nya.  Para nabi selalu menegur sikap seperti ini, misalnya saat Tuhan menegur penguasa Yehuda dengan mengatakan: “Penguasa-penguasa kota memerintah untuk mendapat uang suap, imam-imam mengajar hukum TUHAN untuk gaji, dan nabi-nabi meminta petunjuk dari Allah untuk mendapat uang–lalu mereka semua mengira TUHAN ada di pihak mereka. Mereka berkata, “TUHAN ada di tengah-tengah kita; kita tak akan ditimpa malapetaka.” (Mikha 3:11, BIS).  Saudaaraku, nama Tuhan yang kudus seharusnya dijaga dengan integritas para agen-Nya.  Mari belajar untuk memiliki hati yang tulus dan menjaga diri dari sikap cinta akan uang.  Mari menjaga kekudusan Tuhan dengan hidup dalam ketulusan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Digital Sales Channel

Saudaraku, kemarin saya ikut seminar tentang Digital Sales Channel yang dibawakan oleh seorang Dosen senior dari sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta. Beliau menjelaskan Gen Z, sebutan untuk kelompok generasi yang lahir setelah Generasi Milenial, biasanya dilahirkan antara tahun 1997 hingga 2012, menjadi generasi yang tumbuh bersama teknologi, internet, dan media sosial, sehingga sangat akrab dengan perangkat digital. Berdasarkan riset Gen Z menghabiskan 4 hingga 7 jam per hari di perangkat digital, seperti handphone, tablet, atau komputer, atau dalam satu bulan bisa duduk manis melihat layar handphone sekitar 120 hingga 210 jam per bulan, bahkan lebih. Apa yang sering dilihat Gen Z di perangkat digital? (1) Media Sosial populer: TikTok, Instagram, Snapchat, Twitter (X), dan Facebook, termasuk video-video pendeknya. (2) Streaming Video: YouTube, Netflix, menonton film dan serial drakor/dracin. (3) Gaming: PUBG, Fortnite, Genshin Impact, dll yang ada hadiah atau ranking bagi pesertanya. (4) Lainnya: Belanja online, musik/hiburan, komunikasi dengan grupnya, juga untuk pendidikan atau informasi. Karenanya makin banyak perusahaan dan produsen dari Indonesia dan luar negeri (China) yang berjualan di media online di Indonesia. Ada satu masalah dalam transaksi online yakni adanya produsen atau supplier yang berlaku tidak jujur, seperti mengirimkan barang yang kualitasnya rendah atau tidak sesuai, obat dan makanan yang hampir expired, dan lain-lain, umumnya karena banting-bantingan harga, jadi mengirimkan barang yang kualitasnya rendah. Memang ada platform belanja yang menyediakan fasilitas bisa mengembalikan barang, tapi proses penggantian bisa memakan waktu, apalagi barang yang dibeli dari luar negeri maka hampir mustahil dapat dikembalikan. Dalam hal ini posisi konsumen atau pembeli ada di pihak yang lemah karena sudah membayar dulu ke platform belanja. Yang paling sering yakni pembeli yang kecewa ini membroadcast kekecewaannya di medsos, sering bahkan menjadi viral dan didukung netizen lain secara asal-asalan, tapi dia juga bisa menghadapi risiko tuntutan hukum dari pihak penjual. Saudaraku, Pak Dosen yang membawakan seminar menyoroti pentingnya etika bisnis yang mesti digalang dalam digital sales, yakni produsen atau penjual harus menjunjung tinggi etika bisnis yang tinggi dalam berjualan, seperti tidak menipu, menjual barang yang berkualitas/belum expired, tidak mencuri timbangan atau kuantitas, mengirim tepat waktu, dan lainnya, intinya harus bisa dipercaya. Etika bisnis diperlukan terutama karena di Indonesia belum adanya undang-undang yang mengatur perlindungan konsumen, jadi produsen atau penjual diharapkan tidak memiliki niatan jahat dalam berbisnis. Saudaraku, Alkitab mengajarkan agar pengikut Kristus dapat menjalani hidup sebagai orang yang dapat dipercaya karena dia akan mendapatkan banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya (karena tidak jujur dalam bisnis) tidak akan luput dari hukuman  (Amsal 28:20). Terlebih lagi bila kita memegang suatu pelayanan atau aktif di gereja, mengaku hamba-hamba Kristus, yang kepada diri kita telah dipercayakan rahasia Allah tentang penebusan Kristus, yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercaya (1 Korintus 4:1-2) Jadi dalam berbisnis kita bukan saja bertanggungjawab kepada konsumen, tapi kita juga mengamalkan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui apa yang kita kerjakan bisa menunjukkan perilaku sebagai orang percaya yang memiliki etika bisnis sesuai ajaran Alkitab. Akhirnya konsumen dari berbagai kalangan akan dapat membedakan mana produsen atau penjual yang dapat dipercaya, atau sebaliknya siapa-siapa saja yang memiliki niatan tidak baik dalam dalam berbisnis dan mungkin akan diviralkan agar tidak mendapatkan konsumen lagi.  Saudaraku, kiranya kita dalam berbisnis, bekerja, berumah tangga, dapat menjadi orang-orang yang dapat dipercaya karena Kristus telah menebus dosa-dosa kita, dan kita perlu menunjukkan indentitas kristiani kepada lingkungan sekitar. (Surhert).

Nyanyikanlah Kemenangan Setiap Hari

NYANYIAN. Sahabat,  nyanyian adalah sesuatu yang biasa kita jumpai dalam keseharian. Pada umumnya, musik dan liriknya menggambarkan isi hati sang penggubah lagu. Selalu ada maksud yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut. Demikian juga dengan nyanyian kepada Tuhan; orang-orang yang mengasihi-Nya memiliki tujuan memuliakan-Nya. Nyanyian rohani atau puji-pujian dapat menjadi sebuah ungkapan syukur dan pernyataan iman kita kepada Tuhan. Nyanyian  juga merupakan bagian penting dalam kehidupan rohani kita. Nyanyian kepada Tuhan mampu menolong kita mengarahkan perhatian kepada-Nya. Nyanyian dapat menolong kita untuk mengungkapkan rasa syukur ketika mengalami pertolongan Tuhan. Lewat nyanyian, kita bisa mengeluarkan perasaan tertekan dan kesedihan kita kepada Tuhan. Dengan memuji Tuhan, kita bisa menghadapi kekhawatiran dan merasakan damai sejahtera. Apa pun yang sedang kita alami dalam hidup ini, baik sukacita maupun tekanan berat, memuji Tuhan akan menolong kita untuk membangkitkan pola pikir dan sikap hidup yang lebih positif. Mari kita membaca dan merenungkan Hakim-Hakim 5:1-31. Sahabat, nyanyian  merupakan bagian yang sangat dihargai dalam budaya Israel dari dahulu hingga sekarang. Hal tersebut terlihat dari gubahan nyanyian Debora dalam bacaan kita pada hari ini. Nyanyian Debora tersebut dicipta sesudah kemenangan Israel atas Kanaan. Bagian tersebut merupakan pujian yang menceritakan tentang kemenangan Israel yang dicatat pada pasal 4. Nyanyian tersebut  merupakan pernyataan bahwa Tuhan itu Mahabesar dan Mahakuasa sehingga layak dipuji, dimuliakan, dan ditinggikan. Nyanyian itu merupakan pengakuan bahwa hanya perbuatan tangan-Nyalah yang memampukan Israel mengalahkan musuh. Nyanyian itu sekaligus menjadi pengingat bagi Israel. Ketika mengasihi Tuhan dan bergantung kepada-Nya, mereka pasti akan mengalahkan musuh yang mengancam (Ayat 31). Sahabat, bagi orang percaya, nyanyian kemenangan dan sukacitalah yang harus keluar dari mulut di segala keadaan, bukan nyanyian cengeng tanda frustasi, kecewa dan gagal.  Biarlah setiap nyanyian dan pujian kita selalu menjadi tanda kemenangan atas setiap pergumulan hidup kita, tanda kita mengimani janji-janji Tuhan.  Dalam bacaan kita,  Debora sedang menyanyikan nyanyian kemenangan bagi bangsa Israel, nyanyian yang bermuatan iman yang membuat musuh gemetar dan lari tunggang langgang;  nyanyian pengagungan yang menyenangkan hati Tuhan, yang menggerakkan tangan-Nya untuk bertindak:  “Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang, karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN! … Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya.”  (Ayat 2 dan 31).  Hal itu menunjukkan bahwa Debora sangat percaya akan kuasa Tuhan!  Ia berkeyakinan jika Tuhan ada di pihak bangsa Israel, siapa yang dapat melawannya?  Bangsa manakah yang dapat menahan dan menghentikan keperkasaan Tuhan? Sahabat, nyanyian kemenangan seperti itulah yang dapat menghasilkan mukjizat, sebab Tuhan bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya  (Mazmur 22:4).  Bila Tuhan sendiri yang bertakhta di atas pujian yang kita naikkan, maka sesuatu yang dahsyat pasti terjadi:  Kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan berkat-berkat-Nya dinyatakan atas kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15-17? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “… Engkaulah yang memberi kami kemenangan terhadap para lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami Kauberi malu.”  (Mazmur 44:8). (pg).

Jangan Jadi Orang Bebal

ORANG BEBAL. Siapa yang mau disebut atau dijuluki sebagai orang bebal?  Saya yakin hampir tidak ada  orang yang mau. Kemungkinan besar ia akan marah besar dan tersinggung bila dikatakan sebagai orang bebal, sebab berbicara tentang orang bebal selalu mengacu kepada orang yang sepertinya tidak dapat berubah lagi hidupnya, hatinya sangat keras  (membatu)  karena tidak mau menerima nasihat dan teguran.  Sahabat, orang bebal adalah orang yang tidak mau dan sulit menerima nasihat dan teguran dari firman Tuhan atau pun dari sesamanya.  Ia selalu merasa diri sebagai orang yang benar dan tidak pernah melakukan suatu kesalahan, karena itu ia mencari berbagai alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri dan merasa tidak perlu dinasihati dan diajar oleh orang lain.  Ia menganggap yang harus berubah itu orang lain, bukan dirinya.  Orang bebal adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sehingga ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak pernah disadari atau pura-pura tidak sadar.  Pengamsal menyatakan,  “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.”  (Amsal 26:11). Mari kita membaca dan merenungkan Hosea 7:3-16. Sahabat, sungguh mengesalkan ketika harus berhadapan dengan orang yang tidak pernah mau mengindahkan teguran. Menghadapi orang seperti itu bisa-bisa kita kehabisan kesabaran hingga harus marah. Orang Bebal! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Israel dalam bacaan kita pada hari ini. Mereka diumpamakan seperti merpati tolol dan tidak berakal (Ayat 11). Mengapa? Kitab 2 Raja-raja 15-17 menuliskan bahwa para raja Israel berafiliasi dengan bangsa-bangsa sekitarnya untuk menjaga stabilitas politik. Menahem membayar upeti ke Asyur agar tidak diserang. Pekah, karena tidak mau membayar upeti, diserang sehingga kehilangan setengah kerajaannya. Hosea, raja terakhir, semula takluk kepada Asyur tetapi berafiliasi ke Mesir. Akhirnya, Asyur menaklukkan kerajaan Israel seluruhnya. Sesungguhnya, kebodohan mereka adalah “tidak ada seorang di antara mereka yang berseru kepada Tuhan” (Ayat 7). Mereka congkak karena percaya pada pengertian sendiri (Ayat 10; bdk. Amsal 20:28). Satu-satunya jalan keselamatan mereka ada pada Allah. Namun, bukannya mencari Allah dan berbalik kepada-Nya, mereka justru menjauh dari-Nya. Mereka memberontak dan berdusta kepada Allah. Mereka benar-benar tidak berpengetahuan. Mereka tidak tahu bahwa Allah mau menebus mereka. Mereka bahkan berdusta terhadap Allah. Alhasil, mereka hancur dalam kebodohan. Semua pemimpin agama dan politik tewas karena ucapan mereka yang kasar. Karena kekalahan itu, mereka menjadi bahan olok-olok di Mesir. Dari pihak Allah, Dialah yang mengendalikan setiap peristiwa, termasuk kekalahan Israel. Kehancuran ini adalah bentuk hukuman-Nya atas ketidaksetiaan Israel terhadap perjanjian dengan Allah. Sekalipun Allah sudah menegur, mereka tetap mengeraskan hati. Sahabat, apa yang terjadi pada Israel memberi kita pelajaran untuk tidak menjadi orang bebal. Mengandalkan apa pun yang bukan Allah adalah kejahatan di mata-Nya. Itu akan menghancurkan kita juga. Percayalah kepada Allah yang berdaulat melakukan segala sesuatu dan dengarkanlah setiap teguran-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang orang bebal? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dosa tidak bisa ditutupi dengan perbuatan baik bagaimanapun. Dosa harus dibereskan; tidak ada dosa seberat apa pun yang tidak diampuni Allah bila kita datang kepada Allah dan minta ampun. (pg).

DIHANCURKAN OLEH KEMARAHAN

Saudaraku, kemarahan bagaikan api yang akan berguna jika dikuasai namun akan menghancurkan saat itu tak terkendali.  Sejarah gereja menunjukkan bahwa kemarahan sungguh membuat manusia serohani bagaimanapun akan menjadi monster yang sangat mengerikan saat ia dikuasai oleh kemarahan. Mari membaca dan merenungkan Kisah Para Rasul 8:54-60 Stefanus sempat menyampaikan pembelaan diri di depan Mahkamah Agama, orang-orang yang rohani dan berilmu teologi yang mantap.  Namun tak ada seorang pun yang mau ditegur dalam situasi sepanas itu, apalagi oleh seorang seperti Stefanus dan akibatnya sangat fatal dan brutal bagi Stefanus.  Orang-orang Yahudi yang sudah memiliki kebencian dengan pengikut Jalan Tuhan, kalah berdebat dengan Stefanus dan dikorek sejarah kelam mereka terhadap para nabi membuat mereka meledak dalam marah.  Ekspresi mereka digambarkan dengan beberapa kata: Tertusuk hati, mengertakkan gigi, berteriak-teriak dan menutup telinga.  Semua menunjukkan intensitas kemarahan yang makin memuncak dan pada akhirnya mereka mengakhiri dengan menyeret Stefanus ke luar kota dan melemparinya dengan batu. Itu hanya awal dari rentetan kekejaman kepada sesama yang berbeda keyakinan dengan mereka selama berabad-abad.  Semua ini menunjukkan bagaimana dahsyatnya kemarahan yang dipupuk dengan kebencian dan dibiarkan berkembang tanpa kendali.  Tuhan memberikan mekanisme marah dalam diri manusia untuk pertahanan diri saat mereka menghadapi ancaman dari luar.  Rasa marah membuat manusia mampu membuat koreksi terhadap diri sendiri dan keadaan yang sudah mulai memburuk dan tak bisa ditoleransi.  Namun kemarahan yang tak terkendali akan membuat manusia kehilangan kontrol diri dan menghancurkan obyek yang membuatnya terancam dan mengoyak kedamaian.  Kemarahan adalah mekanisme yang harus diwaspadai saat ia muncul sebagai bentuk pembelaan diri.  Rasul Yakobus mengatakan : Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar tatapi lambat untuk berkata-kata  dan juga lambat untuk marah sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yakobus 1:19-20).  Di dunia yang makin cepat dan dinamis, manusia berhadapan dengan rasa tidak aman yang intensitasnya makin tinggi sehingga membuat  banyak manusia yang marah dan tak mampu menguasai diri sehingga menghilangkan nyawa orang terdekat, mencelakai orang yang tak bersalah hingga membuat masa depannya sendiri hancur berantakan karena berurusan dengan hukum.  Saudaraku, sebagai orang yang percaya kepada Kristus, mari belajar untuk meminta hikmat dan penguasaan diri setiap saat sehingga mampu mengendalikan diri saat rasa marah menguasai hati dan pikiran.  Kuasai diri dan tenanglah agar kita bisa berdoa (1 Petrus 4:17)  karena doa memberi efek damai bagi mereka yang gundah dan marah. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

Serving God and Fellows

MAZMUR 45. Sahabat, sesuai judul yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Mazmur 45 merupakan nyanyian yang disampaikan oleh bani Korah pada waktu pernikahan raja. Uniknya, bani Korah menyatakan nyanyian ini bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran. Bahkan nyanyian pengajaran ditempatkan terlebih dahulu sebelum penyebutan nyanyian kasih. Bukankah nyanyian pada waktu pernikahan lebih pantas disebutnyanyian kasih? Tetapi, mengapa bani Korah juga menyebutnya sebagai nyanyian pengajaran? Sesungguhnya Mazmur 43 selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya (Ayat 3, 4, 10, 11, 12), nyanyian ini juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan (Ayat 5, 7, 8), melebihi keelokan fisik semata. Selain itu, mazmur ini juga mengajarkan betapa pentingnya ketundukkan dan hormat dari sang mempelai perempuan kepada raja karena ia adalah tuannya (Ayat 12). Tindakan mempelai laki-laki yang didasarkan pada kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan, direspons dengan hormat dan ketundukkan dari mempelai wanita. Konsep yang sama juga dapat kita temukan di dalam surat-surat Paulus, khususnya surat Efesus 5:21-33 dan Kolose 3:18-19. Sahabat, sangat menarik, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam surat Ibrani 1:8-9, penulis Ibrani mengutip bagian mazmur ini (Ayat 7-8) untuk merujuk kepada pribadi Yesus Kristus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata:…” (Ibrani 1:8a). Ini artinya, mazmur ini bukan sekadar mazmur yang dinyanyikan dalam rangka pernikahan raja, tetapi juga merupakan mazmur mesianik yang menggambarkan tentang keagungan pribadi dan relasi Yesus Kristus dengan gereja-Nya. Yesus yang di dalam kebenaran dan keadilan telah menunjukkan kasih-Nya bagi kita yang adalah gereja-Nya dan umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada-Nya di sepanjang hidup kita. Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Serving God and Fellows (Melayani Tuhan dan Sesama). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 45:1-18. Sahabat, renungan ini saya tulis khususnya dalam rangka menyongsong Pilkada yang akan berlangsung pada tanggal 27 November 2024. Tugas dan kewajiban seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Seseorang perlu mempersiapkan diri dengan berbagai kualitas tertentu agar layak menjalankan perannya sebagai pemimpin. Belum lagi jika kita berbicara mengenai harapan orang-orang yang dipimpin terhadap pemimpinnya. Semua ini menjadikan peran seorang pemimpin tidak bisa dipandang sebelah mata. Kiranya demikianlah gambaran dari bacaan kita pada hari ini. Mazmur 45 berisi sebuah harapan tentang gambaran ideal seorang pemimpin (Raja). Pemazmur melukiskan Raja sebagai sosok yang elok serta bersahaja. Namun di sisi lain, ia adalah pejuang gagah berani yang siap membela kerajaannya (Ayat 3-4). Pemimpin dalam gambaran penulis mazmur adalah sosok yang mencintai kebajikan serta keadilan. Itu semua diarahkan untuk menuntunnya ke dalam perjuangan untuk menegakkan kemanusiaan (Ayat 4-5). Semua pemimpin dalam mazmur atau bagian lain di dalam Alkitab merupakan sosok manusia biasa. Kekuasaannya tidak datang dari diri mereka sendiri. Sumbernya berasal dari Tuhan. Allah memberikan kepercayaan kepada seseorang agar ia dapat memimpin dengan bijaksana, adil, benar, dan membawa manfaat positif bagi rakyatnya. Karena itu, seorang pemimpin adalah orang yang dekat dengan Allah. Sebab, Ia adalah Sang Pemberi mandat untuk memimpin. Sahabat, sering kali, perasaan kita mengatakan bahwa kepemimpinan adalah soal diri, organisasi, dan kumpulan orang. Namun melalui bacaan kita pada hari ini, kita diingatkan tentang dua prinsip penting dalam kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan adalah soal perjuangan menegakkan kebajikan serta keadilan. Kedua, pemimpin juga seseorang yang selalu dekat dengan Allah, Sang Pemberi Mandat. Akhirnya, menjadi pemimpin bukan lagi soal pemuasan hasrat, melainkan PELAYAN BAGI TUHAN DAN SESAMA. Pemimpin itu MELAYANI TUHAN dan SESAMA.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan renungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang:  Berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat. (pg).

Tautan yang Tak Terputus

Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan  Yohanes 15:5. Pernahkah Saudara kehilangan sinyal internet di saat yang paling krusial? Bayangkan,Saudara sedang mengikuti rapat penting, memesan transportasi online, atau mencari informasi mendesak, dan tiba-tiba koneksi terputus. Rasa frustrasi yang muncul terasa begitu nyata. Di dunia modern ini, sinyal internet menjadi penghubung vital yang memungkinkan banyak hal berjalan. Tanpanya, perangkat paling canggih pun menjadi tak berguna. Kehilangan sinyal ini mengingatkan kita pada kehidupan rohani. Relasi kita dengan Tuhan sering kali seperti jaringan internet: Ada kalanya stabil, namun ada pula saat-saat di mana koneksi terasa lemah atau bahkan terputus. Yesus menggambarkan hubungan ini melalui perumpamaan pokok anggur dan ranting dalam Yohanes 15:5: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yesus adalah pokok anggur, sumber kehidupan sejati. Seperti ranting yang hanya bisa hidup dan berbuah jika tetap terhubung dengan pokoknya, kita membutuhkan hubungan yang erat dengan Tuhan agar hidup kita berbuah. Namun, tidak jarang kita seperti ranting yang ingin hidup sendiri, mencoba melepaskan diri dari pokoknya dengan berbagai alasan: Kesibukan, kelelahan, atau merasa cukup mampu mengandalkan kekuatan sendiri. Akibatnya, kita mulai merasakan kekeringan rohani. Ketika “sinyal” dengan Tuhan melemah, gejalanya segera terasa. Kehidupan doa mulai terasa hambar, ibadah menjadi sekadar rutinitas, dan membaca Firman Tuhan kehilangan daya tariknya. Keputusan-keputusan besar diambil tanpa meminta hikmat dari Tuhan, sering kali berujung pada kebingungan dan kekeliruan. Tidak hanya itu, BUAH-BUAH ROHANI  yang seharusnya menjadi ciri khas hidup orang percaya: Kasih, sukacita, damai sejahtera, perlahan MEMUDAR. Kita menjadi seperti ranting yang kering, kehilangan kemampuan untuk menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan. Namun, kabar baiknya, Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu menanti kita untuk kembali tersambung kepada-Nya. Yesus berkata, “Tinggal di dalam Aku.” Tinggal di sini bukan sekadar hadir secara pasif, melainkan hidup dalam hubungan yang intim, penuh kesadaran, dan terus-menerus dengan Tuhan. Sama seperti perangkat elektronik yang perlu terus terhubung ke jaringan untuk dapat berfungsi, kita juga perlu memastikan koneksi kita dengan Yesus tetap terjaga. Koneksi ini dapat diperbarui melalui doa, yang menjadi jalur komunikasi langsung antara kita dan Tuhan. Dalam doa, kita tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar suara-Nya, mencurahkan isi hati, dan membangun kedekatan. Selain itu, Firman Tuhan adalah sumber kekuatan yang mengalir dari pokok anggur kepada kita. Dengan merenungkan Firman, kita mendapatkan nutrisi rohani yang diperlukan untuk bertumbuh dan berbuah. Saudaraku, komunitas iman juga menjadi sarana penting untuk menjaga koneksi ini tetap kuat. Dalam persekutuan yang sehat, kita saling mengingatkan, menguatkan, dan mendukung untuk tetap terhubung dengan Yesus. Bersama-sama, kita menjadi ranting-ranting yang menghasilkan buah, saling melengkapi dalam tubuh Kristus. Ketika koneksi dengan Yesus terhubung kembali, hidup kita mulai menunjukkan perubahan. Sukacita, kasih, dan damai sejahtera kembali terpancar. Hidup yang sebelumnya terasa hampa menjadi bermakna. Dalam hubungan yang erat dengan Yesus, kita bukan hanya menemukan kehidupan, tetapi juga menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan dan membawa berkat bagi sesama. Kehilangan sinyal internet mungkin membuat kita sadar betapa pentingnya koneksi dalam kehidupan sehari-hari. Kehilangan koneksi dengan Tuhan jauh lebih berdampak besar, karena kita kehilangan SUMBER KEKUATAN SEJATI.  Namun, Tuhan tidak pernah menutup akses kepada-Nya. Dia terus menanti kita untuk kembali tinggal di dalam-Nya, menjadikan Dia pusat kehidupan kita. Saudaraku, TAUTAN  dengan TUHAN adalah hubungan yang dirancang untuk TIDAK TERPUTUS.  Jika Saudara merasa sinyal spiritualmu mulai melemah atau bahkan hilang, sekaranglah waktunya untuk menyambung kembali. Pastikan koneksi Saudara  dengan Sang Pokok Anggur TETAP TERHUBUNG,  agar hidup Saudara BERBUAH BANYAK  dan memuliakan nama-Nya. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, di dalam Dia, kita menemukan kehidupan yang sejati. Apakah Saudara sudah memastikan KONEKSIMU hari ini? (EBWR)

Menjadi Lengah

LENGAH. Sahabat, Bruce Lee, aktor laga terkenal dari Hong Kong era 1960-1970-an, pernah berkata demikian, ”Jangan pernah memalingkan matamu dari lawan, bahkan pada saat kamu dalam posisi menunduk!” Saat bertarung, lawan adalah fokus sasaran kita. Sekali saja kita lengah, ia akan dapat menjatuhkan kita dengan kekuatan yang mungkin tak pernah kita perkirakan. Sekalipun kita terpaksa harus menundukkan  kepala, seperti kata Lee, pandangan kita harus tetap terarah pada lawan.. Pernahkah Sahabat menyesal karena menjadi lengah? Misalnya saja, ketika sedang berjalan, kamu tidak memerhatikan jalan yang kamu lalui karena asyik melihat dan bermain dengan HP, maka kamu sangat terkejut ketika kamu tiba-tiba terperosok masuk ke lubang selokan yang ada di jalan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita juga lengah dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Misalnya saja, menjelang bulan Desember biasanya kegiatan gereja dan jadwal pelayanan kita naik drastis, kemudian kita menjadi kelelahan, akibatnya kita sering tidak melakukan saat teduh pribadi. Jadwal saat teduh kita sering terlewatkan begitu saja.  kita lupa bersaat teduh ketika sedang sibuk atau kelelahan. Kita lupa untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan merenungkan Firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lengah dalam menjaga dan menyertai kita, namun sebaliknya kita kadangkala lengah karena kesibukan dan kelelahan kita. Lengah juga dapat muncul dalam bentuk kesombongan rohani. Kadangkala kita juga lupa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan atau suatu perjalanan. Kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Akibatnya, kita lupa menyerahkan persoalan yang akan kita hadapi kepada Tuhan. Sahabat, kita dapat menjadi lengah setiap saat, oleh karena itu kita harus selalu  berhati-hati dan waspada, jangan lengah. Rasul Paulus mengingatkan:  “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Seringkali, kita merasa bahwa kita cukup aman sehingga kita lengah untuk terus intim dengan Tuhan. Kita perlu terus terjaga, karena di dunia ini penuh dengan tipu muslihat dan aneka jebakan. Mari kita membaca dan merenungkan 1 Raja-raja 13:1-34 dengan berfokus pada ayat 18. Sahabat, ketaatan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus terus dilakukan selama orang percaya menjalani kehidupan di dunia. Selama manusia hidup khususnya bagi orang percaya, iblis akan terus mencobai supaya orang percaya tidak taat kepada Allah. Kita tidak tahu pasti, mengapa abdi Allah dari Yehuda yang bersikukuh tidak mau dijamu Yerobeam, ternyata hatinya luluh dan menerima tawaran makan dan minum dari nabi tua yang tinggal di Betel. Seorang nabi Yehuda yang Allah utus untuk menyampaikan pesan kepada Yerobeam jatuh dalam ketidaktaatan. Setelah beberapa kali dicobai, akhirnya karena kelengahannya, ia jatuh juga dalam ketidaktaatan yaitu melanggar perintah Allah. Iblis memakai teman sejawatnya, seorang nabi juga untuk menyampaikan pesan Tuhan kepadanya. Suatu pesan bohong atau tidak benar. Karena kelengahannya yaitu percaya kepada teman sejawatnya, tanpa mengecek kebenaran pesan tersebut, nabi Yehuda mati diterkam singa (Ayat 24). Jangan lengah dan ujilah setiap pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan berasal dari Tuhan. Sekalipun yang menyampaikan seorang yang kita kenal dan mengatasnamakan Tuhan. Iblis tidak pernah berhenti mencobai kita. Keintiman dan kedekatan dengan Tuhan akan membuat kita tahu dan peka dengan suara dan pesan Tuhan. Waspadalah! Waspadalah! JANGAN MENJADI LENGAH! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mukjizat terbesar Allah bagi kita ialah dengan mengubah para pendosa yang pantas dibinasakan menjadi anak-anak-Nya yang terkasih. (pg).

Selalu Ada Jalan

TANTANGAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantangan berarti: Ajakan berkelahi (berperang dan sebagainya); Hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; Rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya); Hal atau objek yang perlu ditanggulangi. Pada sebagian orang sering menganggap tantangan adalah sesuatu yang membuat sulit, kadang menghambat sesuatu yang ingin kita capai. Tapi sebenarnya kalau kita mau melihat dari sisi yang agak berbeda dari pemahaman tersebut, sebenarnya tantangan merupakan bahan bakar yang sangat dahsyat dalam pencapaian sesuatu tujuan. Sahabat, sesungguhnya tantangan akan menggairahkanmu, memberimu arah, dan membangkitkan yang terbaik dalam dirimu. Tantangan akan mendorong Sahabat untuk mempelajari keterampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan memotivasimu  untuk memberi hasil terbaik dari dirimu. Pernahkah Sahabat perhatikan atau sadari, bahwa saat kamu memiliki sedemikian banyak tugas yang harus dikerjakan, kamu justru memiliki lebih banyak energi untuk menyelesaikan apa yang semestinya harus selesai dikerjakan. Tapi sebaliknya saat sedikit hal yang perlu dikerjakan, ternyata lebih sedikit lagi hal yang selesai dikerjakan. Usahamu akan meningkat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus dikerjakan. Tantangan mendorong hasil kerjamu. Tantangan tidak muncul untuk menarik kamu ke bawah, tapi tantangan ada untuk mendorong Sahabat ke atas, sehingga menghasilkan hal yang terbaik dalam pencapaian target. Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 10:1-43. Sahabat, catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotis dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja. Sejarah orang Israel membuktikan hal tersebut . Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (Ayat 3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (Ayat 6). Tantangan ada di depan mata Yosua.  Dia tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (Ayat 7). Sahabat, Yosua menyambut tantangan yang ada. Dia maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (Ayat 8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (Ayat 11). Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (Ayat 12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (Ayat 25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (Ayat 42). Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. SELALU ADA JALAN. Sahabat, hari ini kita kita diingatkan untuk TIDAK ALERGI  terhadap TANTANGAN. Permufakatan jahat yang didorong Iblis mungkin saja dibuat orang untuk menghambat pekerjaan Allah melalui kita. Namun keberanian untuk mengandalkan dan mengimani kuasa Tuhan yang tidak dapat dilawan kuasa dunia ini akan membuktikan bahwa kita adalah pemenang, bukan pecundang. Yakinkah, selalu ada jalan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami tentang tantangan? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan  selalu hadir dengan cara yang tak terduga. (pg).