God as Life Priority

PENGANTAR KITAB HAGAI. Sahabat, kitab Hagai merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen.  Kitab Hagai 1:1 menyatakan nabi Hagai sebagai penulis kitab ini. Hagai seorang nabi Yahudi pada masa sesaat setelah kembali dari pembuangan ke Babel, tepatnya pada akhir abad ke-6 SM saat Yudea baru saja menjadi provinsi di   bawah Kekaisaran Persia. Nama Hagai sendiri merupakan serapan dari Ibrani: חַגַּי (Khaggai), yang merupakan bentuk jamak dari kata חַג (khag) yang berarti perayaan, festival, atau hari pesta. Kitab Hagai diperkirakan dituliskan sekitar tahun 520 SM. Kitab ini berlatar ketika orang Israel telah kembali dari pembuangan di Babel. Akan tetapi, meskipun mereka telah tinggal beberapa tahun di Yerusalem, Rumah Tuhan (Bait Allah) masih saja merupakan puing-puing. Dalam pesan-pesan itu, Allah mendesak para pemimpin bangsa Israel untuk membangun kembali Rumah Tuhan. Tuhan juga berjanji akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada umat Israel yang telah diperbaharui dan disucikan.  Hagai mencoba menegur umat Allah mengenai prioritas hidup mereka. Ia mengajak mereka untuk menghormati dan memuliakan Allah dengan membangun Bait di tengah-tengah kesulitan yang ada.Hagai mengingatkan mereka supaya tidak berkecil hati meskipun Bait ini tidak seindah waktu zaman Salomo dulu. Ia mendesak mereka untuk meninggalkan kenajisan dan percaya pada kuasa Allah yang berdaulat. Kitab Hagai menyatakan berbagai masalah yang dihadapi umat Allah, dan meminta mereka tetap percaya kepada Allah. Bagaimana pun, Allah akan memenuhi kebutuhan mereka.Ayat Kunci: Hagai 1:4, “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Hagai dengan topik: “God as Life Priority (Allah sebagai Prioritas Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari Hagai 1:1-14. Sahabat, mengapa sebagian orang lebih memilih bekerja daripada bersekutu di gereja? Mengapa pula sebagian orang selalu hadir dalam ibadah dan meninggalkan pekerjaannya? Mengapa orangtua yang tidak memiliki banyak uang dapat membelikan laptop untuk anaknya ketika hal itu menjadi kebutuhan mendesak bagi sang anak? Jawabnya:PRIORITAS!Sahabat, tahun 538 SM, sekitar 50.000 orang Yahudi kembali ke negeri asal mereka dari pembuangan ke Babel. Mereka hendak membangun kembali Bait Suci dan memulihkan bangsanya. Mereka mulai meletakkan dasar pembangunan Bait Suci pada tahun 536 SM. Namun kesulitan yang mereka hadapi tak kunjung habis. Karena itu mereka menganggap saatnya tidak tepat untuk membangun rumah Allah. Orang Yahudi lebih sibuk dengan kepentingan sendiri. Rumah mereka dipapani dengan kayu aras sementara Bait Suci dibiarkan menjadi reruntuhan. Beruntung karena firman yang disampaikan Allah melalui nabi Hagai menyadarkan pemimpin bangsa dan umat. Mereka pun membangun kembali Bait Suci.Sahabat, banyak orang tidak pernah mau mengorbankan waktu bagi pekerjaan Tuhan, tetapi selalu ada waktu untuk melakukan banyak hal bagi diri sendiri. Semua ini terjadi karena PRIORITAS HIDUP  mereka mengarah pada keegoisan diri. Faktanya, segala sesuatu yang sulit dapat diusahakan ketika hal itu memang diprioritaskan. Jika kita senantiasa mendengar kebenaran Firman Tuhan dan menanggapinya dalam tuntunan Roh, semestinya kita memiliki ketetapan hati: Mengutamakan ALLAH, Sang Sumber Berkat, SEBAGAI PRIORITAS HIDUP.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Prioritas kita menunjukkan kecenderungan arah hati kita. (pg).

DIPERLIHATKAN SATELIT

Saudaraku, aku pernah duduk di pesawat dari Dubai ke London bersebelahan dengan seorang tentara US, pakai seragam militer tanpa pangkat dan tetap pakai sepatu boot. Orangnya ganteng tapi pendiam tidak mau menyebutkan nama. Aku coba tanya kepadanya: “Dari mana dan mau kemana?”  Singkat saja jawabnya: “Dalam perjalanan pulang dari Afganistan, lewat Irak, ke Dubai, terus ke London, menuju Houston dan masih naik bus lagi ke rumahnya.” “Mengapa tidak membawa tas atau apa pun?”  Dia menunjukkan bandul kalungnya warna gelap. “Tidak membawa uang?” Dia menjawab: “No, cukup tunjukkan kalung itu ke setiap bandara dan imigrasi, sudah cukup. Juga kalau mau makan tinggal tunjukkan kalung dan diproses oleh restoran”. Saudaraku, kalau baca di Google kalung tersebut disebut “Dog Tags” berisi data: Nama, tanggal lahir, golongan darah, agama, kesatuan dan mungkin ada sesuatu RFID (Radio Frequency Identification)  yang hanya bisa dibaca di seluruh airport dan imigrasi, jadi bisa menggantikan paspor, atau mungkin juga di dalamnya ada e-money, entahlah. Nah, karena sering meihat film James Bond, aku tanya lagi: “Katanya kalau bertepatan sedang maju perang ada alat pelacak atau perangkat kira-kira sebesar kaleng Coca-cola kecil yang dimasukkan ke belakang kerah baju.” Lalu dia tunjukkan bajunya, benar di bawah kerah ada satu kantong sekitar 20 cm tempat memasukkan alat pelacak pribadi.  Tanyaku lebih lanjut: “Mengapa ditaruh di belakang kerah baju?” Dia menjawab: “Ya saat bertempur, tiarap, perangkat ini tetap memancarkan sinyal dan dideteksi oleh (beberapa) satelit yang terbang di langit kelam sekitar 25-30 km di atas bumi. Posisi tentara bisa diikuti, masuk ke gua atau bangunan atau   perlindungan mana pun, bahkan kalau terjun ke air tetap bisa dideteksi.” Saudaraku, perangkat tersebut dikhususkan untuk militer. Dalam kehidupan sehari-hari banyak dijual perangkat pelacak pengawasan  untuk mengawasi rumah, truk atau mobil, taksi, pengiriman barang,  dan lain-lain yang bisa dilihat atau diikuti dari handphone. Bahkan handphonemu   selalu berkomunikasi melalui sinyal provider dan sebenarnya posisimu  juga dilaporkan dan dicatat oleh provider.  Saudara pasti ngomel kalau sinyal lemah atau tidak ada sinyal, padahal saat sinyal ada maka posisi pelacak otomatis dikirimkan oleh handphone, apalagi kalau pakai handphone yang kelas menengah ke atas dan mendaftar di salah satu apps medsos datamu juga ikut direkam. Saudara menolak diawasi, ya tidak mungkin lagi. Nah, kalau orang di pedalaman yang tidak punya handphone apakah bisa dilacak? Bisa, bahkan dilacak langsung dari surga oleh Tuhan Allah. Coba perhatikan peringatan dari Pengamsal: ”Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” (Amsal 15:3). Seringkali banyak orang berkamuflase menghiasi hidupnya dengan berbagai bentuk kemunafikan.  Mereka sedemikian rupa menutup rapat-rapat  kebusukan  hidupnya dengan penampilan luarnya:  Tutur kata halus, sikap ramah dan tindak tanduk yang tampak rohani, padahal kehidupan yang dijalani sesungguhnya adalah suatu kehidupan gelap yang penuh liku-liku.   Mereka menyembunyikan  belangnya di hadapan manusia dengan berbagai trik, namun mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang tak berkedip mengawasi setiap gerak-gerik hidupnya tanpa ada yang terlewatkan. Saudaraku, walaupun tidak ada Bapak Gembala Jemaat, Pastur, Pemimpin Rohani atau orang lain yang tahu, kita harus menjaga hidup agar tetap berkenan kepada Tuhan.  Jangan sampai kita memakai  kedok  apa pun!   Sadarlah dan ingatlah bahwa  tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab  (Ibrani 4:13). (Surhert). 

TABIR TERBELAH

Tuhan Allah menetapkan Harun dan suku Lewi dikhususkan untuk mengurus Kemah Suci (Bilangan 17-18), dan setelah orang Israel masuk ke Tanah Kanaan, orang Lewi tidak mendapatkan jatah tanah, melainkan tempat tinggalnya disebarkan ke seluruh 12 suku, dengan maksud orang Lewi dapat memimpin ibadah orang-orang Israel secara turun temurun. Jadi jabatan orang Lewi khususnya sebagai Imam Besar merupakan jabatan eksklusif tidak bisa digantikan oleh suku lain. Sejak pembentukan Kerajaan Israel dengan raja pertama Saul, ada tiga pucuk pimpinan, yakni Raja, Imam dan Nabi. Raja Kerajaan Yehuda setelah Saul kemudian dialihkan Tuhan ke Daud dari suku Yehuda turun temurun, sedangkan Kerajaan Israel yang memisahkan diri dari Yehuda rajanya bisa berganti suku. Demikian juga para nabi, bisa dari segala kalangan dan suku, namun jabatan sebagai Imam Besar tetap dipegang oleh suku Lewi. Pernah Raja Saul lancang terhadap Samuel dan membuat mezbah korban bakaran sendiri, Samuel memandang hal ini sebagai pendurhakaan, dan Tuhan mengangkat Daud dari suku Yehuda menjadi raja. Demikian juga ketika Yerobeam menjadi raja Kerajaan Israel Utara, dia dengan ceroboh mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat (1 Raja-raja 13), tujuannya agar kedudukan raja lebih tinggi dari imam yang memimpin ibadah. Orang Lewi menjabat sebagai imam turun temurun dari zaman Harun, hingga Kerajaan Yehuda ditaklukkan Nebukadnezar dan rakyatnya diangkut ke Babilonia, namun di tempat pembuangan 70 tahun ternyata tetap ada imam yang dijabat orang Lewi. Bahkan dari zaman kembalinya orang Yahudi ke Israel, lalu zaman gelap tidak ada Firman Tuhan selama 400 tahun, pergantian Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, hingga zaman Yesus disalib ternyata tetap ada jabatan Imam Besar, orang Farisi dan Saduki yang semuanya dari suku Lewi. Akhir orang Lewi menggenggam jabatan sebagai imam yakni saat Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan total oleh pasukan Romawi di bawah Jenderal Titus pada tahun 70 Masehi. Sejarah jabatan Imam Besar dimulai ketika Harun menjabat (1446 SM) hingga kehancuran Yerusalam (70M) – 1500 tahun lebih, total ada 77 generasi. Generasi Imam Harun hingga Imam Yadua 29 generasi, generasi Imam Onias I hingga Imam Antigonus ada 19 generasi, generasi Imam Ananelus hingga Imam Pinehas 29 generasi. Jadi jabatan sebagai Imam Besar turun termurun hingga 1.500 tahun, semua dicatat di Alkitab PL dan PB, juga dicatat oleh ahli Sejarah Yahudi Flavius Yosefus (tahun 37-100 Masehi). Saudara bisa membaca informasi di atas di buku seri Sejarah Penebusan yang ditulis oleh Pdt. Abraham Park D.Min. D.D. Di dalam Bait Suci ada ruangan khusus yang hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar disebut Ruang Maha Suci, orang lain tidak boleh masuk, dan ada batas tirai tebal atau tabir yang digantung dari plafon hingga ke tanah. Karena hanya Imam Besar yang boleh masuk, di jubahnya ada bel kecil yang berbunyi kalau dia bergerak di dalam Ruang Maha Suci dan ada tali keluar dari bajunya. Kalau tidak ada suara, pembantunya di luar akan menarik-narik tali. Jika masih tidak ada suara, misalkan si Imam Besar kena serangan jantung dan meninggal, maka jenazah akan ditarik keluar dengan tali yang disambungkan ke bajunya. Jadi ruang Maha Suci sangat sakral dan orang pun takut masuk. Ketika Yesus disalib dan saat menyerahkan nyawa, tabir Bait Suci yang di Yerusalem terbelah menjadi dua dari atas ke bawah (Matius 27:51), sekat pemisah ruang Maha Suci tidak ada lagi, karena Kristus sudah menggantikan posisi Imam Besar dalam memimpin ibadah kepada Tuhan. Imam Besar yang menyampaikan segala permohonan rakyat ke Tuhan digantikan oleh Kristus, dan darah-Nya yang dicurahkan di kayu salib menggantikan darah korban bakaran. Saudara, dalam rangka menghayati peristiwa Jumat Agung, mari kita merenungkan  Surat Ibrani 9:11-28. Bacaan kita pada hari ini mengajarkan bahwa ibadah yang sempurna adalah ibadah di mana Tuhan Yesus Kristus melayani sebagai Imam Besar Agung di Kemah Suci yang ada di surga (Ayat 11). Ia mengurbankan diri-Nya untuk memberi pendamaian kekal bagi semua umat-Nya dan melayakkan kita untuk masuk ke Rumah Allah yang abadi, yaitu surga (Ayat 12-14).Penulis Surat Ibrani mengajak kita untuk mengenali karya Kristus sebagai Pengantara, yaitu membawakan perjanjian yang baru. Dari perjanjian inilah, tersedia penebusan dan keselamatan bagi kita (Ayat 15). Hukum Taurat mengajarkan bahwa pengampunan dosa diberikan melalui pengurbanan, yakni penumpahan darah; dan karya salib Kristus menuntaskan tuntutan tersebut (Ayat 18-23). Saudara, sesungguhnya ibadah merupakan sebuah persekutuan,   setiap umat Allah diundang untuk memasuki hadirat Allah dan menyatakan bakti (pelayanan) mereka kepada Allah. Kristus adalah Pemimpin Ibadah kita yang tertinggi dan kita diundang untuk mengikut-Nya.  Ibadah merupakan tempat untuk menikmati anugerah-Nya dengan penuh pujian dan syukur, bukan pamer diri atau hiburan saja. (Surhert).

KEBANGKITAN YANG MEMBEBASKAN ALLAH

Saudaraku, kedahsyatan berita kebangkitan Kristus  terlambat direspons oleh para murid, orang-orang terdekat Yesus.  Mereka butuh waktu agak lama untuk menyadari MUKJIZAT TERBESAR  itu sehingga rasanya mereka lambat untuk percaya. Mari renungkan Lukas 24:13-35. Persepsi para murid tentang Yesus terwakili dari argumen Kleopas saat ia dengan kesal menjelaskan kepada Rekan seperjalanannya ke Emaus  tentang Sang Guru (Lukas 24:18-24).  Harapan yang begitu besar, pemujaan figur yang luar biasa terhadap sosok Yesus itu membuat para murid secara tidak langsung mengurung Yesus dalam persepsi mereka.   Persepsi itu tertanam kuat sehingga saat mereka melihat Kristus tersalib dan dikuburkan, mereka hilang harapan dan Saat mereka mendengar berita kebangkitan, mereka bingung luar biasa.  Semua pesan Yesus tentang penderitaan dan kebangkitan telah tertutup dengan euphoria kedahsyatan mukjizat-mukjizat Yesus.   Mereka percaya Yesus adalah Sang Pembebas yang akan membuat mimpi besar tentang Kerajaan Daud terwujud.  Mereka belum “membebaskan” Allah yang terkurung dalam persepsi mereka.  Keterbatasan manusia memahami pekerjaan Allah membuat manusia pada akhirnya memahami Dia dengan sangat sempit.   Oleh karena itu betapa sulit untuk mencerna kemenangan dalam jalan penderitaan yang Kristus tempuh. Yesus sudah meninggal, maka semua selesai, itulah yang ada di benak mereka. Semua karena harapan yang mengurung pemikiran dan membuat mereka murung saat kenyataan tak sesuai harapan. Padahal Allah sangat bisa bekerja dalam cara yang tidak lazim dan tidak dipahami manusia.   Pada akhirnya saat para murid membebaskan Allah dari persepsi mereka (saat mereka menyadari bahwa Teman Seperjalanan mereka adalah Yesus),  justru mereka menemukan sukacita sejati yang mengubah arah hidup mereka menjadi pejuang iman yang setia sampai mati.  Semua itu terjadi dengan pertolongan Allah yang membuka kurungan persepsi itu (Lukas 24:31)  sehingga KEMURAMAN  itu berubah menjadi SUKACITA.   Mari minta Tuhan untuk memberi kita kekuatan untuk membebaskan-Nya dari kurungan persepsi kita yang sempit sehingga sukacita sejati dapat ditemukan dan mengubah hidup kita.  Jangan kurung Tuhan dalam pikiran kita, misalnya: Jadi Kristen pasti kaya karena Allah adalah sumber berkat, atau pasti selalu sehat karena Allah sanggup membuat mukjizat.   Dalam SUKA atau DUKA, Allah tetap yang TERBAIK.  Bila harus melewati lembah air mata, percayalah Allah akan melindungi dan menguatkan sehingga KITA BISA MELEWATINYA.  Allah bekerja melebihi persepsi manusia, maka manusia perlu untuk tunduk dan taat pada Allah sepenuhnya.  Terimalah Allah sebagaimana adanya Dia walau Ia tidak seperti yang dipersepsikan manusia agar manusia mampu untuk menjalani  doa: Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.  SELAMAT PASKAH! Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

ALTERNATIF SELAIN BUNUH DIRI

Saudara, puluhan tahun yang lalu aku pernah mencoba menolong serorang teman yang ingin bunuh diri. Dia nekat melakukan itu karena merasa dikhianati oleh suami yang dicintainya.  Percobaan bunuh diri pertamanya dengan memotong urat nadi saat kondisi rumahnya sepi, gagal, mendadak pembantunya batal ke pasar dan menemukan majikannya bersimbah darah. Dia bisa dilarikan ke rumah sakit. Namun kemudian ada seorang temannya tempat curhat, malahan mengirimkan segenggam obat dimasukkan ke vas bunga ke rumah sakit, obat ditelan semuanya, namun ketahuan suster jaga, jadi perutnya bisa dikuras dan selamat. Pulang ke rumah, wajahnya sayu dan pucat, mata tidak fokus, bicaranya ngacau, beberapa kali bilang: “Aku kok ndak mati ya, ingin mencoba mati lagi.” Ketika aku  ketemu dia jadi  bingung mau ngomong apa.  Dibacakan ayat-ayat Alkitab juga tidak mempan, tidak akan didengar. Tuhan memberikan hikmat, dan setiap kali dia bilang:  “Aku mau mati”, aku langsung bilang: “Aku sayang kamu, hanya aku yang peduli sama kamu.” Itu aku ucapkan entah berapa kali.  Syukur, lama-lama pandangan matanya mulai fokus dan bibirnya bisa tersenyum: “Kamu pulang saja, kamu adikku yang paling baik, aku akan jaga diri …” Setelah itu beberapa kali aku besuk  dia dan aku selalu bilang: “Hanya aku yang peduli sama kamu.” Saat aku menulis renungan ini, dia masih hidup dan aktif di suatu pelayanan gereja. Saudaraku, mengapa orang begitu gampang ingin bunuh diri? Dalam psikologi stres adalah perasaan ketegangan dan tekanan emosional, termasuk salah  satu jenis penderitaan psikologis.. Sedikit stres mungkin diinginkan, bermanfaat, dan bahkan menyehatkan. Stres positif membantu meningkatkan kinerja atletik. Ini juga berperan dalam motivasi, adaptasi, dan reaksi terhadap lingkungan.  Tapi kalau tidak mampu mengendalikan stres, akan banyak hal yang dirasa sensitif akan menjadi stressor. Stressor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya. Namun tidak semua orang mampu melakukan adaptasi dan mengatasi stressor tersebut, sehingga timbullah keluhan-keluhan antara lain stres, cemas dan depresi. Stressor yang paling berat salah satunya disebabkan oleh bencana alam gempa dan tsunami karena dalam sekejap seluruh rumah, harta dan keluarga lenyap ditelan bumi.  Mari kita perhatikan  kisah Ayub, orang terkaya dari semua orang di sebelah Timur. Dalam beberapa saat seluruh hartanya dirampok habis, ternak-ternak dan penjaganya di padang musnah disambar api dari langit, terjadi bencana alam puting beliung, rumahnya roboh dan 10 anaknya mati. Ayub kemudian kena penyakit kulit, bernanah yang busuk dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya. Kemudian istrinya menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan. Ayub menjadi contoh orang yang kena stressor nilai maksimal, tapi tetap dapat mengatakan: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10) Saudaraku, sesungguhnya setiap orang pasti pernah mengalami stres dan ada stressor yang menekannya, Anak-anak TK di hari pertama sekolah banyak yang menangis karena pertama kali di luar rumah ditinggal sendiri di ruang kelas tanpa kehadiran mamanya. Bu Guru membiarkan demikian saja koor tangisan itu. Bisa berlangsung selama 2 jam penuh, bahkan bisa berlanjut di hari kedua sekolah ada tangisan bersama di kelas. Baru setelahnya Bu Guru mengajak anak-anak berkenalan dan tertawa, lewatlah stres ringan anak-anak TK itu. Maka jika saat ini Saudara menghadapi stres, kenalilah apa yang menjadi stressor penyebabnya. Hadapi saja, jangan menyerah. Berdoalah pada Tuhan, dan bagikan beban berat hidupmu kepada orang-orang yang tepat. . Sejalan berlangsungnya waktu, tekanan stressor bisa menjadi lemah. Atau kalau dirasa malahan makin menguat, bacalah berulang kali dengan bersuara undangan Tuhan Yesus berikut ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Semoga Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya (Mazmur 67:2). Semoga Tuhan memampukan setiap kita untuk berharap dalam janji: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). (Surhert).

IRONI SANG RAJA

Saudaraku, Herodes Antipas adalah seorang yang mendambakan bertemu Yesus. Namun justru dalam pertemuan pertama dan terakhirnya, sang penguasa kecewa berat.  Mari renungkan Lukas 23:8-12.  Herodes Antipas bukan orang Yahudi, ia orang Idumea yang mewarisi dan diberi kekuasaan oleh Kaisar untuk memerintah di wilayah Galilea dan Perea.  Herodes Antipas dikenal lebih sensitif kepada orang Yahudi dan agama Yudaisme.  Buktinya,  ia rela mengeluarkan banyak biaya untuk membangun Bait Suci yang megah dan bahkan membuat koin mata uang yang tidak bergambar wajah manusia sesuai dengan kepercayaan Yahudi.   Tentunya dengan perhatian yang cukup besar terhadap orang Yahudi, Herodes banyak mendengar tentang sepak terjang Yesus dari orang-orang di sekitarnya.   Itulah sebabnya mengapa Herodes antusias untuk bertemu Yesus.  Siapa sih yang tidak penasaran dengan Sang Guru dari Nazaret yang sedang viral dan dikisahkan begitu sakti mandraguna?   Maka saat Pilatus mengirimkan Yesus kepadanya saat ia sedang berkunjung ke Yerusalem, Herodes girang bukan kepalang.  Ia ingin melihat figur Sang Pembuat Mukjizat itu dan juga ingin merasakan mukjizat-Nya.  Mungkin kalau Yesus melakukan mukjizat itu, Herodes bisa menjadi pengikut-Nya.  Namun Herodes harus gigit jari karena ia tidak dihiraukan oleh Yesus.   Semua pertanyaannya tak terjawab dan keinginannya untuk melihat mukjizat hanyalah harapan kosong.  Kecewa, lalu ia dan semua pasukannya malah menghina dan mempermainkan Yesus.  Ia bahkan tidak sudi mengadili Yesus yang adalah penduduk Galilea dan mengirim kembali pada Pilatus. Kecewa artinya adalah tidak puas karena keinginannya tidak terpenuhi.  Ketika seorang kecewa maka ia bisa melakukan hal yang berlawanan dari apa yang diyakininya.  Banyak didengar dan diceritakan bagaimana orang yang kecewa pada Yesus pada akhirnya memilih menjadi lawan dan mengejek Dia dan gereja.   Semua diawali dengan keinginan yang tak terpenuhi, Allah yang berbeda dari persepsi yang dibentuknya.  Maka berhati-hatilah dengan keinginan yang membentuk persepsi karena saat realitas tak seindah harapan maka kemungkinan untuk menjadi kecewa makin besar.  Padahal sebenarnya manusia tidak akan pernah bisa menyelami pekerjaan Tuhan yang hebat (Pengkhotbah 4:13).  Nabi Yesaya pernah menuliskan perkataan Allah, “Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu. Setinggi langit di atas bumi, setinggi itulah pikiran-Ku di atas pikiranmu, dan jalan-Ku di atas jalanmu.” (Yesaya 55:8-9, BIS).  Mari belajar untuk menikmati perjalanan hidup bersama Tuhan dan terus belajar untuk MEMILIKI HATI YANG TAAT  sehingga saat Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan atau ternyata keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, tidak ada rasa kecewa dan bahkan olokan terhadap Dia.  Mari nikmati Allah sebagaimana yang Allah inginkan, bukan yang seperti kita inginkan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

BUNUH DIRI

Saudaraku, berita-berita melalui medsos mudah menyebar, kita jadi sering membaca berita tentang bunuh diri. Zaman media koran dulu, biasanya bunuh diri yang diangkat sebagai berita,   jika ada bunuh diri massal seperti kasus di Guyana atau bunuh diri sekeluarga, bukan bunuh diri perorangan.  Mengapa sekarang ini semakin banyak kasus bunuh diri? Orang semakin acuh terhadap lingkungan, apalagi menjadi pendengar yang baik, mendengarkan keluh kesah orang lain yang sedang mengalami kesusahan. Yang menghadapi problem,  merasa malu berkonsultasi dengan rohaniwan atau temannya, karena mungkin kasusnya “hanya” putus cinta; atau ada larangan tertentu dari orangtua dan pikiran cupet; atau bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ketika cari-cari solusi lewat Google malahan banyak artikel tentang bunuh diri, bahkan komplit dengan cara-caranya.   Saudaraku, Akitab mencatat enam orang yang bunuh diri: Abimelekh (Hakim-hakim 9:54), Saul (1 Samuel 31:4), Pembawa Senjata Saul (1 Samuel 31:4-6), Ahitofel (2 Samuel 17:23), Zimri (1 Raja-Raja 16:18), dan Yudas (Matius 27:5). Lima dari keenam orang tersebut terdeskripsi jelas mengenai kejahatannya, kecuali pembawa senjata Saul, yang tidak diulas secara mendetail. Beberapa ahli menganggap kematian Samson sebagai tindakan bunuh diri, karena ia sudah mengetahui bahwa tindakannya akan mematikan dirinya (Hakim-Hakim 16:26-31). Berhubung tujuan Samson saat itu ingin membunuh banyak orang Filistin, bukan hanya dirinya saja, maka pendapat ini masih diperdebatkan.Alkitab memandang kasus bunuh diri sama bobotnya dengan pembunuhan, karena itulah kenyataannya, pembunuhan diri. Sesungguhnya Allah hanyalah satu-satunya yang boleh memutuskan waktu dan dengan cara apa seseorang akan meninggal dunia. Seperti diungkapkan oleh Pemazmur:  “Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, …” (Mazmur 31:15)Saudaraku, Allah adalah pemberi kehidupan. Ia memberi, dan Ia mengambilnya kembali (Ayub 1:21). Bunuh diri, bentuk pembunuhan kepada diri sendiri, menjadi tindakan durhaka, karena hal itu menjadi bentuk penolakan manusia atas karunia kehidupan dari Allah.Tidak seorang pun, laki-laki ataupun perempuan, diperbolehkan mengambil alih otoritas Allah dan mengakhiri kehidupan pribadi mereka.Memang ada beberapa tokoh di dalam Alkitab yang mengalami keputusasaan: Salomo, sambil mengejar segala kenikmatan hidup, sampai mencapai di satu titik dimana ia “membenci hidup” (Pengkhotbah 2:17). Elia sangat takut hingga mengalami depresi dan merindukan kematian (1 Raja-Raja 19:4). Yunus juga begitu marah dengan Allah sampai ia berharap mati (Yunus 4:8). Rasul Paulus dan para rekan misionarisnya sampai pernah berkata: “Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami” (2 Korintus 1:8).Syukur, dari semua tokoh di atas, tidak ada seorang pun yang bunuh diri. Salomo membuat kesimpulan:  “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkhotbah 12:13). Elia dihibur oleh malaikat, diperbolehkan beristirahat, dan diberi sebuah amanat baru. Yunus dikoreksi dan diberi pelajaran dari Allah. Paulus belajar bahwa, walaupun beban yang ia hadapi melampaui kemampuan dirinya menanggungnya, Allah dapat membantu menanggung segala hal: “Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati” (2 Korintus 1:9).Ingatlah, bunuh diri tentunya berdampak buruk bagi mereka yang ditinggalkan. Bekas luka batin yang disebabkan seseorang yang bunuh diri biasa lama sekali pulihnya. Jika Saudara saat ini sedang menghadapi persoalan hidup yang berat menekan dan Saudara sudah berkali-kali berpikir untuk bunuh diri. Ingatlah satu hal bahwa tindakan bunuh diri adalah DOSA BESAR  di hadapan Tuhan; sebuah dosa yang tak terampuni. Karena itu mari sambutlah undangan Tuhan Yesus: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). (Surhert).

A Humble and Weak People

KERENDAHAN HATI. Sahabat, Alkitab menggambarkan kerendahan hati sebagai kelemah-lembutan dan tidak menghiraukan diri. Istilah Yunani yang diterjemahkan sebagai “kerendahan hati” di dalam Kolose 3:12 dan di bagian lainnya bermakna “pikiran yang rendah diri,” sehingga kita menyimpulkan bahwa kerendahan hati itu merupakan sikap hati, bukan saja perilaku lahiriah.  Seseorang dapat memeragakan kerendahan hati tetapi hatinya masih penuh kesombongan dan kecongkakan. Yesus berkata bahwa mereka yang “miskin di hadapan Allah” akan beroleh Kerajaan Sorga (Matius 5:3). Miskin di hadapan Allah atau dalam kata lain miskin secara rohani berarti hanya mereka yang mengakui keterpurukan rohani mereka dapat memperoleh kehidupan kekal. Oleh karena itu, kerendahan hati adalah salah satu syarat pokok menjadi orang percaya.Ketika kita mendatangi Kristus sebagai orang berdosa, kita harus datang dengan sikap rendah hati. Kita mengakui bahwa kita adalah  orang miskin yang tak dapat menawarkan Dia apa pun juga selain dosa kita dan kebutuhan kita akan keselamatan. Kita menyadari ketidakpantasan dan ketidakmampuan kita menyelamatkan diri.  Ketika Ia menawarkan belas kasih dan kasih karunia Allah, kita menerimanya dengan sikap bersyukur dalam kerendahan hati dan hidup berkomitmen kepada-Nya dan kepada sesama kita. Kita mati kepada diri sendiri supaya kita dapat hidup sebagai ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17). Kita tidak lupa bahwa Ia telah menukarkan keadaan tak berharga kita dengan keadaan sempurna-Nya, dosa kita dengan kebenaran-Nya, dan hidup yang kita jalani sekarang, kita hidup dalam iman pada Sang Anak Allah yang telah mengasihi kita dan menyerahkan Diri-Nya bagi kita (Galatia 2:20). Itulah kerendahan hati yang sejati.Hari ini kita akan belajar dari pasal terakhir dari kitab Zefanya dengan topik: “A Humble dan Weak People (Umat yang Rendah Hati dan Lemah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zefanya 3:9-20 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, kita kerap mendengar nasihat untuk selalu berpikir positif, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan dilarang menyerah agar kita mampu bangkit dari keterpurukan. Kemudian kita diminta untuk terus giat dan melakukan segala upaya agar hidup kita mengalami perubahan. Kita terus didorong untuk tidak menjadi pribadi yang lemah dan selalu optimis. Dunia mengajarkan bahwa orang-orang yang kuatlah yang akan menang.Sahabat, Nabi Zefanya menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan umat Tuhan agar mereka terbebas dari keterpurukan yang terjadi. Sungguh menarik ketika memahami bahwa Tuhan justru tidak memulihkan kehidupan umat yang merasa dirinya kuat, berhikmat, atau mampu membangun kejayaannya sendiri. Tuhan justru memulihkan umat yang rendah hati dan lemah.  Zefanya berkata bahwa mereka adalah “sisa” artinya bagian kecil dari Israel (Ayat 13), tidak banyak dari umat Tuhan yang rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya lemah. Mereka benar-benar mengandalkan Tuhan sehingga mereka pun dipulihkan. Tuhan bergirang melihat kerendahan hati mereka dan Tuhan membuat mereka umat yang ternama dan terpuji di antara segala bangsa (Ayat 20).Sahabat, seorang yang rendah hati dan merasa diri lemah bukanlah orang yang mengasihani diri sendiri. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang mengakui bahwa tanpa Tuhan mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa. Karena merasa lemah, mereka selalu mencari pertolongan Tuhan. Tuhan berkenan dengan kerendahan hati dan membangkitkan mereka dari keterpurukannya. Tetapi orang-orang yang angkuh, direndahkan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? Apa yang Sahabat  pahami dari ayat 14-15? Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat kita berada dalam keterpurukan, kita dapat memilih: Tetap merasa diri kuat atau merasa diri lemah dan mencari pertolongan Tuhan. (pg)

B A N J I R

Saudaraku, kejadian banjir di beberapa wilayah di Pulau Jawa mestinya bisa dipetakan karena rutin. Seperti banjir di kawasan Bukit Duri Jatinegara Jakarta, jalur Semarang – Sayung, sekitar Semarang Stasiun Tawang, daerah aliran Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, dan beberapa daerah lainnya. Yang menjadi pertanyaan, mengapa kejadian-kejadian rutin ini berulang sehingga dapat disebut force majeur? Adakah upaya Pemerintah dan warga untuk mengatasi atau mengurangi banjir rutin ini? Atau hanya pasrah dan setiap tahun mesti menganggarkan bansos untuk tempat-tempat yang rutin banjir itu? Di zaman Pak Harto ada upaya membuat waduk Gajah Mungkur untuk mengendalikan luapan Bengawan Solo sejak hulu. Gubernur Sutijoso membuat Banjir Kanal Timur untuk mengurangi air sungai yang melimpah ke Jakarta, dilanjutkan Ahok yang menata Sungai Ciliwung hingga menggusur puluhan rumah di Jatinegara untuk membuat akses sungai ke Banjir Kanal Timur. Ini dia yang mungkin kurang diingat, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1879 membangun Banjir Kanal Barat Semarang dan pada tahun 1889 membangun Banjir Kanal Timur Semarang. Apakah di zaman itu sudah ada excavator, traktor dan dump truck? Memang banyak usaha yang dilakukan pemerintah bagi warga untuk mengatasi banjir, dan mestinya warga dapat menjaga kelangsungan proyek yang sudah ada. Namun berjalannya waktu dan pergantian kepemimpinan sering warga lupa dan melakukan tindakan-tindakan yang merusak lingkungan, seperti pembuangan sampah ke sungai, pembangunan perumahan di sekitar aliran sungai yang menyedot banyak air tanah sehingga permukaan tanah turun. Mungkin orang berpikir banjir hanya terjadi sesekali, bukan rutin bulanan, saat banjir tidak lama, dan banjir pasti diakibatkan oleh perubahan cuaca, apalagi saat banjir pasti ada bansos. Saudaraku, saat aku menulis renungan ini, banjir di beberapa daerah di Jawa Tengah belum surut juga. Hujan masih sering turun, bahkan disertai dengan angin yang cukup deras. Tuhan berbisik lembut agar aku merenungkan Mazmur 46:1-4.  Sesungguhnya setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak seorang  pun dari kita manusia yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tak luput dari problematika kehidupan. Pergumulan bisa saja datang silih berganti. Namun, hanya satu yang tetap, yakni Tuhan sumber pertolongan kita.Bangsa Israel selalu berpegang teguh pada satu keyakinan. Mereka percaya bahwa Allah adalah sumber pertolongan serta perlindungan. Keyakinan ini, oleh Pemazmur, digambarkan dengan Allah sebagai “Kota Benteng”. Artinya, Allah, selayaknya benteng, akan selalu berdiri teguh melindungi manusia dari mara bahaya. Ia adalah penolong dalam kesesakan.Bahkan, Pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (Ayat 3-4). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia.Dalam hidup ini, pergumulan hebat pasti pernah menimpa kita. Dalam kondisi itu, mungkin reaksi kita adalah pergi menjauhi Allah. Kita bahkan mungkin melancarkan protes kepada-Nya atas keadaan yang terjadi. Alih-alih masuk dalam dekapan Allah, Sang Kota Benteng yang teguh, kita malah dengan sengaja pergi menjauhi-Nya.Saudaraku, pada hari ini, kita diingatkan oleh Pemazmur. Ia menasihati agar kita yakin dengan iman yang teguh kepada Allah pada saat kita mengalami pergumulan hidup, himpitan hidup, dan kesesakan hidup. Ia adalah Kota Benteng yang teguh sehingga di dalam Allah saja kita berdiam, merasa aman, tenteram, dan damai. (Surhert)

FORCE MAJEUR

Saudaraku, Force Majeur adalah kondisi mendesak yang menyebabkan seseorang tidak bisa memenuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan pada kontrak. Jika kondisi mendesak tersebut bisa dibuktikan dan tidak direkayasa, maka pihak yang dirugikan tidak bisa meminta ganti rugi karena hal tersebut terjadi di luar kendali. Memang ada cukup banyak orang yang berhutang,  dan berniat buruk ingin menghindar dari keharusan membayar hutang, lalu menciptakan atau merekayasa berbagai “kondisi mendesak” atau force majeur agar bisa terbebas dari hutang. Namun ada kondisi natural force majeur yang tidak terbantahkan yakni Act of God, adanya tindakan Tuhan mengacu pada peristiwa alami yang parah dan tidak terduga di luar kemampuan dan tanggung jawab manusia.  Agar apa yang disebut  Act of God  ini tidak mudah dikondisikan untuk diterapkan ke semua hal, maka pihak bank atau asuransi  supaya tidak menderita kerugian, sering memberikan batasan force majeur hanya pada kondisi tertentu, seperti bencana alam, perang, pemogokan, dan lain-lain dan kondisi-kondisi bencana ini telah ditetapkan pemerintah karena lingkup bencana yang luas.  Untuk itu dalam polis asuransi ada klausul lingkup tambahan,  ada penambahan biaya premi atas risiko yang diasuransikan. Perhatikan saja polis asuransi allrisk kendaraan Saudara, meskipun mencakup pertanggungan allrisk, ternyata untuk kejadian bencana hanya menanggung risiko gempa dan kejatuhan pesawat, untuk banjir dan kerusuhan atau huru-hara mesti menambah biaya lagi. Saudaraku, membaca Alkitab ternyata yang dimaksudkan sebagai Act of God adalah hukuman Tuhan yang berat-berat, sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab Yehezkiel 14:12-23 dengan penekanan pada ayat 21: “Ya, beginilah firman Tuhan ALLAH: Jauh lebih dari itu, kalau Aku mendatangkan keempat hukuman-Ku yang berat-berat, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar, atas Yerusalem untuk melenyapkan dari padanya manusia dan binatang!” Abraham pernah tawar-menawar dengan TUHAN agar tempat di mana Lot tinggal tidak dihukum atau diselamatkan karena hitungan orang benar yang ada di dalamnya (Kejadian18:22-33). Akhirnya hanya Lot dan keluarganya yang diselamatkan, tetapi tempat itu dimusnahkan.Yehezkiel belum mengajukan tawar-menawar dengan TUHAN tentang Israel. Tetapi, TUHAN memberitahukan bahwa Ia akan menjatuhkan hukuman karena negeri itu telah tidak setia lagi kepada-Nya. Ia akan memusnahkan persediaan makanan dan mendatangkan kelaparan atas mereka, binatang buas atau pedang, atau sampar. Penghukuman ini tidak akan berubah meskipun ada Nuh, Daniel, dan Ayub di antara mereka. Hanya ketiga orang ini yang akan selamat, sedangkan seisi negeri itu akan binasa. Ketiga orang ini bahkan tidak dapat menyelamatkan orang-orang terdekat atau siapa pun juga. (Ayat 12-20).  Penghukuman yang berat dari TUHAN akan tetap dijatuhkan atas seluruh Yerusalem, atas manusia dan binatang. Keempat hukuman itu, yaitu pedang, kelaparan, binatang buas dan sampar akan dijatuhkan atas mereka yang hidup dalam kejahatan (Ayat 21).  Saudara,  kasih TUHAN tidak berkesudahan. Ia tetap meninggalkan sisa orang yang terluput bersama anak-anak lelaki dan perempuannya. Mereka ini akan menjadi penghiburan bagi Yehezkiel dan orang-orang di dalam pembuangan sehingga dapat menerima malapetaka yang telah TUHAN jatuhkan atas Yerusalem. Tingkah laku mereka yang berbeda akan menunjukkan alasan TUHAN menghukum Yerusalem (Ayat 22-23).TUHAN tidak main-main dalam penghukuman-Nya. Setiap orang yang bersalah akan menerima penghukuman yang berat. Orang benar tidak dapat melepaskan orang-orang jahat dari penghukuman, hanya orang-orang benar itulah yang akan diselamatkan. TUHAN yang adil tetap menunjukkan kasih-Nya. Tidak semua orang dihukum. Masih ada sisa umat yang mendapatkan kelepasan.Saudaraku, bimbinglah orang lain untuk menerima kebenaran-Nya! Dengan demikian, kita dapat memperoleh keselamatan bersama-sama. (Surhert).