BERTUMBUH melalui PEMBACAAN ALKITAB

Saya berharap melalui program “Sejenak Merenung”, banyak Sahabat  akan mendisiplin diri  mengadakan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab dan merenungkannya. Tentu pada akhirnya kita dapat menjadi pelaku-pelaku firman. Kita dapat tumbuh bersama melalui pembacaan Kitab Suci dan doa setiap hari. Kegiatan membaca Alkitab bagi sebagian orang percaya mungkin tidak lagi menjadi momen yang menarik dan dinanti-nantikan. Bosan, malas, sibuk, dan sukar memahami isi Alkitab menjadi empat alasan yang sering muncul. Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Bertumbuh melalui pembacaan Alkitab”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Timotius 3:10-17. Mengapa Paulus perlu menekankan kembali pentingnya mempelajari dan merenungkan firman Tuhan?  Karena pada waktu itu banyak sekali pengajar-pengajar sesat yang menyusup di antara jemaat sehingga mereka tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup, melainkan lebih menyendengkan telinganya kepada ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran (2 Timotius 4:3-4).   Paulus mengerti bahwa sebagai pemimpin jemaat, Timotius harus bekerja keras dalam membangun kehidupan jemaat dan mengajar mereka. Tugas pelayanan yang tak bisa dilakukan dengan sembarangan sehingga Timotius perlu terus melengkapi dirinya dengan kebenaran dari Kitab Suci. Sahabat, apa manfaat Alkitab bagi kehidupan orang percaya?  Alkitab merupakan sarana utama belajar mengenal pribadi Tuhan, mempercayai janji-Nya, serta memahami apa kehendak dan rencana-Nya bagi kehidupan kita.  Melalui Alkitab Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran (Ayat 16).   Proses pertumbuhan menuju karakter Kristus tidak terjadi secara otomatis atau tiba-tiba, namun memerlukan waktu seumur hidup.  Untuk bertumbuh secara rohani, Allah sudah memberikan pedoman-Nya  melalui Alkitab.  Diperlukan kebenaran untuk mengubah hidup kita, dan Alkitab menunjukkan kebenaran itu kepada orang percaya.  Hidup kita akan berubah bila kita mau membayar harga, yaitu menyediakan waktu membaca Alkitab, mempelajari, merenungkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pengakuan apa yang ditulis oleh Paulus dari penjara di Roma kepada Timotius? (Ayat 10-11) Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius di ayat 14? Apa manfaat Kitab Suci bagi Timotius yang dikatakan oleh Rasul Paulus di ayat 15? Apa manfaat Kitab Suci bagi kita? (Ayat 16) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Ada KUASA dalam PERKATAAN kita

Lao Tzu berkata, “Kata-kata yang benar tidak selalu indah; kata-kata yang indah tidak selalu benar.  Kata-kata yang bermanfaat tidak selalu enak didengar; kata-kata yang enak didengar belum tentu bermanfaat”. Sesungguhnya perkataan itu seperti pisau. Pisau yang tajam bisa dipakai untuk membunuh, tetapi di sisi lain ia dapat menolong kita melakukan banyak hal. Sahabat, melalui sebuah perkataan positif dan membangun, seseorang dapat dibuat lebih semangat, lebih percaya diri, lebih bersyukur, lebih banyak berbuat baik dan menolong orang lain; seseorang dapat bangkit dan percaya bahwa hidupnya bisa lebih baik; seorang jahat dan keras kepala bisa berubah menjadi pribadi yang lembut dan rendah hati,  dan seterusnya. Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada kuasa dalam perkataan kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 12:14-22. Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya dengan kata-katanya yang diucapkan melalui mulut-Nya (Kejadian 1:3-8).   Perkataan adalah unsur yang penting dalam proses penciptaan alam semesta ini.  Jadi semua kata yang keluar dari mulut Allah berkuasa.  Juga ketika Yesus berada di bumi, semua perkataan-Nya penuh kuasa.  Dengan berkata-kata Dia sanggup menyembuhkan sakit-penyakit, membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari  (Yohanes 11:43-44), dan angin ribut diredakan  (Markus 4:39). Sahabat, karena kita ini diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, maka setiap perkataan yang keluar dari mulut kita pun mengandung kuasa.  Apa pun yang kita perkatakan akan berdampak terhadap masa depan kita.  Maka marilah kita bersedia tak henti-hentinya diingatkan agar berhati-hati dengan perkataan kita (Yakobus 3:4-5a).  Dengan perkataan, kita daat membangun masa depan yang baik, tapi dapat pula menghancurkan masa depan kita sendiri.  Dengan perkataan, kita dapat menguatkan, menghibur, melemahkan dan juga menyakiti orang lain.  Janganlah jemu-jemu memperkatakan yang positif, karena apa yang kita percayai, bila kita ucapkan dengan iman, cepat atau lambat akan terwujud dalam alam nyata.  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 14? Kebenaran apa yang Sahabat peroleh dari ayat 17? Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 18? Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 20? Kebenaran apa yang Sahabat perlu selalu ingat yang terdapat di ayat 22? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati.

HIDUP BARU: Menjadi Bukti

Sebelum naik ke surga, pasca kebangkitan-Nya Yesus memberi pesan kepada para murid agar mereka memberitakan Injil. Mereka diutus agar mengajar semua orang di seluruh dunia untuk dijadikan pengikut Kristus, serta membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pesan tersebut sampai sekarang terus dihidupi sebagai Amanat Agung. Baik secara pribadi maupun komunitas, gereja menjalankan misi mewartakan Injil supaya lebih banyak lagi orang menerima Kristus. Sahabat, salah satu cara yang ampuh dalam memberitakan Injil tentu dengan menunjukkan bukti. Bukti yang berupa kesaksian hidup dari setiap pribadi yang keluar dari gedung gereja. Alangkah kuatnya kesaksian tentang Injil jika didasari dengan bukti kehidupan orang percaya yang dipenuhi dengan karakter Kristus. Hidup kudus dalam persekutuan yang penuh kasih, ada kepedulian, saling mendukung dan bekerjasama, murah hati, mudah mengampuni, rendah hati, lemah lembut, sabar dan cinta damai. Untuk lebih memehami topik tentang: “HIDUP BARU: Menjadi Bukti”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 3:5-17. Sahabat, Rasul Paulus mengajar umat untuk mematikan diri dari segala tindak duniawi. Membuang segala bentuk kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta. Dengan kata lain Paulus sedang mengajarkan kita untuk menanggapi setiap persoalan dengan cara pandang positif. Mengenakan belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Ketika seseorang melakukan kesalahan, alih-alih mendendam kita mesti mengampuni, atas dasar pengampunan yang sudah lebih dulu kita terima dari Tuhan. Karena itu, ketika diperhadapkan dengan seseorang yang melukai hati, cobalah memandang mereka sebagai pribadi yang harus kita kasihi. Jika hal tersebut terasa sulit, cobalah kita melakukannya atas dasar kasih pada diri sendiri. Bukankah melepaskan pengampunan melegakan diri sendiri? Jika hal tersebut masih sulit, cobalah lakukan karena kita menaruh kasih kepada Tuhan! Bukankah Tuhan telah memberikan pengampunan atas kesalahan dan dosa kita yang begitu besar? Jika ternyata tidak bisa juga, tanyakan pada diri sendiri: Layakkah aku disebut pengikut Kristus? Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Mengapa Paulus minta agar kita mematikan segala sesuatu yang duniawi? (Ayat 5-6) Hal-hal apa saja yang Paulus minta agar dibuang dari kehidupan kita? (Ayat 8) Apa yang tidak boleh kita lakukan sebagai manusia baru? (Ayat 9) Sebagai orang-orang pilihan Allah, apa saja yang harus melekat dalam hidup kita? (Ayat 12-15) Apa yang harus kita lakukan sebagai komunitas orang percaya? (Ayat 16-17) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Mengapa engkau TERTEKAN, hai JIWAKU?

Sahabat, setiap orang termasuk para lansia sering mengalami tekanan hidup. Tekanan selalu hadir dalam setiap fase kehidupan. Apakah sebenarnya tekanan hidup itu? Tekanan hidup adalah sesuatu yang terjadi akibat timbulnya perubahan dalam kehidupan. Semakin besar perubahan itu, semakin besar tekanan hidupnya. Sesungguhnya Setiap orang pasti pernah mengalami tekanan dari masalah yang dihadapi: Keuangan, sakit penyakit, hubungan sosial, pekerjaan,  dan lain-lain. Respons setiap orang dalam menghadapi masalahnya bisa berbeda-beda. Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman (Yakobus 5:9). Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun. Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12. Daud, seorang raja hebat, juga mengalami tekanan dalam jiwanya karena masalah yang dihadapinya. Tiga kali ia menulis, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku?” Ia menggambarkan, air mata menjadi makanannya siang dan malam. Banyak musuh menyerangnya dan ia merasa terimpit. Orang-orang mencelanya sambil berkata, “Di mana Allahmu?” (Ayat 4) Ada perkabungan yang melingkupi kehidupannya. Kunci yang memampukan Daud bertahan dalam tekanan adalah kepercayaan bahwa Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya dan ia bisa berdoa dengan penuh ucapan syukur. Mengingat kasih setia Tuhan dalam hidup ini akan membantu kita untuk selalu dapat bersyukur. Ucapan syukur merupakan pintu berkat. Hati yang meluap dengan ucapan syukur membuat kita bebas dari tekanan yang mengimpit. Saat ini jika kita memiliki masalah yang menekan jiwa, katakan kepada jiwa kita, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Berharaplah kepada Tuhan, penolongku dan Allahku.” (Ayat 6) Tuhan mencurahkan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang berharap kepada Dia. Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa makna yang tersirat dari pernyataan Daud dalam ayat 2-3? Di tengah tekanan dan penderitaannya, apa yang selalu diingat oleh Daud? (Ayat 4-6) Ketika sedang menghadapi tekanan yang berat, bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi emosi dengan baik dan bijak?  (Ayat 12 dan Mazmur 116:7). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

PENGENALAN kita akan ALLAH

Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa kita  dihinggapi rasa cemas dan khawatir ketika kita mulai memasuki masa tua. Usia kita terus bertambah, sedangkan kekuatan dan kemampuan kita semakin berkurang. Teman-teman seangkatan, seorang demi seorang mendahului kita menghadap Sang Khalik.  Anak-anak juga  meninggalkan kita, mereka membentuk rumah tangga sendiri, kalau pun mereka  masih ada di dekat kita, mungkin kita merasa anak-anak sudah tidak membutuhkan diri kita lagi.  Untuk lebih memahami topik tentang “Pengenalan kita akan Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 71:14-21. Rasa cemas  juga sempat menyerang Daud karena ia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang terus tetap muda dan tetap perkasa.  Berita baiknya,  pada akhirnya Daud yakin benar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang dikasihi-Nya.  Ia mengerti benar bahwa satu-satunya tempat bersandar adalah Tuhan saja.  Sahabat, bagaimana pengenalan kita terhadap Allah? Pengenalan itu memengaruhi cara pandang dan cara kita menyikapi segala persoalan yang terjadi di dalam hidup.  Melalui pengalaman dalam perjalanan hidupnya bersama Allah, Daud mengenal Allah sebagai penolong dan pelindung yang setia.  Karena itu, meski di tengah pergumulan, keyakinannya kepada Allah tidak goyah. Daud bahkan dapat selalu memuji Allah dan kebesaran-Nya di tengah-tengah pergumulannya. Bagaimana dengan kita? Mari memperdalam pengenalan kita akan Allah. Semakin dalam kita mengenal Allah, semakin dalam pula kita mengenal diri kita. Semakin dalam kita mengenal Allah kita, semakin kuat pula iman kita; sebab kita tahu benar bahwa hidup kita dipelihara dan dilindungi oleh Allah yang setia. Berdasarkan hasil perenungan kita dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Pada masa tuanya, Daud masih mengalami pergumulan yang berat, masih ada orang-orang yang  menginginkan kecelakaannya, tapi mengapa Daud bisa begitu yakin bahwa Allah adalah penolong dan pelindungnya? (Ayat 17 dan 19-21) Apa yang membuat Daud begitu yakin bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang setia? (Ayat 22) Sesungguhnya apa yang paling dikhawatirkan dan ditakutkan oleh Daud? (Ayat 18) Apa yang menjadi kerinduan Daud untuk dapat dilakukannya pada masa tuanya? (Ayat 17-18) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)   

UNIK: Kekuasaan dan Kemurahan

Sahabat, salah satu sifat manusia adalah kagum akan hal-hal yang unik, yang khas, yang khusus, yang spesial. Sesuatu yang unik akan bernilai lebih, dan keunikan itu kita sematkan pada sesuatu yang tidak ada bandingannya. Pernahkah kita merenungkan seberapa unik Allah kita? Untuk lebih memahami topik tentang “Unik: Kekuasaan dan Kemurahan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 147:1-20. Mazmur haleluya yang kedua ini unik karena disusun menjadi tiga bagian (Ayat 1-6; 7-11; 12-20) yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Lebih unik lagi, mazmur ini menyatu dengan tema kekuasaan dan kemurahan Tuhan atas Yerusalem (ayat 2, 12) dan atas seluruh alam ciptaan-Nya (ayat 4, 8-9, 15-18). Bagian pertama, pujian kepada Tuhan dikumandangkan karena Dialah yang telah membangun kembali Yerusalem serta mengumpulkan umat-Nya yang telah tercerai berai oleh karena pembuangan. Segala sakit hati umat yang tertindas oleh musuh telah dihapus (ayat 3), sebaliknya para musuh sudah dikalahkan (ayat 6). Di tengah bagian ini (ayat 4), pujian diarahkan pada karya penciptaan-Nya. Penggabungan dua motif ini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Sang Penebus Israel tidak lain ialah Sang Khalik alam semesta, Dialah satu-satunya Allah yang mengatasi segala ilah lain yang disembah bangsa-bangsa! Bagian kedua, fokus pada karya Allah sebagai pemberi hidup bagi segala makhluk (ayat 8-9), termasuk manusia (ayat 10). Terutama kepada manusia, yang diciptakan unik karena bisa merespons karya-Nya secara pribadi, Allah menghendaki kesetiaan dan kebersandaran penuh (ayat 11). Bagian ketiga, kembali pada motif pertama yaitu karya-Nya atas pemulihan Yerusalem pasca pembuangan. Kali ini motif penciptaan terutama diarahkan pada pemeliharaan-Nya. Sang Penebus ialah Sang Pemelihara umat-Nya. Kalau alam ciptaan, dipelihara-Nya, terlebih lagi manusia. Kita diingatkan ajaran Yesus agar tidak khawatir akan sandang-pangan-papan karena burung dan bunga pun dipelihara-Nya (Matius 6:25-34). Allah yang kita sembah di dalam Alkitab adalah Allah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini (Yesaya 46:5). Maka, memuliakan Allah adalah sikap dan tindakan yang seharusnya muncul secara alami dari dalam diri kita. Pemazmur menegaskan bahwa semua tindakan Allah dikerjakan semata-mata oleh kedaulatan-Nya, tanpa meminta nasihat dari ciptaan-Nya. Maka, satu-satunya respons yang tepat adalah: “Haleluya!” (ayat 1, 20). Pujian inilah yang mengawali dan mengakhiri Mazmur 147. Sahabat, temukanlah keunikan Allah yang kita sembah melalui pembacaan dan perenungan kita pada hari ini. Semoga Sahabat sudah menemukannya dan berkenan untuk menuliskannya secara singkat serta membagikannya. Tuhan memberkati. (pg)

BERUBAH dan BERBUAH

Sahabat, keberadaan orang percaya di tengah dunia  sebagai garam dan terang dunia  (Matius 5:13-16).  Artinya kita harus bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi orang-orang dunia.  Bagaimana kita bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi mereka, bila hidup kita tidak menunjukkan perubahan dan masih mengenakan manusia lama?  Padahal di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17). Adapun tanda bahwa kita  ciptaan baru di dalam Kristus adalah berubah dan berbuah.  Oleh karena itu.hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:8). Untuk lebih memahami topik tentang: “Berubah dan berbuah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 1:12-17. Sahabat, pernahkah kamu membuat pengakuan bahwa kamu orang paling jahat, berdosa, dan segala yang buruk yang melekat dalam dirimu, serta menceritakan bahwa kamu punya masa lalu yang sangat kelam? Tentu sangat tidak mudah menyampaikan pengakuan sedemikian terbuka. Paulus menyatakan dirinya sebagai penghujat, penganiaya, dan ganas kepada pengikut Kristus (ayat 13). Ia menyebut dirinya orang yang paling berdosa (ayat 16). Sampai suatu ketika, dalam perjalanan ke Damsyik untuk memburu dan menganiaya para pengikut Kristus, Tuhan menjumpainya (Kisah Para Rasul 9:1-18). Ia dibuat buta oleh cahaya kemuliaan Tuhan, dan akhirnya pulih setelah didoakan Ananias. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Seorang penganiaya yang penuh amarah terhadap jemaat berubah menjadi pemberita Injil yang sangat militan dan tidak setengah-setengah. Ini merupakan bentuk kasih Tuhan kepada Paulus. Allah menunjukkan seluruh kesabaran-Nya kepada Paulus. Bahkan, Tuhan melihatnya setia dan memercayakan pelayanan besar dan mulia kepadanya (ayat 12). Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Dari pengakuan Rasul Paulus sendiri, apa yang menyebabkan dia dapat berubah? (ayat 13-16) Apa yang menyebabkan Tuhan memercayakan pelayanan yang besar dan mulia kepada Rasul Paulus? (Ayat 12 dan 16) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

ALLAH BERSEMAYAM di HATI ORANG yang REMUK

Sahabat, berdasarkan pengalaman hidupnya, Daud membuat pernyataan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”  (Mazmur 51:19) Entah sudah berapa kali kita mendengar atau membaca pernyataan, “Kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali.” Ironisnya, sudah beberapa kali pula kita sering melewatkan atau bahkan membuang kesempatan yang datang, hingga akhirnya kesempatan yang sama tidak pernah kunjung datang lagi. Lalu bagaimana dengan kesempatan untuk bertobat? Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Allah bersemayam di hati orang yang remuk”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 57:14-21.  Nabi Yesaya adalah salah seorang dari sepuluh orang nabi besar pada zamannya. Pada saat itu, nabi Yesaya menerima perintah Allah untuk menyampaikan Firman-Nya. Yaitu Firman Tuhan yang merupakan kata-kata penghiburan bagi umat-Nya. Kata-kata penghiburan dari Allah kepada orang-orang Israel yang tegar tengkuk. Kata-kata penghiburan dari Tuhan Pencipta langit dan bumi kepada umat pilihan-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Orang-orang Yehuda hidup jauh dari perkenan Allah, tidak sesuai dengan identitas sebagai umat Allah. Mereka menggantikan penyembahan kepada Allah dengan berhala-berhala. Kemudian muncul kesadaran bahwa mereka membutuhkan penghiburan. Nabi Yesaya memberitakan, hanya Allah yang dapat memberikan penghiburan. Namun, ada syaratnya, yaitu mereka harus mengadakan pertobatan dan membuang segala bentuk batu sandungan yang menghalangi berkat Allah. Allah hanya akan menghibur dan menghidupkan orang-orang yang remuk dan rendah hati. Allah itu penuh kasih dan kemurahan. Dia mengampuni mereka yang menyesal dan mengakui dosanya. Bahkan Allah akan menganugerahkan semangat dan kehidupan yang baru. Sebaliknya, tiada damai bagi orang fasik. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa syaratnya agar Allah berkenan memberikan penghiburan kepada umat-Nya? (Ayat 14 dan 15) Apa syaratnya agar Allah berkenan mengampurni segala kesalahan umat-Nya, dan berkenan menganugerahkan semangat dan kehidupan baru? (Ayat 16-19) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Perlu Melatih OTOT ROHANI

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX telah diselenggarakan di Papua pada 2 Oktober hingga 15 Oktober 2021. Stadion Lukas Enembe menjadi lokasi utama penyelenggaraan edisi ini, baik upacara pembukaan maupun penutupan. Ada 56 cabang olahraga yang dipertandingkan dan akhirnya propinsi Jawa Barat menjadi Juara Umum dengan meraih medali emas sebanyak 133 medali. Olahraga atau latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan mampu menjaga dan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat, segar dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun atau naik turun tangga. Sahabat, efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedangkan yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara. Untuk lebih memahami topik tentang “Perlu melatih otot rohani”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 4:1-16. Bagi seorang atlet, selain menjaga asupan makanan, latihan merupakan keharusan agar kondisi tubuh tetap prima. Secara rohani, kita juga seorang “atlet”; dan latihan juga merupakan keharusan supaya otot-otot rohani tetap kencang dan tangguh menghadapi apa pun tantangan yang menghadang. Sahabat, usia belia tatkala menerima tampuk pelayanan yang sebelumnya dikerjakan Paulus besar kemungkinan menjadi halangan psikologis bagi Timotius untuk melanjutkan pelayanan Tuhan yang besar. Paulus memiliki keyakinan bahwa hal terpenting yang mesti dikerjakan Timotius agar ia mampu melanjutkan pelayanan anugerah Tuhan adalah dengan terus melatih diri beribadah.  Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya? (Ayat 7) Walaupun latihan badani itu berguna untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita, tapi ibadah itu lebih besar gunanya, mengapa? (Ayat 8) Apa yang harus Timotius lakukan agar umat tidak merendahkannya karena dia masih muda? (Ayat 12) Apa saja yang harus dilakukan oleh Timotius dengan tekun dari hari ke hari? (Ayat 13-15) Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius agar Timotius dan umat yang digembalakannya dapat selamat? (Ayat 16) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

KEPUASAN selalu minta DIPENUHI

Billy Graham berkata, “Jika sikap seseorang benar terhadap uang, maka hal itu dapat menolong dia untuk memiliki sikap yang benar di setiap area dalam hidupnya.” Sahabat, penelitian dengan cermat membuktikan, orang dengan penghasilan sedikit tidak merasa puas; namun ketika penghasilannya lebih banyak ia tetap tidak puas. Mengapa? Sebab tuntutannya pun bertambah, begitu pun pengeluarannya. Sementara tingkat kepuasannya sama saja: Tetap belum puas. Kepuasan itu layaknya orang bergerak di atas putaran alas treadmill, meski kecepatan meningkat, pun tak ada gerak maju. Tetap saja di situ. Untuk lebih memahami topik tentang, “Kepuasan selalu minta dipenuhi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Pengkhotbah 5:9-18. Pengkhotbah juga dengan jeli mengamati, dalam kehidupan manusia yang namanya kepuasan atau kesenangan selalu minta dipenuhi, tak kenal henti. Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan. Orang yang memiliki banyak uang sampai kapan pun tidak akan pernah puas dengan uang yang dimilikinya.  Begitu pula orang kaya, tidak pernah puas akan kekayaannya.  Seringkali kita menganggap bahwa ada hubungan erat antara kepuasan dengan jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.  Kita mengira jika orang mempunyai uang dalam jumlah besar ia akan merasa puas dan berbahagia.  Sahabat, ketika seseorang mendapatkan gaji 1 juta rupiah/bulan, ia berpikir bahwa hidupnya akan lebih dari cukup dan berbahagia jika gajinya 3 juta rupiah/bulan.  Anggapan ini kelihatannya benar, tapi ketika ia mendapatkan gaji 3 juta rupiah/bulan ia merasakan bahwa masih banyak hal yang belum bisa dipenuhi dengan gajinya tersebut.  Kita selalu merasa masih kurang dan tidak pernah merasa cukup. Ingatlah! Rasa puas dan cukup tidak datang dari uang, melainkan dari relasi kita dengan Tuhan. Uang itu hamba yang baik, tapi tuan yang jahat sekali. Kita harus waspada pada ilusi kesenangan, yang mengajarkan kepada kita bahwa cara untuk menjadi puas adalah dengan mendapatkan lebih. Itu tipuan, bahkan jebakan! Sahabat, berdasarkan hasil dari perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan, mengapa? (Ayat 10 – 13, dan 16) Apa yang menjadi kunci kita dapat menikmati kebahagiaan? (Ayat 11-a, dan 17-18) Kebenaran apa yang senantiasa perlu kita ingat dalam hiduip ini? (Ayat 14) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)