Maaf, saya TIDAK BISA DATANG

Sahabat, sering kita mendengar atau membaca pernyataan berikut: “Hidup itu pilihan.” Pengalaman hidup kita bercerita bahwa begitu kita membuka mata di pagi hari, kita langsung diperhadap pada berbagai pilihan. Nah, kita perlu menentukan pilihan. Kita perlu membuat  skala prioritas, mana yang paling penting yang harus kita segera kerjakan atau penuhi atau ikuti. Kalau kita menyadari bahwa hidup ini adalah karena kasih karunia Tuhan semata, maka seharusnya kita memiliki respons yang benar akan keselamatan yang Tuhan berikan dan juga panggilan-Nya.  Sampai saat ini pintu anugerah keselamatan dan berkat-berkat-Nya masih terbuka dan tersedia untuk siapa pun yang mau datang memenuhi undangan Tuhan.  Sahabat, untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Maaf,  saya tidak bisa datang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 22:1-14. Dalam perumpamaan tersebut, dikisahkan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Waktu pelaksanaan perjamuan telah tiba, dan segala sesuatunya untuk keperluan pesta telah tersedia. Namun, ketika hamba-hambanya disuruh untuk memanggil para undangan, ternyata semua berdalih dengan berbagai macam alasan. Bahkan ada yang menangkap, menyiksa dan membunuh para hamba yang disuruh untuk memanggil para undangan. Maka raja pun murka sehingga menyuruh pasukannya membinasakan para pembunuh itu beserta kota mereka. Walaupun para undangan tersebut tidak datang karena bermacam alasan, namun perjamuan kawin itu tidak menjadi tertunda. Raja pun menyuruh hamba-hambanya untuk mengundang seluruh orang yang mereka jumpai tanpa terkecuali. Injil adalah undangan Allah kepada orang berdosa untuk datang ke perjamuan-Nya dalam Kerajaan Allah. Kita menerima undangan Injil karena anugerah Allah, bukan karena kepantasan kita. Oleh karena itu, kita patut menjawab undangan dengan berpakaian pesta sebagai respons kita menjawab undangan Sang Raja. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang menjadi dalih beberapa orang yang tidak bersedia memenuhi undangan Sang Raja (ayat 5). Lalu apa yang tersirat dari dalih mereka? Apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang telah diundang oleh Sang Raja (ayat 6)? Mengapa Sang Raja sangat marah ketika ada undangan yang tidak memakai pakaian pesta (ayat 11-13)? Pesan apa yang hendak disampaikan dengan sikap Sang Raja tersebut? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

HARTA yang LAYAK kita KEJAR

Sahabat, dunia masih sedang terjangkit penyakit konsumerisme. Manusia saling berpacu untuk memuaskan diri. Semuanya perlu uang. Sebab itu manusia berlomba-lomba mencari uang dan harta sehingga mereka berharap nafsunya terpuaskan. Mereka terjebak pada cinta uang. Banyak orang di dunia ini berlomba-lomba untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Bahkan ada kalanya mereka bersedia menerapkan cara apa pun demi menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut. Namun, tidak jarang pula para pemenang dari perlombaan tersebut mengaku tidak pernah puas dan tidak bahagia, bahkan setelah mereka meraih begitu banyak harta sekalipun. Jika demikian, harta seperti apakah yang layak kita kejar? Untuk lebih memahami topik tentang “Harta yang layak kita kejar”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 2:1-5. Paulus juga berlomba-lomba dalam mengejar suatu harta. Dalam surat Kolose tersebut, Paulus melukiskan upayanya itu sebagai suatu perjuangan yang berat. Harta macam apakah kiranya yang sedang dikejar Paulus dengan perjuangan berat itu? Jawabnya adalah Yesus Kristus. Sahabat,  di dalam Yesuslah tersembunyi segala harta, hikmat dan pengetahuan. Berbeda dengan pemilik harta dunia yang enggan berbagi, Paulus justru berusaha sungguh-sungguh agar jemaat Kolose dapat memperoleh harta itu sebagaimana Paulus juga memilikinya. Paulus melakukan apa saja agar jemaat Kolose merasa terhibur dan dapat bersatu dalam kasih. Sehingga jemaat ini pun dapat memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pada Yesus. Bagaimana sikap kita terhadap Yesus Kristus? Apakah kita memandang Yesus Juruselamat kita itu laksana suatu harta yang tak ternilai harganya? Ataukah kita lebih puas dan lebih menyukai harta lain di luar Yesus? Kiranya melalui perenungan  pada hari ini, kita memeroleh pemahaman tentang harta seperti apa yang layak kita kejar. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Upaya apa yang sedang diperjuangkan oleh Rasul Paulus? (Ayat 1-2) Mengapa bagi Paulus, Yesus merupakan harta yang paling berharga? (Ayat 3) Apa yang menjadi kerinduan terdalam Rasul Paulus terhadap jemaat di Kolose? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

IZINKAN aku MENIKMATI yang menjadi BAGIANKU

Sahabat, apakah masih ingat dengan fabel yang berjudul: “The Greedy Dog”. Dikisahkan, seekor anjing berlari-lari membawa tulang dari tong sampah. Ketika melewati jembatan, ia menunduk dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air sungai. Ia mengira, ada seekor anjing lain membawa tulang yang lebih besar daripada miliknya. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tulang yang digigitnya dan langsung melompat ke air. Anjing tersebut  akhirnya harus bersusah payah berenang ke tepian. Ia sangat menyesal dan kecewa. Ia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang digigitnya tadi sudah hilang. Fabel tersebut sesungguhnya mau bertutur tentang  sikap tidak berpuas diri yang berkembang menjadi keserakahan, yang berpotensi membuat kita kehilangan kebaikan-kebaikan yang telah kita miliki. Jiwa kita akan dirundung oleh kekecewaan dan kekhawatiran. Karena itu, baiklah kita belajar bersyukur dan menikmati yang menjadi bagian kita. Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Izinkan aku  menikmati yang menjadi bagianku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 30:7-9. Agur bin Yake dalam amsalnya menuliskan hal yang penting dalam permohonannya kepada Tuhan, yaitu jangan memberikan kepadanya kemiskinan atau kekayaan. Meminta jangan diberi kemiskinan adalah hal biasa, tetapi yang mengejutkan bahwa ia juga meminta jangan diberi kekayaan. Mengapa tidak miskin, tetapi juga tidak kaya? Baginya, ternyata baik kemiskinan maupun kekayaan bisa membawa masalah dan risiko yang berbahaya. Adalah luar biasa ketika ia menyatakan bahwa biarkan ia bisa menikmati makanan yang Tuhan berikan. Tanpa rasa syukur, kekayaan bisa membuat seseorang menyangkal Tuhan. Kekayaan seolah-olah hasil kerja semata sehingga seseorang tidak lagi memerlukan Tuhan dan ia bebas melakukan banyak hal dengan kekayaannya. Sebaliknya, tanpa rasa syukur, kemiskinan bisa membuat seseorang mencuri dan mencemarkan nama Tuhan. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Tolong sebutkan 3 hal yang menjadi permohonan Agur bin Yake kepada Tuhannya (Ayat 8). Apa yang menjadi latar belakang Agur bin Yake berdoa seperti tersebut di atas (Ayat 9)? Apa makna yang tersirat dari permohonan Agur bin Yake: “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan”? Apa makna yang tersirat dari permohonan Agur bin Yake: “Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.”? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

KETEKUNAN: Sebuah Proses Panjang

Sahabat,  segala sesuatu yang serba instan dan cepat sedang dicari semua orang. Begitu pula kita sebagai orang percaya. Kita menginginkan segala sesuatu dari Tuhan secara instan, dan tidak mau bersabar apalagi bertekun menanti-nantikan Dia. Akibatnya banyak orang percaya  mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan karena masalah yang belum terselesaikan: Kegagalan dalam mencari pekerjaan, sakit-penyakit yang belum juga sembuh dan lain-lain. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa ketekunan seseorang tidak terjadi dengan sendirinya. Perlu ada upaya, kerja keras dan disiplin diri; dengan kata lan, ketekunan membutuhkan suatu proses yang panjang. Sedangklan dunia saat ini banyak menawarkan hal-hal yang serba instan dan serba cepat. Kemudahan demi kemudahan ditawarkan di segala bidang kehidupan,  mulai dari  makanan  cepat saji, perbankan yang menawarkan kemudahan memperoleh pinjaman uang atau modal, sampai jalan untuk menjadi artis atau orang terkenal secara instan ditawarkan melalui ajang lomba pencarian bakat. Sungguh sangat menggiurkan! Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Ketekunan: Sebuah proses panjang”, Bacaan Sabda hari ini saya ambil dari Ibrani 10:19-39. Ketekunan adalah bentuk terpenting dari displin diri dan merupakan ukuran sebenarnya dari karakter kita, bagaimana kita berpegang teguh terhadap suatu pengharapan dan apa yang kita yakini. Oleh karena firman Tuhan selalu mengingatkan agar kita memiliki ketekunan dalam segala hal, karena ketekunan dan kesabaran adalah cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang sempurna (Roma 5:4-5). Sesulit dan seberat apapun keadaan kita saat ini, jangan berubah dan tetaplah bertekun di dalam Tuhan (Habakuk 2:3),  Semua adalah bagian dari proses hidup kita! Ingat, Dia adalah Allah yang setia, Dia tidak pernah terlelap maupun tertidur. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah apa saja yang perlu kita lakukan terus menerus dari hari ke hari supaya kita tetap dapat  bertekun dan bertahan  di tengah pergumulan dan tantangan hidup yang semakin tidak mudah (Ayat 22-25, dan 38) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Memiliki MATA IMAN

Hidup memang tidak akan mungkin tanpa masalah. Masalah akan senantiasa ada dalam sepanjang  perjalanan kehidupan kita. Semoga kita meiliki mata iman bahwa ada Tuhan yang menyertai kita, dan Tuhan jauh lebih besar daripada segala pergumulan dan permasalahan yang kita hadapi. Kita harus terus melatih diri  untuk melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, karena hanya dengan hidup bersama dengan-Nya  kita akan mampu menghadapi masalah dengan ketenangan dan kepasrahan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Sahabat, mari bersama dengan Pemazmur kita berdoa,  “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Mazmur 119:18). Sesungguhnya Roh Kudus siap menyingkapkan segalanya, memberi hikmat bagi kita untuk mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita, memungkinkan kita melihat dengan jelas lewat mata iman dan karenanya kita tidak perlu khawatir dalam menjalani hari depan. Untuk lebih mendalami topik tentang “Memiliki mata iman”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 6:8-23.  Latar belakang dari perikop yang sedang kita renungkan adalah tentang peperangan antara bangsa Israel dan bangsa Aram (atau Siria, sekarang Suriah), yang sudah berlangsung cukup lama. Raja Ahab terbunuh dalam peperangan antar dua bangsa ini. Pada pemerintahan anaknya, Yoram, peperangan ini masih berlangsung. Saat itu raja negeri Aram menyusun strategi untuk melawan bangsa Israel. Namun setiap kali, strategi rahasia tersebut terbongkar. Akibatnya, berkali-kali pula penyerangan gagal. Setelah diberitahukan, bahwa yang membongkar setiap strategi rahasia tersebut adalah Elisa, sang abdi Allah, maka marahlah raja negeri Aram (ayat 12). Semula peperangan itu antara bangsa Aram dan bangsa Israel, tetapi kemudian berubah menjadi bangsa Aram melawan Elisa. Elisa menjadi satu-satunya “sasaran tembak” dari bangsa Aram. Hanya untuk melawan  seorang, raja negeri Aram mengirim “kuda serta kereta dan tentara yang besar”. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut: Apa yang dilihat oleh bujang Elisa di pagi hari itu dan apa yang dikatakan oleh bujang tersebut kepada Elisa? (Ayat 14-15) Lalu apa jawaban Elisa kepada bujangnya? (Ayat 16) Apa yang Elisa doakan untuk bujangnya? (Ayat 17) Tolong ceritakan secara singkat (paling banyak 300 kata) dengan bahasamu sendiri bagaimana caranya Elisa yang hanya seorang diri dapat mengalahkan tentara Kerajaan Aram yang berjumlah banyak, tanpa ada pertumpahan darah (ayat  18-23). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

INSPIRATOR: Hidup yang MENGUBAHKAN

Motivator adalah orang yang  memberikan motivasi kepada orang lain. Pemberian motivasi tersebut biasanya dilakukan melalui acara seminar, ceramah, pembekalan atau pelatihan. Menjadi motivator merupakan sebuah profesi. Jadi dia membekali diri supaya terampil memotivasi banyak orang. Sahabat, selain motivator, kita mengenal inspirator. Seorang inspirator  menginspirasi orang lain melalui perubahan hidupnya. Dia menginspirasi orang lain melalui teladan hidupnya lewat perasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Bisa saja sekali waktu ia berbuat salah dan gagal. Namun saat ia jujur mengakui kesalahan dan kebodohannya, ia justru akan menginspirasi banyak orang tentang arti hidup yang otentik. Inspirator membangun integritas hidup bukan dengan kata-kata, tetapi lewat perbuatan nyata. Untuk lebih memahami topik tentang “Inspirator: Hidup yang mengubahkan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 9:1-27. Saat itu, memang ada sebagian jemaat yang meragukan otoritas kerasulannya. Alih-alih kecewa, Rasul Paulus malah membuktikan keraguan mereka salah. Melalui pertanyaan retorik, Paulus mengingatkan dan menegaskan kepada jemaat Korintus akan identitasnya. Ia menceritakan tentang pertobatan, perjumpaannya dengan Yesus, dan perjuangannya memberitakan Injil (ayat 1). Perubahan Paulus menjadi bukti bagi mereka bahwa Kristus mampu mengubah kehidupan seseorang. Tidak hanya sampai di situ, Tuhan juga memanggil dan memakainya untuk memberitakan Injil. Melalui perubahan hidupnya, Paulus dapat menyaksikan kuasa Tuhan dan kekuatan Injil. Buah dari pelayanannya adalah kehidupan jemaat di dalam Tuhan (ayat 2). Sahabat, Rasul Paulus tidak mau menjadi motivator saja. Jangan sampai ia memberitakan Injil agar orang lain percaya, tetapi ia sendiri malah ditolak Tuhan karena ia hanya memberitakan kebenaran, tetapi tidak mengimani atau menghidupi kebenaran yang ia beritakan (ayat 27). Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa prinsip Rasul Paulus dalam memberitakan Injil? (Ayat 16 dan 17) Apa yang menjadi upah bagi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil? (Ayat 18) Bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh Rasul Paulus untuk memenangkan banyak jiwa? (Ayat 19-22) Apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus agar setelah ia memberitakan Injil dirinya tidak ditolak? (Ayat 26 dan 27) Apa yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada Timotius agar dia dapat menjadi seorang inspirator? (1 Timotius 4:12) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

ALLAH MAU PEDULI TERHADAP HAL-HAL KECIL

Sahabat, hari ini  saya akan bercerita  tentang mukjizat tapi bukan tentang mukjizat-mukjizat yang besar. Melainkan tentang hal-hal kecil yang orang tidak pernah menyangka  bahwa Yesus Tuhan kita yang hidup dan berkuasa  akan mau peduli  dengan “hal yang kita anggap sepele”.  Cerita tersebut dapat Sahabat baca di Injil Yohanes 2:1-11. Di bagian inilah kita sering tidak menduga, bahwa Allah kita sangat peduli dengan “kebutuhan-kebutuhan kita yang kita anggap sepele”. Tanpa kita sadari, di pikiran kita sudah terbentuk bahwa yang namanya mukjizat itu kalau orang buta menjadi melihat; orang lumpuh menjadi berjalan; dan orang sakit kusta menjadi tahir. Kalau Tuhan Yesus menolong kebutuhan air anggur dalam sebuah pesta pernikahan itu bukan sebuah mukjizat? Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Allah mau peduli terhadap hal-hal kecil”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 6:1-7. Di masa nabi Elisa, walau masyarakat Israel secara moral carut-marut, para nabi dibawah bimbingannya masih memerlihatkan kepedulian sosial dan kesehatian, gotong royong. Hal tersebut terlihat ketika tempat buat mereka berkumpul dan belajar sudah penuh sesak (ayat 1). Kemiskinan membuat mereka sehati saling bahu-membahu membangun tempat belajar yang lebih besar untuk kepentingan bersama (ayat 2). Di samping itu, Elisa sebagai pemimpin rohani turut membantu mereka (3-4a). Hal yang patut dipuji dari mereka adalah integritas dan dedikasi diri. Mereka belajar hal-hal rohani, tetapi mereka tidak mau menjadi beban bagi masyarakat Israel. Mereka bekerja keras dalam segala hal untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Untuk membangun tempat baru, mereka sama sekali tidak meminta bantuan dana. Dengan akal budi serta kedua tangan dan kaki, mereka saling bergotong royong menebang pohon (ayat 4b). Dalam proses menebang pohon terjadi musibah, yaitu mata kapak jatuh ke air yang keruh dan dalam, sehingga tidak memungkinkan untuk diambil (ayat 5a). Orang yang meminjam kapak itu bingung melihat kejadian tersebut. Ia tidak tahu dengan cara bagaimana dapat  mengembalikan kapak itu, sebab ia sama sekali tidak memiliki uang. Mungkin dengan susah payah ia akan mengumpulkan uang, mungkin dengan meminta bantuan sana sini (ayat 5-b). Di tengah kegalauan itu, penghiburan dan pertolongan  Allah datang melalui Elisa. Hanya melemparkan sepotong kayu, mata kapak besi yang berat itu mengambang di permukaan air (ayat 6-7). Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah secara singkat pengalamanmu bagaimana Allah menolong memenuhi kebutuhanmu yang kamu anggap sepele. Panjang tulisan maksimal  satu halaman kuarto diketik dengan font 12 dan 1,5 spasi. Selamat sejenak merenung dan menulis, Tuhan memberkati. (pg)

ADA ALLAH, ADA PERTOLONGAN

Allah tidak pernah berjanji bahwa hidup kita sebagai orang percaya akan selalu lancar dan tanpa kesulitan. Namun jangan putus asa, karena Allah menjanjikan bahwa Ia akan menuntun, menyertai, dan memberi kita kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh permasalahan yang rumit.Suatu ketika, murid-murid sedang berada di dalam perahu dan Kristus juga turut serta, tapi Ia sedang tidur di buritan di sebuah tilam.  Tiba-tiba taufan dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu hampir penuh dengan air dan nyaris tenggelam.  Murid-murid menjadi sangat takut dan segeralah mereka membangunkan Tuhan,  “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”  (Markus 4:38-b).  Tuhan segera bangun dan menghardik angin itu dan danau pun menjadi tenang.  Berkatalah Tuhan kepada mereka,  “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”  (Markus 4:40).  Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada Allah, ada pertolongan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 41:1-20. Ayat 1-7 menggambarkan ketidakbergunaan berhala-berhala dan dilema orang-orang kafir yang memilih untuk bergantung kepada sesamanya, dan kepada berhala. Lalu Allah berseru kepada Israel yang telah Dia pilih agar tidak takut dan bimbang karena Allah menyertai mereka (ayat 8-10). Sahabat, tidak ada situasi apa pun dimana Allah yang Mahakuasa tidak dapat menolong kita. Dengan demikian kita tidak perlu takut kepada musuh yang marah, pada kelemahan diri kita sendiri, maupun keadaan yang begitu menyulitkan, karena ada Allah yang menyertai dan menuntun langkah kita. Berdasarkan hasil perenungan dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Banyak musuh yang marah terhadap Israel, lalu apa yang akan diperbuat Allah kepada musuh-musuh Israel tersebut? (Ayat 11-13) Walaupun umat Allah lemah, digambarkan sebagai “cacing Yakub” dan “ulat Israel”, lalu apa yang akan diperbuat Allah untuk menolong mereka? (Ayat 13-15) Keadaan begitu sulit sehingga orang-orang sengsara tidak dapat menemukan air hingga jadi kehausan, lalu apa yang diperbuat Allah untuk menolong mereka? (Ayat 17-19) Apa tujuan Allah menolong umat-Nya? (Ayat 20) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

MUKJIZAT dapat TERJADI setiap SAAT

Saya sering menulis kepada Sahabat yang sedang sakit atau menjalani masa pemulihan pernyataan sebagai berikut: “TETAP JAGA HARAPAN. Dalam kegelapan, cahaya sekecil apa pun tetap memberi arah. Ketika Sahabat sedang sakit seperti saat ini, harapan sekecil apa pun tetap membuka kemungkinan. Ingat jangan pernah menyerah, tetap jaga harapan, sekecil apa pun, MUKJIZAT dapat terjadi SETIAP SAAT.” Sahabat, dinamika hidup terus bergulir, ada suka dan duka, sakit dan sehat, tertawa dan menangis, menabur dan menuai, berhasil dan gagal.  Namun yang pasti, dalam setiap keadaan Tuhan sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya  (Pengkhotbah 3:11a).  Tuhan dapat menghadirkan mukjizat dan kemenangan dalam situasi yang bagaimana pun, yang secara manusia adalah mustahil tapi bagi Dia tak ada yang tak mungkin. Untuk memahami lebih dalam pokok bahasan tentang: “Mukjizat dapat terjadi setiap saat”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 4:1-7. Kali ini nabi Elisa harus mengatasi problem seorang janda miskin. Sejak kematian suaminya, yang adalah seorang nabi, ia meninggalkan hutang yang banyak kepada istrinya. Selain itu, kondisi keluarga ini semakin terpuruk secara ekonomi. Belum lagi ditambah tenggat waktu melunasi hutang semakin dekat. Ancaman rentenir adalah dua anak laki-laki janda itu akan dijadikan budak (ayat 1-b). Hal itu memilukan hati si janda sebagai seorang ibu. Namun ia tetap bertahan dalam iman bahwa Allah pasti menolongnya. Itu sebabnya ia datang kepada nabi Elisa meminta pertolongan (ayat 1-a). Sahabat, iman membutuhkan tindakan konkret. Tanpa menjalani apa yang diimani, mustahil harapan kita menjadi kenyataan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang ditanyakan oleh nabi Elisa kepada janda tersebut? Lalu apa jawab Si Janda? (Ayat 2) Apa yang diperintahkan oleh nabi Elisa kepada Si Janda dalam ayat 3? Apa yang diperbuat oleh Si Janda beserta 2 orang anaknya? (Ayat 4-6) Apa yang dikatakan nabi Elisa kepada Si Janda di ayat 7? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

KETAATAN mendatangkan KESEMBUHAN

Ada cukup banyak orang percaya yang tidak suka dan  merasa alergi  jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran mereka,   ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan:  tidak boleh ini,  tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang percaya lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat dan sebagainya.  Sesungguhnya kita perlu menyadari  bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang. Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Ketaatan mendatangkan kesembuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 5:1-19. Naaman adalah salah seorang tokoh di dalam Alkitab, namanya tidak asing di telinga orang percaya.  Ia sangat terkenal, berkuasa, berpengaruh dan dihormati oleh banyak orang.  Sebagai panglima raja Aram bisa dikatakan sebagai tangan kanan raja, karena itu ia sangat dikasihi oleh raja.  Naaman bukan hanya seorang jenderal, tapi juga seorang pahlawan perang yang gagah perkasa.  Kontribusinya bagi negara tak diragukan lagi. Meski memiliki posisi tinggi dan terpandang ada satu noda dalam hidup Naaman. Dia menderita penyakit kusta.  Siapa pun orangnya dan setinggi apa pun pangkatnya jika terserang penyakit itu pasti dijauhi banyak orang;  apalagi di kalangan orang Ibrani penyakit kusta dianggap najis dan berbahaya karena dapat menular kepada orang lain.  Maka dari itu orang yang menderita sakit ini harus diasingkan dari masyarakat luas.  Tidak seorang pun yang diperbolehkan bersentuhan dengannya (Imamat 13:46).  Akhirnya Naaman mengalami mukjizat kesembuhan ketika ia mau bertindak dalam ketaatan terlebih dahulu. Sahabat, di luar rahmat Allah, kehidupan manusia penuh pemberontakan. Hanya ketaatan semata, hidup kita mendapatkan sentuhan Allah. Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini: Bagaimana jalan ceritanya sampai Naaman bersedia berangkat berobat ke Samaria? (Ayat 1-3) Ketika Naaman bertemu dengan nabi Elisa, apa yang diperintahkan oleh Elisa untuk dikerjakan oleh Naaman? (Ayat 10) Bagaimana reaksi Naaman ketika mendengar perintah dari Elisa? (Ayat 11-12) Akhirnya apa yang dilakukan oleh Naaman dan apa yang dia peroleh? (ayat 14) Apa pernyataan Naaman di depan Elisan? (Ayat 15) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)