DISIPLIN: Tidak Ada Jalan Pintas

Film yang berjudul “Sepatu Dahlan” menceritakan masa kecil Dahlan Iskan. Meskipun berkekurangan, orangtua Dahlan mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Pernah sepulang sekolah, Dahlan kepergok mencuri sebatang tebu di perkebunan negara. Walau hanya sebatang, Dahlan tetap dihukum dengan sabetan rotan oleh orangtuanya. Ayah Dahlan berkata: “Bapakmu memang miskin, tetapi itu tidak berarti anak Bapak boleh mencuri. Sekarang mencuri sedikit, lama-lama mencuri banyak, merugikan semua orang!” Sejak hari itu, Dahlan berhati-hati dalam bertindak. Sahabat, disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (1 Timotius 4: 6 dan 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius lebih leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang. Bapa surgawi juga menghendaki anak-anak-Nya dapat hidup disiplin dan bertanggung jawab dalam bertindak. Meskipun Allah itu kasih, namun Ia tidak pernah memanjakan anak-anak-Nya agar mereka dapat menjadi dewasa serupa Kristus. Sebab Kristus adalah teladan disiplin rohani bagi kita dalam melawan dosa. Kedisiplinan dan ketaatan Kristus kepada Bapa surgawi telah dibuktikan di kayu salib. Sedangkan pergumulan dan kesulitan kita melawan dosa belum sampai level mencucurkan darah. Memang harus diakui bahwa yang kita hadapi belum sebanding dengan penderitaan Kristus. Meskipun begitu, kita perlu belajar terus-menerus dari teladan Kristus. Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Disiplin: Tidak ada jalan pintas”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Ibrani 12:1-11. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Jika Allah tidak mendidik umat-Nya, maka kita dianggap sebagai apa? (Ayat 8) Disiplin rohani tidak hanya membimbing kita untuk menjadi dewasa, lalu hal-hal apa saja yang akan kita peroleh? (Ayat 10) Proses pendisiplinan membutuhkan kerja keras, lalu hasil apa yang akan kita nikmati? (Ayat 11) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

Jadilah SAHABAT Sejati

Walter Winchell, seorang wartawan dan juga komentator radio kenamaan Amerika menulis  tentang quote tentang sahabat sebagai berikut:  “Sahabat adalah seseorang yang menghampiri Anda, menemani Anda, di saat orang lain meninggalkan Anda.”  Artinya seorang sahabat yang sejati itu bukan hadir di kala senang saja, melainkan juga saat susah. Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang berada di  bawah, sedang jatuh, sedang terpuruk.  Karena didasari oleh kasih yang tulus, seorang sahabat akan tetap berada di sisi sahabatnya di segala keadaan dan mau menerima keberadaannya secara utuh, apa adanya. Selain itu sahabat adalah orang yang tidak hanya sekadar menyenangkan hati sahabatnya semata, tetapi juga mau menegor dan ditegor, mau mengoreksi dan dikoreksi, yang kesemuanya itu demi kebaikan bersama.  Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Jadilah sahabat sejati”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 17:17. Dalam Amsal 17:13-28, pengajaran dari pengamsal membahas seputar perilaku manusia dalam kehidupannya. Bila kita perhatikan, ada dua hal besar yang dibahas oleh pengamsal pada bagian ini, yaitu tentang kebebalan dan ketidakbijakan dalam hidup. Kontras dengan kebebalan dan ketidakbijakan yang membawa seseorang menuju duka dan kehancuran, pengamsal menyoroti bagian lain dari kehidupan manusia yang dapat membawa sukacita dan kebijaksanaan. Apa yang menyukakan dalam hidup? Keberadaan sahabat yang penuh kasih (ayat 17). Kasih seorang sahabat tak lekang oleh waktu, penuh komitmen dan teruji kesetiaannya, semua dilakukan bukan karena terpaksa, tapi penuh kerelaan. Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong jelaskan secara singkat apa syaratnya untuk dapat menjadi seorang sahabat sejati. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

CARA TUHAN MENOLONG KITA

Masalah adalah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada seorangpun yang  luput dari masalah,  baik masalah yang sifatnya ringan ataupun masalah yang sifatnya berat. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan, dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik. Sesungguhnya, masalah  dapat membuat kita melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita. Hanya Tuhanlah yang mampu serta sanggup menolong, sehingga jangan pernah cemas saat mengalami cobaan hidup. Serahkan setiap masalah pada Tuhan saja, karena apapun yang kita alami Tuhan selalu bekerja dan mendatangkan kebaikan bagi kita. Sahabat, saat menghadapi tantangan dan masalah, hadapi dengan tenang, jangan pesimis sebab bersama Tuhan pasti ada pengharapan dan jalan keluar. Tuhan Yesus bukan hanya mahakuasa, Yesus selalu peduli dengan keadaan kita. Ketika mengalami persoalan, bertekunlah di dalam doa supaya kita mendapatkan kekuatan untuk bertahan serta hikmat untuk menghadapinya. Sahabat, yakinlah Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong kita. Bersama Tuhan kita pasti akan cakap dalam menghadapi setiap persoalan dan Yesus akan membawa kita menjadi pemenang. Untuk lebih memahami topik tentang “Cara Tuhan menolong kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Tawarikh 20:1-26. Kekuatan perang Yosafat yang semakin besar mendorong bangsa Moab bersekutu dengan Amon, ditambah lagi pasukan orang Meunim yang menyerang kerajaannya. Saat musuh bersekutu dan kekuatan besar siap menyerbu, biasanya rasa takut akan muncul dan hal itu wajar. Ketakutan Yosafat membawanya datang kepada Tuhan. Karya ajaib Tuhan mengubah ketakutan menjadi sukacita. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Armada perang musuh yang besar menggentarkan Yosafat, lalu apa yang diperintahkan raja Yosafat untuk dilakukan oleh segenap bangsanya? (Ayat 3-13) Apa yang diserukan dan dinyatakan oleh Yahaziel seorang penyanyi dari bani Asaf yang dihinggapi Roh Tuhan? (Ayat 14-17) Siapa yang di tempatkan di barisan depan oleh raja Yosafat? (Ayat 19, 21-22) Apa yang dilakukan oleh Tuhan sehingga Yehuda akhirnya dapat tampil sebagai pemenang? (Ayat 22-24) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

KESOMBONGAN: Suka Memuji Diri Sendiri

Sahabat, salah satu ciri kesombongan adalah suka memuji diri sendiri, segala sesuatu berfokus pada  aku dan aku.  Sesungguhnya orang yang demikian merupakan orang yang penuh kelemahan, dan untuk menutupi sisi-sisi kelemahan dirinya, orang tersebut selalu bermegah atas dirinya.  Tidak sepatutnya kita memuji diri sendiri, biarlah pujian itu datang dari Tuhan.  Walaupun kita memuji diri tahan uji, tapi yang mengukur kualitas hidup kita ialah Tuhan.  Bila Tuhan yang memuji kita pastilah itu sesuai kebenaran dan kenyataan yang kita alami.  Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa memuji diri sendiri sama dengan sombong, dan kesombongan adalah kebencian Tuhan. Sahabat, untuk memahami lebih dalam topik tentang “Kesombongan: Suka memuji diri sendiri”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Korintus 10:12-18.  Bacaan kita pada hari ini menceritakan tentang sekelompok orang di Korintus yang membanggakan diri atas pertumbuhan jemaat Korintus. Mereka bermegah dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusat untuk mengukur segala sesuatu, dan ini merupakan kesombongan. Paulus menyebut mereka bodoh! Mereka membanggakan sesuatu yang bukan hasil kerja mereka dan bermegah atas hasil kerja orang lain, yang mereka akui sebagai hasil pekerjaannya. Padahal itu adalah hasil kerja Paulus dan timnya dalam pemberitaan Injil. Sahabat, ingatlah, keberhasilan pelayanan kita terjadi karena campur tangan Tuhan, bukan karena kekuatan kita. Seorang pelayan Tuhan yang benar tidak akan memperhatikan penghormatan dan pujian dari manusia. Ia akan berusaha menarik perhatian orang hanya kepada Tuhan Yesus, bukan kepada dirinya sendiri. Sesungguhnya  bangga diri tidaklah salah, tetapi hendaklah kita bermegah di dalam Tuhan, karena kebanggaan yang terlepas dari kesadaran akan campur tangan Tuhan akan berubah menjadi kesombongan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa makna pernyataan Rasul Paulus dalam ayat 13-15a? Sebutkan   3 macam kebanggaan (bermegah) yang benar menurut Rasul Paulus (Ayat 15b-16a; 16b; dan 17) Menurut Rasul Paulus, kebanggaan seperti apa yang patut kita miliki? (Ayat 18) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

Bak BEJANA PECAH di TANGAN Sang PANJUNAN

Sahabat, Kintsugi  secara harfiah berarti sambungan emas.  KIN artinya emas dan TSUGI artinya sambungan. Kintsugi adalah kesenian yang berasal dari Jepang. Kintsugi yaitu seni memperbaiki bejana/vas yang rusak dengan pernis dan bubuk emas. Menariknya, sang panjunan tidak menutupi kerusakannya. Ia justru menyatukannya dengan pernis dan bubuk emas sehingga menonjolkan bagian yang rusak dengan emas dan membuat bejana itu lebih indah daripada sebelumnya. Seni Kintsugi akhirnya menjadi populer, barang-barang pecah belah yang pecah (rusak) disambung kembali menjadi   barang pecah belah yang indah, lebih indah daripada sebelumnya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak yang sengaja menghancurkan bejananya untuk dibuat menjadi Kintsugi. Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Bak bejana pecah di tangan sang panjunan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:1-25. Dalam Mazmur 31, Daud melihat dirinya seperti bejana yang pecah (ayat 13) karena:  Tekanan hidup yang ia hadapi (ayat 8b-11), karena reputasinya yang rusak (ayat 12-13a), dan karena ada banyak orang yang ingin mencabut nyawanya (ayat 14). Dalam pergumulan hidup ini, janganlah lupa bahwa Tuhan punya kuasa untuk menguatkan ketika kita lemah. Ia juga punya kuasa untuk menegakkan ketika kita terjatuh. Berserulah kepada-Nya dan tetaplah memercayai kebaikan hati-Nya, karena bejana yang pecah sekalipun dapat dijadikan indah di tangan-Nya. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Dalam kesesakannya, mengapa Daud berseru kepada Tuhan? (Ayat 2, 4, 20, dan 22) Dalam perjalanan hidupnya, Daud merasakan apa saja yang telah Tuhan perbuat bagi dirinya? (Ayat 8-9, dan 20-23) Walaupun Daud mengalami banyak kesukaran dan penderitaan, prinsip apa yang selalu dipegang dan dipraktikkan oleh Daud? (Ayat 7 dan 15) Berdasarkan pengalaman hidupnya, apa yang Daud pesankan kepada umat Tuhan? (Ayat 25) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

HIDUP dalam KASIH

Sahabat, empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut. Empati memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga hubungan antara sesama manusia. Perbedaan tingkat empati ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan sosial di masa kecil ataupun sekarang, cara pandang terhadap sesuatu, pola asuh orangtua, pengalaman masa lalu, dan harapan-harapan yang dimiliki. Sahabat, dalam banyak kesempatan ketika kita merasa bersyukur terhindar dari kejadian buruk, kita seringkali lupa bahwa ada orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita. Benar, kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan pada diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Maksud saya, jangan sampai kita mensyukuri keuntungan lalu lupa dengan orang yang menderita, atau malah bergembira di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain. Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, tetapi justru tertuju kepada sesama kita. Itu bisa lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai orang percaya yang rajin bersyukur, namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri. Belas kasihan membuka pintu bagi perubahan yang nyata. Supaya tindakan dan perkataan kita menjadi berarti bagi seseorang, maka terlebih dahulu kita perlu memastikan diri kita benar-benar mengasihi mereka. Apakah saat ini saya sudah hidup di dalam kasih? Sahabat, untuk memahami topik tentang “Hidup dalam kasih”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 12:9-21. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Agar jemaat Roma mengerti bagaimana hidup dalam kasih, Paulus memberikan beberapa nasihat kepada mereka: Apa nasihat Rasul Paulus dalam ayat 9? Apa nasihat Rasul Paulus dalam ayat 10? Apa nasihat Rasul Paulus dalam yat 12? Apa makna nasihat Rasul Paulus dalam ayat 15? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

SEMBAHLAH dan TAATILAH

Sahabat, penyembahan merupakan ungkapan penghormatan atas kebesaran, keagungan dan kekudusan Tuhan.  Kita perlu menghormati hadirat Tuhan dengan jalan menyembah-Nya, bukan hanya lewat kata-kata saja, tetapi juga melalui sikap tubuh kita:  Bersujud, tersungkur, dan berlutut,  sebagai tanda merendahkan diri dan ketidaklayakan kita di hadapan-Nya.  Penyembahan merupakan bentuk pujian yang tertinggi!  Secara umum kita bergerak mulai dari puji-pujian dan kemudian menuju kepada penyembahan.  Sahabat, ketika seseorang dipenuhi oleh hadirat dan kemuliaan Tuhan, secara spontan ia akan berlutut dan sujud menyembah di hadapan Tuhan.  Itu adalah tanda dari rasa hormat.  Jatuh tersungkur di hadapan seseorang tanda penghormatan yang paling dalam.  Untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Sembahlah dan taatilah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 95:1-11.  Mazmur 95 merupakan mazmur puji-pujian dan juga undangan untuk beribadah kepada Tuhan. Mazmur ini masuk  dalam kumpulan mazmur 90-106 yang memberikan penekanan pada ibadah umat Allah untuk menyampaikan pujian syukur dalam bait Allah. Sahabat, memuji Allah wajib dilakukan oleh  orang percaya. Pemazmur mengajak bangsa Israel bersorak-sorai dan sujud menyembah-Nya. Pemazmur mengajak umat menyembah Tuhan karena Ia adalah Allah dan Raja yang besar. Namun, Mazmur 95 tidak hanya mencakup ajakan untuk memuji, tetapi juga nasihat untuk mawas diri terhadap peringatan Allah. Peringatan yang diberikan tidak main-main sebab peringatan tersebut berasal dari Allah. Pada awal penulisannya, pemazmur mengajak umat memuji Allah (ayat 1-7a). Akan tetapi, mulai dari ayat 7b, bangsa Israel dituntun untuk mendengarkan peringatan  Allah. Sahabat, berdoalah agar kita tidak hanya memuji Allah, tetapi juga dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya. Karena itu, marilah saat ini kita belajar untuk terus taat kepada Allah sembari memuji kebaikan dan kebesaran-Nya dalam hidup kita hari lepas hari. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa peringatan Tuhan yang pertama dalam ayat 8? Apa peringatan Tuhan yang kedua dalam ayat 9? Apa peringatan Tuhan yang ketiga dalam ayat 10? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

PENJAGAAN dan PERTOLONGAN TUHAN

Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang gampang sekali putus asa ketika diperhadapkan pada pergumulan hidup yang berat, karena mereka berpikir Tuhan tidak memperdulikan hidupnya lagi.  Hal tersebut tidak benar!  Tidak sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya bergumul sendirian (Yesaya 46:4). Jika Tuhan mengizinkan kita melewati masa-masa sulit itu artinya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya. Jangan pernah lari dari prosesnya Tuhan.  Mungkin terasa sakit tapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses butuh waktu dan ketekunan (Ibrani 10:36). Jadi Sahabatku, sesulit apa pun keadaan kita, tetap arahkan pandangan kepada Tuhan. Untuk mendalami topik tentang: “Penjagaan dan pertolongan Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 121:1-8. Mazmur 121  merupakan salah satu nyanyian ziarah yang dinyanyikan oleh umat Tuhan dalam perjalanan mendaki gunung Sion selama pesta-pesta besar di Bait Suci. Sampai hari ini pun mazmur ini masih dipakai dalam mengawali sebuah perjalanan. Di sini terlihat jelas pemazmur sangat mengerti bahwa tidak ada yang bisa diandalkannya selain Tuhan. Pemazmur melayangkan matanya ke gunung-gunung untuk mendapatkan sumber pertolongan, namun tidak ada pertolongan di situ. Pada waktu itu, gunung mempunyai peran yang sangat penting sebagai tempat berlindung dari serangan musuh. Selain itu, bagi bangsa Israel gunung Sion adalah tempat Tuhan bertakhta. Bangsa-bangsa lainnya pada zaman itu juga selalu melihat gunung sebagai tempat allah mereka bertakhta. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang dimaksud oleh Pemazmur dengan kata “gunung-gunung” dalam ayat 1? Apa maknanya “Tuhan takkan membiarkan kakimu goyah” dalam ayat 3-a? Apa maknanya “Penjagamu tidak akan terlelap dan tertidur” dalam ayat 3-b dan 4? Apa maknanya “Tuhan akan menjaga nyawamu” dalam ayat 7-b? Apa maknanya “Tuhan akan menjaga kita selama-lamanya”  dalam ayat 8? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

RESPONS terhadap KEMALANGAN yang BANYAK

Sahabat, ada teman pelayanan yang berbagi cerita  tentang kemalangan yang menimpa dirinya dan keluarganya secara bertubi-tubi dalam empat tahun terakhir. Dia bercerita melalui WA, WA Voice, WA Call, kadang-kadang kami menyempatkan diri bertemu sambil menikmati kopi di waktu sore. Teman kami seorang yang aktif terlibat dalam pelayanan di gerejanya dan di beberapa lembaga gerejawi. Ketika saya bersama 3 orang teman sedang merintis pembukaan gereja baru, dengan setianya dia mengirimkan sebagian perpuluhannya untuk mendukung program gereja kami tersebut. Firman Tuhan berkata bahwa orang benar diizinkan oleh Tuhan untuk mengalami kemalangan, dalam jumlah yang banyak. Apakah itu berarti Tuhan tidak mengasihi umat-Nya, sehingga Dia membiarkan umat-Nya mengalami kemalangan yang bertubi-tubi? Tidak! Justru dengan kemalangan yang diizinkan terjadi, umat-Nya memiliki kesempatan untuk mengalami kuasa Tuhan secara nyata.  Ada janji firman-Nya untuk kita yang diizinkan mengalami kemalangan, yakni bahwa Tuhan akan melepaskan kita dari semua kemalangan itu. Dilepaskan dari kemalangan berarti ada jaminan kekuatan, topangan tangan kasih-Nya, juga solusi dari setiap permasalahan yang kita alami, sehingga kita akan keluar sebagai pemenang.  Sahabat, bagi kita yang sedang meragukan kasih Tuhan karena berbagai kemalangan yang sedang kita alami, kiranya janji firman Tuhan memberi penghiburan dan penguatan bagi kita. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah menunda waktu untuk melepaskan kita dari kemalangan hidup. Ketika  “waktu-Nya”  tiba, kelepasan yang dari Tuhan akan kita alami. Untuk mendalami topik tentang: “Respons terhadap kemalangan yang banyak”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 34:1-23. Mazmur Daud tersebut mengajak orang untuk menyadari konsekuensi menjadi orang benar. Namun bukan dalam nada putus asa, melainkan tetap penuh pengharapan. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Dalam pelarian dan penderitaannya, apa saja yang dirasakan oleh Daud? (Ayat 5-7) Dalam pelarian dan penderitaannya, kebaikan Tuhan berupa saja yang telah dialami oleh Daud? (Ayat 5, 7, 8, dan 19) Sekalipun kemalangan orang benar banyak, tapi apa yang dinyatakan Daud dalam ayat 16? Apa artinya pernyataan Daud dalam ayat 20: “Kemalangan orang benar banyak”? Di tengah pelarian dan penderitaannya, apa ajakan Daud kepada umat-Nya? (Ayat 2-4) Setelah Daud mengalami kebaikan Tuhan, apa yang menjadi respons Daud? (Ayat 10 dan 12) Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

TUHAN: Pembela dan Penolongku

Dalam hidup ini ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihindari oleh semua orang tanpa terkecuali, ialah masalah.  Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons hati kita terhadap masalah yang terjadi. Sahabat, kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup kekristenan itu tidak hanya sekadar berbicara tentang berkat, mukjizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses.  Berkat, mukjizat, kemenangan, pemulihan adalah output atau hasil dari sebuah proses.  Masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri!  Hidup orang percaya di dunia ini tidak selalu lancar. Adakalanya masalah datang, termasuk yang datang dari orang jahat dan yang tidak takut akan Tuhan. Masalah seperti itu ada yang terasa begitu berat karena seolah-olah kita harus menanggung sendirian tanpa ada yang peduli atau sanggup menolong.  Jika mengalami hal seperti itu, bagaimana seharusnya respons orang percaya? Sahabat, untuk menggali lebih dalam  topik tentang: “TUHAN: Pembela dan Penolongku”, saya ajak Sahabat untuk belajar dari Daud, bagaimana responsnya ketika orang-orang yang selama ini diperlakukannya dengan baik tapi justru membalas dengan berbagai perbuatan jahat. Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 35:1-28. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: Apa yang pertama kali dilakukan oleh Daud ketika menghadapi orang-orang yang membalas perbuatan baiknya dengan berbagai perbuatan jahat? (Ayat 1-6) Karena perbuatan jahat orang-orang tersebut yang tanpa alasan yang jelas, akibatnya apa yang dirasakan oleh Daud? (Ayat 17) Menariknya, dalam ketidakmengertiannya atas kejahatan yang dialaminya,Daud tidak menyalahkan Tuhan. Lalu apa yang disadari oleh Daud tentang Tuhannya? (Ayat 24) Kesadaran Daud tersebut membuat Daud menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Daud sadar pembalasan bukanlah haknya, melainkan hak Tuhan. Walaupun Daud belum jelas apa yang akan Allah lakukan atas perkaranya, dan entah sampai berapa lama Daud akan mengalami semuanya kejahatan itu, tapi dia justru tetap melakukan dua hal. Tolong sebutkan dua hal yang telah dilakukan oleh Daud tersebut (Ayat 9 dan 18). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)